Perusahaan Minyak AS Raup Laba 130 Miliar Dolar dari Perang Iran

A A

Dok. Ilustrasi logo ExxonMobil dan grafik saham yang dilihat melalui kaca pembesar, 2022. [Foto: Dado Ruvic/Reuters via Al Jazeera]

  • Perusahaan minyak AS meraup laba lebih dari 130 miliar dolar AS selama perang terhadap Iran.
  • Pada periode yang sama tahun 2025, laba gabungan 51 perusahaan itu kurang dari 47 miliar dolar AS.
  • Warga AS mengeluarkan tambahan 150 miliar dolar AS untuk bensin dan solar sejak perang dimulai.
  • Analis Rabobank memperkirakan harga energi tetap tinggi tahun depan kecuali pemerintah turun tangan.

Cekricek.id — Perusahaan minyak AS meraup laba lebih dari 130 miliar dolar AS selama perang terhadap Iran, sementara konsumen membayar harga jauh lebih mahal untuk sejumlah komoditas utama.

Estimasi yang dirilis The New York Times itu merupakan perhitungan konservatif berdasarkan kinerja 51 perusahaan minyak dan gas besar AS selama enam bulan, April hingga September, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Senin (2/11/2026). Pada periode yang sama 2025, saat harga minyak lebih rendah sebelum perang AS-Israel terhadap Iran dimulai, laba gabungan mereka kurang dari 47 miliar dolar AS.

Di sisi lain, warga AS mengeluarkan tambahan 150 miliar dolar AS untuk bensin dan solar sejak perang dimulai pada 28 Februari, atau lebih dari 1.150 dolar AS per rumah tangga, menurut analisis Climate Solutions Lab Universitas Brown.

Kesenjangan itu memicu perdebatan politik soal siapa yang diuntungkan dan siapa yang menanggung beban perang. Menanggapi Trump, anggota DPR AS dari Partai Demokrat Jim McGovern menulis di X: “Kita tidak sedang meraup ‘untung luar biasa besar’, kita sedang MEMBAYAR ‘harga luar biasa mahal’.”

“Produsen minyak mentah diuntungkan harga minyak yang lebih tinggi, sementara kilang menangguk margin luar biasa karena pasokan solar dan bahan bakar lain makin ketat,” kata Naser al-Tamimi, peneliti di Institute for International Political Studies (ISPI) di Milan, Italia.

ExxonMobil dan Chevron, dua perusahaan minyak terbesar AS, pada Jumat melaporkan laba antara 10 miliar dan 15 miliar dolar AS. Laba kuartal ketiga Valero Energy naik lebih dari enam kali lipat menjadi 6,83 miliar dolar AS, sementara Phillips 66 mencatat laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarahnya, yakni 5,62 miliar dolar AS dari 133 juta dolar AS setahun sebelumnya.

Analis geopolitik dan editor buletin Gulf States Insights Geoffrey Miller menyebut perang AS-Israel dengan Iran “menciptakan guncangan sisi pasokan terbesar bagi pasar minyak dan produk olahan global dalam beberapa tahun”. Sebaliknya, menurut Miller, produsen Teluk “terpukul keras oleh biaya dan risiko yang lebih tinggi, ditambah kerusakan fisik”.

Iran secara efektif memblokade sebagian besar kapal yang melintasi Selat Hormuz. AS membalas dengan blokade laut terhadap minyak dan gas Iran.

“Dalam jangka pendek, laba luar biasa hanya akan memperkuat neraca perusahaan minyak dan imbal hasil pemegang saham,” kata Miller. Ia mengingatkan, dalam jangka panjang harga minyak yang tinggi berisiko merusak prospek pertumbuhan ekonomi dan bahkan bisa ikut memicu resesi.

“Harga di semua pasar yang terpapar guncangan pasokan global ini, termasuk AS, juga akan tinggi tahun depan, dan konsumen akan terus merasakan tekanan harga ini kecuali pemerintah turun tangan,” kata ahli strategi energi senior Rabobank di London, Florence Schmit, kepada Al Jazeera.

Menurut Commodity Markets Outlook terbaru dari Kelompok Bank Dunia, harga komoditas diperkirakan naik 23 persen tahun ini.

Bagikan

Baca Juga

Serangan Rusia ke Pusat Bantuan di Ukraina Tewaskan 26 Orang
Dugaan Serangan Siber Panaskan Freezer Supermarket di Lima Negara
Trump Kembali Sebut Abdul El-Sayed Jihadis di Kampanye Terakhir
Utang Luar Negeri Cepat Dorong Ekonomi Negara Berkembang D-8
Ribuan Orang Tuntut Kepala Komisi Pemilu India Mundur
Senator Demokrat AS Chris Murphy Alami Stroke Jelang Pemilu Sela