- Enam bulan setelah pengukuran awal, skor gejala depresi kelompok pelatihan 0,51, sedangkan kelompok tunggu 0,70.
- Selisih terbesar muncul pada gejala depresi dengan ukuran efek 0,63 yang tergolong sedang.
- Dua belas bulan setelah pengukuran awal, selisih ketiga ukuran tidak lagi bermakna secara statistik.
- Penanda stres di rambut dan air liur tidak menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok.
Daftar Isi
Sophie Hofmann dan rekan-rekannya menghadapi satu soal sebelum pelatihan apa pun dimulai. Perusahaan kecil dan menengah di Jerman terlalu banyak untuk didatangi satu per satu, dan menghubungi mereka secara langsung, tulis tim itu, hampir mustahil. Karena itu mereka meminjam jaringan pihak lain, mulai dari sebuah perusahaan asuransi kesehatan sampai lembaga swakelola ekonomi seperti Offensive Mittelstand, untuk menyebarkan undangan lewat surel, telepon, dan acara informasi.
Undangan itu akhirnya menghasilkan 155 manajer yang datanya dianalisis. Hasilnya ditulis Sophie Hofmann dan rekan dari Departemen Kedokteran Psikosomatik dan Psikoterapi, Pusat Medis Universitas Ulm, Jerman, dalam makalah Stress management training for managers in small and medium-sized enterprises (KMU-GO): results of a randomized controlled trial. Makalah itu dimuat jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Enam belas penulisnya berasal dari sejumlah universitas di Jerman, Swiss, dan Austria.
Temuan yang dilaporkan Hofmann dan rekan punya dua sisi. Enam bulan setelah pengukuran awal, manajer yang ikut pelatihan kelola stres mencatat skor reaktivitas stres, gejala kecemasan, dan gejala depresi yang lebih rendah daripada manajer yang masih menunggu giliran. Dua belas bulan setelah pengukuran awal, selisih itu tidak lagi bermakna secara statistik, dan penanda stres di rambut serta air liur juga tidak berbeda.
Mengumpulkan Manajer dari Banyak Perusahaan Kecil
Yang dicari Hofmann dan timnya adalah manajer di perusahaan dengan paling banyak 500 karyawan di Jerman bagian selatan. Syaratnya berusia 18 sampai 64 tahun, tidak berencana pensiun dalam setahun, membawahkan sedikitnya satu karyawan, dan cukup fasih berbahasa Jerman. Setelah menyatakan setuju secara tertulis, tiap peserta diundi oleh perangkat lunak ke kelompok pelatihan atau kelompok daftar tunggu.
Dari 155 manajer itu, menurut catatan Hofmann dan rekan, 72,3 persen laki-laki dan 73,5 persen bergelar sarjana, doktor, atau setaranya. Usia rata-rata mereka 45,4 tahun, dengan yang termuda 26 tahun dan yang tertua 61 tahun. Rata-rata mereka bekerja 44,5 jam sepekan dan bertanggung jawab atas 24,7 karyawan. Pesertanya datang dari semua jenjang, dari manajer lini sampai manajemen senior dan pemilik usaha.
Penelitian itu berjalan di tengah pandemi COVID-19. Pengukuran awal dan pelatihan untuk kelompok intervensi, catat Hofmann dan rekan, berlangsung antara musim panas 2021 dan musim dingin 2022. Semua sesi digelar tatap muka dengan wajib masker, jaga jarak, dan bukti tes negatif. Kelompok tunggu mendapat giliran pelatihannya antara musim panas 2022 dan musim dingin 2023.
Baca juga Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang
Sebelum menyusun materi, tim Hofmann mewawancarai 16 pemangku kepentingan. Dari wawancara itu muncul kebutuhan yang jelas: para manajer ingin bertemu manajer lain. Maka kelompok pelatihan disusun lintas perusahaan dan lintas sektor, sesi digelar di dua lokasi supaya jarak tempuh pendek, dan jadwalnya disusun bersama peserta. Kebutuhan lain, mempererat hubungan pribadi dengan karyawan, dijawab dengan satu modul khusus.
Menyusun Pelatihan Satu Setengah Hari
Pelatihan bernama KMU-GO itu, singkatan bahasa Jerman untuk kampanye kesehatan usaha kecil dan menengah, diadaptasi Hofmann dan rekan dari program lama bernama MAN-GO. Program pendahulu itu dibuat untuk manajer di satu perusahaan manufaktur besar. Kerangkanya bertumpu pada model stres transaksional Lazarus. Lazarus dan Folkman menguraikan tiga cara menghadapi stres yang kemudian digarap dalam pelatihan, yaitu berfokus pada masalah, berfokus pada emosi, dan menilai ulang situasi.
Isinya, seperti dirinci Hofmann dan rekan, merentang dari pengenalan stres dan gejalanya sampai model stres kerja. Peserta dilatih mengenali pola pikir pemicu stres, menghadapi rasa marah, berlatih relaksasi dan meditasi, serta mengatur waktu dan jeda kerja dengan matriks Eisenhower. Ada pula materi kepemimpinan yang berorientasi pada staf dan sesi membahas kasus pribadi peserta bersama rekan sekelompok.
Bentuknya ringkas, sesuai catatan Hofmann dan rekan. Pelatihan inti terdiri atas delapan sesi masing-masing 90 menit selama satu setengah hari, dengan paling banyak 12 orang per kelompok. Dua tenaga kesehatan memandunya, misalnya psikoterapis terapi perilaku kognitif, dokter spesialis psikoterapi psikodinamik, atau pelatih profesional. Tiga dan enam bulan kemudian, peserta kembali untuk sesi penyegaran berisi dua sesi 90 menit.
Hofmann dan rekan memberi bobot besar pada diskusi kelompok. Memiliki atau memimpin usaha kecil, tulis mereka, bisa terasa sepi dan terasing, sementara manajer seperti itu jarang punya rekan setara di kantornya sendiri. Lewat pembahasan kasus bersama, peserta diharapkan mengalami rasa senasib, kelegaan karena tahu orang lain menanggung beban serupa.
Menimbang Hasil Enam Bulan Kemudian
Untuk menilai hasilnya, Hofmann dan rekan memakai dua alat ukur yang diisi peserta secara daring. Reaktivitas stres yang dirasakan diukur dengan 23 butir pada skala 0 sampai 2. Gejala kecemasan dan depresi diukur dengan Hospital Anxiety and Depression Scale, tujuh butir untuk masing-masing gejala, pada skala 0 sampai 3. Skor lebih tinggi berarti stres atau gejala yang lebih berat.
Enam bulan setelah pengukuran awal, data yang dihimpun Hofmann dan timnya menunjukkan selisih pada ketiga ukuran. Rerata perkiraan skor reaktivitas stres kelompok pelatihan 0,82, sedangkan kelompok tunggu 0,89. Selisih rerata perkiraannya −0,07 dengan ukuran efek 0,31, yang tergolong kecil. Pada awal penelitian, kedua kelompok sama-sama mencatat skor 0,92.
Gejala kecemasan bergerak serupa dalam catatan Hofmann dan rekan. Kelompok pelatihan mencatat skor 0,76 dan kelompok tunggu 0,87, dengan selisih −0,10 dan ukuran efek 0,33, juga tergolong kecil. Selisih terbesar muncul pada gejala depresi. Skor kelompok pelatihan 0,51, kelompok tunggu 0,70, dengan selisih −0,19 dan ukuran efek 0,63 yang tergolong sedang.
Hofmann dan rekan menegaskan urutan itu dalam pembahasan. Dari tiga ukuran psikologis, efek terkuat terlihat pada gejala depresi, sedangkan efek terkecil pada reaktivitas stres yang dirasakan. Semua selisih itu dihitung dengan memperhitungkan skor masing-masing peserta pada pengukuran awal.
Baca juga Depresi Pengusaha China Melonjak pada 2020, Reda di 2022
Mencari Jejak Stres di Rambut dan Air Liur
Gambaran berubah pada pengukuran kedua belas bulan. Menurut Hofmann dan rekan, selisih reaktivitas stres menyusut menjadi −0,04, gejala kecemasan −0,05, dan gejala depresi −0,08. Ketiganya tidak bermakna secara statistik, sehingga efek pelatihan disimpulkan berjangka pendek dan tidak bertahan sampai setahun setelah pengukuran awal.
Tim Hofmann juga mencari jejak stres di tubuh. Peserta datang ke sebuah janji temu untuk dipotong beberapa helai rambutnya sedekat mungkin dari bagian belakang puncak kepala, sepanjang tiga sentimeter, untuk mengukur hormon kortisol selama kira-kira tiga bulan terakhir. Di rumah, mereka mengumpulkan delapan sampel air liur selama dua hari kerja untuk mengukur aktivitas enzim alfa-amilase.
Hasil penanda tubuh itu, menurut Hofmann dan rekan, tidak menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok. Kortisol rambut hanya berhasil dianalisis dari 9 peserta kelompok pelatihan dan 12 peserta kelompok tunggu. Untuk alfa-amilase, satu ukuran pagi hari sempat menunjukkan interaksi bermakna, tetapi tidak bertahan setelah perbedaan awal kedua kelompok diperhitungkan.
Salah satu penjelasan yang diajukan Hofmann dan rekan berkaitan dengan waktu. Penanda tubuh hanya diukur pada awal dan pada bulan kedua belas, ketika efek psikologis pun sudah tidak terdeteksi. Mereka juga menyebut ukuran sampelnya jauh lebih kecil daripada sampel kuesioner, sehingga analisisnya mungkin hanya mampu menangkap perbedaan yang lebih besar.
Membandingkan dengan Pendahulunya di Pabrik Besar
Hofmann dan rekan lalu menengok hasil MAN-GO. Pada program pendahulu itu, perbaikan reaktivitas stres masih terlihat dua belas bulan setelah pengukuran awal, sedangkan pada KMU-GO hanya terlihat pada bulan keenam. Mereka menilai efek pelatihan untuk manajer usaha kecil dan menengah tampak kurang awet dibanding pendahulunya.
“Meski begitu, patut dicatat bahwa durasi pelatihan awal yang relatif singkat, yakni 1,5 hari, sudah cukup untuk memunculkan efek pelatihan yang positif, sehingga menegaskan nilai pendekatan pengelolaan stres yang hemat waktu,” tulis Sophie Hofmann dan rekan dalam pembahasan, dalam terjemahan. Mereka juga menilai kedua sesi penyegaran mampu memunculkan dan menstabilkan efek positif itu sampai bulan keenam.
Soal mengapa efeknya memudar, Hofmann dan rekan menunjuk perbedaan para peserta. “Dalam MAN-GO, semua peserta bekerja di pabrik industri yang sama, kebanyakan saling mengenal, dan, yang lebih penting lagi, melaporkan bahwa mereka tetap berhubungan lama setelah intervensi,” tulis mereka, dalam terjemahan. Peserta KMU-GO sebaliknya datang dari perusahaan yang berbeda dan berjauhan letaknya.
Bagi manajer yang sebagian besar baru saling kenal di ruang pelatihan, menurut Hofmann dan rekan, jaringan sesama manajer mungkin lebih sulit dibangun dan dirawat. Tetap berhubungan setelah pelatihan akan menuntut usaha tambahan dari mereka. Para penulis juga menyebut kemungkinan intensitas atau durasi sesi penyegaran terlalu rendah untuk konteks usaha kecil dan menengah.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Mencatat Siapa yang Mungkin Terlewat
Hofmann dan rekan mencatat sejumlah keterbatasan. Pelatihan berlangsung di puncak pandemi, yang menghambat rekrutmen dan bisa membuat sampelnya bias. Temuan psikologis bertumpu pada laporan diri peserta, dan banyak peserta menolak beberapa helai rambutnya dipotong karena alasan penampilan. Kelompok pembanding berupa daftar tunggu juga membatasi penilaian, karena perbaikan bisa muncul sekadar dari rasa telah menerima sesuatu.
Cakupannya pun terbatas, tulis Hofmann dan rekan. Temuan berlaku untuk usaha kecil dan menengah di Jerman, dengan peserta berpendidikan tinggi dan fasih berbahasa Jerman. Peserta juga memilih sendiri untuk ikut. “Mengingat ukuran psikologis awal sampel kami, yang menunjukkan tingkat stres sedang, kami mungkin melewatkan sebagian manajer yang paling membutuhkan pelatihan pengelolaan stres,” tulis mereka, dalam terjemahan.
Saran Hofmann dan rekan mengarah pada waktu yang lebih panjang. Sesi penyegaran bisa diperpanjang, dan kelompok sesama manajer bisa dipertahankan dengan bantuan administrasi bisnis lokal atau asosiasi profesi usaha kecil dan menengah, misalnya menyediakan tempat bertemu dan moderator pada pertemuan awal. Di Jerman, menurut mereka, kamar dagang dan industri setempat bisa menggelar pertemuan rutin dan menawarkan pelatihan semacam ini.
Pelatihan itu, saran Hofmann dan rekan, juga layak masuk rencana pelatihan resmi perusahaan, misalnya ketika seseorang pertama kali menjabat manajer. Mereka mencatat sebuah perusahaan asuransi kesehatan besar di Jerman bagian selatan tertarik menambahkannya ke program kesehatan kerjanya. Riset berikutnya, menurut mereka, bisa membandingkan pelatihan ini dengan kelompok yang menerima jenis pelatihan lain.
Dalam kesimpulannya, Sophie Hofmann dan rekan menyebut penelitian ini sebagai uji acak terkontrol pertama di Jerman, sepengetahuan mereka, yang menilai pelatihan kelola stres semacam ini untuk manajer usaha kecil dan menengah. Pada bulan keenam, manajer yang ikut pelatihan satu setengah hari dan dua kali penyegaran mencatat skor reaktivitas stres, kecemasan, dan depresi yang lebih rendah. Untuk efek yang lebih lama, mereka menyarankan sesi penyegaran yang lebih panjang dan kelompok sesama manajer yang terus dipertahankan.















