762 Walandi di Kadjawen, Hanya 30 Dekat Pakempalan

A A

Halaman tulisan beraksara Jawa. [Foto: Richard Gilbert Zheng Wei Chen/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Ada majalah berbahasa Jawa yang terbit di bawah penerbit milik pemerintah kolonial, dicetak dengan aksara Jawa, dan tetap menyebut nama-nama perkumpulan pergerakan di halamannya. Yang janggal bukan itu. Yang janggal adalah kata untuk Belanda dan kata untuk perkumpulan hampir tidak pernah berdiri berdekatan di dalam kalimat yang sama.

Kejanggalan itu bukan kesan seorang pembaca. Ia hasil hitungan mesin atas seluruh korpus majalah Kadjawen terbitan 1927 sampai 1931. Sri Suryani dari Lancaster University, Inggris, menuliskannya dalam artikel Decoding Text, Shaping Data: A Digital Study of the Keywords Walandi and Pakêmpalan in Kadjawen magazine 1927–1931 yang terbit di jurnal ARNAWA, Volume 3 Nomor 2, tahun 2025, halaman 115 sampai 126. Ia hanya menghitung dua kata, lalu memeriksa apa yang berdiri di sekitar keduanya.

Dua kata itu sederhana. Pakêmpalan adalah kata Jawa untuk perkumpulan atau organisasi, dibentuk dari kata dasar kêmpal yang berarti berkumpul, ditambah awalan pa- dan akhiran -an. Walandi adalah varian dari Walanda, dan Suryani membedakan rujukan keduanya: yang satu menunjuk negeri Belanda, yang lain menunjuk bangsa Belanda, orang Belanda, atau benda kepunyaan mereka. Keduanya kata sehari-hari di halaman majalah itu. Justru karena itu keduanya bisa dihitung.

Daftar Isi
  1. Cara Majalah Itu Dikendalikan dari Balai Pustaka
  2. Cara Dua Kata Dihitung di Dalam Korpus
  3. Cara Kedekatan Dua Kata Itu Diukur
  4. Di Mana Hitungan Berhenti Menjelaskan

Cara Majalah Itu Dikendalikan dari Balai Pustaka

Naskah beraksara Jawa koleksi Museum Sonobudoyo.
Naskah beraksara Jawa koleksi Museum Sonobudoyo. (Foto: Candramawa99/Wikimedia Commons, CC0)

Balai Pustaka lahir dari lembaga bernama Kantoor voor de Volkslectuur, kantor bacaan rakyat yang pada 1917 menggantikan Landsdrukkerij, percetakan negara yang berdiri sejak 1809. Lembaga baru itu dirancang sebagai penerbit komersial yang dikelola sendiri oleh pemerintah kolonial untuk mengimbangi penerbit komersial yang sudah lebih dulu ada, sekaligus sebagai alat bagi kepentingan bahasa dan politik. Kadjawen adalah terbitan berkala berbahasa Jawa paling awal dari penerbit itu, mula-mula seminggu sekali sejak 1926, kemudian dua kali seminggu sejak 1938.

Majalah itu muncul di ujung masa jabatan D.A. Rinkes sebagai kepala Balai Pustaka. Rinkes adalah orang yang pada 1917 membubarkan komisi bacaan bentukan lama dan menggantinya dengan kantor baru yang ia pimpin sendiri, dan ia pula yang mengangkat redaktur penutur asli untuk terbitan berbahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Isi Kadjawen karena itu penuh nama orang pribumi yang menguasai bahasa dan budaya Jawa. Kendali akhir atas majalah itu tetap berada di tangan pemerintah kolonial.

Baca juga Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa

Rubriknya tampak serba campur, tetapi ada satu yang bertahan dari awal sampai akhir: kolom dialog yang menampilkan dua Punakawan, Gareng dan Petruk. Seluruh isinya semula berhuruf Jawa. Baru pada 1937 huruf Latin dipakai, itu pun terbatas pada rubrik yang mengulas peristiwa luar negeri. Majalah itu berhenti terbit pada 1942, ketika terbitan-terbitan di bawah pemerintah kolonial Belanda dilarang beredar pada masa pendudukan Jepang, sesudah enam belas tahun berjalan.

Kata perkumpulan menjadi kata yang berat pada tahun-tahun itu bukan tanpa sebab. Politik Etis yang dijalankan sejak 1901 atas usul van Deventer membuka pendidikan bagi kalangan priayi, dan dari lapisan terpelajar itulah lahir organisasi-organisasi: Budi Utomo pada 1908, Sarekat Islam pada 1911, Indische Partij pada 1912, disusul Jong Java pada 1915 dan Jong Sumatranen Bond pada 1917. Suryani mencatat kebijakan itu tidak merata. Pendidikannya hanya menjangkau kalangan bangsawan, tidak seluruh lapisan penduduk pribumi.

Cara Dua Kata Dihitung di Dalam Korpus

Bahan mentahnya diambil dari sastra.org, laman milik Yayasan Sastra Lestari yang memuat transkrip teks asli dan terbuka untuk umum. Suryani mengumpulkan 201 tautan edisi Kadjawen untuk rentang 1927 sampai 1931, dengan sebaran 13 tautan untuk 1927, 56 untuk 1928, 45 untuk 1929, 54 untuk 1930, dan 33 untuk 1931. Pengumpulannya dikerjakan manual, satu alamat demi satu alamat, karena penamaan alamat di laman itu tidak berurutan. Tidak ada jalan pintas di tahap ini.

Berkas HTML tiap edisi kemudian dipreteli menjadi teks polos memakai pustaka BeautifulSoup pada Python, dikerjakan di Google Colab, lalu dikelompokkan menurut tahun. Sesudah itu barulah kata dicari. Pustaka re dipakai untuk mencocokkan pola kata, pustaka pandas untuk menyusun hasilnya menjadi tabel berisi nama berkas, jumlah kemunculan, dan potongan kalimat di sekitarnya. Hitungan Python itu diperiksa ulang dengan Voyant Tools, perangkat analisis teks yang berdiri sendiri di luar skrip penulisnya.

Hasilnya satu angka: 762 kemunculan kata Walandi di dalam 201 edisi. Angka itu sendiri belum bercerita apa-apa. Kata untuk Belanda memang wajar sering muncul di majalah yang diterbitkan pemerintah Belanda. Yang menarik baru muncul ketika kata itu tidak lagi dihitung sendirian.

Cara Kedekatan Dua Kata Itu Diukur

Metode yang dipakai bernama analisis konkordansi, dan cara kerjanya lugas. Setiap kali kata kunci ditemukan, mesin ikut menyalin 30 kata sebelum dan 30 kata sesudahnya, sehingga yang tersimpan bukan kata telanjang melainkan kata beserta tetangganya. Potongan-potongan itu disimpan sebagai berkas CSV. Fungsi pencari teks pada pandas kemudian menyaring potongan mana saja yang di dalamnya ikut memuat kata pakêmpalan, tanpa membedakan huruf besar dan huruf kecil.

Baca juga Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno

Dari 762 kemunculan Walandi, hanya 30 yang punya kata pakêmpalan di dalam jendela itu. Tiga puluh potongan tersebut berasal dari 30 edisi. Sebarannya per tahun tidak rata: empat edisi pada 1927, tiga pada 1928, lalu naik menjadi sembilan pada 1929 dan sebelas pada 1930, sebelum tinggal dua pada 1931. Puncaknya jatuh pada 1930, dua tahun sesudah Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Bentuk katanya pun tidak seragam. Pakêmpalan muncul dalam tiga varian: pakêmpalan-pakêmpalan sebagai bentuk jamak, tercatat sebelas kali; pakêmpalanipun, yang akhiran -ipun-nya menandai kepemilikan atau penunjukan; dan pakêmpalaning, yang akhiran -ing-nya berfungsi sebagai kata penunjuk. Pada Walandi tidak ditemukan varian yang berarti. Hanya sekali kedua kata itu benar-benar melebur menjadi satu frasa, pakêmpalanipun Walandi, yang berarti perkumpulan orang Belanda.

Menghitung kata saja tidak cukup, dan Suryani tahu itu. Ia melangkah satu tingkat lagi dengan mendata perkumpulan apa saja yang namanya benar-benar disebut. Dari 30 sampel edisi ditemukan 20 pemakaian kata pakêmpalan yang diikuti sebuah nama, dan sesudah pengulangan disingkirkan tersisa 19 nama. Enam di antaranya memakai istilah Belanda. Sisanya memakai istilah Jawa atau istilah bahasa Indonesia pada masa itu.

Nama-nama itu tidak berjalan searah. Pakêmpalan P.E.B. menunjuk Politiek Economische Bond, yang didirikan A.J.N. Engelenberg pada 25 Januari 1919 sebagai reaksi atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dinilai terlalu maju dan terlalu etis terhadap penduduk pribumi. Perkumpulan itu justru menjalin hubungan dengan Boedi Oetomo dan Ethische Partij. Pakêmpalan Ons Huis lain lagi persoalannya, yakni bentukan penguasa kolonial sebagai ruang berkumpul dan bergaul orang Belanda.

Yang paling menarik justru nama-nama yang tampak paling Belanda. Pakêmpalan Guru Walandi adalah sebutan Jawa untuk Nederlandsch-Indisch Onderwijzers Genootschap, wadah guru di Hindia Belanda yang belakangan berkembang menjadi tempat guru-guru pribumi memperjuangkan hak mereka. Pakêmpalan Anti-Woeker ing Bandhung merupakan bagian dari Anti-Woeker Vereeniging, perkumpulan yang bekerja memberantas praktik lintah darat di Bandung. Pakêmpalan Sepak Raga S.V.B.B. adalah Soerabajasche Voetbal Bond, dan meski namanya Belanda, federasi itu menaruh perhatian besar pada hak klub-klub sepak bola pribumi.

Di Mana Hitungan Berhenti Menjelaskan

Di titik inilah cara kerja hitungan kata bertemu batasnya sendiri, dan Suryani menyatakannya lebih dulu: nama berbau Belanda tidak dengan sendirinya berarti berpihak kepada pemerintah kolonial, dan sebaliknya juga berlaku. Daftar 19 nama itu memuat Pakêmpalan Komunis dan Pakêmpalan P.N.I. ing Bandhung berdampingan dengan Pakêmpalan Kindervacantie Kolonie serta Pakêmpalan Ons Huis. Majalah yang sama memuat semuanya. Sebuah kata tidak memberi tahu siapa yang mengucapkannya dan dengan nada apa.

Baca juga Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun

Bahwa penerbitan semacam itu tidak pernah benar-benar netral bukan temuan baru. Lisa Kuitert, penulis kajian Balai Pustaka and the Politics of Knowledge yang dirujuk Suryani, mengamati bahwa penerbitan-penerbitan tersebut tetap terhubung dengan kepentingan politik kolonial, dalam kadar besar atau kecil. Thomas Nugroho Aji dan rekan-rekannya sampai pada hal serupa dari pintu yang berbeda, yakni bahwa iklan-iklan di dalam Kadjawen pun ikut memuat isi yang berkaitan dengan akibat kebijakan politik kolonial.

Suryani tidak menutupi di mana metodenya berhenti. Analisisnya bersandar penuh pada teks yang sudah didigitalkan di sastra.org, sehingga celah dan ketidakrataan ketersediaan data ikut terbawa masuk. Jumlah tautan per tahun yang timpang, dari 13 pada 1927 sampai 56 pada 1928, ia sebut sendiri sebagai pembuka kemungkinan bias data. Ia juga menegaskan bahwa membaca pemakaian kata semata, tanpa pembacaan konteks yang menyeluruh, tidak cukup untuk menyimpulkan sikap politik sebuah majalah.

Penelitiannya bersifat eksploratif dan hasilnya ia sebut lebih bersifat indikatif ketimbang menyeluruh. Hanya dua kata kunci yang diperiksa. Seluruh skrip, data, dan keluaran visualnya dibuka ke publik di repositori GitHub penulis, sehingga hitungannya bisa diperiksa ulang orang lain. Pemeriksaan semacam itu memang masih diperlukan. Keterangan Gambar 3 di dalam artikel menyebut puncak pakêmpalan pada 1930 berjumlah sepuluh, sementara badan tulisannya menyebut sebelas, dan daftar 19 nama itu mencantumkan Pakêmpalan Pribumi dua kali.

Yang tersisa dari majalah itu adalah 201 edisi yang kini bisa dibaca ulang oleh mesin. Di dalamnya kata Belanda muncul ratusan kali dan kata perkumpulan muncul berkali-kali, tetapi keduanya hampir selalu memilih berdiri di halaman yang berlainan. Jaraknya sudah terhitung. Sebabnya belum.

Bagikan

Baca Juga

Kamus Sejarah Indonesia -
Balai Pustaka
Tepak sirih, wadah adat masyarakat Melayu.
Enam Pantun Meminang dari Desa Semata, Sambas
Kamar tidur di rumah pengasingan Mohammad Hatta di Banda Neira.
Enam Belas Peti Buku Bung Hatta ke Boven Digul
Istana Sultan Ternate dalam potret koleksi ekspedisi Siboga.
Lima Surat Sultan Ternate dari Pengasingan Bandung
Relief prajurit di Candi Panataran dalam foto Isidore van Kinsbergen.
Senenan, Turnamen Tombak Bambu Sebelum Ada Kuda
Sungai Brantas di Kediri.
Hendrik Altmann dan Pasir yang Mendangkalkan Brantas