Kanker Testis Nyaris Tak Dikenal Pria Saudi yang Disurvei

A A

Ilustrasi stetoskop tergeletak di atas buku catatan berjilid spiral di meja kayu [Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels]

  • Rata-rata skor pengetahuan tentang kanker testis hanya 9,2 dari 20, belum sampai separuh skala.
  • Rata-rata skor pemeriksaan testis sendiri hanya 0,32 dari enam dan rendah di semua kelompok.
  • Peluang peserta berpendidikan lebih tinggi untuk memeriksa testisnya 3,21 kali peluang lulusan sekolah menengah atas ke bawah.
  • Peserta dijaring secara daring dan sebaran wilayahnya timpang, sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh pria Saudi.
Daftar Isi
  1. Oktober 2024: angket disebar ke pria dewasa
  2. November 2024: jawaban 386 pria terkumpul
  3. Saat skor dihitung: rata-rata 9,2 dari 20
  4. Saat kebiasaan memeriksa ditanyakan: 0,32 dari 6
  5. Saat semua faktor diuji bersama
  6. Sesudah analisis: batas dan catatan pada naskah

Oktober 2024, sebuah tautan angket mulai beredar di Arab Saudi. Isinya pertanyaan tentang kanker testis dan kebiasaan pria memeriksa testisnya sendiri. Tautan itu berpindah lewat media sosial, portal universitas, dan jaringan komunitas sampai November 2024. Sebanyak 386 pria dewasa mengisinya, dan jawaban mereka memperlihatkan betapa sedikit yang mereka ketahui tentang penyakit itu.

Hasilnya ditulis Fatmah Alsharif, Sari Adnan Gusti, Abdulrahman Qurban, Saleh Alomary, Ahlam Zainalabdeen, dan Rawiah Alsiary dalam artikel Men’s health awareness in focus: knowledge of testicular cancer and awareness of testicular self-examination practices among men in Saudi Arabia. Artikel itu dimuat BMC Public Health tahun 2026 dalam versi yang belum disunting akhir, sehingga belum bernomor volume. Alsharif mengajar di Fakultas Keperawatan King Abdulaziz University, Jeddah.

Sebelum angket disebar, para penulis sudah mencatat sejumlah hal. Kanker testis adalah keganasan yang paling sering menyerang pria muda berusia 15 sampai 39 tahun. Penyakit ini tergolong sangat bisa diobati. Di negara maju, lebih dari 95 persen pasien masih hidup lima tahun setelah didiagnosis, dan deteksi dini tetap menentukan hasil pengobatan.

Di Arab Saudi angka kejadiannya rendah, yakni 0,82 per 100.000 pria, tetapi naik perlahan. Naskah mencatat negeri itu tidak punya program pemeriksaan rutin maupun kampanye nasional untuk kanker testis. Banyak pria di masyarakat konservatif juga merasa malu membicarakan kesehatan reproduksi. Akibatnya, tulis Alsharif dan rekan, banyak kasus baru diketahui ketika gejalanya sudah berat.

Oktober 2024: angket disebar ke pria dewasa

Angket itu ditujukan kepada pria Saudi berusia 18 tahun ke atas. Mereka yang pernah didiagnosis kanker testis tidak diikutkan, begitu pula tenaga kesehatan yang bekerja di bidang kanker. Pertanyaannya terbagi tiga: data diri, pengetahuan tentang kanker testis, serta pengetahuan dan kebiasaan memeriksa testis sendiri.

Bagian pengetahuan menanyakan faktor risiko dan gejala. Di dalamnya ada butir tentang kaitan kanker testis dengan keluhan lain, misalnya nyeri punggung bawah atau bengkak di leher. Tiap jawaban dinilai nol bila salah, satu bila ragu, dan dua bila benar. Skor tertinggi yang bisa dicapai seorang peserta adalah 20.

Bagian pemeriksaan sendiri lebih pendek. Peserta ditanya apakah pernah mendengar pemeriksaan testis sendiri, apakah tahu cara melakukannya, dan seberapa sering mereka memeriksa. Skor bagian ini bergerak dari nol sampai enam. Para penulis menyebut pemeriksaan itu cara sederhana untuk menemukan benjolan atau bengkak yang mencurigakan sejak awal.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

November 2024: jawaban 386 pria terkumpul

Ketika pengumpulan ditutup pada November 2024, yang menjawab kebanyakan anak muda. Sebanyak 288 orang, atau 76,19 persen, berusia 18 sampai 30 tahun. Kelompok 50 tahun ke atas hanya 38 orang. Kelompok 31 sampai 40 tahun berjumlah 36 orang, dan kelompok 41 sampai 49 tahun hanya 16 orang.

Mereka juga terdidik. Sebanyak 266 orang, atau 70,37 persen, lulusan perguruan tinggi. Lulusan sekolah menengah atas ke bawah berjumlah 94 orang, sedangkan 18 orang menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Lebih dari separuh, yakni 222 orang, masih berstatus mahasiswa. Sebanyak 208 orang lajang dan 89 orang sudah menikah.

Sebaran tempat tinggalnya timpang. Sebanyak 300 orang, atau 79,37 persen, tinggal di wilayah Barat. Wilayah Riyadh diwakili 23 orang, wilayah Selatan 19 orang, wilayah Utara 15 orang, dan wilayah Timur 11 orang. Hampir semuanya, 353 orang atau 93,39 persen, berkewarganegaraan Saudi.

Saat skor dihitung: rata-rata 9,2 dari 20

Setelah jawaban dinilai, angka pertama muncul. Rata-rata skor pengetahuan tentang kanker testis hanya 9,2 dari 20, belum sampai separuh skala. Para penulis menyebut tingkat pengetahuan itu sedang-sedang saja, padahal sebagian besar peserta berpendidikan tinggi. Mereka menilai temuan ini sejalan dengan riset terdahulu di kalangan orang terdidik.

Kanker testis di mata pria SaudiKanker testis di mata pria SaudiKanker testis di mata pria SaudiRingkasan jawaban angket, Oktober-November 20249,2dari 20rata-rata skorpengetahuan0,32dari 6rata-rata skorperiksa sendiri386priamenjawab angketdaring3,21kalipeluang periksasendiriJalan risetnyaAngket daringOkt-Nov 2024Pria 18 tahun ke atas3,21 kali: pria berpendidikan lebih tinggi dibanding lulusan SMA kebawah.
Sumber: Fatmah Alsharif, Sari Adnan Gusti, Abdulrahman Qurban, Saleh Alomary, Ahlam Zainalabdeen, dan Rawiah Alsiary, Men's health awareness in focus: knowledge of testicular cancer and awareness of testicular self-examination practices among men in Saudi Arabia, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Berikutnya skor dipilah menurut pendidikan. Peserta dengan pendidikan lebih tinggi mencatat rata-rata 12,0. Lulusan perguruan tinggi berada di 9,13, justru sedikit di bawah lulusan sekolah menengah atas ke bawah yang mencatat 9,74. Perbedaan ketiga kelompok ini bermakna secara statistik, tetapi kelompok teratas hanya berisi 18 orang.

Lalu wilayah. Peserta dari wilayah Utara mencatat skor tertinggi, 12,47, sedangkan wilayah Timur terendah, 6,82. Wilayah Barat, tempat tinggal empat dari lima peserta, berada di 9,9. Riyadh mencatat 9,61 dan wilayah Selatan 9,11. Selisih antarwilayah ini juga bermakna secara statistik, meski kelompok di luar wilayah Barat sangat kecil.

Skor pengetahuan menurut wilayah tinggalWilayah Utara: Rata-rata skor pengetahuan (0-20) +12,47; Wilayah Barat: Rata-rata skor pengetahuan (0-20) +9,90; Wilayah Riyadh: Rata-rata skor pengetahuan (0-20) +9,61; Wilayah Selatan: Rata-rata skor pengetahuan (0-20) +9,11; Wilayah Timur: Rata-rata skor pengetahuan (0-20) +6,82.Skor pengetahuan menurut wilayah tinggalRata-rata skor pengetahuan kanker testis, skala 0 sampai 2051015200Wilayah Utara12,47Wilayah Barat9,90Wilayah Riyadh9,61Wilayah Selatan9,11Wilayah Timur6,82Empat dari lima peserta tinggal di wilayah Barat; wilayah lain diwakili11 sampai 23 orang.
Sumber: Fatmah Alsharif, Sari Adnan Gusti, Abdulrahman Qurban, Saleh Alomary, Ahlam Zainalabdeen, dan Rawiah Alsiary, Men's health awareness in focus: knowledge of testicular cancer and awareness of testicular self-examination practices among men in Saudi Arabia, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Satu perbedaan lagi datang dari riwayat kesehatan. Sebanyak 139 peserta yang mengaku punya penyakit kronis mencatat rata-rata 10,23. Sebanyak 239 peserta tanpa penyakit kronis mencatat 9,25. Selisihnya kurang dari satu poin, tetapi tetap bermakna dalam hitungan para penulis.

Faktor lain tidak membedakan apa pun. Usia, misalnya, hanya menggeser skor sedikit: 10,61 pada kelompok 50 tahun ke atas dan 9,12 pada kelompok 18 sampai 30 tahun. Status kerja, kewarganegaraan, dan pendapatan juga tidak berkaitan dengan pengetahuan. Peserta menikah mencatat 10,3 dan peserta lajang 8,88, selisih yang nyaris bermakna tetapi tidak melewati batas.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Saat kebiasaan memeriksa ditanyakan: 0,32 dari 6

Sesudah pengetahuan, giliran kebiasaan. Angkanya jauh lebih rendah. Rata-rata skor pemeriksaan testis sendiri hanya 0,32 dari enam, kira-kira seperdua puluh dari skor penuh. Para penulis menyebut keterlibatan pria dalam pemeriksaan sendiri sangat rendah. Kerendahan itu merata di semua kelompok yang mereka pilah.

Pendidikan kembali memberi sedikit jarak. Peserta berpendidikan lebih tinggi mencatat 0,78, sedangkan dua kelompok pendidikan di bawahnya berada di 0,29 sampai 0,31. Pada tahap ini selisih tersebut belum bermakna secara statistik. Kelompok usia 31 sampai 40 tahun mencatat 0,64, dan kelompok 41 sampai 49 tahun mencatat nol.

Wilayah juga menunjukkan angka nol. Peserta dari wilayah Timur dan wilayah Selatan sama-sama mencatat skor nol untuk pemeriksaan sendiri. Wilayah Riyadh mencatat 0,17 dan wilayah Utara 0,93. Tidak satu pun faktor diri atau riwayat kesehatan yang berkaitan secara bermakna dengan skor ini pada pemilahan satu per satu.

Saat semua faktor diuji bersama

Tahap berikutnya menguji usia, pendidikan, status kerja, status nikah, dan kewarganegaraan sekaligus. Untuk pemeriksaan sendiri, pendidikan muncul sebagai penanda terkuat. Peluang peserta berpendidikan lebih tinggi untuk memeriksa testisnya 3,21 kali peluang lulusan sekolah menengah atas ke bawah. Peserta menikah berpeluang 1,87 kali mereka yang tidak menikah, tetapi angka itu tidak melewati batas kemaknaan.

Untuk pengetahuan, hasilnya lain. Ketika semua faktor diuji bersama, tidak satu pun yang bertahan sebagai penanda, termasuk pendidikan. Usia, status nikah, dan kewarganegaraan sama saja. Para penulis membaca kekosongan itu sebagai tanda bahwa pengetahuan yang rendah tidak mengelompok pada golongan tertentu.

Sesudah hasil itu berdiri, mereka merumuskannya dalam satu kalimat. “Tidak adanya prediktor yang bermakna dalam model menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kanker testis secara konsisten rendah di semua kelompok demografis, menegaskan adanya kesenjangan kesadaran yang meluas, bukan ketimpangan yang terkait dengan faktor sosiodemografis tertentu,” tulis Alsharif dan lima rekannya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.

Dari sana mereka menyusun usulan. Pendidikan tentang kanker testis diusulkan masuk ke sekolah menengah atas dan universitas, didukung kampanye Kementerian Kesehatan. Platform digital berbahasa Arab bisa memuat video petunjuk dan pengingat rutin. Mereka juga menyebut pemengaruh di Twitter dan Snapchat, serta program kesehatan di tempat kerja yang didominasi pria.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Sesudah analisis: batas dan catatan pada naskah

Para penulis kemudian mencatat batas kajiannya sendiri. Angket ini memotret satu waktu saja, sehingga tidak bisa menunjukkan sebab dan akibat. Peserta dijaring secara daring, yang cenderung memperbanyak anak muda pengguna internet dan mengurangi mereka yang sulit mengaksesnya. Sebaran wilayah yang timpang membuat hasilnya belum tentu mewakili seluruh pria Saudi.

Dua batas lain ikut dicatat. Remaja di bawah 18 tahun tidak diikutkan, padahal penyakit ini juga menyangkut mereka. Pembagian skor pemeriksaan sendiri menjadi dua golongan memakai ambang buatan para penulis yang belum diuji pihak lain. “Karena itu, temuan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Naskah yang belum disunting itu menyimpan beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Jumlah peserta disebut 386, tetapi rincian usia, pendidikan, dan wilayah masing-masing berjumlah 378, dan persentasenya cocok dengan 378. Wilayah Barat tercatat berskor pemeriksaan sendiri 0,7, padahal rata-rata seluruh peserta 0,32 dan empat dari lima peserta tinggal di sana.

Tabel riwayat kesehatan juga perlu dibaca ulang. Di sana 370 peserta, atau 95,85 persen, tercatat menjawab ya untuk riwayat keluarga kanker testis, angka yang tampak tertukar dengan jawaban tidak. Nama salah satu penulis pun dieja dua cara, Qurban dan Gurban. Tidak ada penjelasan untuk hal-hal itu di dalam naskah.

Catatan terakhirnya berhenti di tahun 2026. Naskah itu terbit dalam versi awal dan masih menunggu penyuntingan akhir. Angka yang tersedia sampai titik ini tetap dua: 9,2 dari 20 untuk pengetahuan, 0,32 dari enam untuk pemeriksaan sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Hanya Sepertiga Tunanetra Pernah Diajari Cara Bepergian Sendiri
PM2.5 Surabaya Sempat Tidak Sehat, Pakar ITS Minta Emisi Ditekan
Pemerintah Yaman: Houthi Tembakkan Dua Rudal ke Bandara Aden
Pakar UGM Minta RI Dorong Sidang Darurat OKI soal Konflik Yaman
Lansia Jerman Lebih Butuh Jalan yang Aman daripada yang Indah
Anak Desa di Jepang Makin Besar Makin Larut Tidur, Lama di Layar