Perawat Rumah di Swedia Utara Lebih Cemas saat Kerja Menumpuk

A A

Ilustrasi deretan mobil perak layanan perawatan di rumah Pemerintah Kota Hedemora terparkir di Långshyttan, Swedia [Foto: Calle Eklund/V-wolf/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Sebanyak 186 petugas perawatan di rumah di Swedia utara, atau 31 persen, tergolong memikul beban kerja tinggi saat pandemi.
  • Petugas berbeban tinggi yang melaporkan cemas atau depresi lebih banyak 21 poin persentase daripada rekan berbeban normal.
  • Jarak paling lebar terlihat pada petugas yang masa kerjanya lima tahun atau kurang.
  • Dukungan sosial yang baik di tempat kerja turun dari 68 persen sebelum pandemi menjadi 60 persen.
  • Hanya sepertiga petugas yang menjawab angket, dan hasilnya belum tentu berlaku di luar Swedia utara.
Daftar Isi
  1. Tiga wilayah di utara
  2. Lembar tentang beban kerja
  3. Lima pertanyaan tentang kesehatan
  4. Petugas yang baru masuk
  5. Kendali kerja dan rekan sekantor
  6. Yang luput dari kertas angket

Dua belas halaman kertas. Itulah tebal angket yang dikirim ke kantor-kantor layanan perawatan di rumah di Swedia utara, dengan judul A Study of the In-Home Care Work Environment. Sebelum pandemi, lembar-lembar itu dibagikan dan diisi dalam rapat tempat kerja. Ketika Covid-19 datang, rapat semacam itu tak lagi bisa diandalkan, dan para petugas harus mencari kesempatan lain untuk mengisinya.

Jawaban mereka diolah Fredrik Norström, Anita Pettersson-Strömbäck, Magnus Zingmark, dan Karin Bölenius dalam artikel High workload and its connection to health-related quality of life among in-home care workers in northern Sweden during the Covid-19 pandemic, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempatnya bekerja di Umeå University. Yang mereka cari sederhana: seberapa jauh kerja yang menumpuk menggerus kesehatan orang yang merawat warga lanjut usia di rumah.

Tiga wilayah di utara

Angket itu beredar di tiga wilayah: Jämtland/Härjedalen, Västerbotten, dan Västernorrland. Di sana ada 30 kota. Sebanyak 22 kota ikut pada putaran pandemi, yang berlangsung pada musim gugur 2021 dan musim semi 2022. Dari kira-kira 1.900 petugas yang diundang, 629 orang mengembalikan angketnya, atau sekitar satu dari tiga.

Putaran itu punya pembanding. Angket yang nyaris sama sudah diedarkan sejak Oktober 2017, jauh sebelum pandemi, dan dijawab 1.154 dari sekitar 2.000 petugas. Empat belas kota ikut pada kedua putaran. Dengan begitu para penulis dapat melihat apa yang bergeser di kantor-kantor itu ketika layanan berada dalam tekanan.

Siapa yang mengisi? Saat pandemi, 515 orang atau 83 persen adalah perempuan, dan 68 persen menikah atau berpasangan. Sebagian besar petugas layanan ini, menurut naskah, adalah asisten perawat dengan pendidikan kesehatan dua sampai tiga tahun setingkat sekolah menengah atas. Sisanya pembantu perawat dengan pelatihan lebih terbatas, dan ada pula yang tanpa pendidikan kesehatan formal.

Pekerjaan mereka berlangsung di rumah orang lain. Layanan ini memberi perawatan pribadi dan mengerjakan urusan rumah tangga bagi penerimanya, dibiayai terutama dari pajak dan menjadi tanggung jawab pemerintah kota. Naskah mengutip satu kajian Swedia: jumlah penerima layanan yang dikunjungi seorang petugas dalam sepekan naik dari rata-rata 8,6 pada 2005 menjadi 11,8 pada 2015.

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Lembar tentang beban kerja

Di antara dua belas halaman itu ada pertanyaan tentang beban kerja. Jawabannya tidak dramatis, tetapi jelas. Sebanyak 170 petugas, atau 28 persen, mengaku agak sering sampai selalu punya terlalu banyak pekerjaan. Sebanyak 141 orang, atau 23 persen, merasakan pekerjaan dibagi tidak merata. Keduanya menjadi keluhan utama pada masa pandemi.

Yang jarang dikeluhkan justru kesulitan pekerjaan itu sendiri. Hanya 10 orang yang sering merasa tugasnya terlalu sulit, dan 34 orang merasa tugasnya menuntut pendidikan lebih. Beban di sini, dengan kata lain, lebih banyak soal jumlah dan pembagian daripada soal kerumitan.

Dari jawaban itu para penulis menggolongkan 186 petugas, atau 31 persen, sebagai pemikul beban kerja tinggi. Sebelum pandemi angkanya 28 persen. Kenaikan tiga poin itu kecil dan tidak bermakna secara statistik. Jadi, hampir sepertiga petugas memikul beban tinggi, dan perbandingannya nyaris tidak berubah dari masa sebelum pandemi.

Lima pertanyaan tentang kesehatan

Halaman lain menanyakan kesehatan dalam lima sisi: bergerak, merawat diri, kegiatan sehari-hari, nyeri atau rasa tidak nyaman, serta cemas atau depresi. Tiga sisi pertama nyaris tanpa keluhan; hanya 50 orang, atau 8,6 persen, yang melaporkan masalah di sana. Nyeri lain cerita. Sebanyak 357 petugas, atau 62 persen, melaporkan setidaknya sedikit masalah nyeri.

Cemas atau depresi dilaporkan 215 petugas, atau 37 persen, kira-kira empat dari sepuluh orang. Hanya sedikit yang menyebut masalahnya berat: 26 orang untuk nyeri dan 15 orang untuk cemas atau depresi. Kelima jawaban itu lalu diringkas menjadi satu skor bernama QALY, dengan nol setara kematian dan satu setara sehat penuh.

Di titik inilah dua kelompok petugas berpisah. Mereka yang bebannya tinggi mencatat skor rata-rata 0,75, sedangkan yang bebannya normal 0,81. Pada skala kedua dalam angket, EQ-VAS, angkanya 70,9 berbanding 77,6. Di antara petugas berbeban tinggi, hanya 49 persen yang bebas dari cemas atau depresi. Di kelompok berbeban normal, 69 persen.

Beban kerja tinggi dan beban kerja normalBeban kerja tinggi dan beban kerja normalBeban kerja tinggi dan beban kerja normalPetugas perawatan di rumah, Swedia utara, saat pandemiBeban tinggiBeban normal186410Jumlah petugas0,750,81Skor QALY70,977,6Skor EQ-VAS49%69%Tanpa cemas34%40%Tanpa nyeriSkor QALY: 0 setara kematian, 1 setara sehat penuh. Angka rata-ratasebelum penimbangan.
Sumber: Fredrik Norström, Anita Pettersson-Strömbäck, Magnus Zingmark, dan Karin Bölenius, High workload and its connection to health-related quality of life among in-home care workers in northern Sweden during the Covid-19 pandemic, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah jenis kelamin, pendidikan, status nikah, usia, dan masa kerja diperhitungkan, jarak itu bertahan. Skor QALY petugas berbeban tinggi lebih rendah 0,062, yang oleh para penulis ditulis 6,2 persen. Pada EQ-VAS selisihnya hampir tujuh poin. Sebelum pandemi, selisih skor QALY antara dua kelompok itu tercatat 3,5 persen.

Sumber selisihnya terutama satu sisi: cemas atau depresi. Petugas berbeban tinggi yang melaporkan masalah di sisi itu lebih banyak 21 poin persentase daripada rekan mereka yang bebannya normal. Untuk kegiatan sehari-hari selisihnya 5,5 poin, tepat di batas kemaknaan. Nyeri dan kemampuan bergerak tidak berbeda secara bermakna.

Norström dan rekan menerjemahkan angka kecil itu ke ukuran waktu. Selisih lima persen berarti dua puluh tahun hidup dengan beban tinggi setara sembilan belas tahun hidup dengan beban normal. “Dalam istilah ekonomi kesehatan, hasil kami dari masa pandemi dapat ditafsirkan sebagai isyarat bahwa hidup satu tahun lebih pendek dalam kurun 20 tahun sepadan demi menghindari beban kerja tinggi,” tulis mereka. Naskah aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Petugas yang baru masuk

Jarak itu tidak sama lebar di semua meja. Paling lebar pada petugas yang masa kerjanya lima tahun atau kurang. Di kelompok ini, beban tinggi berjalan bersama skor QALY yang lebih rendah 0,12. Yang melaporkan cemas atau depresi lebih banyak 35 poin persentase, dan yang melaporkan nyeri lebih banyak 16 poin.

Pada petugas lama, gambarnya jauh lebih datar. Mereka yang sudah bekerja lebih dari lima tahun dan berusia 36 sampai 54 tahun nyaris tidak menunjukkan selisih yang bermakna. Pada petugas berpengalaman berusia 55 tahun ke atas, hanya satu sisi yang berbeda: cemas atau depresi, lebih banyak 21 poin pada beban tinggi.

Pendidikan juga memisahkan. Asisten perawat menunjukkan pola yang sama dengan seluruh peserta, sementara petugas berpendidikan lain tidak menunjukkan selisih yang bermakna. Untuk laki-laki, para penulis tidak menghitung apa pun karena jumlahnya terlalu sedikit. Mereka sendiri menyebut penyimpangan antarkelompok ini menarik sekaligus agak membingungkan.

Peringatan pun disertakan. Kelompok-kelompok itu kecil, dan kedua putaran angket tidak dirancang untuk pemilahan sehalus ini. Perbedaan antarkelompok, tulis mereka, bisa lahir dari jumlah orang yang terlalu sedikit, dari faktor lain yang tidak terukur, atau dari perbedaan jenis tugas di dalam layanan.

Kendali kerja dan rekan sekantor

Angket juga menanyakan dua hal yang lazim dianggap pelindung: kendali atas pekerjaan dan dukungan di tempat kerja. Kendali ternyata tipis. Sebanyak 58 persen petugas tergolong kurang memegang kendali atas pekerjaannya, dan hanya 31 persen yang jarang kesulitan memengaruhi keputusan penting. Beban tinggi lebih sering menimpa mereka yang kendalinya rendah, 38 persen berbanding 21 persen.

Kelompok yang paling sehat adalah petugas dengan beban normal sekaligus kendali tinggi. Skor QALY rata-rata mereka 0,84, tertinggi pada masa pandemi. Para penulis membaca gabungan itu sebagai pelindung, pola yang menurut mereka tidak tampak sebelum pandemi. Tetapi di antara petugas berkendali tinggi pun, beban tinggi tetap berjalan bersama skor yang lebih rendah 7,3 persen.

Dukungan sosial bergerak ke arah lain. Sebelum pandemi, 68 persen petugas tergolong mendapat dukungan yang baik di tempat kerja. Saat pandemi tinggal 60 persen. Petugas yang sering dibantu rekan turun dari 83 menjadi 73 persen, dan yang sering dibantu atasan langsung turun dari 68 menjadi 60 persen. Kurang dari separuh, 46 persen, merasa dihargai atasannya.

Dukungan di tempat kerja menyusutDibantu rekan 83% ke 73%; Dibantu atasan 68% ke 60%; Dukungan baik 68% ke 60%.Dukungan di tempat kerja menyusutPersentase petugas perawatan di rumah di Swedia utaraSebelum pandemi (2017)Saat pandemi50%60%70%80%90%Dibantu rekan73%83%Dibantu atasan60%68%Dukungan baik60%68%Ketiga penurunan bermakna secara statistik menurut para penulis.
Sumber: Fredrik Norström, Anita Pettersson-Strömbäck, Magnus Zingmark, dan Karin Bölenius, High workload and its connection to health-related quality of life among in-home care workers in northern Sweden during the Covid-19 pandemic, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dukungan itu, ketika masih ada, tidak tampak menahan apa pun. Petugas dengan dukungan baik maupun kurang sama-sama lebih cemas ketika bebannya tinggi. Padahal dalam putaran 2017, dukungan sosial terlihat meringankan akibat beban kerja. Dari situ para penulis menarik kalimat penutup naskahnya: “Organisasi perawatan di rumah yang berada di bawah tekanan membahayakan kesehatan stafnya.”

Baca juga Skor Kelayakan Perawatan Jangka Panjang dalam JKN Capai 8,10

Yang luput dari kertas angket

Batasnya dicatat terang. Hanya sepertiga petugas yang menjawab pada masa pandemi, jauh di bawah 58 persen pada 2017, dan orang yang menjawab di dua putaran tidak sepenuhnya serupa. Angket memotret satu waktu, sehingga arah sebab dan akibat tidak dapat dipastikan. Wilayahnya pun hanya Swedia utara, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di tempat lain.

Ada pula orang yang tidak terjangkau kertas itu. Petugas yang sedang cuti sakit nyaris tidak ikut, dan mereka yang sudah berhenti tentu tidak mengisi. Para penulis menduga petugas yang masih bertahan di bawah beban tinggi adalah yang paling sanggup memikulnya. Karena itu, menurut mereka, angka yang terbaca kemungkinan lebih kecil daripada beban sesungguhnya. Batas untuk menyebut beban “tinggi” juga mereka tetapkan sendiri.

Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Pada bagian pembahasan, para penulis menulis bahwa petugas berkendali rendah tampak lebih terpukul oleh beban tinggi. Angka yang mereka pakai sebagai pendukung justru menunjukkan sebaliknya: 7,3 persen pada kendali tinggi, 3,9 persen dan tidak bermakna pada kendali rendah.

Dua hal lain lebih kecil. Rentang ketidakpastian skor EQ-VAS ditulis minus 10,3 di badan naskah dan minus 10,2 di tabel. Kolom tabel untuk putaran pandemi diberi tahun 2021 saja, padahal angket beredar sampai musim semi 2022. Naskah tidak menjelaskan perbedaan-perbedaan itu.

Yang tersisa di ujung adalah lembar-lembar kertas tadi, kini dengan arti lain. Dua belas halaman yang diisi di luar rapat tempat kerja itu merekam satu hal dengan konsisten: ketika pekerjaan menumpuk, yang pertama terkikis adalah ketenangan. Dan orang yang paling baru memegang pekerjaan itu yang paling banyak kehilangan.

Bagikan

Baca Juga

Banyak Bergerak Tak Menjauhkan Apoteker Douala dari Lelah Kerja
Garam Tambahan di Piring Terkait Asma, Kalium Meredam Risikonya
Kanker Testis Nyaris Tak Dikenal Pria Saudi yang Disurvei
Hanya Sepertiga Tunanetra Pernah Diajari Cara Bepergian Sendiri
Penjaga Pantai AS Selamatkan 16 Orang dari Kapal Tenggelam di Baja
Katie Zacharia Lepas Jabatan Jubir Gedung Putih Setelah Lima Hari