- Utang publik tercatat sebagai pendorong yang bermakna bagi gejolak kurs dan pelemahan rand.
- Kaitan utang publik dengan kurs riil menjadi minus 1,478, kira-kira dua kali angka jangka pendek.
- Ekspor yang lebih kuat daripada impor menguatkan rand, sebab permintaan atas rand di pasar valuta asing bertambah.
- Pemerintah dapat meragamkan mata uang yang dipakai dalam utangnya.
Daftar Isi
Pada 2008, utang pemerintah Afrika Selatan setara kira-kira 27 persen dari ukuran ekonominya. Lima belas tahun kemudian, pada 2023, angkanya sudah melewati 70 persen. Sepanjang rentang itu, mata uang negara tersebut, rand, berulang kali terguncang. Tiga ekonom lalu memeriksa apakah kedua catatan itu saling terkait.
Ketiganya adalah Yonela Tyani, Chuma Mbaleki, dan Asive Nodo dari Walter Sisulu University di Mthatha, Afrika Selatan. Artikel mereka berjudul Public debt dynamics and real exchange rate volatility: Evidence from South Africa. Naskah berbahasa Inggris itu terbit di Economic Journal of Emerging Markets volume 18 nomor 1, tahun 2026.
Jawaban mereka tegas. Utang publik tercatat sebagai pendorong yang bermakna bagi gejolak kurs dan pelemahan rand. Hasil itu muncul baik dalam hitungan jangka pendek maupun jangka panjang. Naskah menyebut Tyani sebagai mahasiswa magister ekonomi, sedangkan Mbaleki dan Nodo adalah dosen di kampus yang sama.
Tahun 2000: titik awal catatan
Catatan yang dipakai dimulai pada tahun 2000 dan berakhir pada 2024. Jumlahnya 25 catatan tahunan, satu untuk tiap tahun. Sumbernya dua, yaitu South African Reserve Bank dan World Bank. Dari sanalah angka utang, kurs riil, inflasi, bunga, ekspor, impor, dan investasi asing diambil.
Selama seperempat abad itu, angka utang publik dalam tabel naskah bergerak jauh. Nilai terendahnya 24,044 dan nilai tertingginya 76,355. Rata-ratanya 43,868, dengan nilai tengah 38,045. Artinya, titik tertinggi lebih dari tiga kali titik terendah.
Kurs riil rand ikut berayun pada masa yang sama. Indeksnya rata-rata 85,317 sepanjang 25 tahun. Titik terendahnya 69,832, sedangkan titik tertingginya 104,604. Para penulis memakai kurs efektif riil, yaitu nilai rand yang sudah ditimbang menurut mitra dagang Afrika Selatan.
Harga barang juga tidak diam. Inflasi rata-rata tercatat 5,244 persen setahun, dengan puncak 9,909 persen. Pernah pula angkanya minus 0,692 persen. Bunga riil rata-rata 4,381 persen. Ekspor rata-rata setara 27,732 persen dari ukuran ekonomi, sedikit di atas impor yang 26,910 persen.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Tahun 2008 sampai 2023: utang menumpuk
Babak yang paling disorot para penulis dimulai pada 2008. Dalam lima belas tahun sesudahnya, utang publik naik dari sekitar 27 persen menjadi lebih dari 70 persen produk domestik bruto. Dengan kata lain, bebannya membesar lebih dari dua setengah kali. Biaya membayar bunga utang ikut membesar.
Pada masa yang sama, keadaan ekonomi Afrika Selatan disebut memburuk. Para penulis mencatat tiga hal yang berjalan bersamaan: tumpukan utang yang terus bertambah, defisit yang melebar, dan kurs yang bergejolak. Utang itu, menurut naskah, kian berat oleh pinjaman dari IMF dan World Bank.
Rand sendiri digambarkan mudah goyah. “Mata uang negara ini, rand, termasuk mata uang paling bergejolak di dunia, yang kerap bereaksi terhadap sentimen risiko global, guncangan harga komoditas, dan dinamika fiskal dalam negeri,” tulis Tyani, Mbaleki, dan Nodo dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Gejolak semacam itu punya harga. Mengutip kajian terdahulu, para penulis menyebut kurs yang naik-turun membuat barang impor lebih mahal dan menambah tekanan inflasi. Daya saing perusahaan dalam negeri yang berdagang ke luar ikut turun. Daya beli pun terkikis.
Meski begitu, peran utang sebagai pendorong tunggal gejolak rand disebut jarang diperiksa. Banyak kajian menimbang bunga, inflasi, atau perdagangan. Kajian yang khusus menautkan utang dengan kurs riil di Afrika Selatan masih sedikit. Celah itulah yang hendak diisi ketiga penulis.
Dalam hitungan setahun: rand langsung tertekan
Hasil pertama menyangkut jangka pendek. Ketika utang publik naik, kurs riil rand turun. Angka kaitannya minus 0,715, dan secara statistik sangat meyakinkan. Para penulis membacanya lugas: kenaikan utang publik berujung pada pelemahan rand.
Inflasi menekan lebih keras lagi. Angka kaitannya dengan kurs riil dalam jangka pendek tercatat minus 4,255. Menurut naskah, inflasi yang tinggi mengikis daya beli mata uang dan menurunkan nilainya terhadap mata uang lain. Bunga riil tahun sebelumnya juga bertanda minus, yaitu 1,467.
Perdagangan bekerja ke dua arah. Impor yang naik menurunkan kurs riil, dengan angka minus 2,355. Para penulis menjelaskan, impor yang bertambah menaikkan permintaan atas mata uang asing sehingga rand melemah. Ekspor tahun sebelumnya justru bertanda positif, yaitu 4,807.
Ada pula catatan tentang kecepatan pulih. Sekitar 48 persen penyimpangan kurs dari keseimbangan jangka panjangnya terkoreksi dalam satu periode. Hampir separuh selisih itu hilang nyaris seketika. Para penulis memperkirakan perlu kira-kira dua periode sampai dampak sebuah guncangan reda dan kurs kembali tenang.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Dalam jangka panjang: tekanan berlipat
Hasil kedua menyangkut jangka panjang. Arah semua angkanya sama, tetapi ukurannya membesar. Kaitan utang publik dengan kurs riil menjadi minus 1,478, kira-kira dua kali angka jangka pendek. Para penulis menulis bahwa kenaikan utang satu persen berujung pada pelemahan rand sebesar 1,47.
Naskah juga menerangkan jalurnya. Ketika utang membesar, sebuah negara dipandang lebih berisiko. Investor khawatir pemerintah gagal bayar atau menutup utang dengan cara yang memicu inflasi. Mereka lalu memindahkan uangnya ke tempat lain. Saat kepercayaan itu hilang, mata uang melemah, dan modal yang keluar menambah gejolak.
Inflasi kembali menjadi angka terbesar di sisi minus. Dalam tabel jangka panjang, kaitannya dengan kurs riil tercatat minus 8,793. Impor menyusul dengan minus 4,866. Ekspor, sebaliknya, bertanda positif 9,934. Bunga riil tercatat minus 3,032, tetapi tingkat keyakinan statistiknya lebih lemah daripada yang lain.
Dari sana para penulis menarik satu simpulan tentang perdagangan. Ekspor yang lebih kuat daripada impor menguatkan rand, sebab permintaan atas rand di pasar valuta asing bertambah. Neraca dagang yang negatif berbuat sebaliknya. Keterbukaan dagang, tulis mereka, termasuk pendorong utama naik-turunnya kurs.
Satu hal tidak terbukti. Investasi asing langsung tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan kurs riil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Angkanya kecil dan jauh dari batas keyakinan statistik. Naskah tidak mengulas temuan ini lebih lanjut.
Sesudah 2024: dua saran untuk pemerintah
Catatan berakhir pada 2024, lalu para penulis menutupnya dengan simpulan. “Temuan menunjukkan bahwa utang publik adalah pendorong yang signifikan bagi gejolak nilai tukar,” tulis mereka. Hasil itu disebut sejalan dengan teori bahwa utang yang melampaui batas wajar membuat investor takut.
Saran pertama menyangkut arus modal. Pemerintah dianjurkan memasang kendali yang tegas untuk mencegah perpindahan modal mendadak, masuk maupun keluar, yang bisa mengguncang rand. Caranya, menurut naskah, dengan menjaga neraca dagang tetap baik, menyasar inflasi, dan menyesuaikan kebijakan moneter.
Saran kedua menyangkut susunan utang itu sendiri. Pemerintah dapat meragamkan mata uang yang dipakai dalam utangnya. Langkah itu disebut mengurangi naik-turunnya pembayaran bunga dan cicilan. Anggaran dan perencanaan fiskal pemerintah pun menjadi lebih stabil.
Batas kajian ini perlu dicatat. Hitungannya bertumpu pada 25 catatan tahunan dari satu negara saja. Para penulis sendiri menyebut pekerjaan yang belum selesai: memeriksa apakah ada ambang utang tertentu, mengukur kerugian nyata bagi perdagangan dan investasi, serta memecah utang menurut komponennya.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Tahun 2026: angka yang tidak seragam di naskah terbitan
Naskah terbit pada 2026, dan beberapa bagiannya tidak sejalan satu sama lain. Dalam uraian jangka panjang, para penulis menyebut kenaikan inflasi satu persen melemahkan rand sebesar 3,0. Di tabel, angka inflasi adalah minus 8,793. Angka minus 3,032 justru tercantum pada baris bunga riil.
Hal serupa ada pada uraian awal. Teks menyebut inflasi bergerak searah dengan kurs riil, sedangkan tabelnya mencatat angka minus 0,433. Bagian data juga sekali menyebut bunga riil sebagai hal yang dijelaskan, padahal seluruh hitungan menjelaskan kurs riil. Angka kecepatan pulih pun ditulis 0,483 di tabel dan 0,484 di teks.
Abstrak dan simpulan juga berbeda nada. Abstrak menyebut hasil jangka pendek dan jangka panjang serupa. Simpulan menyebut naik-turun kurs lebih menonjol dalam jangka panjang. Tabel memang menunjukkan arah yang sama dengan ukuran yang lebih besar pada jangka panjang.
Catatan terakhir dalam naskah berhenti pada 2024. Sampai tahun itu, utang publik Afrika Selatan sudah melewati 70 persen dari ukuran ekonominya. Rand masih termasuk mata uang paling bergejolak di dunia.















