Dukun Osing Banyuwangi Punya Empat Cara Bicara dengan Pasien

A A

Ilustrasi lelaki tua berikat kepala duduk berhadapan dengan tamu di rumah kayu, segelas air dan sepiring garam di tikar [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Dukun Osing menolong pasien lewat empat cara berkomunikasi.
  • Dukun dipercaya memiliki kekuatan energi yang dijadikan pesan sesudah membaca doa atau mantra.
  • Dalam pandangan Osing, santet terbagi empat: putih, kuning, merah, dan hitam.
  • Pada 3 Februari 2021, sekumpulan pelaku spiritual di Banyuwangi mendeklarasikan Persatuan Dukun Nusantara.
  • Tidak ada dukun atau pasien Osing yang diwawancarai.
Daftar Isi
  1. Mengapa Orang Datang
  2. Suwuk, Mantra yang Ditiupkan
  3. Petungan Menghitung Hari
  4. Penerawangan dan Perewangan
  5. Santet Empat Warna
  6. Dari Blambangan ke Perdunu
  7. Semua Bergantung pada Percaya
  8. Batas dan Kejanggalan Naskah

Dukun Osing menolong pasien lewat empat cara berkomunikasi. Keempatnya bernama suwuk, petungan, penerawangan, dan perewangan, dan masing-masing punya jalan kerja sendiri. Semuanya berujung pada satu kata yang sama, yaitu cocok.

Pemetaan itu disusun Nurul Hasan dari Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember. Tulisannya berjudul Dinamika Komunikasi, Tradisi, dan Pembentukan Identitas Osing dalam Praktik Perdukunan di Banyuwangi. Naskah itu terbit di JISAB: The Journal of Islamic Communication and Broadcasting volume 4 nomor 1 tahun 2025.

Hasan bekerja dari buku, jurnal, dan catatan, tanpa turun ke lapangan. Ia berangkat dari citra Banyuwangi sebagai kota yang lekat dengan hal gaib, dukun, dan santet. Film Lemah Santet Banyuwangi, tulisnya, membuat citra kota santet itu makin dominan.

Mengapa Orang Datang

Orang mendatangi dukun karena tiga jenis masalah, yaitu kesehatan, ekonomi, dan kenyamanan sosial. Dukun dipercaya karena dianggap punya kelebihan pemberian Tuhan. Kemampuan itu diyakini turun dari garis keturunan atau diperoleh lewat laku yang disebut nglakoni.

Kepercayaan itu tidak mengenal lapisan sosial. Hasan mencatat pasien datang dari kelas bawah, menengah, sampai atas. Orang yang percaya dukun, tulisnya, tidak lantas tergolong masyarakat tradisional yang melambangkan keterbelakangan.

Sebutan dukun pun tidak hanya untuk urusan gaib. Naskah menyebut dukun beranak untuk persalinan dan dukun sunat untuk khitan. Ada pula dukun wiwit, dukun temanten, dukun ramal, dan dukun tiban, di samping empat jenis yang menjadi pokok kajian ini.

Di kalangan Osing, kepercayaan pada dukun diwariskan turun-temurun. Dukun dinilai sanggup menyelesaikan masalah dan menyembuhkan orang sakit, sehingga ramalan dan perintahnya diyakini benar. Pertemuan dukun dan pasien dibaca Hasan sebagai peristiwa komunikasi yang khas dan berulang.

Suwuk, Mantra yang Ditiupkan

Keahlian pertama adalah suwuk. Ini bacaan semacam mantra yang ditiupkan ke ubun-ubun pasien untuk menghilangkan penyakit dan gangguan lain. Suwuk juga disebut rapalan, yakni kalimat doa atau mantra yang diucapkan untuk tujuan tertentu.

Doa atau mantra dipilih sesuai masalah pasien yang datang. Sesudah membacanya, dukun dipercaya memiliki kekuatan energi yang dijadikan pesan. Pesan itu dikirim lewat perantara seperti air, garam, atau jimat, lalu diterima orang yang punya hajat.

Suwuk tidak langsung mujarab. Naskah menyebut suwuk yang manjur dengan kata mandi. Supaya mandi, dukun berpuasa, dan puasanya mengikuti perhitungan hari serta pasarannya.

Jalan suwuk dari pasien ke hasilJalan suwuk dari pasien ke hasilJalan suwuk dari pasien ke hasilAlur komunikasi suwuk menurut naskahPasienmembawamasalahDukunmembacadoaSuwukmantraditiupMediaair, garam,jimatCocoksembuh, sesuaiDisederhanakan dari Gambar 1 dalam naskah.
Sumber: Nurul Hasan, Dinamika Komunikasi, Tradisi, dan Pembentukan Identitas Osing dalam Praktik Perdukunan di Banyuwangi, JISAB: The Journal of Islamic Communication and Broadcasting, 4(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Hasan membagi peristiwa ini menjadi dua lapis. Percakapan pasien dengan dukun tentang masalahnya adalah komunikasi antarmanusia. Suwuk yang bekerja lewat air dan garam ia sebut komunikasi bukan antarmanusia.

Keduanya saling membutuhkan. Dukun tidak akan menjalankan ritual bila tidak ada pasien yang datang meminta bantuan, dan naskah mengibaratkannya dua sisi mata uang. Hasil yang diharapkan beragam: orang sakit sembuh, toko sepi menjadi ramai, rumah tangga kembali rukun.

Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya

Petungan Menghitung Hari

Keahlian kedua adalah petungan. Ini perhitungan baik dan buruk berdasarkan lambang dan watak hari, tanggal, bulan, dan tahun. Tujuannya menghindari ketidakselarasan dengan tatanan alam, yang diyakini hanya membawa ketidakuntungan. Kata kuncinya cocog, artinya sesuai, seperti kunci dengan gemboknya dan obat mujarab dengan penyakitnya.

Pasien datang membawa masalah, lalu dukun meramal dengan hitungan Jawa. Bagi Hasan, inti peristiwa ini adalah menyamakan persepsi antara keduanya. Pasien yang sangat percaya pada hitungan itu akhirnya berpandangan sama dengan dukunnya.

Hitungan bisa meleset. Gangguan muncul bila data yang dihitung salah, misalnya hari pasaran saat lahir atau nama pasien. Bila hitungan dukun cocog dengan keadaan pasien, persepsi itu dianggap benar.

Suwuk dan petungan, dua keahlian dukunSuwuk dan petungan, dua keahlian dukunSuwuk dan petungan, dua keahlian dukunDua dari empat cara komunikasi dukun OsingSuwukPetunganmantra ditiuphitungan hariCaraair, garam, jimathari lahir, namaBahandukun berpuasamenghitungLakusembuhcocokHasil
Sumber: Nurul Hasan, Dinamika Komunikasi, Tradisi, dan Pembentukan Identitas Osing dalam Praktik Perdukunan di Banyuwangi, JISAB: The Journal of Islamic Communication and Broadcasting, 4(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Penerawangan dan Perewangan

Keahlian ketiga adalah penerawangan. Dukun bermeditasi untuk mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi pada diri seseorang. Ia memusatkan pikiran dan hati pada satu objek yang menjadi tujuannya. Hasan menggolongkannya sebagai komunikasi dengan diri sendiri.

Prosesnya melewati sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berpikir, dengan meditasi dan telepati sebagai kemampuan dukun memahami kenyataan. Hasil yang sesuai harapan pasien disebut jodoh atau cocok.

Keahlian keempat adalah perewangan. Kata ini berasal dari rewang, yang berarti membantu. Dalam urusan spiritual, perewangan adalah makhluk halus yang menjadi pembantu manusia, dikenal juga sebagai khadam.

Pesan dukun kepada pasien dipandu oleh khadam itu, dan kemampuan mendatangkannya disebut kompetensi khusus dukun. Menurut naskah, praktiknya lebih banyak memakai konsep Islam. Yang disebut adalah syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Cara ini juga bisa gagal. Hasan menulis, terkadang ada dukun yang membohongi pasiennya karena suatu sebab. Dukun dan perewangannya juga bisa salah menafsirkan masalah, dan hasilnya disebut tidak cocok atau tidak jodoh.

Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu

Santet Empat Warna

Pengobatan orang Osing terkenal sebagai pengobatan gaib, yang ditandai mantra, jampi-jampi, dan doa. Mereka juga dikenal dengan ilmu pelet atau jaran goyang. Ilmu itu dipakai untuk menarik lawan jenis yang disukai, dan sasarannya, tulis Hasan, tidak bisa menolak orang yang menyukainya.

Dalam pandangan Osing, santet terbagi empat: putih, kuning, merah, dan hitam. Tiap jenis punya kegunaan sendiri, tetapi naskah tidak merincinya satu per satu. Keteguhan pada tradisi mistis ini kerap mengundang pandangan negatif. Hasan menyebut sebabnya: sebagian besar budaya Osing diserap dari agama Hindu dan Buddha. Padahal tradisi Osing juga mencakup rumah adat, bukan hanya kepercayaan pada hal mistis.

Dari Blambangan ke Perdunu

Akar kepercayaan itu ditarik ke sejarah. Orang Osing disebut sebagai orang asli Banyuwangi dan keturunan Kerajaan Majapahit, yang semula memeluk Hindu dan Buddha. Dari sana datang kepercayaan pada roh yang dipuja, disebut danyang.

Ada pula tempat pemujaan bernama punden, di bawah pohon atau batu besar. Setelah kerajaan Islam berkembang di pantai utara, mayoritas orang Osing memeluk Islam. Naskah juga mengaitkan Osing dengan Kerajaan Blambangan, yang berdiri sendiri sekitar 1546 sampai 1764.

Blambangan menjadi sasaran penaklukan kerajaan di sekitarnya, lalu penduduknya berpindah. Sebagian ke lereng Gunung Bromo dan kini dikenal sebagai suku Tengger, sebagian ke Bali. Sisanya bertahan di Blambangan, yang sekarang bernama Banyuwangi.

Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili

Karena itu, tulis Hasan, budaya Osing berbeda dari Jawa dan lebih mirip Bali. Tradisi itu kini punya organisasi. Pada 3 Februari 2021, sekumpulan pelaku spiritual di Banyuwangi mendeklarasikan Persatuan Dukun Nusantara, disingkat Perdunu.

Perdunu ingin memberi edukasi tentang dukun dan perdukunan kepada masyarakat. Organisasi ini juga ingin menjaga budaya Osing, yang menurut naskah hampir tergeser akibat globalisasi. Upaya yang dicatat ada dua, yaitu mengadakan festival santet dan menjaga rumah adat Osing. Perdunu, menurut Hasan, ingin meluruskan hal yang selama ini dianggap negatif oleh masyarakat awam tentang dukun dan santet.

Semua Bergantung pada Percaya

Empat cara tadi punya satu syarat yang sama. “Kepercayaan pasien menentukan efektivitas komunikasi yang dilakukan,” tulis Nurul Hasan, peneliti dari Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember, dalam naskahnya. Artinya, keberhasilan tidak diukur dari luar hubungan dukun dan pasien. Ukurannya adalah cocok atau tidak cocok menurut keduanya.

Naskah tidak memeriksa apakah pasien sungguh sembuh atau toko sungguh menjadi ramai. Hasan menutup dengan hubungan budaya dan komunikasi. Budaya, tulisnya, menjadi bagian dari perilaku komunikasi. Komunikasi pada gilirannya ikut menentukan, memelihara, mengembangkan, dan mewariskan budaya.

Batas dan Kejanggalan Naskah

Kajian ini punya batas yang jelas. Tidak ada dukun atau pasien Osing yang diwawancarai, dan tidak ada angka. Sebagian besar uraian empat keahlian itu bersandar pada satu buku karya Nurdin tahun 2015.

Ada kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca. Naskah mengaku kajian pustaka, tetapi dua kali memakai frasa menurut pengamatan peneliti. Penerawangan mula-mula disebut komunikasi interpersonal, lalu pada kalimat berikutnya intrapersonal. Naskah juga menyebut sebagian besar orang Osing beragama Islam dan setengahnya lagi Hindu dan Buddha.

Blambangan disebut berdiri dua abad, padahal rentang 1546 sampai 1764 lebih panjang dari itu. Kepala halaman menulis Pembendukan, bukan Pembentukan. Saputra tahun 2007 dikutip di pendahuluan, tetapi tidak ada dalam daftar pustaka. Naskah juga menyebut kedua kategori sesudah menderet tiga hal, yaitu pengalaman, kemampuan, dan keahlian dukun.

Suwuk, petungan, penerawangan, dan perewangan tetap berakhir pada kata yang sama. Dalam naskah Hasan, dukun Osing berhasil ketika pasiennya merasa cocok.

Bagikan

Baca Juga

Islam Masuk Gorontalo lewat Perkawinan Raja, Adat Ikut Berubah
Dayak Meratus Bertanya pada Sebatang Bambu Sebelum Membuka Ladang
Suku Muyu di Ninati Siapkan Empat Hektare untuk Bibit dari Jawa
Adat Dayak Kenyah di Lung Anai Hapus Hukuman Sembelih Babi 50 Kg
Hukum Adat Rejang Menghukum Pencuri Pusaka dengan Tiga Kambing
Lembaga Adat Manggarai Membagi Tanah Adil tetapi Tak Sama Rata