Dua Mantan Pejabat FBI Didakwa Terkait Kasus Laptop Hunter Biden

A A

Dok. Hunter Biden masuk ke kendaraan saat meninggalkan pengadilan federal di Los Angeles, Amerika Serikat, 5 September 2024. [Foto: Eric Thayer/AP via Al Jazeera]

  • Mantan pejabat FBI Nikki Floris dan Bradley Benavides didakwa berbohong kepada Kongres.
  • Pengacara keduanya menuding dakwaan diajukan untuk menghidupkan lagi kasus itu menjelang pemilu sela 3 November.
  • Direktur FBI Kash Patel menyebut berbohong kepada Kongres menghantam jantung sistem AS.

Cekricek.id — Dua mantan agen Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat didakwa terkait penyelidikan tahun 2020 atas laptop Hunter Biden, putra mantan Presiden Joe Biden.

Kedua mantan pejabat itu, Nikki Floris dan Bradley Benavides, didakwa berbohong kepada Kongres dan menjalani sidang perdana di Washington DC pada Jumat, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Jumat (23/10/2026).

Pengacara keduanya menuding Departemen Kehakiman mengajukan dakwaan untuk menghidupkan kembali kisah itu beberapa hari menjelang pemilu sela 3 November, saat Partai Republik menghadapi persaingan berat melawan Partai Demokrat untuk mempertahankan kendali Kongres.

Pengacara Floris menyebut kliennya telah mengabdi sebagai perwira intelijen FBI selama hampir 20 tahun dan menuding Departemen Kehakiman menyusun kasus berdasarkan kabar burung. “Namun hari ini, Departemen Kehakiman menuduhnya secara keliru melakukan kejahatan berdasarkan omongan politikus, bukan fakta,” bunyi pernyataan itu. “Bukan kebetulan pemerintah mengajukan dakwaan tak masuk akal ini sekarang, bertahun-tahun kemudian, menjelang pemilu.”

Floris dan Benavides dulu memimpin Satuan Tugas Pengaruh Asing (FITF) FBI ketika laptop itu ditemukan. Keduanya bersaksi di depan Kongres bahwa unit yang berfokus pada campur tangan asing dalam pemilu AS itu tidak terlibat dalam penyelidikan laptop tersebut. Dalam pengaduan pidana, jaksa federal menyebut pernyataan itu bertentangan dengan pesan-pesan yang dikirim pada periode yang sama.

FITF dibentuk Trump pada masa jabatan pertamanya, tetapi kemudian menjadi sasaran Partai Republik pada era Biden karena dituding bias politik dan dipakai untuk menutupi informasi soal laptop itu. Unit tersebut dibubarkan saat Trump kembali menjabat pada Januari 2025.

Keberadaan laptop itu terungkap pada Oktober 2020, beberapa pekan sebelum Biden dan Trump bertarung dalam pemilu presiden. Laptop tersebut ditinggalkan di sebuah bengkel komputer di Delaware, dan isinya pertama kali diberitakan New York Post berdasarkan informasi yang diberikan kepada pengacara Trump, Rudy Giuliani. FBI kemudian memverifikasi keaslian laptop beserta isinya.

Direktur FBI Kash Patel berjanji menyelidiki perilaku lembaga itu selama kepresidenan Biden. “Berbohong kepada Kongres oleh pejabat senior FBI menghantam jantung sistem kita. Tidak ada yang kebal hukum,” kata Patel di X. Para pengkritik menuding Patel terang-terangan memolitisasi FBI.

Departemen Kehakiman secara historis menghindari langkah penyelidikan terbuka menjelang pemilu. Namun, dalam dua pekan terakhir, pejabatnya mengambil serangkaian langkah berani dalam perkara bernuansa politik, termasuk penggeledahan rumah Ilhan Omar, anggota DPR dari Partai Demokrat, serta dakwaan korupsi terhadap Senator negara bagian Virginia dari Partai Demokrat L Louise Lucas.

Bagikan

Baca Juga

WHO Umumkan Uji Klinis Vaksin Ebola Dimulai di RD Kongo
OpenAI Tak Lagi Latih Model AI di Internet Langsung
Delapan Menlu di Istanbul Peringatkan AS Tak Lagi Serang Iran
Robot Bebek Microduck Viral, 20.000 Unit Laku Jelang Natal
Topan Champi Hantam Taiwan, Satu Tewas dan 350 Orang Terluka
Pneumonia Berat di Ulaanbaatar Terkait Rokok dan Alkohol