Minuman Energi Lebih Sering Diminum Orang Jepang Ekstrovert

A A

Kaleng dan botol minuman energi berjajar di rak lemari pendingin toko berlabel harga [Foto: introspectivedsgn/Pexels]

  • Dari lima sifat itu, hanya ekstraversi yang konsisten terkait dengan seringnya minum minuman energi.
  • Laki-laki lebih sering minum minuman energi daripada perempuan, dengan rasio odds 1,69.
  • Kopi, yang dipakai sebagai penanda asupan kafein secara umum, justru tidak bermakna dengan rasio odds 1,11.
  • Penulis juga mengakui temuan ini mungkin khas budaya Jepang dan perlu diuji di tempat lain.
Daftar Isi
  1. Lima Besar: lima ukuran watak
  2. Ekstraversi: watak yang haus rangsangan
  3. Pencarian sensasi: dorongan mengejar debar
  4. Minuman tonik bernutrisi: kerabat lama dari Jepang
  5. Efek kecil: hubungan lemah yang tetap berarti
  6. Angka pembanding: rujukan yang perlu dicek

Ekstraversi, dalam bahasa sehari-hari, adalah watak orang yang mudah bergaul, riang, dan tampak selalu bertenaga. Di Jepang, watak itu ternyata ikut menandai siapa yang lebih sering meraih minuman energi. Hubungannya tidak besar, tetapi tetap bertahan ketika kebiasaan minum kopi, alkohol, dan minuman tonik ikut diperhitungkan.

Temuan itu ditulis Shinya Yoshino dan Atsushi Oshio dalam artikel berjudul Associations between energy drink consumption and Big Five personality traits among Japanese adults. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026, dan seluruh naskahnya ditulis dalam bahasa Inggris.

Yoshino bernaung di The Health Care Science Institute di Minato-ku, Tokyo, sedangkan Oshio berasal dari Faculty of Letters, Arts, and Sciences, Waseda University. Keduanya menelaah jawaban 789 orang dewasa Jepang berusia 20 sampai 59 tahun dalam survei daring Oktober 2020, terdiri atas 397 perempuan dan 392 laki-laki.

Minuman energi yang dimaksud dicontohkan dalam kuesioner dengan Red Bull dan Monster Energy. Naskah mencatat minuman ini populer terutama di kalangan dewasa muda dan kerap diharapkan mendongkrak kinerja fisik. Namun, konsumsinya dikaitkan dengan berbagai masalah, dari stres, cemas, dan depresi hingga risiko kelebihan kafein.

Hasil survei menunjukkan kebanyakan responden bukan peminum. Sebanyak 63,5 persen menjawab tidak pernah, 7,22 persen setahun sekali, 8,62 persen beberapa kali setahun, dan 10,14 persen sebulan sekali. Di ujung lain, 5,83 persen minum seminggu sekali, 3,68 persen beberapa kali seminggu, dan 1,01 persen hampir setiap hari.

Seberapa sering orang dewasa Jepang minum minuman energiTidak pernah: Persen responden +63,50%; Setahun sekali: Persen responden +7,22%; Beberapa kali setahun: Persen responden +8,62%; Sebulan sekali: Persen responden +10,14%; Seminggu sekali: Persen responden +5,83%; Beberapa kali seminggu: Persen responden +3,68%; Hampir setiap hari: Persen responden +1,01%.Seberapa sering orang dewasa Jepang minumminuman energi789 responden usia 20-59 tahun, survei Oktober 202020%40%60%0Tidak pernah63,50%Setahun sekali7,22%Beberapa kali setahun8,62%Sebulan sekali10,14%Seminggu sekali5,83%Beberapa kali seminggu3,68%Hampir setiap hari1,01%Persentase sesuai naskah; minuman energi dicontohkan Red Bull danMonster Energy.
Sumber: Shinya Yoshino dan Atsushi Oshio, Associations between energy drink consumption and Big Five personality traits among Japanese adults, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi

Lima Besar: lima ukuran watak

Lima Besar, atau Big Five, adalah kerangka yang memotret kepribadian manusia lewat lima sifat dasar. Kelimanya adalah ekstraversi, keramahan, kehati-hatian, neurotisisme, dan keterbukaan. Naskah menyebut kerangka ini menyeluruh dan terbukti mampu meramalkan beragam perilaku serta jalan hidup seseorang.

Contoh tiap sifat diberikan naskah sendiri. Orang berskor ekstraversi tinggi digambarkan mudah bergaul, riang, dan bertenaga, sedangkan keramahan tinggi berarti baik hati, berempati, dan mudah percaya. Kehati-hatian tampak pada orang yang cermat, tekun, dan teratur. Neurotisisme merujuk pada watak penakut, pencemas, dan emosi yang labil, sementara keterbukaan tampak pada orang yang imajinatif, artistik, dan penuh pertimbangan.

Kerangka ini sebelumnya sudah dipakai untuk membaca kebiasaan minum alkohol dan merokok. Karena itu, Yoshino dan Oshio ingin tahu apakah kerangka yang sama bisa menunjukkan watak peminum minuman energi. Tujuannya, menurut naskah, memberi bahan untuk mencegah konsumsi yang berlebihan atau merugikan.

Ekstraversi: watak yang haus rangsangan

Dari lima sifat itu, hanya ekstraversi yang konsisten terkait dengan seringnya minum minuman energi. Rasio odds ekstraversi tercatat 1,24. Bedanya begini: rasio odds di atas 1 berarti orang dengan skor sifat yang lebih tinggi berpeluang lebih besar berada di kelompok peminum yang lebih sering, sedangkan angka 1 berarti tidak ada beda.

Keterbukaan sempat menunjukkan pola serupa dengan rasio odds 1,22. Namun, begitu kebiasaan minum kopi, alkohol, dan minuman tonik bernutrisi ikut dihitung, angkanya turun menjadi 1,13 dan tidak lagi bermakna secara statistik. Ekstraversi tetap bertahan di angka 1,23.

Hanya ekstraversi yang bertahanRasio odds ekstraversi 1,24 lalu 1,23 dan tetap bermakna; keterbukaan 1,22 turun menjadi 1,13 dan tidak lagi bermakna; tiga sifat lain tidak bermakna di kedua model.Hanya ekstraversi yang bertahanRasio odds kumulatif, 789 orang dewasa JepangModel awal+ minuman lain1,24*1,23*Ekstraversi1,22*1,13Keterbukaan1,081,05Neurotisisme1,061,02Kehati-hatian0,980,97Keramahan* bermakna (p kurang dari 0,05). Model kedua memperhitungkan kopi,alkohol, dan minuman tonik bernutrisi.
Sumber: Shinya Yoshino dan Atsushi Oshio, Associations between energy drink consumption and Big Five personality traits among Japanese adults, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Keramahan, kehati-hatian, dan neurotisisme tidak menunjukkan hubungan bermakna di kedua perhitungan. Rasio odds ketiganya berkisar antara 0,97 dan 1,08. Pola yang sama muncul ketika penulis mengulang perhitungan memakai alat ukur Lima Besar lain, berupa 29 kata sifat berbahasa Jepang.

Maksudnya, ekstraversi dalam kerangka ini bukan hanya soal suka berkumpul. Naskah menyebut kecenderungan mencari sensasi dan berani mengambil risiko sebagai segi penting ekstraversi. Karena itu, penulis menyimpulkan orang yang sangat membutuhkan rangsangan, salah satu segi ekstraversi, lebih mungkin minum minuman energi.

Dua ciri lain juga ikut menentukan. Laki-laki lebih sering minum minuman energi daripada perempuan, dengan rasio odds 1,69. Makin tua responden, makin jarang mereka minum, tercermin dari rasio odds usia 0,75. Pendidikan, status menikah, punya anak, dan pendapatan rendah tidak menunjukkan hubungan bermakna.

Usia juga membentuk pola tersendiri. Responden berusia 40-an dan 50-an lebih mungkin tidak pernah minum minuman energi dibanding mereka yang berusia 20-an dan 30-an. Namun, proporsi yang minum minimal sebulan sekali di usia 20-an ternyata mirip dengan usia 40-an dan 50-an, dan proporsi tertinggi justru ada pada usia 30-an.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Pencarian sensasi: dorongan mengejar debar

Pencarian sensasi, atau sensation seeking, diukur naskah lewat tiga bagian. Pertama, pencarian petualangan dan ketegangan, misalnya suka olahraga menegangkan walau sedikit berisiko. Kedua, lepas kendali, misalnya senang berganti hobi mengikuti tren. Ketiga, pencarian pengalaman, yaitu keinginan mencicipi sebanyak mungkin pengalaman.

Ketiganya terkait dengan seringnya minum minuman energi. Rasio odds pencarian petualangan dan ketegangan 1,59, lepas kendali 1,36, dan pencarian pengalaman 1,43. Pencarian petualangan dan ketegangan menjadi yang terkuat, dengan korelasi 0,30, yakni ukuran seberapa seiring dua hal naik dan turun bersama.

Perubahan terjadi pada ekstraversi. Ketika salah satu dari tiga bagian itu dimasukkan ke perhitungan, rasio odds ekstraversi melemah menjadi 1,12, 1,15, dan 1,17, dan tidak lagi bermakna. Maksudnya, dorongan mencari sensasi tampaknya menjelaskan sebagian hubungan antara watak ekstrovert dan kebiasaan minum minuman energi.

Minuman tonik bernutrisi: kerabat lama dari Jepang

Minuman tonik bernutrisi adalah kategori minuman asal Jepang yang biasanya mengandung taurin dan vitamin B. Naskah mencatat produk ini lebih dulu dipasarkan di Jepang daripada minuman energi. Karena itu, sebagian orang diduga memilih minuman tonik untuk menambah tenaga, alih-alih minuman energi.

Kedekatan keduanya tampak dalam angka. Korelasi antara minum minuman energi dan minum minuman tonik bernutrisi mencapai 0,63, jauh di atas korelasinya dengan alkohol yang 0,26. Kebiasaan minum tonik bernutrisi beberapa kali seminggu atau lebih memiliki rasio odds 1,88, sedangkan kebiasaan minum alkohol sesering itu 1,40.

Kopi, yang dipakai sebagai penanda asupan kafein secara umum, justru tidak bermakna dengan rasio odds 1,11. Menurut penulis, hubungan ekstraversi yang bertahan setelah minuman tonik diperhitungkan menunjukkan sesuatu. Minum minuman energi mungkin mencerminkan pencarian rangsangan yang tidak semata soal kandungannya, tetapi juga pengalaman dan suasana saat meminumnya.

Naskah juga menyandingkan temuan itu dengan alkohol. Peminum alkohol, menurut kajian terdahulu yang dirujuk, cenderung lebih ekstrovert, sehingga kedua kelompok mungkin berbagi sebagian watak. Bedanya, minuman energi biasanya tidak diminum di pesta atau acara sosial seperti alkohol. Penulis menduga orang ekstrovert memilihnya saat butuh kinerja yang bertahan lama, misalnya ketika bekerja atau belajar.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Efek kecil: hubungan lemah yang tetap berarti

Ukuran hubungan yang ditemukan memang tidak besar. “Ukuran efek sifat kepribadian dalam studi ini tidak besar, yang mungkin menandakan bahwa sifat kepribadian saja tidak cukup menjelaskan konsumsi minuman energi,” tulis Yoshino dan Oshio dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu.

Namun, penulis mengingatkan bahwa perilaku dipengaruhi banyak hal, dari jadwal yang padat hingga suhu udara. Porsi yang bisa dijelaskan kepribadian umumnya memang kecil. Mereka merujuk tinjauan yang menempatkan korelasi sekitar 0,10 sebagai batas seperempat terbawah dan 0,30 sebagai batas seperempat teratas ukuran efek dalam riset kepribadian, sehingga efek kecil tetap berarti bila menyangkut banyak orang.

Keterbatasannya diakui terbuka. Kebiasaan minum hanya diukur lewat satu pertanyaan laporan diri tentang frekuensi, tanpa merek, masalah akibat minum, atau suasana saat minum, sehingga jawaban rawan salah ingat. Survei ini juga hanya potret satu waktu, jadi tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu, watak atau kebiasaan minum.

Hubungan yang ditemukan kecil, sementara uji statistiknya banyak, sehingga sebagian hasil bermakna bisa saja kebetulan. Penulis juga mengakui temuan ini mungkin khas budaya Jepang dan perlu diuji di tempat lain. Mereka menilai perlu studi lanjutan dengan sampel berbeda untuk menguji seberapa kokoh temuan tersebut.

Angka pembanding: rujukan yang perlu dicek

Naskah menyebut minum minuman energi secara sering relatif jarang di Jepang. Angka pernah minum pada orang dewasa Jepang 36,5 persen dan pada mahasiswa Jepang 47,6 persen, lebih rendah dibanding Australia 51,2 persen dan Swedia 63,3 persen. Namun, dua pembanding luar negeri itu dirujuk ke studi yang judulnya tentang anak sekolah Australia dan remaja Swedia.

Jadi, angka orang dewasa Jepang disandingkan dengan angka dari kelompok umur yang lebih muda. Angka 36,5 persen dan 47,6 persen juga sama-sama diberi rujukan ke studi mahasiswa terdahulu milik kedua penulis. Padahal, angka 36,5 persen cocok dengan sisa dari 63,5 persen responden studi ini yang tidak pernah minum.

Klaim bahwa minuman energi sudah beredar sekitar 40 tahun, yang dipakai untuk mengingatkan kemungkinan masalah kesehatan jangka panjang, juga tidak disertai rujukan. Naskah mencatat penelitian ini didanai hibah Tobacco Academic Studies Center dan datanya pernah dipakai dalam laporan ke lembaga pemberi hibah dengan tujuan berbeda. Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

Ekstraversi, pada akhirnya, adalah ukuran watak yang lebar, dan studi ini menunjukkan bagian yang terkait dengan minuman energi lebih tepat disebut sisi haus rangsangannya. Hubungan itu nyata tetapi kecil, ditemukan pada satu survei di Jepang. Di situlah batas istilah itu: skor ekstrovert yang tinggi belum bisa menjelaskan sendirian mengapa seseorang meraih minuman energi.

Bagikan

Baca Juga

Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang
Cemas Radiasi Warga Fukushima Bertahan Tujuh Tahun Pascabencana
Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Pakar IPB: Makanan Sisa Aman 3-4 Hari di Suhu 4 Derajat
Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Guru Besar UNAIR: Anak Disleksia Bukan Anak yang Bodoh