Cekricek.id — Enam puluh tiga persen pemain sepak bola U-14, U-16, dan U-18 di kompetisi Elite Pro Academy 2022 pernah mengalami cedera. Angka itu berasal dari riset Prianto dan koleganya pada 2024. Wilayah tersering adalah tungkai bawah, terutama pergelangan kaki dan lutut. Jenis yang paling banyak muncul: kram dan keseleo. Yang jarang dihitung siapa pun adalah apa yang terjadi di kepala pemainnya.
Kekosongan itulah yang dikerjakan Putu Satwika Arya Govinda dari Ikatan Psikologi Olahraga HIMPSI bersama Rizka Safitri dari Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Barat. Laporan mereka berjudul Preliminary Study on Need Intervention Psychological For Rehabilitation Injuries to Athlete Youth Football. Naskah itu terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Vol. 10 No. 2 tahun 2025, halaman 82–106.
Daftar Isi
Tiga Narasumber, Enam Langkah Analisis
Sampelnya tiga orang, dipilih lewat purposive sampling. Satu pemain U-16 dari klub peserta Elite Pro Academy yang pernah cedera. Satu pelatih kepala dari klub peserta EPA. Satu fisioterapis tim peserta Liga 1 yang menangani pemain senior sekaligus kelompok umur. Wawancara semiterstruktur digelar terpisah antara Juni dan Agustus 2025, lewat panggilan WhatsApp atau Google Meet.
Desainnya rapid qualitative assessment, dipilih untuk memungut data mendalam dalam waktu pendek. Transkrip dianalisis memakai analisis tematik enam langkah Braun dan Clarke (2006). Dua peneliti menyusun kode secara terpisah, lalu bertemu sampai sepakat. Ada tiga penjaga mutu yang dipasang: triangulasi sumber, tinjauan antarpengode, dan deskripsi konteks. Hasilnya tiga kelompok tema besar: reaksi terhadap cedera, dukungan yang diterima, dan harapan narasumber.
Alasan studi ini berhenti di tahap kebutuhan pun punya rujukan. Manual implementasi intervensi psikologis WHO tahun 2024 meminta praktisi menjalankan analisis kebutuhan sebelum menentukan intervensi. Termasuk di dalamnya mengidentifikasi siapa saja yang berpotensi memperoleh manfaat. Karena itu tiga sudut pandang dipakai sekaligus: pemain, pelatih, dan tenaga medis.
24 Persen dan Absen 28 Hari
Angka kedua lebih menentukan nasib. Hanya 24 persen atlet di kelompok U-16 dan U-18 yang sampai ke level profesional. Temuan itu dilaporkan Bangert dan koleganya pada 2024. Riwayat cedera sebelumnya menurunkan peluang tersebut secara signifikan. Cedera serius yang memaksa absen lebih dari 28 hari terbukti memukul perkembangan karier pemain muda di dua kelompok umur itu.
Tidak semua cedera lahir dari benturan. Cedera akibat pemakaian berlebih tumbuh dari beban latihan berat dan berulang tanpa istirahat memadai. Visnjevac dan koleganya mencatat pada 2020 bahwa jenis ini lazim pada atlet muda. Efeknya menurunkan performa latihan dan pertandingan, lalu ikut mengganggu perkembangan karier. Dua jalur cedera, satu akibat yang sama.
Meski begitu, sisi psikologis kerap terlewat. Dahab dan koleganya menulis pada 2019 bahwa aspek mental sering diabaikan dalam pencegahan maupun pemulihan. Literatur pascacedera lebih banyak berhenti di rehabilitasi fisik. Padahal dampak psikososial cedera bisa memicu masalah kesehatan mental, menggerus motivasi, dan menaikkan risiko cedera berulang, seperti dicatat Haraldsdottir dan Watson pada 2021.
Baca juga Tiga Obat dalam 72 Jam Tekan Simpanan HIV pada Bayi Makaka, Belum Diuji pada Manusia
Nyeri 9 dari 10 di Akhir Pertandingan
Satu angka justru datang dari mulut pemainnya sendiri. Ia menilai nyeri yang dirasakan seusai laga berada di level 9 dari 10. Skala itu tidak diukur alat apa pun. Ia muncul sebagai penilaian seorang pemain U-16 atas rasa sakitnya sendiri. Dalam kerangka studi ini, penilaian semacam itu masuk kategori reaksi kognitif.
Reaksi kognitif berikutnya berupa rasa ingin tahu. Menurut narasumber medis, dua pertanyaan berulang muncul di ruang perawatan: apa sebenarnya yang terjadi, dan berapa lama pemulihannya. Setelah dua jawaban itu diperoleh, muncul bayangan ketiga, yaitu hilangnya menit bermain. Pemain yang sedang berebut posisi inti memaknai cedera sebagai penghalang.
Di sisi emosi, hasilnya seragam negatif. Studi ini mencatat lima emosi dominan: kecewa, khawatir, takut, kesal, dan sedih. Kekhawatiran bermuara pada satu hal, yakni hilangnya waktu bermain. Pemain U-16 itu juga kesal karena menilai cederanya bisa dihindari andai ia meminta diganti lebih awal. Rasa takut cedera kembali kambuh ikut disebut.
Sebagian emosi itu tidak pernah terucap. Fisioterapis menyebut ia membacanya dari ekspresi wajah pemain saat menjalani perawatan. Ia juga menandai satu pola: pemain yang cenderung pendiam justru menyimpan gejolak lebih besar. Salah satu kasus yang ia ingat adalah pemain dengan patah tulang yang kehilangan peluang naik ke level senior.
Reaksi ketiga berbentuk perilaku. Yang pertama muncul adalah mencari penanganan. Pemain itu langsung berbicara dengan fisioterapis timnya, lalu meminta diganti kepada pelatih. Malam harinya ia mengompres cedera dengan es dan memakai gel dari maseur tim. Fisioterapis menyebut sebagian pemain bahkan bertanya lebih dulu sebelum program rehabilitasi diberikan. Perilaku kedua adalah kepatuhan menjalani program.
Tiga Reaksi dalam Model 1998
Kerangka acuannya lahir pada 1998. Model integratif Wiese-Bjornstal dan koleganya membagi pengalaman cedera ke dalam tiga tahap: pracedera, cedera, dan rehabilitasi. Model itu memilah dua faktor yang bekerja, yaitu personal dan situasional. Tiga respons utama atlet dalam model tersebut adalah penilaian kognitif, respons emosional, dan respons perilaku. Temuan wawancara jatuh rapi ke tiga kotak itu.
Namun ada satu perilaku yang berlawanan arah. Pemain yang diwawancarai justru mencari dukungan sosial, bercerita kepada teman dengan pengalaman serupa dan kepada ibunya. Pelatih dan fisioterapis sebaliknya mengamati sebagian pemain menarik diri dari tim. Dua pola yang bertolak belakang itu berdiri dalam satu penelitian yang sama.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Menarik diri paling terbaca pada cedera dengan keparahan tinggi. Bentuknya sederhana: intensitas interaksi sosial turun. Pelatih menyebut ada pemain yang dingin ketika disapa dan sulit diajak berbicara. Akarnya reaksi kognitif berupa perasaan terisolasi dari tim, sebab rutinitasnya berbeda dari rekan-rekannya. Claytor pada 2019 mencatat isolasi diri lazim muncul sebagai respons stres terhadap cedera.
Ada satu tafsir lain yang ikut menghambat. Pelatih menyebut sebagian pemain memaknai cedera sebagai izin berhenti total dari latihan. Padahal, kata dia, cedera di kaki tidak menutup peluang melatih bagian tubuh lain. Fisioterapis melihat tafsir serupa kadang datang dari keluarga pemain, sehingga program utama kalah oleh agenda lain. Dua sudut pandang itu bertemu di titik yang sama.
Di titik ini angka 24 persen tadi kembali muncul. Pelatih dan fisioterapis sama-sama melihat pemain dengan target karier tinggi lebih patuh menjalani rehabilitasi. Pemain yang merasa cukup di level junior cenderung pasif. Goddard dan koleganya pada 2021 menyebut motivasi dari dalam diri sebagai salah satu faktor kepatuhan rehabilitasi cedera olahraga.
Pemain U-16 itu punya pendorong yang berbeda. Ia tidak menyebut karier, melainkan keinginan cepat kembali membantu timnya. Kedua peneliti merangkum pola tersebut dalam satu kalimat. “Temuan ini menunjukkan perlunya menjaga motivasi pemain yang cedera untuk mendorong kepatuhan,” tulis Putu Satwika Arya Govinda dan Rizka Safitri. Salah satu jalannya, menurut mereka, mengaitkan tujuan karier jangka panjang dengan semangat pulih.
Skala 1 sampai 10 yang Dikirim Tiap Hari
Tiga bentuk dukungan terkumpul dari wawancara. Yang pertama emosional, tema yang paling banyak muncul dari ketiga sudut pandang. Wujudnya memberi perhatian, memberi ruang bercerita, dan memberi waktu sendiri. Pemain menyebut bercerita kepada teman dan ibunya sangat membantu meredakan perasaan negatif. Pelatih menilai perhatian menjaga rasa pemain bahwa dirinya tetap bagian dari tim.
Dukungan kedua berupa informasi. Fisioterapis menyebut penjelasan soal rencana asesmen, diagnosis, dan program rehabilitasi sebagai SOP tersendiri yang wajib diberikan. Informasi status medis juga dialirkan ke pelatih tim. Pelatih menerima laporan harian di grup percakapan, memakai skala nyeri 1 sampai 10. Contohnya angka 5 dari 10, disertai kebutuhan istirahat sekitar tiga hari.
Baca juga Separuh Perempuan Muda Tanya Chatbot AI soal Menyusui
Dukungan ketiga berupa fasilitas. Pelatih menyebut satu tim dengan kelengkapan penuh: kerja sama dengan rumah sakit, tenaga profesional penanganan cedera, sampai peralatan di ruang fisioterapi. Dalam pandangannya, kelengkapan itu semestinya mendorong keinginan pemain untuk cepat pulih. Ketiga bentuk dukungan tersebut direkam studi ini sebagai modal yang layak dipertahankan.
Harapan narasumber terbagi ke dalam dua tema. Pemain menginginkan intervensi pencegahan cedera berulang sekaligus peningkatan kesadaran diri. Pelatih meminta program pengembalian ke performa puncak dan cara menjaga pemain cedera tetap merasa terlibat. Fisioterapis menyodorkan satu permintaan spesifik: instrumen pengukur motivasi sembuh yang objektif. Selama ini, kata dia, penilaian itu dilakukan secara otodidak.
Satu Cedera Sedang, Nol Cedera Panjang
Batas studi ini terletak pada angka tiganya. Tiga partisipan, dan hanya satu di antaranya pemain, dengan cedera berkategori sedang. “Metode penelitian yang digunakan (Rapid Qualitative Assessment) belum mampu menangkap kedalaman data seperti studi kualitatif lain, misalnya studi kasus,” tulis kedua peneliti. Mereka menyarankan riset lanjutan yang lebih komprehensif.
Perspektif pemain dengan cedera jangka panjang belum masuk sama sekali. Peneliti menyebut data dari pemain dengan cedera semacam ACL atau patah tulang akan memperkuat triangulasi sumber. Pengamatan pelatih dan fisioterapis memang sudah mencakup pemain cedera panjang. Namun suara pemainnya sendiri, untuk kategori itu, berjumlah nol. Ketiga narasumber pun berasal dari lingkungan Elite Pro Academy dan Liga 1.
Dari tema-tema itu, peneliti menurunkan tiga kebutuhan intervensi. Mengelola emosi dan tafsir negatif akibat cedera, menumbuhkan motivasi pulih beserta perilaku pendukungnya, dan dukungan sosial. Reese dan koleganya pada 2012 mencatat imagery serta relaksasi menurunkan perasaan negatif atlet cedera. Terapi berbasis penerimaan dan komitmen disebut dalam tinjauan yang sama.
Angka terakhir dari studi ini tetap tiga: tiga narasumber, tiga jenis reaksi, tiga kebutuhan intervensi. Naskahnya dipresentasikan di National Conference of Football and Science 2025. Yang tidak dijawab ketiga angka itu adalah berapa banyak dari 63 persen pemain cedera tadi yang pernah bertemu psikolog.














