Reklasifikasi MSCI Bisa Picu Lingkaran Setan, Kata Guru Besar UGM

A A

Grafik lilin harga saham bergerak turun pada layar monitor perdagangan. [Foto: Pexels]

  • Guru Besar FEB UGM Agus Sartono menilai reklasifikasi MSCI berisiko memicu arus modal keluar dari Indonesia.
  • Tekanan jual diperkirakan terutama menimpa saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan energi.
  • Biaya dana yang naik dapat memperlambat kredit, mengganggu pertumbuhan ekonomi, dan menekan daya beli masyarakat.
  • Pelemahan rupiah menambah beban utang luar negeri serta biaya impor bahan baku dan energi.

Cekricek.id — Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA., menilai usulan reklasifikasi MSCI atas pasar saham Indonesia berisiko memicu arus modal keluar.

Hal itu disampaikan Agus menurut keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (22/10/2026), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam.

Tekanan itu muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Menurut Agus, keterbukaan informasi diperlukan untuk mengatasi asimetri informasi, mencegah perdagangan orang dalam atau insider trading, serta menghindari manipulasi harga aset.

“Prinsip keterbukaan adalah napas sekaligus syarat utama satu pasar modal. Tanpa keterbukaan informasi, pasar modal tidak dapat berfungsi secara efisien,” ujarnya.

Baca juga: MSCI Buka Konsultasi Reklasifikasi Status Pasar Modal Indonesia

Ia menyebut minimnya keterbukaan membuat investor sulit memperkirakan nilai wajar saham dan obligasi, sehingga risiko investasi meningkat.

“Ya, akibatnya investor dapat meminta premi risiko yang lebih tinggi sehingga nilai aset berpotensi turun atau harus dijual dengan harga diskon,” ungkapnya.

Agus menerangkan, sejak awal 2026 MSCI sudah memberi sinyal peringatan soal perdagangan terkoordinasi dan keterbukaan kepemilikan manfaat atau beneficial ownership.

Perbaikan yang diminta juga mencakup kenaikan porsi saham beredar di publik atau free float menjadi 15 persen serta transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen.

Tekanan Jual dan Biaya Dana Naik

Agus menilai dana global yang dikelola manajer investasi besar berpotensi dialihkan ke pasar lain yang dinilai lebih aman.

Kondisi itu, kata dia, dapat menambah tekanan jual saham Indonesia, terutama perusahaan berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan energi, serta menekan valuasinya.

Persepsi negatif terhadap status pasar saham juga disebutnya memengaruhi kredibilitas perusahaan nasional saat mencari pinjaman komersial dari luar negeri.

“Lagi-lagi cost of fund meningkat dan rentetan berikutnya penyaluran kredit melambat. Pertumbuhan ekonomi terganggu, dampak yang tak kalah penting terkait pengangguran serta daya beli masyarakat bisa jadi turun,” kata Agus.

“Jadi, ini semacam vicious cycle atau lingkaran setan,” ujarnya.

Baca juga: IHSG Anjlok 11,57 Persen, Ekonom UGM: Belum Tanda Krisis

Rupiah Melemah, Industri Terjepit

Agus juga menyoroti pelemahan rupiah. Dari sisi eksternal, tekanan itu berkaitan dengan sentimen pasar saham Indonesia dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dikaitkan dengan kekhawatiran atas pendanaan program berskala jumbo, defisit APBN, dan rasio pembayaran utang atau debt service ratio.

Menurut Agus, pelemahan rupiah menambah beban pembayaran utang luar negeri serta biaya impor bahan baku dan energi, sehingga biaya produksi industri berpotensi naik.

“Bagi industri pilihannya juga tidak banyak. Menaikkan harga jual tidak akan membantu karena daya beli masyarakat rendah,” tuturnya.

Ia menekankan pemulihan kepercayaan investor harus menjadi perhatian utama, disertai langkah konkret memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar modal.

“Kita sedang menghadapi multifaktor dan kebetulan saling terkait. Pemulihan kepercayaan menjadi yang utama dan tidak kalah penting mengantisipasi jika getting worse,” tutup Agus.

Baca juga: Prabowo Tuding MSCI Menakut-nakuti, Tegaskan RI Tidak Takut

Bagikan

Baca Juga

Dosen UGM: 40 Persen Kasus Demensia Bisa Dicegah Sejak Dini
Bonus Demografi Indonesia Belum Otomatis Jadi Pertumbuhan Ekonomi
Energi Terbarukan Menekan Emisi di Uni Eropa, Belum di Luarnya
Prabowo Tuding MSCI Menakut-nakuti, Tegaskan RI Tidak Takut
Modal Asing ke Pakistan Lebih Mengikuti Ekspor daripada Politik
Harga Implan Gigi Dipangkas, Pesanan Sichuan Naik Lalu Melambat