- Mutu layanan kebun penyuluhan bagi petani sayur Rashidiya secara keseluruhan bernilai 1,43 dari 3, tingkat sedang.
- Keluhan teratas petani adalah saran tentang tanaman sayur yang tidak diterima tepat waktu, dengan nilai 2,00.
- Dampak ekonomi menjadi bidang bernilai tertinggi, yakni 1,64, sedangkan sifat layanan terendah dengan 1,30.
- Ketiadaan insentif untuk ikut pelatihan menempati urutan terakhir keluhan dengan nilai 1,73.
Daftar Isi
Sayur tumbuh dalam musim yang pendek, sedangkan saran dari kebun penyuluhan tidak selalu tiba tepat waktu. Dua hal itu bertemu di Distrik Rashidiya, Provinsi Baghdad, Irak. Di sana, petani sayur menilai layanan kebun penyuluhan berada pada tingkat sedang. Keluhan mereka yang paling menonjol menyangkut saran tentang tanaman sayur yang tidak diterima tepat waktu.
Penilaian itu ditulis Ihsan Radhi Hassuny dalam artikel The Quality of Services Provided by The Extension Farm to Vegetable Farmers in Al-Rashidiya District/Baghdad Governorate. Artikel tersebut terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences volume 7 nomor 1 tahun 2026. Hassuny berasal dari Department of Agricultural Extension and Technology Transfer, College of Agricultural, University of Baghdad, Irak.
Ia menghimpun penilaian 108 petani sayur, yang diambil dari 2.693 petani anggota sembilan perkumpulan tani di distrik itu. Setiap pernyataan dinilai pada rentang 0 sampai 3. Nilai di bawah 1 tergolong rendah, nilai 1 sampai 1,99 tergolong sedang, dan nilai 2 sampai 3 tergolong tinggi.
Mutu layanan kebun penyuluhan bagi petani sayur Rashidiya secara keseluruhan bernilai 1,43 dari 3, tingkat sedang. Keempat bidang yang menyusun mutu itu, yakni sifat layanan, petugas, tata cara pemberian dan pemantauan layanan, serta dampak ekonomi, seluruhnya juga jatuh pada tingkat sedang. Tidak satu pun dari 27 pernyataan di dalamnya mencapai tingkat tinggi, dan tidak satu pun turun ke tingkat rendah.
Yang Terjaga: Rahasia, Kesetaraan, Tindak Lanjut
Pada bidang petugas, nilai tertinggi diraih pernyataan tentang kerahasiaan. Staf kebun penyuluhan dinilai menjaga kerahasiaan dalam berurusan dengan petani sayur, dengan nilai 1,67. Di bawahnya ada kesetaraan: staf dinilai memperlakukan petani secara setara dan menolak segala bentuk diskriminasi, dengan nilai 1,54.
Ketanggapan menyusul pada urutan ketiga. Staf dinilai cepat menanggapi permintaan dan pertanyaan petani, dengan nilai 1,53. Kesediaan dan semangat penyuluh untuk membantu, begitu pula kemampuan staf memahami kebutuhan petani sayur, sama-sama memperoleh nilai 1,47 dan berbagi urutan keempat. Kemampuan menjelaskan urusan pertanian dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami bernilai 1,44. Ketersediaan penyuluh dalam jumlah yang cukup bernilai 1,41. Adapun pengalaman penyuluh dalam bertani sayur bernilai 1,38, urutan kedelapan dari sepuluh pernyataan di bidang ini.
Pola serupa tampak pada bidang tata cara pemberian dan pemantauan layanan, dengan dua pernyataan di puncak. Kebun penyuluhan dinilai menindaklanjuti agar petani sayur menerapkan saran yang diberikan, dengan nilai 1,72. Kebun penyuluhan juga dinilai memberi tahu petani tentang tanggal mulai dan berakhirnya layanan, dengan nilai 1,70. Pernyataan tentang janji berada di tengah. Kebun penyuluhan dinilai menepati komitmen yang dibuatnya kepada petani sayur, dengan nilai 1,44. Rata-rata bidang ini 1,38, urutan ketiga dari empat bidang mutu layanan yang dinilai para petani.
Yang Tertinggal: Kerja Sama dan Pemantauan Hasil
Di sisi lain, dua pernyataan tertinggal di dasar daftar. Perhatian staf kebun penyuluhan terhadap masalah petani sayur hanya bernilai 1,14. Kerja sama yang efektif antara staf dan petani bernilai 1,13, terendah di bidang ini. Rata-rata bidang petugas sendiri 1,42.
Hassuny membaca angka itu dari dua sisi. Menurut dia, para pekerja di kebun penyuluhan memberikan layanan yang dapat diterima dan menjalankan tugas dasar yang dituntut, terutama dalam hal kerahasiaan dan kesetaraan. Namun, kinerja itu belum mencapai tingkat unggul, sehingga ada jarak antara kinerja yang diharapkan dan yang benar-benar diterima petani.
Jarak itu ia kaitkan dengan empat hal. Yang pertama pengalaman khusus yang terbatas. Yang kedua komunikasi dan interaksi perorangan yang lemah antara staf dan petani. Dua lainnya adalah tekanan pekerjaan serta tiadanya mekanisme yang efektif untuk melacak dan menyelesaikan masalah.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Pada tata cara layanan, tiga pernyataan juga bernilai lebih rendah. Layanan yang diberikan secara teratur sepanjang musim tanam bernilai 1,18. Pemakaian banyak cara untuk menyampaikan layanan, seperti kunjungan lapangan, kursus pelatihan, dan seminar penyuluhan, bernilai 1,13. Paling bawah adalah pemantauan hasil. Pernyataan bahwa kebun penyuluhan memantau hasil yang dicapai lewat penerapan saran hanya bernilai 1,12. Pernyataan itu menempati urutan keenam, paling akhir di bidang ini.
Penjelasan Hassuny bertumpu pada perencanaan. Ia menduga keadaan itu berasal dari perencanaan dan pengorganisasian layanan yang terbatas dan lemah, cara penyampaian yang kurang terpadu, serta tindak lanjut atas saran dan hasil yang hanya sebagian. Keterbatasan tenaga dan kemampuan yang tersedia, tulisnya, ikut menurunkan efektivitas pemberian dan pemantauan layanan.
Yang Paling Terasa: Susut Panen Berkurang
Dampak ekonomi menjadi bidang bernilai tertinggi, yakni 1,64, sedangkan sifat layanan terendah dengan 1,30. Di dalam bidang dampak ekonomi, nilai tertinggi diraih pernyataan bahwa penyuluhan membantu mengurangi susut dan kehilangan hasil pada tanaman sayur, yakni 1,83. Rata-rata bidang ini menempati urutan pertama dari empat bidang.
Pernyataan berikutnya menyangkut belanja tani. Penyuluhan dinilai membantu petani memilih sarana produksi, seperti benih dan pupuk, secara hemat biaya, dengan nilai 1,79. Bantuan layanan dalam menambah laba dari tanaman sayur bernilai 1,61. Bantuan dalam menekan biaya bertani, yakni pupuk, pestisida, dan irigasi, bernilai 1,32.
Menurut Hassuny, bimbingan dan praktik bertani dari kebun penyuluhan memberi manfaat ekonomi yang dapat diterima, tetapi belum mencapai tingkat tertinggi dalam menekan biaya dan menambah laba. Ia mengaitkannya dengan tingkat penerapan saran yang berbeda-beda di antara petani, keadaan produksi yang berlainan, kurangnya alokasi dana, dan lemahnya tindak lanjut perorangan.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Yang Paling Lemah: Jalan Keluar yang Jelas
Pada bidang sifat layanan, gambarnya berbalik. Nilai tertinggi diraih kunjungan lapangan penyuluh yang sering dan teratur, yakni 1,56. Layanan yang beragam untuk semua tahap budi daya sayur dan dukungan teknis, seperti analisis tanah dan air, sama-sama bernilai 1,39. Brosur dan bahan tertulis yang berguna dan mudah dipahami bernilai 1,27. Kesesuaian layanan dengan jenis sayur yang ditanam bernilai 1,25. Pernyataan bahwa mutu layanan dan informasi kebun penyuluhan lebih unggul daripada sumber lain, seperti pasar, tetangga, dan internet, bernilai 1,19.
Nilai paling rendah jatuh pada jalan keluar. Pernyataan bahwa kebun penyuluhan memberi solusi yang jelas atas masalah petani sayur selama musim tanam hanya bernilai 1,04. Pernyataan itu menempati urutan ketujuh, paling akhir di bidang sifat layanan yang rata-ratanya 1,30.
Hassuny menyebutnya jarak relatif antara layanan yang diberikan dan harapan petani. Jarak itu, menurut dugaannya, bisa berasal dari kurang beragamnya cara penyuluhan, kurangnya keahlian khusus dalam menangani masalah tanaman sayur, serta persaingan dari sumber informasi lain. Harapan petani yang tinggi, tulisnya, ikut membuat layanan dinilai sedang.
Keluhan Teratas: Saran yang Telat Tiba
Delapan masalah dalam mengakses layanan juga dinilai para petani, dengan rata-rata tertimbang 1,86 dan bobot 61,91 persen. Keluhan teratas petani adalah saran tentang tanaman sayur yang tidak diterima tepat waktu, dengan nilai 2,00. Bobotnya 66,67 persen. Menyusul di bawahnya prosedur administrasi yang lambat dengan nilai 1,94 dan beban kerja staf yang berat dengan nilai 1,92.
Keterbatasan keuangan petani untuk menerapkan saran bernilai 1,90. Langkanya program dan kegiatan penyuluhan, seperti kursus, lokakarya lapangan, dan petak percontohan, bernilai 1,87. Jarak kebun penyuluhan dari sebagian daerah penghasil sayur dan ketakutan petani mengambil risiko sama-sama bernilai 1,75. Soal saran yang telat, Hassuny menduga penyebabnya adalah lambatnya penyampaian informasi akibat kunjungan lapangan yang jarang dan tiadanya cara komunikasi modern. Tanaman sayur, tulisnya, bermusim tanam pendek dan sangat peka terhadap lingkungan. Karena itu, keterlambatan saran sekecil apa pun akan terasa oleh petani.
Keluhan Terbawah: Insentif Pelatihan
Di ujung daftar ada insentif. Ketiadaan insentif untuk ikut pelatihan menempati urutan terakhir keluhan dengan nilai 1,73. Bobotnya 57,70 persen. Hassuny menduga sebagian petani sayur lebih menyukai belajar langsung di lapangan daripada menghadiri kursus, sehingga ketiadaan insentif tidak banyak memengaruhi mereka. Petani, tulisnya, lebih memusatkan perhatian pada masalah yang langsung mengenai produksi.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Dari keluhan teratas itu ia menarik simpulan. “Kami menyimpulkan dari hal ini bahwa faktor waktu sangat menentukan keberhasilan proses penyuluhan pertanian,” tulis Ihsan Radhi Hassuny dari Department of Agricultural Extension and Technology Transfer, University of Baghdad, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Layanan yang ada ia sebut bersifat umum dan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan semua petani.
Sarannya menyasar dua sisi sekaligus. Jumlah staf kebun penyuluhan perlu ditambah dan keahliannya ditingkatkan. Cara komunikasi modern dan teknologi informasi perlu dipakai untuk mempercepat sampainya saran kepada petani. Ia juga menyarankan evaluasi berkala atas mutu layanan dan masalah petani, sambil terus mempertimbangkan usul mereka.
Sayur di Rashidiya tetap tumbuh dalam musim yang pendek. Menurut simpulan Hassuny, saran penyuluhan memang ikut menaikkan efisiensi dan menekan biaya sampai batas tertentu. Namun, pengaruhnya berbeda-beda, bergantung pada kemampuan petani menerapkannya dan keadaan produksi di sekeliling mereka.















