Cekricek.id — Satu per satu murid itu berdiri membelakangi stadiometer yang sudah dikalibrasi. Tumit rapat, angka tinggi badan dicatat. Sesudah itu mereka pindah ke Xiaomi Mi 2 Pro, alat yang dipakai tim survei untuk menimbang berat badan sekaligus menghitung indeks massa tubuh. Pengambilan data dijalankan seorang demi seorang, di bawah pengawasan langsung tim peneliti, antara Februari dan Juni 2025. Nama mereka tidak ikut tercatat; seluruh hasil survei melewati proses anonimisasi.
Dari ruang ukur itulah lahir laporan berjudul Leisure Time Habits and Physical Activity Levels in Junior High School Students in the Kepulauan Seribu, Jakarta. Penulis utamanya Raisa Ganeswara, bersama enam rekan dari Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Jakarta. Naskahnya terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 10 Nomor 2 pada Desember 2025, memakai desain studi kasus potong lintang. Lokasinya dua pulau di Kepulauan Seribu: Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.
Stadiometer dan Timbangan Digital
Alat kedua tidak berbentuk logam. Setiap murid mengisi International Physical Activity Questionnaire versi anak, kuesioner yang mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi satuan Metabolic Equivalents. Hasilnya dipilah ke dalam tiga laci: rendah di bawah 600 MET, sedang antara 600 dan 3.000 MET, dan tinggi di atas 3.000 MET. Instrumen yang sama sudah diuji pada beberapa kajian terdahulu, termasuk kajian tim ini sendiri di jenjang sekolah dasar di dua pulau yang persis sama.
Yang duduk mengisi kuesioner itu murid kelas VII dan VIII. Jumlahnya disebut 215 orang, baik di abstrak maupun di bagian metode. Namun rincian jenis kelamin yang tertulis — 104 murid laki-laki dan 109 murid perempuan — berjumlah 213. Selisih dua orang itu tidak dijelaskan di dalam naskah, sementara seluruh tabel tetap memakai n=104 dan n=109. Angka totalnya lebih aman dibaca sebagai kisaran, di sekitar dua ratus belasan murid, ketimbang dikunci pada satu bilangan.
Beberapa langkah dari stadiometer, di lembar catatan yang sama, tubuh mereka mulai punya bentuk angka. Rata-rata usianya nyaris seragam: 13,4 tahun pada kelompok laki-laki dan 13,5 tahun pada kelompok perempuan. Berat badan laki-laki tercatat 45,8 kilogram, perempuan 44,7 kilogram. Tinggi badan laki-laki 155,7 sentimeter, perempuan 149,5 sentimeter. Indeks massa tubuhnya justru berbalik arah: 18,9 pada laki-laki dan 21,29 pada perempuan.
Pramuka dan Panggang
Di luar ruang survei, dua pulau itu bekerja dengan aturannya sendiri. Makalah menggambarkan Kepulauan Seribu sebagai wilayah yang terpencar dan relatif terisolasi, dengan fasilitas olahraga terbatas, ruang terbuka aman untuk bermain yang minim, dan kondisi geografis yang menyulitkan perpindahan antarpulau. Anak-anak di daratan Jakarta, tulis para peneliti, punya akses jauh lebih baik ke fasilitas olahraga, ruang terbuka hijau, dan program aktivitas fisik di sekolah.
Ukuran pembandingnya dipasang di bagian pembuka naskah. Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan anak dan remaja usia 5 sampai 17 tahun bergerak dengan intensitas sedang hingga berat setidaknya 60 menit setiap hari. Di bawah ambang itu, yang disebut tim bukan sekadar soal kebugaran: risiko obesitas, gangguan metabolik, dan masalah kesehatan mental yang bisa menempel sampai dewasa. Aktivitas fisik, tulis mereka mengutip literatur, menopang perkembangan fisik, kognitif, sekaligus sosial pada masa anak dan remaja.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Di atas kertas kuesioner, pulau yang serba terbatas itu justru memberi hasil yang tidak searah dengan dugaan. Pada kategori aktivitas tinggi, 72,2 persen murid laki-laki masuk ke dalamnya, dibanding 50,6 persen murid perempuan. Kategori sedang didominasi perempuan, 38,3 persen berbanding 20,3 persen. Yang masuk kategori rendah kecil di kedua kelompok: 7,6 persen pada laki-laki dan 11,1 persen pada perempuan. Digabung, mayoritas murid di kedua pulau berada di kategori sedang sampai tinggi, dengan prevalensi perilaku sedenter yang relatif rendah.
Tim yang sama pernah mengukur murid sekolah dasar di Panggang dan Pramuka pada 2024. Jenjang sekolah menengah pertama di gugusan pulau itu belum pernah disentuh siapa pun, dan celah itulah yang mereka sebut sebagai alasan datang kembali. Kali ini yang dibawa bukan cuma lembar kuesioner aktivitas, melainkan juga stadiometer dan alat ukur berat badan. Mereka menyebutnya salah satu upaya pertama yang menyatukan aktivitas fisik, status antropometri, dan kebiasaan harian anak SMP di gugusan pulau tersebut.
Yang membuat catatan itu berarti bukan semata persentasenya, melainkan kosongnya rak literatur di belakangnya. “Riset yang secara khusus mendokumentasikan bagaimana geografi kepulauan, keterbatasan fasilitas, dan gaya hidup masyarakat maritim memengaruhi kehidupan aktif serta status kesehatan anak sekolah menengah pertama di wilayah ini masih terbatas,” tulis Raisa Ganeswara dan timnya di bagian pembahasan, beberapa paragraf sesudah tabel terakhir.
Di dalam abstrak, para peneliti mengaitkan rutinitas aktif itu dengan karakter geografis dan sosial budaya lingkungan pulau, yang mendorong kegiatan di luar ruang dan kegiatan bersama. Kaitan itu berhenti sebagai dugaan. Kuesioner berbasis MET tidak mengukur sebab; ia hanya mencatat berapa lama seorang anak bergerak dan seberapa berat gerakannya, lalu menerjemahkan keduanya menjadi angka. Apa yang terjadi di antara rumah dan sekolah tidak ikut terekam ke dalam lembar itu.
Baca juga Kesehatan Jantung Perempuan: Skor Naik, Risiko Tetap
Kursi, Kasur, dan Meja Belajar
Kembali ke lembar isian, kolom berikutnya menghitung waktu diam. Rata-rata durasi duduk harian murid perempuan 2,40 jam, lebih panjang daripada murid laki-laki yang 2,02 jam. Selisihnya kurang dari setengah jam. Arahnya sejalan dengan temuan terdahulu yang dikutip di dalam makalah: anak perempuan cenderung lebih banyak mengisi hari dengan kegiatan sedenter dibanding anak laki-laki. Dua jam sekian menit itu pun angka rata-rata, bukan potret satu anak tertentu.
Kolom di sebelahnya berisi kasur. Murid laki-laki tidur rata-rata 8,59 jam semalam, murid perempuan 8,25 jam. Keduanya masih berada di dalam rentang yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia untuk kelompok usia itu, delapan sampai sepuluh jam. Para peneliti menyebutnya temuan positif, mengingat banyak remaja di wilayah perkotaan menunjukkan tren kurang tidur akibat tekanan akademik dan waktu layar yang berlebihan.
Meja belajar di rumah nyaris tidak membedakan keduanya: 1,02 jam bagi murid laki-laki dan 1,08 jam bagi murid perempuan. Berjalan kaki sedikit berbeda, 0,90 jam pada laki-laki dan 0,80 jam pada perempuan. Angka-angka itu kecil bila dibaca satu per satu, dan makalah tidak menjumlahkannya menjadi satu total waktu aktif harian yang bisa dibandingkan langsung dengan anjuran 60 menit tadi. Simpangan bakunya pun lebar pada beberapa kolom, terutama durasi tidur yang berayun sampai dua jam ke atas dan ke bawah.
Jauh dari dua pulau itu, di kota-kota yang dijadikan pembanding di dalam naskah, angkanya bergerak ke arah lain. Riset terdahulu di Kota Bandung menemukan anak usia 10 sampai 12 tahun beraktivitas fisik rendah dan cenderung menghabiskan waktu secara sedenter. Riset lain di Kota Surabaya mencatat hampir 90 persen anak usia 9 sampai 11 tahun mengisi waktunya dengan perilaku sedenter, yang berkorelasi sangat signifikan dengan obesitas.
Penjelasan yang ditawarkan tim mengarah ke ruang, bukan ke tubuh. Mereka mengutip riset yang menyimpulkan bahwa keterbatasan ruang gerak, norma sosial, dan minimnya ruang publik yang aman menjadi penghalang aktivitas fisik bagi anak perempuan dan remaja. Sementara selisih berat dan tinggi badan antara dua kelompok itu sendiri mereka hubungkan dengan pola makan yang berbeda dan awal masa pubertas. Anak laki-laki juga disebut lebih banyak terlibat dalam permainan aktif dan olahraga secara umum.
Baca juga Kalimat "Ini Normal" dari Tenaga Kesehatan Bikin Pasien Enggan Berobat
Dua Pulau, Bukan Seluruh Kepulauan
Sebelum angka-angka itu berpindah ke ruang rapat kebijakan, para penulisnya lebih dulu memasang rambu di halaman terakhir pembahasan. “Pertama, cakupan geografisnya terbatas hanya pada dua pulau, Pramuka dan Panggang, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh wilayah Kepulauan Seribu,” tulis mereka. Kalimat itu berdiri persis sesudah bagian yang paling banyak dikutip orang, dan sebelum kesimpulan yang nadanya optimistis.
Rambu kedua menyangkut cara datanya diambil. Seluruhnya potong lintang dan berbasis laporan diri, yang menurut tim rawan bias persepsi dan kesalahan mengingat, terutama pada durasi aktivitas harian dan durasi tidur. Anak yang mengaku berjalan kaki 0,9 jam sehari sedang mengingat, bukan sedang diukur. Karena itu tim menyarankan studi lanjutan dengan desain longitudinal, agar penentu aktivitas fisik dan perilaku sedenter anak di Kepulauan Seribu bisa dipahami lebih utuh ketimbang lewat satu kali pengukuran.
Sifat potong lintang juga menutup satu pintu tafsir. Data yang diambil sekali jalan tidak dapat menunjukkan bahwa lingkungan pulau menyebabkan anak lebih aktif; yang terlihat hanya dua hal yang muncul bersamaan. Indeks massa tubuh murid perempuan yang lebih tinggi pun berhenti sebagai rata-rata kelompok, bukan diagnosis, dan makalah tidak menghitung prevalensi obesitas di kedua pulau.
Kesimpulan yang mereka tulis pun dijaga tetap rendah. Mayoritas murid SMP di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka disebut menunjukkan pola aktivitas fisik yang relatif positif, dan itu ditempatkan sebagai indikasi awal yang menggembirakan, bukan bukti akhir. Rekomendasinya diarahkan ke sekolah dan pemangku kebijakan — menjaga serta memperluas akses dan kesempatan beraktivitas di lingkungan kepulauan — bukan ke anak-anaknya.
Stadiometer itu sudah dibereskan sejak Juni 2025. Yang tersisa dari empat bulan pengukuran adalah dua ratus lebih baris angka tentang anak-anak yang selama ini tidak pernah muncul di peta aktivitas fisik mana pun. Tinggi badan mereka tercatat sampai satu angka di belakang koma. Sisanya, apa yang mereka kerjakan sepanjang sore di pulau yang fasilitas olahraganya terbatas, masih berupa jawaban yang mereka ingat sendiri, dicatat sekali, pada satu rentang empat bulan, di dua pulau saja.














