Vitamin B12 Warga Iran Selatan Membaik, Folat Malah Berlebih

A A

Ilustrasi puluhan tabung contoh darah bertutup ungu, merah, dan kuning tersusun di rak putih laboratorium [Foto: Tahir/Pexels]

  • Kekurangan vitamin B12 tercatat pada 4,2 persen perempuan dan 2,8 persen laki-laki di Provinsi Fars.
  • Dengan batas lama, angka kekurangan vitamin B12 adalah 8,7 persen, jauh di bawah 36,2 persen satu dekade lalu.
  • Kadar folat yang tergolong tinggi ditemukan pada 17,2 persen orang yang diperiksa.
  • Hanya 60 dari 7.407 orang yang folatnya tinggi sementara vitamin B12-nya kurang.
  • Semua data berasal dari satu laboratorium rujukan sehingga tidak langsung mewakili seluruh warga Fars.
Daftar Isi
  1. Sebelum 2018: Tepung Diperkaya dan Angka Lama dari Shiraz
  2. Desember 2018 sampai Desember 2023: Arsip Itu Terisi
  3. Sesudah Dihitung: Kurang dari Lima di Antara Seratus Orang
  4. Kemudian Muncul Catatan Lain: Folat yang Terlalu Tinggi
  5. Tahun 2026: Penjelasan yang Masih Berupa Dugaan
  6. Yang Belum Cocok di Dalam Naskah

Catatan pertama bertanggal 9 Desember 2018. Dari hari itulah rekaman uji folat di Laboratorium Klinik Shahid Motahari, Shiraz, Iran selatan, mulai dibaca ulang. Rekaman uji vitamin B12 menyusul sejak 28 Mei 2019. Keduanya ditutup pada 26 Desember 2023, dan sesudah dihitung, orang yang kekurangan dua vitamin itu tinggal sedikit.

Hitungan itu dikerjakan Mansoureh Shokripour, Fatemeh Asadi, Navid Omidifar, Vahid Mohammadkarimi, Samira Taravatmanesh, dan Naeimehossadat Asmarian. Naskah mereka berjudul Trends in vitamin B12 and folate deficiency in Southern Iran (2018–2023): a retrospective laboratory-based surveillance study and implications for public health monitoring, terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan belum bernomor volume. Lima penulis bekerja di Shiraz University of Medical Sciences, satu di Tehran.

Laboratorium itu adalah pusat rujukan bervolume besar di Provinsi Fars. Dokter di sana meminta uji vitamin B12 dan folat sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan umum, persiapan operasi, perawatan kehamilan, atau penelusuran keluhan seperti lelah dan anemia ringan. Jadi arsipnya berisi orang yang datang berobat atau memeriksakan diri, bukan warga yang dipilih secara acak.

Sebelum 2018: Tepung Diperkaya dan Angka Lama dari Shiraz

Kronologinya bermula jauh sebelum arsip dibuka. Pada 2007 Iran meluncurkan program wajib fortifikasi tepung terigu. Survei nasional yang dikerjakan sebelum atau pada tahap awal program itu, menurut para penulis, mencatat kekurangan zat gizi mikro di atas 25 persen pada kelompok tertentu. Angka itulah yang kemudian mendorong kebijakan fortifikasi disempurnakan.

Sesudah itu datang satu angka dari Shiraz sendiri. Sebuah studi yang oleh para penulis disebut berumur satu dekade melaporkan kekurangan vitamin B12 pada 36,2 persen orang dan kekurangan folat pada 39,4 persen. Artinya, lebih dari satu di antara tiga orang yang diperiksa waktu itu tercatat kekurangan. Dua angka ini menjadi patokan pembanding bagi arsip baru.

Kedua vitamin itu tidak dicatat tanpa alasan. Para penulis menyebut keduanya berperan dalam pembentukan DNA dan sel darah merah. Kekurangannya mereka kaitkan dengan anemia megaloblastik dan kerusakan saraf. Gejalanya datang pelan dan tidak khas, sehingga kekurangan itu kerap tidak terdiagnosis.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Desember 2018 sampai Desember 2023: Arsip Itu Terisi

Selama lima tahun arsip terus bertambah. Pada akhir 2023 terkumpul 28.726 hasil uji vitamin B12 dan 12.529 hasil uji folat. Rekaman yang data dirinya tidak lengkap lalu disisihkan, 249 untuk B12 dan 114 untuk folat. Tersisa 28.477 dan 12.415 hasil uji yang bisa dihitung.

Tahap berikutnya menyaring tempat tinggal. Laboratorium itu juga menerima contoh dari provinsi tetangga seperti Bushehr, Hormozgan, dan Khuzestan. Para peneliti hanya mengambil warga Provinsi Fars, yang dikenali dari tiga angka pertama kode identitas nasional. Hasilnya 25.505 uji vitamin B12 dan 10.874 uji folat.

Dari tepung sampai arsip laboratoriumDari tepung sampai arsip laboratoriumDari tepung sampai arsip laboratoriumPenanda waktu yang disebut dalam naskah2007Iran memulai program wajib fortifikasi tepung terigu2018Rekaman uji folat yang ditelaah dimulai 9 Desember2019Rekaman uji B12 yang ditelaah dimulai 28 Mei2023Kedua rekaman ditutup 26 Desember2026Hasil telaah terbit di BMC Public Health
Sumber: Mansoureh Shokripour, Fatemeh Asadi, Navid Omidifar, Vahid Mohammadkarimi, Samira Taravatmanesh, dan Naeimehossadat Asmarian, Trends in vitamin B12 and folate deficiency in Southern Iran (2018–2023): a retrospective laboratory-based surveillance study and implications for public health monitoring, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Orang-orang di dalam arsip itu rata-rata berusia 37 tahun. Pada uji vitamin B12, 58,7 persen di antaranya perempuan. Pada uji folat, porsi perempuan lebih besar lagi, 67,7 persen. Mereka berasal dari 20 kota di Fars. Terbanyak dari Shiraz, ibu kota provinsi, disusul Marvdasht dan Kazeroon.

Batas kekurangan mengikuti anjuran pembuat alat uji. Vitamin B12 disebut kurang bila di bawah 160 pikogram per mililiter serum, dan tinggi bila mencapai 950 atau lebih. Folat disebut kurang bila di bawah 4 nanogram per mililiter, ambang bila 4 sampai di bawah 6, dan tinggi bila mencapai 20 atau lebih.

Sesudah Dihitung: Kurang dari Lima di Antara Seratus Orang

Angka pertama yang keluar adalah vitamin B12. Di antara warga Fars, kekurangan tercatat pada 635 dari 14.968 perempuan, atau 4,2 persen. Pada laki-laki angkanya 298 dari 10.537, atau 2,8 persen. Lebih dari sembilan di antara sepuluh orang, baik perempuan maupun laki-laki, berada di rentang normal.

Folat menyusul dengan pola yang serupa. Kekurangan tercatat pada 226 dari 7.364 perempuan, yakni 3,1 persen, dan pada 126 dari 3.510 laki-laki, yakni 3,6 persen. Dalam ringkasannya para penulis menyebut angka keseluruhan 3,9 persen untuk vitamin B12 dan 3,3 persen untuk folat. Kira-kira empat di antara seratus orang.

Usia tidak banyak mengubah gambaran. Pada mereka yang berumur di bawah 18 tahun, kekurangan vitamin B12 tercatat 2,5 persen, sedangkan pada orang dewasa 3,9 persen. Untuk folat, selisihnya nyaris tidak ada: 3,2 persen pada kelompok muda dan 3,3 persen pada kelompok dewasa.

Kota demi kota memperlihatkan hal yang sama. Kekurangan vitamin B12 paling tinggi tercatat di Khafr, 5,7 persen, dan Firoozabad, 5,5 persen. Paling rendah di Sarvestan, 2,4 persen. Untuk folat, angka tertinggi ada di Arsanjan, 5,8 persen, dan terendah di Jahrom, 1,8 persen. Shiraz sendiri mencatat 3,5 persen dan 3,2 persen.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Lalu tibalah saat membandingkan dengan angka lama. Studi satu dekade lalu memakai batas yang lebih longgar, di bawah 200 pikogram per mililiter. Para peneliti menghitung ulang arsip mereka dengan batas itu. Hasilnya 2.231 dari 25.505 orang, atau 8,7 persen. Angka tersebut masih jauh di bawah 36,2 persen.

Jauh di bawah angka satu dekade laluVitamin B12: Studi Shiraz satu dekade lalu +36,2%, Arsip 2018-2023 +8,7%; Folat: Studi Shiraz satu dekade lalu +39,4%, Arsip 2018-2023 +3,3%.Jauh di bawah angka satu dekade laluPersen orang yang diperiksa dan tergolong kekuranganStudi Shiraz satu dekade laluArsip 2018-202310%20%30%40%0Vitamin B1236,2%8,7%Folat39,4%3,3%B12 dibandingkan dengan batas di bawah 200 pg/mL. Folat arsip barumemakai batas di bawah 4 ng/mL.
Sumber: Mansoureh Shokripour, Fatemeh Asadi, Navid Omidifar, Vahid Mohammadkarimi, Samira Taravatmanesh, dan Naeimehossadat Asmarian, Trends in vitamin B12 and folate deficiency in Southern Iran (2018–2023): a retrospective laboratory-based surveillance study and implications for public health monitoring, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua kelompok yang dianggap rentan ikut diperiksa tersendiri. Di antara 5.190 perempuan berusia 15 sampai 49 tahun, kekurangan folat tercatat 3,26 persen. Di antara 11.432 perempuan pada rentang usia yang sama, kekurangan vitamin B12 tercatat 4,77 persen. Pada 3.669 orang berusia 60 tahun ke atas, angkanya 3,38 persen.

Kemudian Muncul Catatan Lain: Folat yang Terlalu Tinggi

Sesudah angka kekurangan selesai dihitung, arsip itu memperlihatkan hal sebaliknya. Kadar folat yang tergolong tinggi ditemukan pada 17,2 persen orang yang diperiksa, kira-kira satu di antara enam. Pada perempuan angkanya 19,4 persen, pada laki-laki 13,9 persen. Jumlah itu kira-kira lima kali lebih banyak daripada mereka yang kekurangan.

Para penulis menawarkan satu dugaan. Di Iran, perempuan hamil rutin menerima suplemen asam folat dosis tinggi, 1 miligram sehari, sambil tetap memakan tepung terigu yang sudah diperkaya. Paparan ganda itu mungkin ikut menjelaskan folat yang tinggi pada perempuan usia subur. Namun arsip tidak mencatat siapa yang sedang hamil, sehingga dugaan itu tidak bisa diuji.

Kekhawatiran berikutnya bernama jebakan folat. Folat yang tinggi bisa menutupi kekurangan vitamin B12, sehingga gangguan saraf akibat kekurangan itu terlambat dikenali. Untuk memeriksanya, para peneliti mencari orang yang menjalani kedua uji sekaligus. Ada 7.407 orang.

Dari jumlah itu, hanya 60 orang yang folatnya tinggi sementara vitamin B12-nya kurang. Itu 0,81 persen. Di antara 1.284 orang berfolat tinggi yang juga diuji vitamin B12-nya, 95,3 persen berkadar normal dan 4,7 persen kekurangan. Kekhawatiran tadi, setidaknya di arsip ini, tidak terbukti luas.

“Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun kadar folat yang tinggi memang ada pada populasi ini, fenomena ‘jebakan folat’ sangat jarang dijumpai dalam lingkungan klinis ini,” tulis Mansoureh Shokripour dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka tetap meminta tenaga kesehatan waspada terhadap orang lanjut usia dan vegetarian.

Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas

Tahun 2026: Penjelasan yang Masih Berupa Dugaan

Ketika naskah terbit pada 2026, para penulis menyusun penjelasan atas angka yang rendah itu. Pertama, fortifikasi tepung terigu yang berjalan sejak 2007. Kedua, jaringan layanan kesehatan primer Iran, yang bertumpu pada rumah kesehatan desa dan pusat kesehatan kota. Lewat jaringan itu perempuan hamil, orang lanjut usia, dan pasien penyakit kronis dipantau dan diberi suplemen.

Ketiga, mereka menyebut pemakaian suplemen multivitamin yang dibeli bebas, yang mungkin bertambah selama pandemi COVID-19. Keempat, kesadaran tenaga kesehatan yang meningkat. Para penulis mengakui bahwa arsip laboratorium tidak bisa memilah seberapa besar sumbangan tiap faktor. Keempatnya disebut bersama-sama, tanpa urutan bobot.

Mereka juga membatasi klaimnya sendiri. “Sebagai studi observasional berbasis laboratorium, temuan kami menunjukkan hubungan statistik, bukan hubungan sebab-akibat,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Penjelasan soal dampak kebijakan, menurut mereka, harus dibaca sebagai hipotesis yang masih perlu diuji pada populasi umum.

Keterbatasan lain dicatat terang. Semua data berasal dari satu laboratorium rujukan, dari orang yang diperiksa atas permintaan dokter. Karena itu hasilnya tidak boleh langsung dianggap mewakili seluruh warga Fars. Uji berulang dari orang yang sama juga tidak sepenuhnya bisa dibuang, sebab sebagian rekaman lama tidak memuat kode identitas yang lengkap.

Dari situ lahir usul untuk tahun-tahun berikutnya. Suplemen asam folat dosis 1 atau 5 miligram sehari diminta ditinjau ulang dan diganti dosis 0,4 miligram, kecuali untuk kehamilan berisiko tinggi. Sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah jeruk dianjurkan sebagai sumber folat alami. Dinas kesehatan Fars diminta memantau arsip laboratorium secara terus-menerus.

Yang Belum Cocok di Dalam Naskah

Naskah ini masih berstatus diterima dan belum disunting akhir, dan beberapa angkanya belum selaras. Ringkasan menyebut kekurangan vitamin B12 sebesar 3,9 persen. Padahal tabelnya mencatat 635 perempuan dan 298 laki-laki, jadi 933 dari 25.505 orang. Bila dihitung, hasilnya 3,7 persen. Angka 3,9 persen hanya muncul pada kelompok dewasa.

Ada pula selisih pada kelompok muda yang diuji folat. Teks menyebut jumlahnya 1.637 orang, sedangkan tabel menulis 1.673, dan isi tabel memang berjumlah 1.673. Selain itu, judul naskah memakai kata tren, tetapi tidak ada angka per tahun yang disajikan. Yang ada hanya satu angka untuk seluruh masa lima tahun.

Rekaman terakhir bertanggal 26 Desember 2023. Sampai tanggal itu, kekurangan vitamin B12 dan folat di arsip Shiraz tercatat di bawah lima persen, dan folat yang tinggi tercatat pada 17,2 persen. Angka sesudah tanggal itu belum ada di dalam naskah.

Bagikan

Baca Juga

Kecelakaan akibat Pengemudi Mabuk di Turki Makin Jarang Tercatat
Orang Yi di Sichuan Lebih Banyak yang Merokok daripada Orang Han
Perawat Rumah di Swedia Utara Lebih Cemas saat Kerja Menumpuk
Banyak Bergerak Tak Menjauhkan Apoteker Douala dari Lelah Kerja
Garam Tambahan di Piring Terkait Asma, Kalium Meredam Risikonya
Kanker Testis Nyaris Tak Dikenal Pria Saudi yang Disurvei