- Christine Lagarde akan meninggalkan kursi Presiden ECB pada 7 Februari, sekitar sembilan bulan lebih awal.
- Pengunduran diri itu memberi waktu para pemimpin Uni Eropa memilih penggantinya sebelum pilpres Prancis April.
- Anggota Parlemen Eropa Markus Ferber memperingatkan kesan waktu mundur yang dikaitkan dengan pemilu nasional.
- Inflasi zona euro saat ini hampir dua kali lipat target ECB sebesar 2 persen.
Cekricek.id — Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde akan mundur beberapa bulan sebelum masa jabatannya berakhir, memicu perebutan kursi penggantinya di tengah situasi zona euro yang bergejolak.
Lagarde mengumumkan pada Kamis bahwa ia akan meninggalkan jabatannya pada 7 Februari, sekitar sembilan bulan sebelum masa jabatan delapan tahunnya selesai, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (29/10/2026). Dalam video di X, ia menyebut pergi “dengan perasaan telah bekerja dengan baik dan dengan ECB yang siap menghadapi masa depan”.
Langkah itu memberi waktu para pemimpin Uni Eropa memilih penggantinya sebelum pemilu presiden Prancis pada April, yang menurut jajak pendapat diunggulkan bagi kandidat sayap kanan Marine Le Pen. Waktu itu memungkinkan Presiden Prancis Emmanuel Macron ikut menunjuk pengganti Lagarde.
Macron berterima kasih atas “tindakan tegas yang ia pimpin” selama “masa yang ditandai banyak krisis”. “Transisi di pucuk ECB kini harus dipersiapkan secara tertib dan seimbang bersama mitra Eropa kami,” tulis Macron di X.
Namun, anggota Parlemen Eropa asal Jerman Markus Ferber memperingatkan, “Jika muncul kesan bahwa kepergian semacam ini diatur waktunya di sekitar pemilu nasional, hal itu merusak kepercayaan terhadap lembaga yang harus berdiri di atas perhitungan politik dalam negeri mana pun.”
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure memuji kepemimpinannya. “Christine Lagarde adalah Presiden ECB yang luar biasa. Saat Eropa melewati krisis dan masa sulit, ia dengan cemerlang memodernisasi dan memperkuat lembaga itu,” tulisnya. Pasar tampak tenang menanggapi kabar tersebut.
Lagarde, yang ditunjuk pada Oktober 2019, memimpin ECB melewati pandemi Covid-19, invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, dan perang AS-Israel terhadap Iran. Inflasi saat ini hampir dua kali lipat target ECB sebesar 2 persen. Sumber AFP menyebut mundur lebih awal memberi Lagarde “kebebasan lebih besar untuk menyampaikan pandangannya”.















