- Kewajiban neto posisi investasi internasional Indonesia turun menjadi 197,4 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2026 dari 223,0 miliar dolar AS.
- Posisi KFLN turun 1,9 persen menjadi 769,0 miliar dolar AS, sementara AFLN naik 1,9 persen menjadi 571,5 miliar dolar AS.
- Cadangan devisa turun dari 148,2 miliar dolar AS menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2026.
- Posisi total utang luar negeri Indonesia tercatat 453,4 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2026.
Cekricek.id — Pada akhir triwulan II 2026, posisi investasi internasional (PII) Indonesia mencatat kewajiban neto 197,4 miliar dolar AS, turun dari 223,0 miliar dolar AS pada akhir triwulan I 2026.
Mengutip Laporan Posisi Investasi Internasional Indonesia Triwulan II 2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI), Kamis (10/09/2026), kewajiban neto itu setara 13,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), turun dari 15,2 persen pada triwulan sebelumnya.
Laporan BI menyusun posisi investasi internasional dari dua sisi. Sisi aset, atau Aset Finansial Luar Negeri (AFLN), mencatat investasi penduduk Indonesia pada instrumen keuangan di luar negeri. Sisi kewajiban, atau Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN), mencatat modal asing yang masuk ke Indonesia. Selisih keduanya menjadi posisi neto. Karena kewajiban lebih besar dari aset, yang tercatat adalah kewajiban neto.
Daftar Isi
Posisi Investasi Internasional Bergeser dari Triwulan I ke Triwulan II
Sisi kewajiban turun. Posisi KFLN pada akhir triwulan II 2026 tercatat 769,0 miliar dolar AS, berkurang 14,7 miliar dolar AS atau 1,9 persen dari 783,7 miliar dolar AS pada akhir triwulan I 2026.
Menurut BI, penurunan itu terutama datang dari faktor perubahan lainnya yang tercatat negatif. Nilai investasi pada instrumen berdenominasi rupiah menyusut. Hal itu sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
Penurunan itu tertahan oleh modal asing yang tetap masuk dalam bentuk investasi portofolio, investasi lainnya, dan investasi langsung. BI membaca aliran itu sebagai cerminan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik, inflasi yang terjaga, dan imbal hasil investasi yang menarik.
Pada periode yang sama, sisi aset naik. Posisi AFLN bertambah 10,9 miliar dolar AS atau 1,9 persen, dari 560,7 miliar dolar AS menjadi 571,5 miliar dolar AS. Kenaikan datang dari investasi penduduk di luar negeri, terutama dalam bentuk investasi lainnya, investasi langsung, dan investasi portofolio.
Per akhir triwulan II 2026, sebagian besar komponen posisi investasi internasional masih mencatat kewajiban neto. Investasi portofolio menjadi yang terbesar dengan 229,6 miliar dolar AS, disusul investasi langsung 149,1 miliar dolar AS dan derivatif finansial 1,4 miliar dolar AS. Dua komponen lain mencatat aset neto, yakni cadangan devisa 145,6 miliar dolar AS dan investasi lainnya 37,0 miliar dolar AS.
Baca juga Stabilitas neraca pembayaran Indonesia di tengah ketidakpastian global
Modal Asing Tetap Masuk Saat Nilai Saham Domestik Turun
Investasi langsung mencatat perubahan terbesar. Kewajiban netonya turun 19,8 miliar dolar AS, dari 168,8 miliar dolar AS pada akhir triwulan I menjadi 149,1 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2026. Posisi KFLN-nya turun 16,7 miliar dolar AS, sementara AFLN-nya naik 3,1 miliar dolar AS.
KFLN investasi langsung turun dari 314,1 miliar dolar AS menjadi 297,5 miliar dolar AS, terutama karena modal ekuitas berkurang 16,8 miliar dolar AS. Harga instrumen keuangan domestik turun, khususnya pada perusahaan sektor industri pengolahan, perantara keuangan, serta pertambangan dan penggalian. Pada saat yang sama, rupiah melemah terhadap dolar AS.
Dari sisi transaksi, investasi langsung masih membukukan arus modal masuk dalam bentuk surat berharga. BI menyebutnya cerminan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik yang tetap terjaga. Di arah sebaliknya, AFLN investasi langsung naik dari 145,3 miliar dolar AS menjadi 148,4 miliar dolar AS, terutama berupa ekuitas dan surat berharga ke perusahaan afiliasi di luar negeri.
Investasi portofolio bergerak ke arah yang sama. Kewajiban netonya turun dari 237,7 miliar dolar AS menjadi 229,6 miliar dolar AS. KFLN portofolio turun 6,6 miliar dolar AS, lebih dalam dari kenaikan AFLN portofolio sebesar 1,5 miliar dolar AS.
Di dalam KFLN portofolio, dua instrumen berjalan berlawanan. Posisi ekuitas turun 17,8 miliar dolar AS, mengikuti melemahnya IHSG, terutama pada emiten sektor perdagangan besar dan eceran serta perantara keuangan. Posisi surat utang justru naik 11,3 miliar dolar AS. Hasilnya, KFLN portofolio turun dari 279,7 miliar dolar AS menjadi 273,1 miliar dolar AS.
Aliran masuk ke surat utang datang dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan internasional, seiring penerbitan Samurai Bond dan Dual Currency Bond. Obligasi swasta juga menarik aliran masuk untuk mendukung pembiayaan impor. Pasar saham masih mengalami arus keluar bersih karena investor global cenderung risk-off di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
AFLN portofolio naik dari 42,0 miliar dolar AS menjadi 43,5 miliar dolar AS. Kenaikan itu bersumber dari transaksi ekuitas dan surat utang oleh pelaku usaha di bidang perantara keuangan serta pertambangan dan penggalian.
Dua komponen yang lebih kecil bergerak berbeda. Kewajiban neto derivatif finansial, yang sebagian besar berupa transaksi forward, swap, dan option, naik dari 0,6 miliar dolar AS menjadi 1,4 miliar dolar AS. Aset neto investasi lainnya naik dari 35,9 miliar dolar AS menjadi 37,0 miliar dolar AS, karena AFLN-nya bertambah 8,7 miliar dolar AS, lebih besar dari kenaikan KFLN sebesar 7,5 miliar dolar AS.
Investasi lainnya mencakup piutang dan utang dagang serta uang muka, pinjaman, uang dan simpanan, serta aset dan kewajiban lainnya. KFLN-nya naik dari 189,1 miliar dolar AS menjadi 196,6 miliar dolar AS, didorong uang dan simpanan serta utang dagang seiring meningkatnya aktivitas impor. AFLN-nya naik dari 224,9 miliar dolar AS menjadi 233,6 miliar dolar AS, terutama berupa uang dan simpanan, penarikan pinjaman, serta piutang dagang.
Cadangan Devisa Turun, Kewajiban Neto Sektor Publik Naik
Cadangan devisa turun. Posisinya pada akhir triwulan II 2026 tercatat 145,6 miliar dolar AS, lebih rendah dari 148,2 miliar dolar AS pada akhir triwulan I 2026. BI menyebut penurunan itu terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global.
Berdasarkan instrumen, penurunan terutama datang dari emas moneter sebesar 1,5 miliar dolar AS dan cadangan devisa lainnya sebesar 1,1 miliar dolar AS. Faktor perubahan lainnya juga tercatat negatif, sejalan dengan turunnya harga emas global. Lampiran laporan mencatat posisi emas moneter turun dari 12.776 juta dolar AS menjadi 11.286 juta dolar AS.
Baca juga Posisi cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026
Menurut sektor institusi, seluruh sektor mencatat kewajiban neto pada akhir triwulan II 2026, tetapi arahnya tidak sama. Totalnya turun 25,6 miliar dolar AS dibandingkan akhir triwulan I 2026. Penurunan datang dari sektor lainnya dan sektor bank, sedangkan kewajiban neto sektor publik justru naik.
Sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral, memikul kewajiban neto terbesar. Angkanya naik 19,4 miliar dolar AS, dari 85,1 miliar dolar AS menjadi 104,5 miliar dolar AS. KFLN sektor ini bertambah 16,8 miliar dolar AS karena modal asing masuk ke SRBI serta penerbitan Samurai Bond dan Dual Currency Bond. AFLN-nya turun 2,6 miliar dolar AS seiring penurunan cadangan devisa.
Kewajiban neto sektor bank turun 5,2 miliar dolar AS, dari 21,7 miliar dolar AS menjadi 16,6 miliar dolar AS. KFLN sektor bank turun 2,2 miliar dolar AS, terutama pada ekuitas akibat pelemahan IHSG. AFLN-nya naik 3,0 miliar dolar AS, terutama berupa uang dan simpanan.
Sektor lainnya mencakup lembaga keuangan nonbank, perusahaan bukan lembaga keuangan, rumah tangga, dan lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga. Kewajiban neto sektor ini turun paling dalam, yakni 39,8 miliar dolar AS, dari 116,2 miliar dolar AS menjadi 76,3 miliar dolar AS. KFLN-nya turun 29,3 miliar dolar AS pada modal ekuitas dan pinjaman, sementara AFLN-nya naik 10,5 miliar dolar AS.
Utang Luar Negeri Indonesia Tercatat 453,4 Miliar Dolar AS
Menurut instrumen, kewajiban neto posisi investasi internasional pada akhir triwulan II 2026 berasal dari ekuitas sebesar 200,4 miliar dolar AS dan utang sebesar 7,0 miliar dolar AS. Instrumen lainnya mencatat aset neto 9,9 miliar dolar AS.
Di sisi aset, instrumen utang mendominasi dengan pangsa 78,1 persen dari total AFLN, diikuti ekuitas 19,8 persen dan aset keuangan lainnya 2,1 persen. Simpanan di luar negeri dan surat utang menjadi bagian terbesar, masing-masing 28,7 persen dan 17,7 persen dari total AFLN.
Di sisi kewajiban, instrumen utang mengambil 59,0 persen dari total KFLN dan ekuitas 40,8 persen. Kewajiban berbentuk utang sebagian besar berupa surat utang dengan pangsa 27,3 persen dan pinjaman 25,1 persen. Dengan komposisi itu, posisi total utang luar negeri (ULN) Indonesia, yakni KFLN dalam instrumen utang, tercatat 453,4 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2026.
Baca juga Pengertian cadangan devisa dan fungsinya
BI memandang perkembangan posisi investasi internasional pada triwulan II 2026 tetap terjaga sehingga mendukung ketahanan eksternal. Selain rasio terhadap PDB yang turun ke 13,3 persen, struktur kewajiban PII disebut didominasi instrumen berjangka panjang, terutama dalam bentuk investasi langsung.
Laporan ini juga merevisi angka triwulan sebelumnya. Kewajiban neto akhir triwulan I 2026 yang semula 227,6 miliar dolar AS kini tercatat 223,0 miliar dolar AS, setelah pemutakhiran data Lalu Lintas Devisa (LLD), data ULN, dan data institusi. Angka triwulan II 2026 sendiri masih berstatus angka sangat sementara.
BI menyatakan akan terus mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek posisi investasi internasional serta memantau potensi risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian. Hingga akhir triwulan II 2026, kewajiban neto itu berada di 197,4 miliar dolar AS.















