Warga Berisiko Miskin Tanpa Anak Serumah Kian Jarang Merasa Sehat

A A

Deretan blok apartemen bertingkat dengan balkon berjajar di Mehrower Allee, Berlin-Marzahn, Jerman [Foto: Gunnar Klack/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Pada 2024 hanya 68,1 persen perempuan dan 71,6 persen laki-laki usia 25 sampai 59 di Jerman menilai kesehatannya baik.
  • Rata-rata hanya 57,8 persen perempuan berisiko miskin yang menilai kesehatannya baik, dibanding 81,8 persen di kelompok berpendapatan tinggi.
  • Penurunan di lapisan berisiko miskin sebelum pandemi paling mencolok pada perempuan dan laki-laki yang tidak tinggal dengan anak.
  • Pada 2023/24 ibu berpendapatan rendah lebih jarang menilai dirinya sehat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Daftar Isi
  1. Rumah dengan Anak di Bawah 18 Tahun
  2. Dari 2009 ke Musim Pandemi
  3. Dompet di Bawah 60 Persen Median
  4. Perempuan Tanpa Anak di Rumah
  5. Sekolah dan Penitipan Anak yang Tutup
  6. Telepon, Kertas, dan Layar

Di sebagian besar survei, pertanyaan itu datang lewat sambungan telepon dan berbunyi: “Bagaimana kesehatan Anda secara umum?” Lima pilihan jawaban disodorkan, dari sangat baik, baik, sedang, buruk, sampai sangat buruk. Pertanyaan pendek yang sama diajukan kepada orang dewasa di Jerman, survei demi survei, dari 2009 sampai 2024.

Dari tumpukan jawaban itu, Petra Rattay dan rekan dari Departemen Epidemiologi dan Pemantauan Kesehatan Robert Koch Institute, Berlin, menyusun tulisan berjudul Poverty and health – does parenthood matter? Trends in income inequality in self-rated health among parents and non-parents in Germany from 2009 to 2024. Tulisan itu dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Yang mereka cari sederhana untuk diucapkan, tetapi jarang diperiksa. Apakah orang yang hidup dekat garis kemiskinan menilai kesehatannya secara berbeda bila di rumahnya ada anak, dan apakah pola itu berubah selama lima belas tahun. Jawaban yang muncul tidak sama untuk perempuan dan laki-laki.

Bahannya datang dari delapan survei GEDA antara 2009 dan 2023 serta survei pertama RKI Panel pada 2024. Totalnya 106.399 peserta berusia 25 sampai 59 tahun yang dipilih acak, terdiri atas 58.102 perempuan dan 48.297 laki-laki. Di antara mereka ada 23.732 ibu dan 17.008 ayah.

Rumah dengan Anak di Bawah 18 Tahun

Ukuran “orang tua” dalam paper ditentukan oleh isi rumah. Seseorang dihitung sebagai orang tua bila tinggal serumah dengan sedikitnya satu anaknya sendiri yang berusia di bawah 18 tahun. Anak kandung, anak tiri, dan anak angkat tidak dibedakan. Pendapatan diukur dengan definisi resmi Uni Eropa. Orang yang pendapatan rumah tangganya, setelah disetarakan dengan jumlah anggota rumah, kurang dari 60 persen median nasional dihitung berisiko miskin. Kelompok menengah berada di 60 sampai di bawah 150 persen median, dan kelompok tinggi di 150 persen ke atas.

Dengan ukuran itu, 41,4 persen perempuan dan 32,8 persen laki-laki dalam sampel adalah orang tua. Sebanyak 15,9 persen perempuan dan 13,8 persen laki-laki berisiko miskin. Di kelompok berpendapatan tinggi, angkanya 22,0 persen untuk perempuan dan 27,1 persen untuk laki-laki.

Begitu status orang tua ikut dihitung, gambarnya bergeser. Sebanyak 16,1 persen ibu berisiko miskin, sedikit di atas perempuan yang tidak tinggal dengan anak, yakni 15,3 persen. Pada laki-laki justru sebaliknya: 11,2 persen ayah berisiko miskin, sedangkan di antara laki-laki tanpa anak di rumah angkanya 14,8 persen.

Di ujung atas tangga pendapatan, mereka yang tanpa anak di rumah lebih sering berada di sana. Perempuan tanpa anak tercatat 26,4 persen berpendapatan tinggi dan laki-laki tanpa anak 30,3 persen. Ibu hanya 15,8 persen, sedangkan ayah 20,5 persen.

Dari 2009 ke Musim Pandemi

Pada 2009, 75,7 persen perempuan dan 77,7 persen laki-laki menjawab kesehatannya baik atau sangat baik. Angka itu tidak banyak berubah sampai pandemi COVID-19 dimulai. Paper memakai 15 Maret 2020, hari tindakan pembatasan mulai berlaku di Jerman, sebagai garis pemisah. Sesudah garis itu, angkanya justru naik. Pada awal pandemi, 80,2 persen perempuan dan 81,9 persen laki-laki menilai kesehatannya baik. Kenaikan itu berlaku bagi orang berusia 25 sampai 59 tahun, apa pun jenis kelamin, status orang tua, atau pendapatannya.

Yang menilai kesehatannya baik makin sedikitPerempuan 75,7% ke 68,1%; Laki-laki 77,7% ke 71,6%.Yang menilai kesehatannya baik makin sedikitPrevalensi kesehatan baik atau sangat baik, usia 25-59,distandarkan umur (%)2009202460%65%70%75%80%85%Perempuan68,1%75,7%Laki-laki71,6%77,7%2024 adalah titik terendah sepanjang 2009-2024
Sumber: Petra Rattay dan rekan, Poverty and health – does parenthood matter? Trends in income inequality in self-rated health among parents and non-parents in Germany from 2009 to 2024, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis mencatat beberapa dugaan yang dibahas dalam riset lain. Ada rasa solidaritas yang lebih kuat di awal pandemi. Ada pula kerja dari rumah dan jam kerja yang lebih pendek, yang mungkin memperlambat ritme hidup sebagian orang. Dugaan lain, orang membandingkan dirinya dengan mereka yang terkena korona sehingga menilai kesehatannya lebih baik.

Kenaikan itu tidak bertahan lama. Pada 2022, angkanya kembali ke tingkat sebelum pandemi, lalu terus turun dan mencapai titik terendah pada 2024: 68,1 persen untuk perempuan dan 71,6 persen untuk laki-laki. Menurut paper, masih harus dilihat apakah ini kecenderungan jangka panjang atau gejala sesaat.

Baca juga Kemiskinan Energi di Tiga Kota Eropa, dari Tagihan hingga Jiwa

Dompet di Bawah 60 Persen Median

Di setiap survei, garis pendapatan terlihat jelas. Rata-rata dari seluruh survei, hanya 57,8 persen perempuan berisiko miskin yang menilai kesehatannya baik. Di kelompok menengah angkanya 74,0 persen, dan di kelompok berpendapatan tinggi 81,8 persen. Pada laki-laki, tangga yang sama berulang. Laki-laki berisiko miskin berada di 59,1 persen, kelompok menengah di 75,7 persen, dan kelompok berpendapatan tinggi di 84,3 persen. Satu-satunya pengecualian dicatat pada 2012, ketika rentang kepercayaan dua kelompok yang berdampingan saling tumpang tindih.

Status orang tua menunjukkan pola serupa. Rata-rata 79,7 persen ibu dan 82,0 persen ayah menilai kesehatannya baik. Di antara perempuan dan laki-laki tanpa anak di rumah, angkanya 68,8 persen dan 72,6 persen. Di setiap survei, orang tua lebih sering menjawab sehat daripada mereka yang tidak tinggal dengan anak. Hanya pada 2009 dan 2010 jarak itu lebih tipis di kalangan laki-laki dibanding perempuan. Pola waktu keduanya pun serupa: naik di awal pandemi, turun sesudahnya.

Paper menggarisbawahi temuan di lapisan bawah. Penurunan di kelompok berisiko miskin sudah tampak sebelum pandemi, pada laki-laki sejak 2014/15 dan pada perempuan pada 2019/20. Penurunan seperti itu tidak terlihat di kelompok menengah dan tinggi.

Perempuan Tanpa Anak di Rumah

Ketika garis pendapatan dipecah menurut status orang tua, jarak antarkelompok di kalangan ibu jauh lebih kecil daripada di kalangan perempuan tanpa anak. Antara 2014/15 dan 2022, ibu berpendapatan rendah lebih sering menilai dirinya sehat dibanding perempuan berpendapatan rendah yang tidak tinggal dengan anak.

Penurunan sebelum pandemi di lapisan berisiko miskin paling mencolok pada perempuan tanpa anak. Pada 2019/20, ketimpangan di kelompok ini melonjak tajam. Paper mengukurnya dengan indeks kemiringan ketimpangan, yang di kelompok ini mencapai 0,53, artinya selisih 53 poin persen antara kelompok pendapatan terendah dan tertinggi.

Ukuran relatifnya memberi gambaran lain dari kelompok yang sama. Pada survei yang sama, perempuan tanpa anak yang berpendapatan tertinggi 2,18 kali lebih mungkin menyatakan sehat daripada mereka yang berpendapatan terendah. Antara 2014/15 dan 2022, kedua ukuran itu pada perempuan tanpa anak lebih tinggi daripada pada ibu.

Di sisi laki-laki, perbedaan antara ayah dan laki-laki tanpa anak di rumah kurang menonjol. Meski begitu, penurunan sebelum pandemi di lapisan berisiko miskin, pada 2014/15 dan 2019/20, hanya terjadi pada laki-laki tanpa anak di rumah. Angka mereka naik sedikit saat pandemi, lalu turun lagi pada 2024. Pada kedua ukuran ketimpangan, rentang kepercayaan ayah dan laki-laki tanpa anak di rumah tumpang tindih di semua survei.

Petra Rattay dan rekan merangkum temuan itu dalam simpulan mereka. “Kesehatan orang-orang berisiko miskin yang hidup tanpa anak di bawah umur sudah memburuk pada pertengahan 2010-an. Namun pada akhir pandemi dan sesudahnya, hal ini juga berlaku bagi ibu dan, dalam kadar lebih kecil, bagi ayah,” tulis mereka, dalam terjemahan bebas.

Baca juga Urusan Kantor yang Terbawa Pulang Mengusik Hubungan Ayah Baru

Sekolah dan Penitipan Anak yang Tutup

Awal pandemi membawa perubahan di kalangan ibu. Kenaikan penilaian sehat terutama terjadi pada perempuan berisiko miskin, baik ibu maupun bukan. Pada 2020/21, di antara ibu tidak ada perbedaan bermakna antara tiga kelompok pendapatan. Para penulis menafsirkannya demikian. “Terutama ibu-ibu yang berisiko miskinlah yang tampak lebih tangguh menghadapi tekanan yang meningkat, yang sering dipicu penutupan sekolah dan tempat penitipan anak,” tulis Rattay dan rekan dalam bagian pembahasan, dalam terjemahan bebas.

Orang tua dan kelompok berpendapatan tinggi lebih sering merasa sehatBukan orang tua: Perempuan 68,8%, Laki-laki 72,6%; Orang tua: Perempuan 79,7%, Laki-laki 82,0%; Di bawah 60% median: Perempuan 57,8%, Laki-laki 59,1%; 60% sampai di bawah 150%: Perempuan 74,0%, Laki-laki 75,7%; 150% median ke atas: Perempuan 81,8%, Laki-laki 84,3%.Orang tua dan kelompok berpendapatan tinggilebih sering merasa sehatPrevalensi kesehatan baik atau sangat baik, rata-rata seluruhsurvei, distandarkan umur (%)PerempuanLaki-laki0%20%40%60%80%100%68,8%72,6%Bukanorang tua79,7%82,0%Orang tua57,8%59,1%Di bawah60%median74,0%75,7%60%sampai dibawah150%81,8%84,3%150%median keatasPendapatan: persen dari median pendapatan rumah tangga
Sumber: Petra Rattay dan rekan, Poverty and health – does parenthood matter? Trends in income inequality in self-rated health among parents and non-parents in Germany from 2009 to 2024, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Menurut tafsiran mereka, ibu berpendapatan rendah yang peluang kerjanya terbatas mungkin mendapat pengakuan lewat perannya sebagai ibu. Bagi perempuan tanpa anak, tekanan dari kemiskinan tidak bisa diimbangi pengakuan semacam itu di lingkungan keluarga. Penulis juga menyebut kemungkinan efek seleksi: penyakit berat dan jangka panjang pada perempuan dapat memengaruhi peluang meraih pekerjaan bergaji baik sekaligus membangun keluarga.

Pola itu tidak bertahan. Pada 2023/24, ibu berpendapatan rendah lebih jarang menilai dirinya sehat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, kedua ukuran ketimpangan di kalangan ibu naik, dan pada 2024 ketimpangan ibu dan perempuan tanpa anak hampir setara. Paper menawarkan satu kemungkinan penjelasan, yakni beban berlebih bagi ibu miskin setelah bertahun-tahun pandemi serta krisis yang berlanjut maupun yang baru, seperti perang di Ukraina, kenaikan tajam harga energi dan pangan akibat inflasi tinggi pada 2022 dan 2023, serta kekurangan perumahan.

Saat pendidikan dan status kerja ikut diperhitungkan, hubungan antara pendapatan dan penilaian sehat melemah, tetapi sebagian tetap bermakna. Paper mencatat ibu di Jerman, pada tahun keempat setelah melahirkan, berpenghasilan rata-rata hampir 30.000 euro per tahun lebih sedikit daripada perempuan seusia yang tidak punya anak.

Baca juga Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah

Telepon, Kertas, dan Layar

Para penulis mengakui sejumlah batas. Datanya berasal dari survei potong-lintang, sehingga arah hubungan antara kemiskinan, status orang tua, dan kesehatan tidak dapat disimpulkan. Apakah anak membuat orang tua lebih sehat, atau orang sehat lebih mungkin punya anak, tetap belum terjawab.

Cara bertanya juga tidak selalu sama. Pada 2014/15 dan 2024, peserta mengisi kuesioner lewat web atau kertas, bukan lewat telepon, dan hal itu mungkin membuat jawaban lebih buruk. Meski begitu, analisis yang mengendalikan perbedaan cara survei memberi hasil yang sama.

Sebagian kelompok mungkin kurang terwakili, misalnya orang berpendidikan rendah, orang yang terbatas bahasa Jermannya, pengungsi, dan tunawisma. Akibatnya, ketimpangan kesehatan menurut pendapatan bisa saja lebih besar dari yang terukur. Paper juga tidak memisahkan orang tua tunggal dari orang tua yang tinggal bersama pasangan.

Simpulan para penulis menunjuk ke arah tindakan. “Melebarnya ketimpangan kesehatan menurut pendapatan, yang merugikan orang-orang berisiko miskin, menegaskan perlunya tindakan,” tulis Rattay dan rekan. Mereka meminta kebutuhan orang tua dan yang bukan orang tua dibedakan, serta ketimpangan kesehatan dipantau lebih rutin.

Pertanyaan itu tetap sama sejak 2009, entah diajukan lewat telepon, kertas, atau layar. Menurut para penulis, pengumpulan data yang terus-menerus dalam studi panel kelak memungkinkan dampak perubahan sosial jangka panjang terhadap ketimpangan kesehatan dianalisis.

Bagikan

Baca Juga

Anemia Siswi SMK Bondowoso Terkait Zat Besi dan Siklus Haid
Keluhan Sakit Kepala Lansia Spanyol Turun Nyata dalam 17 Tahun
Remaja Kerala Berat Lahir Rendah Lebih Mungkin Bertensi Tinggi
Perokok Berat Timur Laut China Rentan Darah Tinggi dan Diabetes
Pekerja Korea yang Masuk Kerja saat Sakit Lebih Mungkin Absen
Balita Bangladesh dengan Dapur di Luar Rumah Lebih Sering ISPA