Akses Keuangan Formal Sejalan dengan Tabungan, Bukan Pendapatan

A A

Ilustrasi perempuan berkerudung memegang ponsel di samping rak jajanan warung kecil. [Foto: Pexels]

  • Dari 5.201 rumah tangga berpinjaman dalam IFLS-5, 87,7 persen tergolong punya akses keuangan formal.
  • Pemilik tabungan 3,5 poin persentase lebih mungkin punya akses keuangan formal di model pertama.
  • Rumah milik sendiri memberi selisih terbesar, 5,9 poin persentase di model pertama dan 6,6 di model keempat.
  • Pendapatan dan asuransi kesehatan tidak memberi hasil signifikan di model mana pun.
  • Teks naskah menyebut 78,5 persen responden memakai internet, sedangkan tabelnya mencatat 21,5 persen.

Cekricek.id — Saat gelombang kelima Indonesian Family Life Survey dicatat, 5.201 rumah tangga sedang menanggung pinjaman, dan 87,7 persen di antaranya tergolong punya akses keuangan formal. Sisanya, 12,3 persen, hanya mengenal sumber pinjaman informal.

Rumah tangga yang sama menyimpan catatan lain. Sebanyak 70 persen tidak memiliki tabungan. Sebanyak 91,3 persen tinggal di rumah milik sendiri. Asuransi kesehatan dipegang 52,6 persen. Pendidikan terbanyak berhenti di sekolah dasar atau sederajat, yakni 32,4 persen, disusul sekolah menengah atas atau sederajat dengan 32,2 persen.

Hampir semua peminjam tinggal di rumah sendiri, sedikit yang menabungTinggal di rumah milik sendiri: 91,3; Mengenal lembaga keuangan formal: 87,7; Memegang asuransi kesehatan: 52,6; Memiliki tabungan: 30,0.Hampir semua peminjam tinggal di rumahsendiri, sedikit yang menabungProfil 5.201 rumah tangga berpinjaman dalam IFLS-5,persen0255075100Tinggal di rumah milik sendiri91,3Mengenal lembaga keuangan formal87,7Memegang asuransi kesehatan52,6Memiliki tabungan30,0Angka penggunaan internet tidak dimuat karena teks dan tabelnaskah berbeda.cekricek.id
Sumber: Rachman dkk. (2026), Economics and Finance in Indonesia 72(1): 1–16. Grafik: Cekricek.id

Empat peneliti Universitas Negeri Semarang membaca ulang catatan itu. Mereka adalah M. Aulia Rachman, Yozi Aulia Rahman, Maulida Dewi Pangestika, dan Risanda Alirastra Budiantoro. Hasilnya terbit dengan judul Understanding Formal Financial Access in Indonesia: Evidence from Micro Data di jurnal Economics and Finance in Indonesia volume 72 nomor 1, Juni 2026, halaman 1–16.

Pertanyaan mereka lurus. Ciri apa yang membedakan rumah tangga yang punya akses keuangan formal dari yang tidak? Delapan ciri diuji sekaligus: besar pinjaman, kepemilikan tabungan, pendidikan, pendapatan, usia, status rumah, asuransi kesehatan, dan penggunaan internet di telepon genggam.

Daftar Isi
  1. Para Peneliti Mengukur Akses Keuangan Formal dari Pinjaman yang Sedang Berjalan
  2. Pinjaman Paling Banyak Berada di Kisaran Satu sampai Lima Juta Rupiah
  3. Tabungan dan Pendidikan Menaikkan Peluang di Setiap Model yang Mengujinya
  4. Rumah Milik Sendiri dan Internet Memberi Selisih Paling Lebar
  5. Pendapatan dan Asuransi Kesehatan Tidak Menggeser Peluang
  6. Angka Pengguna Internet di Tabel Berlawanan dengan Angka di Teks

Para Peneliti Mengukur Akses Keuangan Formal dari Pinjaman yang Sedang Berjalan

Datanya berasal dari survei rumah tangga IFLS-5 yang disediakan RAND. Sampelnya kepala rumah tangga atau pasangannya. Hanya responden yang melaporkan pinjaman yang masih berjalan yang dimasukkan. Rumah tangga tanpa pinjaman dikeluarkan dari hitungan sejak tahap pertama.

Penggolongannya bertumpu pada satu pertanyaan survei. Responden ditanya jenis pemberi pinjaman apa saja yang diketahui dirinya, anggota rumah tangga lain, atau masyarakat sekitar. Nilai satu diberikan kepada yang mengenal lembaga formal, yaitu bank swasta, bank pemerintah, koperasi, bank pertanian, pegadaian, dan lembaga keuangan bukan bank.

Nilai nol diberikan kepada yang memakai sumber informal. Daftarnya panjang: majikan, pemilik rumah, pemilik toko, lembaga swadaya masyarakat, dana RT/RW atau kelompok perempuan, arisan, kelompok tani kecil, rentenir, dan tempat kerja. Tabel efek marginal dalam naskah memberi judul ukuran ini sebagai kesadaran akan lembaga keuangan.

Hubungan tiap ciri dengan peluang akses keuangan formal dihitung dengan regresi logistik. Hasilnya diterjemahkan menjadi efek marginal rata-rata, yaitu perubahan peluang untuk setiap perubahan satu satuan ciri. Ada empat model. Model pertama memuat kedelapan ciri, sedangkan tiga model lainnya hanya memuat sebagian.

Pinjaman Paling Banyak Berada di Kisaran Satu sampai Lima Juta Rupiah

Besar pinjamannya menyebar. Kelompok terbanyak, 22,8 persen, meminjam lebih dari Rp1 juta sampai Rp5 juta. Berikutnya lebih dari Rp20 juta sampai Rp50 juta dengan 17,6 persen. Lalu lebih dari Rp5 juta sampai Rp10 juta dengan 16,3 persen.

Kelompok lebih dari Rp10 juta sampai Rp20 juta berjumlah 15,8 persen. Pinjaman di bawah Rp1 juta hanya 8,8 persen. Pinjaman lebih dari Rp50 juta sampai Rp100 juta mencakup 8 persen, dan di atas Rp100 juta 10,7 persen. Di model pertama, setiap kenaikan satu satuan logaritma besar pinjaman menaikkan peluang akses 3,5 poin persentase.

Pinjaman terbanyak berada di kisaran Rp1 juta sampai Rp5 jutaDi bawah Rp1 juta: 8,8; Rp1 juta–Rp5 juta: 22,8; Rp5 juta–Rp10 juta: 16,3; Rp10 juta–Rp20 juta: 15,8; Rp20 juta–Rp50 juta: 17,6; Rp50 juta–Rp100 juta: 8,0; Di atas Rp100 juta: 10,7.Pinjaman terbanyak berada di kisaran Rp1juta sampai Rp5 jutaSebaran besar pinjaman yang sedang berjalan, persendari 5.201 responden0510152025Di bawah Rp1 juta8,8Rp1 juta–Rp5 juta22,8Rp5 juta–Rp10 juta16,3Rp10 juta–Rp20 juta15,8Rp20 juta–Rp50 juta17,6Rp50 juta–Rp100 juta8,0Di atas Rp100 juta10,7Batas bawah tiap kelompok tidak termasuk, sesuai penggolongannaskah.cekricek.id
Sumber: Rachman dkk. (2026), Economics and Finance in Indonesia 72(1): 1–16. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menjelaskan arah hubungan itu dari sisi lembaga. Rumah tangga dengan utang lebih besar, tulis mereka, cenderung berurusan dengan lembaga formal yang biasanya menawarkan fasilitas kredit lebih besar, suku bunga lebih bersaing, dan proses yang lebih tertata. Mereka juga mengaitkannya dengan literasi keuangan, karena pengelola pinjaman cenderung memahami syarat, bunga, dan cara pelunasan.

Usia peminjamnya terkumpul di tengah. Kelompok 31 sampai 40 tahun paling besar, 31,5 persen, disusul 41 sampai 50 tahun dengan 26,7 persen. Responden berusia di atas 60 tahun berjumlah 11,1 persen. Hanya enam responden yang berusia 20 tahun ke bawah.

Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani

Tabungan dan Pendidikan Menaikkan Peluang di Setiap Model yang Mengujinya

Tabungan dilaporkan lebih dulu. Koefisiennya positif dan signifikan di dua model yang memuatnya, 0,345 dan 0,445. Dalam efek marginal, pemilik tabungan 3,5 poin persentase lebih mungkin punya akses keuangan formal di model pertama. Di model ketiga, selisihnya 4,5 poin persentase.

“Hal ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki tabungan lebih mungkin mengakses lembaga keuangan formal dibandingkan mereka yang tidak,” tulis Rachman, Rahman, Pangestika, dan Budiantoro. Mereka menghubungkannya dengan literasi keuangan serta kepercayaan pada sistem perbankan untuk mengelola dan melindungi aset.

Pendidikan menyusul dengan pola serupa. Setiap kenaikan satu jenjang menaikkan peluang akses keuangan formal 2,9 poin persentase di model pertama. Di model kedua, kenaikannya 5 poin persentase. Jenjang itu diukur dalam enam tingkat, dari taman kanak-kanak atau sekolah dasar tidak tamat sampai pascasarjana.

Tumpukan koin logam berbagai ukuran di dalam mangkuk kayu
Ilustrasi tumpukan koin logam berbagai ukuran di dalam mangkuk kayu. [Foto: Pexels]

Para penulis membaca pendidikan sebagai jalan menuju pemahaman sistem keuangan. Orang berpendidikan lebih tinggi, tulis mereka, cenderung lebih paham suku bunga, jenis investasi, risiko, dan kelebihan layanan bank. Usia juga positif dan signifikan, tetapi kecil. Setiap tambahan satu tahun hanya menaikkan peluang 0,1 poin persentase.

Untuk usia, naskah menyebut beberapa kemungkinan penyebab. Pengalaman mengelola keuangan bertambah seiring umur. Kebutuhan akan perencanaan pensiun atau investasi ikut naik. Kepercayaan pada lembaga formal juga terbentuk dari waktu ke waktu. Stabilitas dan keamanan lembaga formal, tulis para penulis, cenderung lebih menarik bagi kelompok usia lebih tua.

Rumah Milik Sendiri dan Internet Memberi Selisih Paling Lebar

Status rumah memberi selisih terbesar di antara ciri yang signifikan. Responden yang tinggal di rumah milik sendiri, bukan sewaan, 5,9 poin persentase lebih mungkin punya akses keuangan formal di model pertama. Di model keempat, selisihnya 6,6 poin persentase. Koefisien keduanya 0,586 dan 0,619.

Para penulis mengaitkannya dengan beberapa hal. Rumah dapat menjadi jaminan untuk memperoleh kredit dari lembaga formal. Kepemilikan rumah juga menuntut pengelolaan arus kas dan interaksi berkelanjutan dengan pembiayaan jangka panjang. Keduanya, menurut mereka, memperkuat hubungan pemilik rumah dengan lembaga keuangan formal.

Rumah milik sendiri memberi selisih peluang terbesarRumah milik sendiri: 5,9; Besar pinjaman (logaritma): 3,5; Memiliki tabungan: 3,5; Jenjang pendidikan: 2,9; Memakai internet: 1,7; Usia per tahun: 0,1; Pendapatan: −0,02; Asuransi kesehatan: −0,5.Rumah milik sendiri memberi selisihpeluang terbesarEfek marginal rata-rata pada model lengkap (modelpertama), poin persentase0246Rumah milik sendiri5,9Besar pinjaman (logaritma)3,5Memiliki tabungan3,5Jenjang pendidikan2,9Memakai internet1,7Usia per tahun0,1Pendapatan−0,02Asuransi kesehatan−0,5Biru muda: tidak signifikan pada model ini. Usia signifikanpada tingkat 10 persen, ciri biru tua lain pada tingkat 1persen.cekricek.id
Sumber: Rachman dkk. (2026), Economics and Finance in Indonesia 72(1): 1–16. Grafik: Cekricek.id

Internet menempuh jalan berbeda. Di model pertama, yang memuat kedelapan ciri, koefisiennya 0,166 dan tidak signifikan, dengan efek marginal 1,7 poin persentase. Di model keempat, yang hanya memuat status rumah, asuransi kesehatan, dan internet, koefisiennya naik menjadi 0,737 dan signifikan. Efek marginalnya 7,9 poin persentase.

Baca juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mendorong Akses Keuangan di Perdesaan melalui Program Ekosistem Keuangan Inklusif

“Variasi ini menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan internet bergantung pada variabel kontrol,” tulis keempat peneliti. Di bagian kesimpulan, mereka tetap menyebut internet sebagai prediktor positif bagi akses keuangan formal, dengan catatan bahwa signifikansinya berubah menurut spesifikasi model.

Pendapatan dan Asuransi Kesehatan Tidak Menggeser Peluang

Dua ciri tidak memberi hasil signifikan di model mana pun. Pendapatan bernilai negatif di model pertama, minus 0,00234, dan positif di model kedua, 0,0152. Asuransi kesehatan negatif di kedua model yang memuatnya, minus 0,0497 dan minus 0,137. Efek marginal keduanya juga tidak signifikan.

Pendapatan diukur dari penghasilan kerja selama 12 bulan terakhir dan dibagi dalam sembilan kelompok. Kelompok teratas, di atas Rp7 juta, mencakup 66,7 persen responden. Kelompok tanpa pendapatan berjumlah 17,5 persen. Tujuh kelompok sisanya masing-masing hanya berisi 1,3 sampai 3,5 persen.

Para penulis menawarkan dugaan untuk pendapatan. “Temuan ini dapat menunjukkan bahwa di atas ambang pendapatan tertentu, preferensi terhadap lembaga keuangan formal tidak lagi semata-mata digerakkan oleh tingkat pendapatan,” tulis mereka. Tentang asuransi kesehatan, mereka menulis bahwa meski penting, asuransi itu tidak memengaruhi interaksi dengan lembaga keuangan.

Dari temuan itu penulis menyusun saran. Program Laku Pandai diperluas ke perdesaan dan kelompok usia lebih tua. Literasi keuangan dimasukkan ke kurikulum sekolah dan disampaikan lewat media sosial. Akses internet diperluas, dan pemakaian dompet elektronik, uang elektronik, serta QRIS dipercepat.

Baca juga Underground Economy Indonesia Setara 5,36 Persen dari PDB

Angka Pengguna Internet di Tabel Berlawanan dengan Angka di Teks

Beberapa angka dalam naskah tidak saling cocok. Teks hasil menyebut 78,5 persen responden memakai internet. Tabel statistik deskriptif mencatat sebaliknya. Nilai satu, yang menurut tabel definisi berarti punya akses internet, berjumlah 1.116 responden atau 21,5 persen, sedangkan nilai nol berjumlah 4.085 responden atau 78,5 persen.

Teks yang sama menyebut kelompok pendapatan terendah, Rp1 juta, sebesar 17,5 persen. Di tabel, angka 17,5 persen itu milik kelompok tanpa pendapatan. Kelompok di bawah Rp1 juta hanya 1,3 persen. Tabel definisi juga mengukur pendapatan dari penghasilan 12 bulan, bukan sebulan.

Ukuran kecocokan model yang dilaporkan, pseudo R2, berkisar dari 0,014 di model keempat sampai 0,0889 di model pertama. Tahun pengumpulan data IFLS-5 tidak disebut dalam naskah. Naskah itu juga tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian akses keuangan formal ini.

Naskah itu masuk ke redaksi jurnal pada 5 Desember 2025. Revisinya diterima 25 Maret 2026, lalu naskahnya disetujui 3 April 2026. Ketika terbit pada Juni 2026, selisih angka internet antara teks dan tabel itu tidak disertai penjelasan.

Bagikan

Baca Juga

Desentralisasi Fiskal dan Batas Belanja Provinsi 31,9 Persen
Minat Investasi Kripto Mahasiswi Lebih Tinggi dari Mahasiswa
IA-CEPA, Mutu Ekspor Lebih Menentukan daripada Volume Dagang
Kemiskinan Nusa Tenggara Barat Turun Seiring Upah Minimum
DAK Nonfisik Tekan Kemiskinan, DAK Fisik Bekerja di Kepulauan
Ibu Tunggal Bercerai dan Ditinggal Mati, Beda Jalur Kemiskinan