- UMKM Huyula Eco Craft di Gorontalo menguji teknik gesek godhong dengan dua pengunci warna berbeda
- Waterglass (280 ml + 750 ml air) menghasilkan warna tajam tapi tekstur kain agak kasar
- Garam kasar (45 gram + 2 liter air, rendam 3-4 menit) menghasilkan warna awet dan kain lebih halus
- Daun dikeringkan dengan diselipkan ke buku, bukan dijemur matahari, agar tidak rapuh dan hancur
Daftar Isi
Daun yang dijemur di bawah matahari langsung mengeriting, kehilangan kelembapan berlebihan, lalu hancur begitu disentuh dan digesekkan ke kain. Peneliti terpaksa membatalkan seluruh tumpukan daun yang sudah disiapkan dengan cara itu, sebelum akhirnya berpindah ke cara lain yang lebih rumit tapi lebih aman bagi bentuk daun.
Kegagalan itu tercatat dalam naskah Hasna Sutantanamas, Ulin Naini, dan Hasmah, berjudul Community Engagement: Optimalisasi Kualitas Tekstil Huyula Eco Craft Melalui Teknik Gesek Godhong Inovatif, dimuat di Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 27(1), 2025. Ketiganya berafiliasi dengan Universitas Gorontalo, dan objek yang mereka teliti adalah UMKM Huyula Eco Craft di Kabupaten Bone Bolango.
Daun yang Rapuh di Bawah Matahari
Sebelum daun bisa digesekkan ke kain, ia harus dikeringkan lebih dulu agar kandungan airnya hilang. Peneliti mencoba dua cara. Cara pertama, daun dijemur langsung di bawah sinar matahari. Cara kedua, daun diselipkan di antara halaman buku folio tebal berisi seratus lembar kertas, dibiarkan tertekan rata di sana selama beberapa waktu tanpa sinar matahari sama sekali.
Hasil dari dua cara itu berbeda jauh. Daun yang dijemur matahari langsung kehilangan kelembapannya sampai berlebihan, bentuknya mengeriting, dan teksturnya menjadi sangat rapuh. Begitu disentuh atau digesekkan ke permukaan kain, daun jenis ini mudah hancur dan sulit diaplikasikan karena bentuknya sudah tidak bagus lagi, membuat motif yang tercetak jadi tidak terkendali.
Daun yang diselipkan ke dalam buku bernasib berbeda. Metode ini menjaga bentuk daun tetap utuh sekaligus memudahkan proses pewarnaan motif pada kain, karena tulang daun dan tepiannya tidak berubah. Peneliti akhirnya meninggalkan cara menjemur di bawah matahari dan memakai metode buku untuk seluruh eksperimen berikutnya, termasuk saat menyiapkan dua desain motif yang berbeda.
Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel
Sebelum menyentuh kain, peneliti lebih dulu menyiapkan desain di atas kertas sebagai panduan urutan pengerjaan. Desain pertama menyusun daun puring, yang di Gorontalo disebut polohungo, di empat sudut kain, sementara daun sukun mengisi bagian tengah tiap sisi. Desain kedua justru sebaliknya, motif hanya ditempatkan di bagian tengah yang mengarah ke sudut kiri atas, serta di sudut kiri dan kanan bawah kain.
Kedua desain disusun dengan memperhatikan prinsip dasar seni rupa menurut Salam dan kawan-kawan, yaitu kesatuan, keseimbangan, proporsi, irama, dan pusat perhatian, karena karya seni rupa dinilai kurang menarik bila unsur-unsurnya tersusun tanpa memenuhi prinsip itu. Desain di atas kertas ini bukan acuan ukuran daun pada kain, melainkan sekadar penentu daun mana yang diaplikasikan lebih dulu dan dengan warna apa.
Gesekan yang Memindahkan Warna ke Kain
Proses inti teknik gesek godhong dimulai dengan mengoleskan pewarna sintetis ke permukaan daun secara merata, sehingga pori-porinya tertutup rapat dan warna menempel maksimal. Daun yang sudah diwarnai lalu diletakkan hati-hati di atas kain sesuai desain, ditutup selembar kertas, kemudian digesek dengan alat gesek supaya tekanan menyebar rata ke seluruh bagian daun tanpa merusak motifnya.
Setelah gesekan selesai, motif diperiksa ulang. Bagian daun seperti tulang daun yang belum tercetak sempurna diperjelas kembali memakai kuas, memastikan seluruh detail terlihat jelas dan rapi. Bagian kosong di sekeliling motif kemudian diwarnai memakai kain microfiber yang dibasahi pewarna, ditekankan berulang hingga tekstur menyerupai anyaman nyiru muncul di latar kain, menambah dimensi visual pada hasil akhirnya.
Tahap ini menentukan seberapa jelas dan rapi motif akhirnya terlihat. Kesalahan kecil, seperti tekanan gesekan yang tidak merata atau warna daun yang menyebar ke bagian kain yang tidak diinginkan, langsung tampak pada hasil cetakan dan sulit diperbaiki setelah kain dikunci warnanya. Naskah menyebut tahap ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran, karena prosesnya lebih lama dibanding teknik ecoprint yang harus diselesaikan sekaligus.
Baca juga Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu
Waterglass Membuat Warna Tajam, Kain Jadi Kasar
Kain pertama dikunci warnanya memakai waterglass, dengan 280 mililiter waterglass dicampur 750 mililiter air bersih hingga menjadi satu liter cairan. Cairan ini dioleskan merata ke permukaan kain, lalu kain dijemur di tempat teduh agar waterglass terserap sempurna, sebelum dicuci dengan air bersih dan dijemur ulang hingga benar-benar kering.
“Waterglass yields vivid hues but results in a slightly rough fabric texture, while coarse salt ensures longer-lasting colors and a smoother texture”, tulis Sutantanamas, Naini, dan Hasmah dalam abstrak berbahasa Inggris naskah ini. Kalimat itu berarti waterglass menghasilkan warna cerah, tetapi membuat tekstur kain sedikit kasar, sementara garam kasar menjamin warna yang lebih tahan lama dan tekstur yang lebih halus.
Warna yang dihasilkan waterglass memang tajam, mencolok, hidup dan intens, sangat sesuai untuk menonjolkan motif flora dari cetakan daun. Namun kekasaran itu bukan tanpa sebab. Naskah ini mengutip penjelasan Shore (2002) bahwa kekasaran tersebut disebabkan oleh kristalisasi partikel sodium silikat pada permukaan serat kain, sesuatu yang tidak terlihat sampai kain benar-benar kering dan diraba langsung oleh tangan.
Garam Kasar Menutup Cerita dengan Kain Lebih Halus
Kain berikutnya diuji dengan pengunci warna yang berbeda, yaitu garam kasar. Sebanyak 45 gram garam kasar, setara tiga sendok makan, dilarutkan ke dalam dua liter air bersih. Kain lalu direndam dalam larutan itu selama tiga sampai empat menit, memastikan garam menyerap merata ke seluruh permukaan, sebelum dicuci kembali dan dijemur di tempat teduh yang sama seperti kain sebelumnya.
Hasilnya berbeda dari kain waterglass. Warna pada kain berpengunci garam kasar tetap cerah, setara dengan kain-kain sebelumnya, tanpa pelunturan berarti. Teksturnya justru terasa lebih halus dan nyaman disentuh, kebalikan dari kekasaran yang muncul pada kain waterglass, meski keduanya sama-sama mengandalkan motif dari daun kering yang sama.
Perbandingan ini juga tercatat pada tahap pencucian. Kain waterglass sempat sedikit meluntur ke air cucian karena campuran pengunci warna dan pewarna belum sepenuhnya terikat, meski hal ini disebut tidak mengubah hasil akhirnya. Kain garam kasar tidak menunjukkan gejala serupa saat proses pencucian dan penjemuran yang sama diulang untuk kedua jenis kain.
Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah
Naskah ini juga mencatat sisi pasar dari kedua pilihan itu. Motif dari gesekan daun disebut punya keunikan yang tidak diperoleh dari teknik cetak konvensional seperti sablon atau cap, menjadikannya ciri khas produk Huyula Eco Craft sekaligus membuka peluang diferensiasi di industri tekstil kreatif. Kutipan dari Pujilestari (2015) dan Poespo dalam Paramita (2021) turut dipakai peneliti untuk menjelaskan mengapa warna cerah banyak diminati konsumen tekstil.
Satu Daun, Dua Kain yang Berbeda
Naskah ini tidak mencantumkan bagian keterbatasan secara terpisah, tetapi celahnya bisa dibaca dari isinya sendiri. Pengujian dilakukan pada beberapa lembar kain eksperimen di satu UMKM, bukan pada produksi massal, dan penilaian ketajaman warna maupun tekstur kain dilakukan lewat pengamatan langsung peneliti, bukan uji laboratorium seperti uji tahan luntur warna atau uji kekuatan tarik serat kain.
Ada pula kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca sendiri pada naskah ini. Penomoran gambar melompat: dua gambar berbeda, satu berjudul Proses Pengecekan Motif Pada Kain Pertama dan satu lagi Proses Pewarnaan Bagian Kosong Pada Kain Pertama, sama-sama diberi label Gambar 8, sebelum penomoran berikutnya melanjutkan ke Gambar 9. Penomoran halaman naskah juga sempat melompat dari Hal 190 ke Hal 191, lalu kembali lagi ke Hal 190 untuk gambar sesudahnya.
Teknik gesek godhong sendiri bukan temuan baru. Naskah ini menyebut teknik itu lebih dulu dikenal di Semarang, sementara di Gorontalo belum banyak diketahui sebelum diterapkan pada UMKM Huyula Eco Craft, yang sejak 2018 hanya memproduksi tekstil ecoprint berwarna alami yang cenderung soft dan terbatas variasinya.
Setelah semua kain selesai diuji, satu hal tampak jelas: daun yang sama, dengan pewarna yang sama, bisa menghasilkan dua kain yang berbeda hanya karena cairan pengunci warnanya berbeda. Motif flora dari gesek godhong tetap ada di kedua kain, tetapi warna dan raba di antara keduanya membawa cerita yang berlainan bagi UMKM Huyula Eco Craft di Gorontalo.















