- Keterlibatan CSR sendiri berhubungan dengan kinerja keuangan UMKM dengan koefisien 0,347 dan nilai p 0,008.
- Adopsi IoT berhubungan dengan keterlibatan CSR dengan koefisien 0,518 dan nilai p 0,000.
- Adopsi AI juga berhubungan langsung dengan kinerja keuangan UMKM dengan koefisien 0,275 dan nilai p 0,004.
- Seluruh responden adalah UMKM yang sudah memakai AI atau IoT, sehingga hasilnya tidak berbicara tentang usaha yang belum menyentuh teknologi itu.
Daftar Isi
Kecerdasan buatan dan tanggung jawab sosial sekilas tampak tidak berhubungan, tetapi di 200 UMKM Bali keduanya ternyata berjalan beriringan menuju kinerja keuangan yang lebih baik. Usaha yang makin jauh memakai kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) melaporkan kinerja keuangan yang lebih baik. Sebagian dorongan itu mengalir lewat kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Temuan itu ditulis Komang Widhya Sedana Putra P dan Ni Wayan Lasmi dalam Mediating Role of CSR in the Relationship between Technology Adoption and MSMEs’ Financial Performance, yang terbit di Jurnal Economia volume 22 nomor 2 tahun 2026. Keduanya bernaung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Nasional, Denpasar, dan Komang Widhya Sedana Putra P menjadi penulis korespondensi.
Usaha yang mereka potret bukan usaha sembarang. Semuanya sudah memakai sedikitnya satu bentuk AI atau IoT dalam kegiatan operasional atau keuangan, dan sudah berjalan lebih dari dua tahun, dipilih dari 16.650 UMKM yang terdaftar di Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali lewat survei Agustus sampai November 2024. Jadi pertanyaannya bukan apakah teknologi dipakai, melainkan sejauh mana dan ke mana dampaknya.
Sisi pertama: AI yang menguatkan CSR
Pada sisi kecerdasan buatan, Putra dan Lasmi menemukan dua jalur sekaligus. Adopsi AI berhubungan dengan keterlibatan CSR dengan koefisien jalur 0,480 dan nilai p 0,000. Adopsi AI juga berhubungan langsung dengan kinerja keuangan UMKM dengan koefisien 0,275 dan nilai p 0,004. Keduanya lolos uji signifikansi yang dipakai dalam naskah.
Dalam kerangka yang disusun kedua penulis, AI memberi usaha kecil kemampuan analisis prediktif, pengenalan risiko, dan peramalan pasar. Efisiensi dari otomatisasi disebut bisa menekan biaya operasional dan membebaskan tenaga kerja untuk kegiatan bernilai lebih tinggi, termasuk kegiatan sosial dan keberlanjutan. Dari situlah jalur AI menuju CSR dibangun dalam model mereka.
Jalur tidak langsung AI lewat CSR menuju kinerja keuangan tercatat 0,167 dengan nilai p 0,005. Angka ini adalah hasil kali jalur AI ke CSR dengan jalur CSR ke kinerja keuangan. Artinya, dalam model Putra dan Lasmi, sebagian hubungan AI dengan kinerja keuangan mengalir melalui CSR, bukan seluruhnya langsung.
Sisi kedua: IoT yang menempuh jalur serupa
Di sisi lain, Internet of Things menempuh jalur yang bentuknya sama. Adopsi IoT berhubungan dengan keterlibatan CSR dengan koefisien 0,518 dan nilai p 0,000. Hubungan langsungnya dengan kinerja keuangan UMKM tercatat 0,382 dengan nilai p 0,000, sehingga kedua jalur itu juga lolos uji dalam naskah.
Dalam tinjauan Putra dan Lasmi, IoT bekerja lewat pengumpulan data waktu nyata dari aset, persediaan, dan rantai pasok. Sistem pembayaran dan transaksi digital berbasis IoT disebut mengurangi kesalahan transaksi dan mempercepat arus kas. Pemantauan lingkungan dan data berkelanjutan dari IoT itulah yang dalam model mereka menghubungkannya dengan kegiatan CSR.
Jalur tidak langsung IoT lewat CSR menuju kinerja keuangan tercatat 0,180 dengan nilai p 0,032. Seperti pada AI, angka ini merupakan hasil kali jalur IoT ke CSR dengan jalur CSR ke kinerja keuangan. Nilai p pada jalur ini lebih besar daripada jalur AI, tetapi jalur itu tetap dinyatakan bermakna oleh kedua penulis.
Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya
Yang sama: CSR sebagai jembatan
Kedua teknologi itu bertemu pada satu titik. Keterlibatan CSR sendiri berhubungan dengan kinerja keuangan UMKM dengan koefisien 0,347 dan nilai p 0,008. Karena jalur langsung AI dan IoT tetap bermakna, Putra dan Lasmi menyimpulkan bahwa CSR memediasi secara parsial, bukan menggantikan jalur langsung teknologi ke kinerja keuangan.
Kedua penulis merangkum temuan itu dalam satu kalimat. “Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa meskipun adopsi AI dan IoT secara langsung berkontribusi pada perbaikan hasil keuangan, upaya CSR yang lebih tinggi semakin memperkuat pengaruh positif ini,” tulis Komang Widhya Sedana Putra P dan Ni Wayan Lasmi dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Menurut kedua penulis, CSR dalam model ini bukan sekadar syarat batas, melainkan mekanisme yang mengubah efisiensi teknologi menjadi modal reputasi, loyalitas pelanggan, dan kepercayaan pemangku kepentingan. “Logika mediasi ini sangat relevan bagi UMKM yang tidak memiliki struktur tata kelola formal dan sangat bergantung pada kepercayaan relasional serta legitimasi sosial untuk menopang pertumbuhan usaha,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris.
Pada kesimpulan, Putra dan Lasmi menegaskan posisi itu sekali lagi. “Penelitian ini menempatkan CSR bukan sekadar kewajiban moral, melainkan mekanisme operasional yang menerjemahkan investasi teknologi menjadi manfaat ekonomi yang nyata,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut gabungan AI, IoT, dan CSR dalam satu model sebagai kebaruan studinya.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Yang berbeda: besar jalur dan tingkat keyakinan
Perbedaan kedua teknologi terletak pada besaran angka, bukan pada arah. Pada ketiga jalur, koefisien IoT tercatat lebih besar daripada AI, yakni 0,518 berbanding 0,480 ke CSR, 0,382 berbanding 0,275 langsung ke kinerja, dan 0,180 berbanding 0,167 lewat CSR. Naskah tidak menguji apakah selisih itu sendiri bermakna secara statistik.
Pada kasus kedua, arah perbedaannya terbalik untuk tingkat keyakinan jalur tidak langsung. Jalur AI lewat CSR memiliki nilai p 0,005, sedangkan jalur IoT lewat CSR memiliki nilai p 0,032. Kedua jalur sama-sama dinyatakan bermakna oleh Putra dan Lasmi, dan naskah tidak menyatakan salah satu teknologi lebih unggul daripada yang lain.
Pemilik usaha yang menjawab survei pun punya wajah tertentu. Sebanyak 57,50 persen laki-laki dan 42,50 persen perempuan, dengan 52,50 persen berusia 31 sampai 40 tahun dan rata-rata usia sekitar 38 tahun. Sebanyak 69 persen bergelar sarjana, dan rata-rata pengalaman usaha mereka sekitar 10 tahun, dengan kelompok terbesar 6 sampai 10 tahun sebanyak 40 persen.
Dari gambaran itu, kedua penulis menyusun usulan untuk Indonesia. Mereka menyebut pelatihan dan pendampingan bagi perempuan pengusaha, pemilik usaha muda, dan pemilik berpendidikan formal lebih rendah sebagai hal penting agar pemakaian teknologi inklusif. Mereka juga mengusulkan antarmuka teknologi yang lebih sederhana, insentif keuangan, dan hibah untuk integrasi teknologi.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Batas temuan dari Bali
Putra dan Lasmi mengakui batas studinya dengan terang. “Mengingat penelitian ini berfokus secara geografis pada Bali …, studi berikutnya perlu menggeneralisasi hasil ini dengan meneliti wilayah lain, memakai variabel eksternal, dan melakukan analisis longitudinal,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka juga menyarankan riset kualitatif untuk melengkapi angka survei.
Batas lain tampak dari siapa yang diteliti. Seluruh responden adalah UMKM yang sudah memakai AI atau IoT, sehingga hasilnya tidak berbicara tentang usaha yang belum menyentuh teknologi itu. Hubungan yang ditemukan juga berasal dari satu kali survei, sehingga belum bisa dibaca sebagai sebab dan akibat yang terjadi dari waktu ke waktu.
Kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca
Pembaca yang teliti bisa memeriksa beberapa hal di naskah Putra dan Lasmi. Syarat responden adalah usaha yang sudah berjalan lebih dari dua tahun, tetapi tabel demografi memuat kelompok pengalaman usaha 1 sampai 5 tahun sebanyak 25 persen. Teks juga menyebut mayoritas usia 30 sampai 40 tahun dan pengalaman 5 sampai 15 tahun, sementara tabelnya memakai kelompok 31 sampai 40, 6 sampai 10, dan 11 sampai 15.
Indikator adopsi IoT disebut diadaptasi dari karya Stock dan rekan tahun 2024 serta Chen dan rekan tahun 2021. Namun di daftar pustaka naskah, kedua rujukan itu berjudul tentang CSR di perusahaan keluarga dan CSR serta citra korporat di masa krisis, bukan tentang IoT. Hipotesis dalam naskah juga disajikan dengan urutan H3 dan H5 lebih dulu, baru H1, H2, H4, H6, dan H7.
Ada pula lompatan kecil di bagian kesimpulan. Kedua penulis menyebut kesiapan UMKM terutama tampak pada pengusaha muda dan berpendidikan, lalu mengusulkan program khusus bagi perempuan pengusaha. Model yang diuji tidak membandingkan hasil menurut jenis kelamin, usia, atau pendidikan, karena data itu hanya muncul di tabel deskriptif.
Pada akhirnya, naskah Putra dan Lasmi menimbang dua teknologi yang berbeda wujud tetapi berjalan di rel yang sama. AI dan IoT sama-sama berhubungan langsung dengan kinerja keuangan UMKM Bali, dan sama-sama melewati CSR sebagai jembatan tambahan. Yang membedakan keduanya hanyalah besar angka dan tingkat keyakinan, sementara pertanyaan tentang usaha di luar Bali masih dibiarkan terbuka.














