Cekricek.id — Dolar Amerika Serikat menembus 2,1 juta rial di pasar bebas Teheran pada Rabu (02/09/2026), rekor terlemah bagi mata uang Iran. Rial kehilangan sekitar 60 persen nilainya terhadap dolar sejak awal tahun kalender Iran pada Maret, ketika dolar diperdagangkan sekitar 1,35 juta rial.
Euro menyentuh 2,55 juta rial dan poundsterling 2.976.000 rial, menurut laporan Euronews, Rabu (02/09/2026). Dirham Uni Emirat Arab untuk pertama kalinya menembus 600.000 rial.
Baca juga Iran dan AS Saling Serang, 18 Tewas di Berbagai Kota
Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, menyebut lonjakan kurs lebih didorong faktor psikologis.
“Debu yang timbul di pasar valuta asing akan mereda, dan kenaikan kurs belakangan ini lebih didorong faktor psikologis daripada faktor ekonomi yang sebenarnya,” katanya.
Baca juga Belanda Pindahkan 86 Ton Emas dari AS dan Kanada ke Inggris
Ia mengakui tekanan harga terasa bagi warga. “Meski inflasi dan kenaikan harga menekan berat penghidupan dan kehidupan sehari-hari masyarakat, dan kesulitan itu nyata, Bank Sentral mampu mengendalikan laju percepatan inflasi dengan memakai perangkat moneter, pengawasan, dan kehati-hatian,” ujarnya.
Hemmati juga membantah kabar cadangan devisa negaranya dibekukan. “Klaim-klaim itu sama sekali tidak berdasar. Cadangan tidak dibekukan, dan Bank Sentral memiliki akses ke sumber daya yang stabil serta beragam penerimaan minyak dan nonminyak,” katanya.
Baca juga Imbal Hasil Obligasi Jepang 3 Persen, Pertama Sejak 1996
Bank sentral menyatakan siap menyuntikkan 2 miliar dolar AS ke pasar valuta asing. Emas 18 karat menembus 225,7 juta rial per gram dan koin emas Imami mencapai 2,26 miliar rial.
Kurs pasar bebas kini lebih dari dua kali lipat kurs resmi. Bank sentral belum menyebutkan kapan penyuntikan dana itu dimulai.














