- Sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional pada 2025 masih dipenuhi impor.
- Menperin Sarmuji mengusulkan impor sapi perah agar susu diproduksi peternak di dalam negeri.
- Cimory baru memenuhi 20 hingga 30 persen kebutuhan susunya dari susu segar dalam negeri.
- Kemenperin berjanji memberi kelonggaran impor bagi bahan baku yang belum dapat dipenuhi di dalam negeri.
Cekricek.id — Sekitar 80 persen bahan baku susu bagi industri pengolahan nasional masih impor, dan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengusulkan sapinya yang diimpor agar susu diproduksi peternak lokal.
Menurut keterangan tertulis Kementerian Perindustrian, Kamis (22/10/2026), Sarmuji menyampaikannya saat berkunjung ke pabrik PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Berdasarkan data Kemenperin, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu pada 2025 mencapai sekitar 4,95 juta ton setara susu segar.
“Kita berharap susu bisa diproduksi semaksimal mungkin di dalam negeri. Kalau bisa, yang diimpor itu sapinya, kemudian dipelihara oleh peternak Indonesia,” tutur Sarmuji.
“Peternaknya dilatih dan diedukasi agar menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas. Itu akan lebih baik,” lanjutnya.
Baca juga: Konsumsi Susu Indonesia 5 Liter, Belanda 100 Liter per Tahun
Direktur Manufacturing Cimory Pamungkas Bayu Triprasetyo mengatakan 20–30 persen kebutuhan susu perusahaannya dipenuhi dari susu segar dalam negeri yang dipasok peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” jelasnya.
Ia menyebut kebutuhan susu segar untuk produksi Cimory mencapai sekitar 1.000 ton per bulan.
Menurut Kemenperin, sepanjang 2025 Cimory bermitra dengan 18.458 peternak sapi perah dan menyerap sekitar 26,42 juta liter susu segar.
Sarmuji juga menantang Cimory memproduksi lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju khas Indonesia, dalam waktu satu tahun ke depan.
“Keju yang sesuai dengan selera orang Indonesia itu belum banyak dikembangkan. Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka,” ungkap Sarmuji.
Pamungkas menyatakan perusahaannya akan menjalankan tantangan tersebut. “Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya,” ujarnya.
Baca juga: Mahasiswa UMM Olah Susu Sapi Pujon Jadi Kerupuk dan Minuman
Sarmuji menilai utilisasi industri nasional yang mendekati 70 persen masih bisa ditingkatkan. Untuk itu, Kemenperin berjanji memberi kelonggaran impor bagi bahan baku yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri.
“Sepanjang impor untuk kepentingan bahan baku, kita akan beri relaksasi atau kelonggaran,” tegas Sarmuji.
“Kalau bahan bakunya sudah tersedia dan bisa diproduksi di Indonesia, tentu kita utamakan produk dalam negeri,” ujarnya.
Pada semester I 2026, industri makanan dan minuman tumbuh 6,77 persen dan berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, dengan realisasi investasi Rp47,74 triliun.
Baca juga: Kemenperin Bidik Pertumbuhan 6% pada 2027 lewat Transformasi Sektoral















