- Sebanyak 148 dari 263 mahasiswa, atau 56,3 persen, tergolong tidak aktif secara fisik menurut ambang WHO.
- Kurang kemauan paling sering muncul sebagai hambatan menonjol, dialami 172 orang atau 65,4 persen.
- Hanya kurang kemauan yang tetap berkaitan bermakna dengan status tidak aktif, dengan rasio odds tersesuaikan 3,816.
- Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, sehingga hubungan antara kemauan dan ketidakaktifan harus dibaca sebagai korelasi.
Daftar Isi
Pada 1978, Tomas Strasser berpendapat bahwa pencegahan penyakit semestinya melampaui pendekatan konvensional, dan dari gagasan itu lahir konsep pencegahan primordial. Aktivitas fisik kemudian ditempatkan sebagai salah satu tiang utamanya, baik untuk promosi kesehatan maupun untuk mencegah penyakit tidak menular sepanjang hidup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belakangan menegaskan bahwa bergerak sedikit pun lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali, pada kelompok usia berapa pun.
Hampir setengah abad sesudahnya, pertanyaan yang sama diajukan kepada calon apoteker di Kuala Lumpur. Fahad Saleem, Loo Lee Teng, Fatiha Hana Shabaruddin, Baharudin Ibrahim, Inayat Ur Rehman, Brian Godman, dan Mohammad Bashaar menuliskannya dalam Barriers to physical activity among pharmacy undergraduates at Universiti Malaya, Malaysia: profiles and associated factors from a cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1837, tahun 2026. Empat penulis pertama bernaung di Faculty of Pharmacy, Universiti Malaya.
Dari Strasser 1978 ke Angka Global
Manfaat yang sudah mapan itu tidak otomatis membuat orang bergerak. Paper ini mengutip analisis gabungan atas lebih dari 5,7 juta peserta dari 163 negara yang menunjukkan ketidakaktifan fisik naik dari 23,4 persen pada 2000 menjadi 26,4 persen pada 2010, dengan pertumbuhan yang diproyeksikan berlanjut sesudah 2022. Laporan WHO lain mencatat 31 persen orang dewasa tidak aktif, dengan prevalensi tertinggi di negara berpendapatan menengah ke bawah.
Kenaikan itu dianggap meresahkan karena ketidakaktifan berkaitan erat dengan gangguan kardiometabolik, penyakit kronis, dan kematian dini. Sebaliknya, aktivitas fisik yang teratur dikaitkan dengan risiko penyakit tidak menular yang lebih rendah, kesejahteraan psikologis yang lebih baik, kesehatan mental yang lebih terjaga, serta fungsi kognitif yang lebih tajam. Karena itulah tenaga kesehatan di semua tingkat layanan terus menganjurkannya kepada pasien.
Di tengah gambaran global itu, mahasiswa disebut sebagai kelompok yang rentan. Banyak di antara mereka tidak memenuhi tingkat aktivitas yang dianjurkan, sementara duduk berjam-jam, waktu layar yang bertambah, dan pola makan yang tidak teratur dapat memperparah kenaikan berat badan, kelelahan, dan gangguan metabolik. Mahasiswa farmasi dipandang sebagai subkelompok yang lebih relevan lagi, sebab intensitas pendidikan mereka dapat memperberat hambatan untuk bergerak.
Malaysia dan Calon Apoteker 2025
Di Malaysia, menurut para penulis, pengukuran aktivitas fisik mahasiswa makin penting mengingat beban obesitas dan diabetes yang besar di negara itu. Pesan kesehatan masyarakat soal gaya hidup aktif sudah digencarkan, tetapi partisipasi rutin anak muda Malaysia tetap belum memadai, yang menandakan kesadaran saja belum tentu berubah menjadi perilaku. Kebiasaan buruk yang terbentuk semasa kuliah juga cenderung terbawa hingga dewasa dan sulit diperbaiki kelak.
Kajian terdahulu tentang mahasiswa Malaysia pada umumnya, tulis para penulis, belum tentu berlaku bagi mahasiswa farmasi. Kurikulum farmasi disebut sangat padat, berisi perkuliahan berat, sesi laboratorium, penempatan klinik, dan penilaian yang terus-menerus. Fakultas juga menyelenggarakan program pertukaran mahasiswa, pengabdian masyarakat, dan kegiatan riset, sementara biaya kuliah yang tinggi dapat menambah stres di atas beban tugas yang sudah menguras tenaga.
Ada alasan lain yang ditekankan paper. Calon apoteker kelak akan menasihati pasien, dan tenaga kesehatan yang menjalani gaya hidup sehat disebut lebih mungkin memberi konseling yang efektif soal perubahan perilaku. Apoteker komunitas pun sering menjadi tenaga kesehatan pertama yang didatangi pasien, sehingga kebiasaan bergerak mahasiswa farmasi dinilai berdampak melampaui kesehatan pribadi mereka sendiri.
Dari 285 mahasiswa S1 farmasi yang memenuhi syarat, 263 orang mengisi kuesioner antara 1 Oktober dan 30 November 2025, atau 92,2 persen. Sebanyak 67,3 persen responden perempuan, 71,5 persen berusia 19 sampai 21 tahun, dan 63,9 persen tinggal di asrama kampus. Hampir separuh beretnis Melayu, yakni 49,0 persen, disusul Tionghoa 44,1 persen dan India 3,8 persen.
Temuan Saleem dan Rekan: 56,3 Persen Tidak Aktif
Hasil pertamanya lugas. Sebanyak 148 dari 263 mahasiswa, atau 56,3 persen, tergolong tidak aktif secara fisik menurut ambang WHO, yaitu kurang dari 150 menit aktivitas sedang atau 75 menit aktivitas berat per minggu. Hanya 115 orang, atau 43,7 persen, yang memenuhi ambang tersebut, sehingga lebih dari separuh calon apoteker di fakultas itu belum bergerak secukupnya.
Para penulis menyandingkan angka itu dengan riset terdahulu di Malaysia. Hampir separuh mahasiswa Health Campus Universiti Sains Malaysia tercatat tidak rutin beraktivitas fisik, dan Anuar serta rekan melaporkan 50,1 persen peserta mereka di Universiti Teknologi Mara tidak aktif. Kementerian Kesehatan Malaysia pada 2023 juga mencatat kira-kira sepertiga orang dewasa Malaysia kurang aktif, dengan partisipasi yang cenderung menurun.
Di dalam kelompok itu, perbedaannya mencolok. Mahasiswa laki-laki lebih banyak yang aktif, yakni 58,1 persen, dibandingkan perempuan yang hanya 36,7 persen, sehingga 63,3 persen mahasiswi tergolong tidak aktif. Kelompok usia 22 sampai 24 tahun mencatat 68,0 persen tidak aktif, mahasiswa tahun keempat 63,9 persen, dan mahasiswa Tionghoa 62,1 persen, dibandingkan Melayu 49,6 persen.
Namun, para penulis sendiri mengingatkan bahwa angka tersebut belum disesuaikan dan tidak boleh dibaca sebagai penentu yang berdiri sendiri. Menurut mereka, karakteristik demografis lebih berkaitan dengan perbedaan skor hambatan ketimbang dengan status tidak aktif itu sendiri. Literatur yang mereka kutip memberi kemungkinan penjelasan, antara lain harapan sosiokultural, rasa aman, dan citra tubuh pada mahasiswi, serta beban akademik yang meningkat pada tahun terakhir.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Tujuh Ranah Hambatan dalam Kuesioner CDC
Hambatan diukur dengan Barriers to Being Active Quiz buatan Centers for Disease Control and Prevention, yang membagi rintangan ke dalam tujuh ranah. Kurang kemauan paling sering muncul sebagai hambatan menonjol, dialami 172 orang atau 65,4 persen. Kurang tenaga menyusul dengan 60,8 persen dan kurang waktu 57,0 persen, sedangkan pengaruh sosial 45,2 persen dan kurang keterampilan 44,5 persen.
Takut cedera hanya menonjol pada 34,6 persen responden, dan kurang sarana berada di urutan terbawah dengan 29,7 persen. Susunan itu membuat para penulis menyimpulkan bahwa hambatan internal dan motivasional lebih menonjol daripada kendala eksternal atau lingkungan. Dengan kata lain, yang paling sering dikeluhkan bukan ketiadaan kolam renang atau lintasan lari, melainkan hal-hal yang terjadi di dalam diri mahasiswa.
Rincian butirnya memperjelas gambaran itu. Pernyataan ingin berolahraga lebih banyak tetapi tidak kunjung bisa memulai dinilai agak mungkin oleh 36,1 persen dan sangat mungkin oleh 27,4 persen responden. Rasa terlalu lelah sepulang kerja untuk berolahraga dinilai agak mungkin oleh 44,1 persen, sedangkan pernyataan hari yang terlalu sibuk dinilai agak mungkin oleh 43,3 persen responden.
Sebaliknya, 42,6 persen menilai sangat tidak mungkin bahwa mereka terhalang ketiadaan akses ke lintasan joging, kolam renang, atau jalur sepeda. Sebanyak 41,4 persen juga menilai sangat tidak mungkin bahwa olahraga terlalu mahal bagi mereka. Pernyataan bahwa olahraga berisiko karena makin tua ditolak paling tegas, dengan 40,7 persen menjawab sangat tidak mungkin.
Jenis kelamin ternyata membedakan persepsi di ketujuh ranah, dan perbedaan terbesar ada pada kurang kemauan dengan ukuran efek sedang. Usia, etnis, tahun studi, dan tempat tinggal juga memunculkan beberapa perbedaan, misalnya soal takut cedera, kurang tenaga, dan kurang sarana. Menurut para penulis, sebagian besar perbedaan itu kecil secara praktis, kecuali perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam soal kemauan.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Kemauan, Satu-satunya yang Bertahan
Pembalikan terjadi ketika ketujuh ranah diuji bersama dan disesuaikan dengan jenis kelamin, usia, etnis, tahun studi, serta tempat tinggal. Hanya kurang kemauan yang tetap berkaitan bermakna dengan status tidak aktif, dengan rasio odds tersesuaikan 3,816. Setiap kenaikan satu unit skor kurang kemauan berarti peluang tergolong tidak aktif sekitar 3,8 kali lebih tinggi, dengan faktor lain dianggap tetap.
Kurang tenaga dan kurang waktu, dua hambatan yang sangat sering disebut, justru tidak membedakan mahasiswa yang aktif dan yang tidak aktif. Rasio odds keduanya masing-masing 1,003 dan 1,019, praktis tanpa perbedaan. Model itu secara keseluruhan menjelaskan sekitar 15 sampai 20 persen variasi status aktivitas fisik, sehingga sebagian besar penjelasannya masih berada di luar tujuh ranah yang diukur.
Para penulis berhati-hati menafsirkan kata kemauan. “Dalam konteks penelitian ini, ‘kurang kemauan’ tidak mewakili sifat pribadi yang tetap, melainkan mencerminkan serangkaian proses perilaku dan psikologis yang lebih luas dan dapat diubah, termasuk motivasi, pengaturan diri, kekuatan kebiasaan, dan kesenjangan antara niat dan perilaku,” tulis Saleem dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu.
Mereka menambahkan kalimat yang menjauhkan temuan ini dari kesan menyalahkan individu. “Karena itu, kami meyakini lebih tepat memahami temuan ini sebagai tanda adanya tantangan dalam menerjemahkan niat menjadi aktivitas fisik yang berkelanjutan, bukan kekurangan bawaan pada diri individu,” tulis para penulis, juga dalam bahasa Inggris. Tafsir itu mereka kaitkan dengan literatur tentang kesenjangan niat dan perilaku yang dikutip dalam paper.
Kampus sebagai Mata Rantai Berikutnya
Meski kemauan menonjol, paper tidak berhenti pada tingkat individu. Jadwal akademik, perkuliahan yang padat, dan tuntutan yang saling bersaing disebut dapat membatasi kesempatan bergerak secara teratur. Ketersediaan, keterjangkauan, dan kemudahan akses fasilitas rekreasi, serta ruang olahraga yang aman, dinilai ikut menentukan apakah gaya hidup aktif terfasilitasi atau justru terhambat di lingkungan kampus.
Rekomendasi yang diajukan berlapis. Aktivitas fisik dapat ditanamkan dalam kurikulum, jadwal dibuat lebih lentur, dan jeda aktif disisipkan di sela sesi kuliah. Kebijakan pendidikan tinggi bagi mahasiswa kesehatan diminta melampaui kampanye kesadaran dan penyediaan akses, dengan menekankan pengaturan diri, pembentukan kebiasaan, dan motivasi intrinsik yang sejalan dengan gagasan pencegahan primordial dari Strasser.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Temuan ini tetap punya batas yang diakui penulisnya. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, sehingga hubungan antara kemauan dan ketidakaktifan harus dibaca sebagai korelasi. Aktivitas fisik dan hambatan dilaporkan sendiri oleh responden, yang rawan bias ingatan dan keinginan tampil baik, sementara penelitian hanya berlangsung di satu institusi.
Para penulis juga mengakui kemungkinan pengaruh faktor yang tidak diukur, seperti stres psikologis dan intensitas beban akademik. Karena itu mereka menganjurkan riset lanjutan yang mengikuti mahasiswa dari waktu ke waktu, melibatkan banyak universitas di Malaysia, dan memakai alat ukur aktivitas fisik yang objektif, bukan sekadar pengakuan responden.
Catatan pada Naskah 2026
Beberapa bagian naskah tidak saling cocok dan dapat diperiksa pembaca. Nilai p untuk kurang kemauan tertulis 0,001 di abstrak, hasil, dan tabel regresi, tetapi bagian diskusi menulis kurang dari 0,001. Abstrak dan diskusi juga menyebut kurang tenaga lebih dulu sebagai hambatan paling menonjol, padahal tabel hasil menempatkan kurang kemauan di atasnya, 65,4 berbanding 60,8 persen.
Bagian metode menyebut hambatan menonjol ditandai skor rata-rata subskala minimal 5, sementara kuesionernya memakai skala empat poin dan tabel menyebut skor total ranah. Pernyataan pengungkapan menulis tidak ada survei atau instrumen yang dipakai, padahal studi memakai kuesioner CDC. Bagian ketersediaan data pun menyatakan tidak ada data yang dianalisis, meski paper menganalisis jawaban 263 mahasiswa.
Rujukan untuk Anuar dan rekan ditulis bertahun 2022 di badan teks, tetapi 2021 di daftar pustaka. Diskusi menyebut ketidakaktifan lebih banyak pada mahasiswa Tionghoa, sementara tabel memperlihatkan kelompok etnis lain mencapai 75,0 persen, meski kelompok itu hanya berisi delapan orang. Selisih semacam ini tidak mengubah temuan utama, tetapi patut dicatat saat angka-angkanya dikutip ulang.
Dalam rantai panjang sejak Strasser menggagas pencegahan primordial, penelitian di Universiti Malaya ini menambahkan satu mata rantai yang spesifik dan terbatas. Ia menunjukkan bahwa di satu fakultas farmasi, lebih dari separuh mahasiswa belum cukup bergerak, dan yang secara statistik berkaitan dengan ketidakaktifan itu bukan kurang waktu atau kurang sarana, melainkan jarak antara niat dan langkah. Riset berikutnya yang akan menentukan apakah jarak itu memang sebab, atau sekadar gejala yang menyertai.















