- Perokok aktif mencapai 21,23 persen di kalangan orang Han, kira-kira satu dari lima orang.
- Di kalangan orang Yi angkanya 34,33 persen, kira-kira satu dari tiga.
- Orang yang terbiasa memberi dan menawarkan rokok punya rasio peluang merokok 13,85 dibanding yang tidak.
- Orang Yi berumur 45 sampai 60 tahun punya rasio peluang merokok 2,84 dibanding yang berumur 15 sampai 45 tahun.
Daftar Isi
Kebiasaan berbagi rokok, yang dalam naskah para peneliti disebut cigarette sharing habit, adalah hal yang sangat sehari-hari: menyodorkan sebatang kepada orang yang lebih tua, kawan sebaya, atau orang yang baru pertama ditemui. Di Provinsi Sichuan, China, kebiasaan itu ditanyakan kepada 5.671 warga. Jawabannya membantu menerangkan mengapa orang Yi, salah satu suku minoritas di sana, lebih banyak yang merokok daripada orang Han.
Pertanyaan itu diajukan Shiyao Ling, Jingman He, Yong Li, Yanru Li, dan Lian Yang dari Chengdu University of Traditional Chinese Medicine. Hasilnya mereka tulis dalam artikel Disparities in smoking behaviors between Han and Yi: a cross-sectional survey study in Sichuan, China, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, artikel nomor 1392, tahun 2026. Kata disparities pada judul itu berarti kesenjangan, yaitu selisih antara dua kelompok yang diukur dengan cara yang sama.
Dua kelompok itu tidak seimbang besarnya. Orang Han, tulis Ling dan rekan-rekannya, mencakup 91,11 persen dari 1,4 miliar penduduk China. Orang Yi adalah suku minoritas terbesar keenam, dengan pemusatan terbesar di Liangshan Yi Autonomous Prefecture, wilayah terpencil di barat daya Sichuan. Dalam survei tahun 2022 ini ada 5.205 orang Han dan 466 orang Yi, semuanya berusia 15 tahun ke atas.
Perokok aktif: mengaku dan terbukti lewat air liur
Istilah pertama yang perlu diluruskan adalah perokok aktif, current smoker. Dalam percakapan, siapa pun yang mengaku merokok biasanya langsung dianggap perokok. Bedanya begini. Ling dan rekan-rekannya baru menggolongkan seseorang sebagai perokok aktif bila ia mengaku sedang merokok dan uji cepat kotinin pada air liurnya positif. Orang yang hanya memenuhi salah satunya dicatat sebagai bukan perokok.
Batas istilah itu juga sempit dari sisi bendanya. Yang dihitung hanya rokok batangan. Bentuk tembakau lain, misalnya pipa air, tidak dimasukkan. Jumlah rokok per hari pun punya takarannya sendiri, yakni rata-rata batang yang diisap setiap hari selama 30 hari terakhir.
Dengan ukuran seketat itu, selisihnya tetap lebar. Perokok aktif mencapai 21,23 persen di kalangan orang Han, kira-kira satu dari lima orang. Di kalangan orang Yi angkanya 34,33 persen, kira-kira satu dari tiga. Perokok Han rata-rata mengisap 13,97 batang sehari, sedangkan perokok Yi 15,76 batang.
Angka mentah seperti itu belum tentu adil, sebab kedua kelompok berbeda susunannya. Peserta Yi lebih banyak laki-laki, 54,51 persen berbanding 43,78 persen pada peserta Han. Mereka juga lebih muda: 63,30 persen berusia 15 sampai 45 tahun. Sebanyak 87,77 persen tinggal di desa, sedangkan pada orang Han 62,36 persen.
Ada pula hal yang arahnya berlawanan dengan dugaan. Peminum alkohol di kalangan peserta Yi justru lebih sedikit, 22,75 persen berbanding 28,53 persen. Penghasilan tahunan mereka lebih rendah. Tingkat pendidikan kedua kelompok tidak berbeda secara bermakna. Karena itu, perbandingan yang lebih jujur harus memperhitungkan semua ciri tersebut sekaligus.
Rasio peluang: seberapa condong satu kelompok
Di sinilah muncul istilah kedua, rasio peluang atau odds ratio. Maksudnya, kecenderungan satu kelompok untuk merokok dibandingkan dengan kelompok pembanding yang diberi nilai 1. Dalam tabel Ling dan rekan-rekannya, orang Han menjadi pembanding itu. Sebelum ciri lain diperhitungkan, rasio peluang orang Yi adalah 1,94.
Setelah jenis kelamin, usia, pendidikan, status pernikahan, tempat tinggal, alkohol, penghasilan, dan tiga ukuran seputar rokok ikut dihitung, angkanya turun menjadi 1,64. Turun, tetapi tidak hilang. Artinya, selisih antara Yi dan Han tidak habis diterangkan oleh fakta bahwa peserta Yi lebih banyak laki-laki atau lebih banyak tinggal di desa.
Jumlah batang per hari menunjukkan arah serupa dengan selisih yang lebih tipis. Rasionya 1,12 setelah penyesuaian, dengan batas bawah kisaran taksiran tepat di angka 1,00. Ling dan rekan-rekannya tetap menyimpulkan bahwa peserta Yi lebih mungkin merokok dan mengisap lebih banyak rokok per hari daripada peserta Han.
Pada seluruh peserta, ciri yang paling kuat bertalian dengan merokok bukanlah suku. Rasio peluang laki-laki terhadap perempuan mencapai 8,87. Peminum alkohol 1,72 dan warga desa 1,29. Lulusan perguruan tinggi justru di bawah satu, yakni 0,66, yang berarti mereka lebih kecil kemungkinannya merokok daripada lulusan sekolah menengah ke bawah.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Berbagi rokok: sebatang sebagai tanda pertemanan
Angka terbesar dalam tabel itu justru milik kebiasaan pada kalimat pembuka. Orang yang terbiasa memberi dan menawarkan rokok punya rasio peluang merokok 13,85 dibanding yang tidak. Di kalangan orang Han angkanya 14,28, di kalangan orang Yi 20,30. Mereka juga mengisap lebih banyak batang sehari, dengan rasio 1,38 pada Han dan 1,50 pada Yi.
Kebiasaan itu dimiliki 27,90 persen peserta Han dan 32,83 persen peserta Yi. Salah paham yang lazim ialah menganggapnya sekadar sopan santun yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebiasaan merokok seseorang. Ling dan rekan-rekannya membacanya lain, dan mereka menuliskannya dengan terang pada bagian pembahasan.
“Di China, tembakau bukan sekadar barang konsumsi—ia sering dipandang sebagai simbol material yang dipakai untuk membangun dan memelihara hubungan antarpribadi dengan sesama,” tulis Shiyao Ling, Jingman He, Yong Li, Yanru Li, dan Lian Yang dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, pertukaran rokok sebagai tanda pertemanan meneguhkan merokok sebagai perilaku yang dianggap wajar.
Batasnya perlu dicatat. Angka 13,85 menyatakan dua hal itu berjalan beriringan, bukan bahwa menyodorkan rokok membuat orang menjadi perokok. Survei ini tidak dapat memastikan mana yang datang lebih dulu. Yang terlihat hanyalah bahwa di kedua suku, orang yang terbiasa berbagi rokok jauh lebih sering ditemukan sebagai perokok aktif.
Norma sosial injungtif: merasa direstui orang sekitar
Istilah ketiga terdengar paling asing, norma sosial injungtif atau injunctive social norms. Maksudnya sederhana: seberapa kuat seseorang merasa bahwa orang lain merestui kebiasaan merokok. Ling dan rekan-rekannya mengukurnya dengan tiga butir pertanyaan. Makin tinggi skornya, makin kuat rasa direstui itu.
Skor tersebut bertalian dengan status merokok di kedua suku. Setiap kenaikan satu angka diikuti rasio peluang 1,38 pada orang Han dan 1,46 pada orang Yi. Jumlah batang per hari tidak ikut berubah secara bermakna. Rasa direstui, dengan kata lain, berkaitan dengan merokok atau tidaknya seseorang, bukan dengan banyaknya rokok yang ia isap.
Pasangannya adalah istilah keempat, harapan akan akibat merokok, smoking consequences expectations. Ini adalah bayangan seseorang tentang apa yang akan ia peroleh dari rokok. Contoh harapan positif dalam naskah: rokok membuat orang tenang, santai, dan keren. Contoh harapan negatif: makin banyak merokok, makin besar risiko kesehatan.
Skornya membentang dari 0 sampai 225, dan skor tinggi berarti kesadaran yang lebih besar akan bahaya rokok. Nilai tengah peserta Han 90, peserta Yi 89. Di kedua suku, orang dengan harapan yang lebih negatif lebih kecil kemungkinannya merokok. Rasio peluangnya 0,98 untuk setiap kenaikan satu angka.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Rokok keturunan: tembakau dalam adat orang Yi
Tiga ciri hanya menonjol pada orang Yi. Yang pertama usia. Orang Yi berumur 45 sampai 60 tahun punya rasio peluang merokok 2,84 dibanding yang berumur 15 sampai 45 tahun. Pada orang Han, angka untuk kelompok umur yang sama 0,81 dan tidak bermakna secara statistik.
Ling dan rekan-rekannya menautkannya dengan adat. Dalam budaya Yi, tulis mereka, rokok kerap disebut descendants’ cigarettes, rokok keturunan, dan anggapan itu masih luas di kalangan paruh baya. Naskah tidak menguraikan arti sebutan tersebut lebih jauh. Yang disebutkan adalah kebiasaan menyuguhkan rokok kepada tamu dan pemakaian tembakau dalam upacara kurban, dengan orang paruh baya sebagai penjaga tradisinya.
Ciri kedua adalah pernikahan. Orang Yi yang menikah punya rasio peluang 3,40 dibanding yang belum menikah. Yang bercerai atau ditinggal mati pasangannya 15,22. Angka terakhir itu perlu dibaca hati-hati: hanya 17 peserta Yi yang masuk golongan tersebut, dan kisaran taksirannya membentang dari 2,07 sampai 117,73.
Penjelasan yang ditawarkan para penulis bersifat dugaan. Tanggung jawab sosial yang lebih besar, termasuk sebagai pencari nafkah utama keluarga, mungkin membawa tekanan. Orang yang bercerai atau ditinggal mati dapat mengalami tekanan batin. Keterpencilan wilayah, menurut mereka, makin mempersempit jaringan dukungan bagi orang Yi.
Ciri ketiga paling tidak terduga, yakni penghasilan. Orang Yi berpenghasilan 50.000 yuan ke atas setahun lebih mungkin merokok daripada yang berpenghasilan sampai 10.000 yuan, dengan rasio 4,31 menurut tabel. Pada orang Han angkanya 0,88. Golongan berpenghasilan tertinggi itu pun kecil, hanya 36 orang Yi.
Di sini adat kembali dipanggil. Dalam tradisi Yi, tulis Ling dan rekan-rekannya, tembakau dipercaya mengusir hawa busuk dan menjadi sarana berhubungan dengan langit, sehingga lazim dipakai pada pemakaman dan upacara kurban. Mereka menduga orang berpenghasilan tinggi lebih terdorong meneguhkan kedudukan keluarga dengan merawat ritual semacam itu.
Jenis kelamin memperlihatkan pola yang sama di kedua suku, tetapi lebih tajam pada orang Yi. Rasio peluang laki-laki Yi terhadap perempuan Yi mencapai 13,76, sedangkan pada orang Han 8,64. Para penulis menyebut bahwa dalam budaya Yi merokok dikaitkan dengan kejantanan dan kelanjutan garis ayah. Mereka juga mengutip kajian lama: 56,93 persen remaja Yi yang merokok menyebutnya kecakapan yang wajib dimiliki laki-laki Yi.
Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama
Dari tiga ciri itu Ling dan rekan-rekannya menarik usul yang terbatas. Orang Yi paruh baya, yang menikah, yang bercerai atau ditinggal mati, dan yang berpenghasilan tinggi mereka sebut perlu didahulukan dalam upaya mengurangi pemakaian tembakau. Upaya itu, tulis mereka, sebaiknya disesuaikan dengan budaya dan keadaan tiap kelompok.
Potong lintang: potret satu waktu, bukan sebab-akibat
Istilah terakhir ada di judul naskah, cross-sectional atau potong lintang. Maksudnya, semua orang ditanya dan diuji pada satu waktu, tidak diikuti dari tahun ke tahun. Ling dan rekan-rekannya mengakui akibatnya: hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan, yang teramati hanya keterkaitan. Pembuktian lebih jauh, menurut mereka, memerlukan penelitian yang mengikuti orang yang sama dalam jangka panjang.
Dua batas lain juga mereka sebut. Cara memilih peserta tidak dirancang khusus dengan memperhitungkan suku, sehingga hasilnya belum tentu berlaku lebih luas. Persebaran suku minoritas yang tidak merata antarwilayah juga membuat analisis bertingkat menurut wilayah tidak dilakukan.
Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Ringkasan dan uraian hasil menyebut rasio peluang orang Yi berpenghasilan tinggi 2,84 dengan kisaran 1,15 sampai 7,02, persis sama dengan angka untuk usia paruh baya. Tabel mencantumkan 4,31 dengan kisaran 1,03 sampai 18,04.
Uraian hasil juga menyebut peserta Yi lebih jarang berbagi rokok, padahal tabel mencatat 32,83 persen untuk Yi dan 27,90 persen untuk Han. Pada tabel yang sama, 36 orang Yi berpenghasilan tertinggi ditulis sebagai 0,63 persen, sementara dua golongan penghasilan lain tercatat 52,15 dan 40,13 persen.
Setiap istilah dalam survei ini akhirnya punya batasnya sendiri. Perokok aktif berarti terbukti lewat air liur, rasio peluang berarti condong dan bukan pasti, potong lintang berarti potret dan bukan riwayat. Sebatang rokok yang disodorkan kepada kawan atau tamu tetap menjadi angka terbesar dalam tabel, tetapi yang ditunjukkannya adalah keterkaitan, sama kuatnya di rumah orang Han maupun orang Yi.















