Cekricek.id — Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat 145,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang sebesar 145,6 miliar dolar AS.
Menurut Bank Indonesia dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026), angka tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kedua rasio itu berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang membutuhkan cadangan setara sekitar tiga bulan impor.
Penopang dan Pemberat Cadangan Devisa
Cadangan devisa adalah simpanan valuta asing dan aset likuid lain yang dipegang bank sentral, berfungsi sebagai penyangga saat aliran modal keluar mendadak atau nilai tukar tertekan. Semakin besar cadangannya dibandingkan kebutuhan impor dan pembayaran utang, semakin longgar ruang gerak otoritas moneter menjaga stabilitas.
Investor dan lembaga pemeringkat biasa memakai rasio bulan impor sebagai salah satu ukuran cepat kesehatan sektor eksternal sebuah negara. Standar tiga bulan impor yang dipakai sebagai patokan minimal berasal dari kebiasaan lembaga keuangan internasional menilai kecukupan cadangan devisa negara berkembang; posisi Indonesia yang mencapai 5,5 bulan impor berarti berada nyaris dua kali lipat dari batas minimal tersebut.
Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, menjelaskan posisi tersebut.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar 145,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS,” kata Ramdan.
Bank Indonesia menyebut perkembangan itu ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan obligasi global pemerintah (global bond). Penerimaan pajak dan jasa berarti aliran dolar yang masuk lewat kegiatan ekonomi domestik dan lintas batas, sementara penerbitan obligasi global adalah utang yang diterbitkan pemerintah dalam mata uang asing dan dibeli investor luar negeri.
Di sisi lain, tekanan terhadap cadangan datang dari pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dijalankan Bank Indonesia. Ketika rupiah tertekan, bank sentral kerap menggunakan sebagian cadangan devisa untuk membeli rupiah di pasar guna meredam pelemahan, dan langkah itu otomatis mengurangi jumlah cadangan yang tercatat. Sebaliknya, saat rupiah stabil atau menguat, kebutuhan intervensi berkurang sehingga cadangan devisa relatif lebih terjaga.
Konteks Sektor Eksternal
Penerimaan dari jasa dan pajak yang disebut Bank Indonesia sejalan dengan kinerja perdagangan luar negeri yang belakangan membaik, seperti terlihat pada defisit dagang Juni 2026 yang menyusut menjadi 0,45 miliar dolar AS. Perkembangan itu turut menjadi bagian dari gambaran sektor eksternal yang, menurut Bank Indonesia, tetap terkendali di tengah dinamika global.
Bank Indonesia menyatakan meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik, didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing yang sejalan dengan persepsi positif investor. Pernyataan itu muncul di tengah proses pemilihan pucuk pimpinan baru bank sentral, setelah Destry Damayanti diajukan sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia untuk periode mendatang.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen pada Triwulan II 2026
Angka cadangan devisa dirilis tiap awal bulan untuk data bulan sebelumnya, sehingga publik bisa memantau arah pergerakannya dari waktu ke waktu. Selisih 0,3 miliar dolar AS antara Juni dan Juli 2026 tergolong tipis dibandingkan fluktuasi yang biasa terjadi saat tekanan pasar keuangan global meningkat.





















