Peluang Pasar Jasa Tenaga Profesional RI ke Lima Negara

A A

Perawat berseragam biru memegang stetoskop berdiri di koridor rumah sakit yang terang. [Foto: Pexels]

  • Kemendag mengajak tenaga profesional memanfaatkan perjanjian dagang untuk memperluas pasar jasa.
  • Negara sasarannya Australia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, dan Swiss.
  • Skema antarpemerintah dengan Jepang membuka peluang besar bagi perawat dan perawat lansia.
  • Kemnaker menyediakan sekitar 5.000 program pelatihan vokasi gratis.

Cekricek.id — Kementerian Perdagangan mengajak tenaga profesional Indonesia memanfaatkan perjanjian dagang untuk memperluas pasar jasa ke Australia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, dan Swiss.

Ajakan itu disampaikan dalam seminar rangkaian Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (17/10/2026), menurut keterangan tertulis Kementerian Perdagangan, Senin (19/10/2026).

Bidang profesi yang disebut berpotensi meliputi teknologi informasi, keinsinyuran, arsitektur, konsultasi, kesehatan, dan keperawatan.

“Kami mengajak tenaga profesional untuk memanfaatkan berbagai perjanjian dagang dalam memperluas ekspor tenaga profesional kita ke negara-negara mitra. Selain itu, penguatan tenaga profesional juga akan berdampak positif bagi peningkatan kapasitas di jejaring usaha dan akses terhadap pasar internasional,” ujar Direktur Perundingan Jasa dan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik Kementerian Perdagangan Mochamad Rizalu Akbar.

Baca juga Kemendag Buka Peluang Ekspor Jasa Lewat Trade Expo Indonesia 2026

Direktur Promosi dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Perlindungan Pekerja Indonesia Sri Mulyani menyebut peluang penempatan di kelima negara berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan tenaga kerja dan mekanisme penempatan di negara tujuan.

Ia mencontohkan skema kerja sama antarpemerintah dengan Jepang yang memberi peluang lebih besar bagi penempatan perawat dan perawat untuk lanjut usia. Skema itu juga mencakup dukungan pelatihan dan sertifikasi bagi calon pekerja migran Indonesia.

“Kami mencoba memetakan negara mitra, sektor utama pekerja migran Indonesia, kebutuhan negara mitra, serta mekanisme pelindungannya. Kami melihat bahwa setiap kerja sama ekonomi memiliki mekanisme perlindungan masing-masing. Misalnya, Australia melalui Program Katalis, sedangkan Kanada memiliki kebijakan imigrasi yang ramah dan menjadi salah satu negara pelopor dalam menerima imigran,” ujar Sri Mulyani.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia Aprisunadi menyatakan kebutuhan tenaga keperawatan di berbagai negara belum sepenuhnya dapat dipenuhi Indonesia. Menurut dia, Jepang menjadi salah satu negara dengan permintaan perawat yang tinggi, disusul sejumlah negara Eropa dan Malaysia.

Baca juga Kemendag: 25 Perjanjian Dagang Cakup 72,34 Persen Nilai Ekspor RI

Ketua Tim Pembinaan Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan Gilang Amaldi mengatakan kementeriannya berfokus pada penyediaan informasi pasar kerja melalui Karir Hub serta pelatihan vokasi untuk menjembatani kesenjangan keterampilan.

“Saat ini, kami memiliki sekitar 5.000 program pelatihan vokasi gratis. Lembaga Pelatihan Kerja swasta juga dapat memanfaatkan kurikulum dan materi pelatihan yang telah kami sediakan,” ujar Gilang.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Hairani Tarigan menyoroti sektor pariwisata dalam perdagangan jasa. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan bahasa asing dan sertifikasi kompetensi bagi tenaga profesional.

Baca juga RI Mitra Dagang Terbesar Timor Leste di ASEAN, Porsi 76 Persen

Bagikan

Baca Juga

Bahan Baku Kakao Diserap dari Petani di Enam Daerah
Lidah Buaya Gunungkidul Diminati Calon Pembeli dari Swedia
Pangan Nusa Expo Catat Potensi Transaksi Rp5,9 Triliun
Aset Keuangan Syariah Rp3.264 Triliun, Pangsa Bank 7 Persen
Kadin Minta MSCI Objektif Menilai Pasar Modal Indonesia
Makin Besar Ekspor Daun Tembakau, Makin Sedikit Larangan Iklannya