Cekricek.id — Kombinasi tiga jenis obat yang diberikan dalam 72 jam setelah infeksi menekan pembentukan simpanan virus HIV di tubuh bayi monyet makaka. Hasil percobaan itu belum diuji pada manusia.
Penelitian dipimpin Oregon Health & Science University dan dilaporkan lewat artikel Combination therapy with broadly neutralizing antibodies, antiretroviral therapy and CCR5 blockade limits viral reservoir seeding in infant macaque model of HIV dalam jurnal Nature Microbiology, terbit daring 10 Agustus 2026 dengan DOI 10.1038/s41564-026-02444-x. Artikelnya belum masuk nomor tercetak sehingga belum bervolume.
Tiga obat sekaligus
Tim menggabungkan antibodi penetral berspektrum luas — protein kekebalan yang mampu melumpuhkan banyak varian virus sekaligus — dengan terapi antiretroviral, lalu menambahkan leronlimab. Leronlimab adalah antibodi monoklonal yang menutup reseptor CCR5, pintu masuk yang dipakai HIV untuk menembus sel.
Sasarannya bukan sekadar menurunkan jumlah virus, melainkan mencegah terbentuknya reservoir virus, yaitu kumpulan sel terinfeksi yang bersembunyi dan membuat penderita HIV harus minum obat seumur hidup.
Setiap tahun lebih dari 120.000 bayi baru lahir di dunia tertular dari ibunya. Sebagian besar di antaranya berada di negara berpendapatan rendah dan menengah, dan mereka yang selamat menghadapi prospek pengobatan sepanjang hidup.
Leronlimab sendiri bukan obat baru. Antibodi itu sudah diuji pada orang dewasa untuk indikasi lain, sehingga profil keamanannya pada manusia dewasa sudah sebagian terkumpul — satu hal yang menurut peneliti memperpendek jarak menuju pengujian klinis.
Batas percobaannya
Pengujian hanya menjangkau sampai tiga hari setelah infeksi. Peneliti menyatakan mereka belum mengetahui apakah kombinasi itu masih bekerja bila diberikan setelah tenggat tersebut lewat — padahal pada praktik sehari-hari, infeksi pada bayi tidak selalu terdeteksi dalam hitungan jam.
Percobaan dijalankan pada model bayi makaka, bukan pada bayi manusia. Model hewan primata dipakai karena perjalanan infeksinya menyerupai HIV pada manusia, tetapi hasil pada makaka tidak dengan sendirinya berulang pada manusia.
"Bagian yang benar-benar menggembirakan adalah bahwa ini bisa segera masuk uji klinis untuk melenyapkan infeksi HIV pada bayi baru lahir," kata Dr Jonah Sacha, profesor di Oregon National Primate Research Center, Oregon Health & Science University.
Kepentingan yang diungkap
Sacha dan rekan penulisnya Scott Hansen mengungkapkan kepemilikan kepentingan finansial yang signifikan di CytoDyn, perusahaan yang berkepentingan komersial atas leronlimab. Pengungkapan itu tercantum dalam artikelnya.
Penelitian melibatkan pula California National Primate Research Center di University of California, Davis, serta peneliti dari Vaccine Research Center NIAID dan Johns Hopkins University School of Medicine. Nancy L. Haigwood, virolog dan imunolog di Oregon Health & Science University, tercatat sebagai salah satu penulis pengarah bersama Sacha, Hansen, dan Koen Van Rompay.
Pendanaannya berasal dari sejumlah hibah National Institutes of Health lewat NICHD, NIAID, dan Kantor Direktur.
Jumlah hewan dalam percobaan model primata umumnya kecil dibanding jumlah peserta uji klinis manusia. Keterbatasan itu melekat pada jenis penelitiannya dan membatasi seberapa halus perbedaan antarkelompok bisa terbaca.
Terapi antiretroviral yang dipakai luas saat ini sudah mampu menekan virus sampai tak terdeteksi, tetapi tidak melenyapkan reservoir. Itulah sebabnya harus diminum tanpa putus. Tim peneliti menyatakan langkah berikutnya adalah menguji rangkaian obat tersebut pada manusia.





















