Pupuk Fosfor 75 Kilogram Cukup untuk Kacang Babi

A A

Barisan tanaman kacang babi muda tumbuh di lahan berpasir. [Foto: Josef Schlaghecken/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Hasil kacang babi melompat dari 98,67 gram ke 190 gram saat fosfor dinaikkan ke 75 kilogram per hektare.
  • Takaran 100 kilogram hanya unggul pada jumlah cabang dan tinggi tanaman.
  • Takaran 75 kilogram lebih baik pada daun, bunga, polong, dan hasil per tanaman.
  • Kultivar Spanyol dan kultivar lokal tidak berbeda nyata pada semua sifat yang diukur.
  • Naskahnya memuat dua keterangan yang bertabrakan soal cara dan tempat pemupukan.
Daftar Isi
  1. Kenapa fosfor menentukan
  2. Lompatan yang tidak bertahap
  3. Di mana takaran tertinggi kalah
  4. Dua kultivar, satu hasil
  5. Angka yang tidak bisa dipindah begitu saja
  6. Dua kalimat yang bertabrakan

Menambah pupuk fosfor sampai takaran tertinggi biasanya dianggap cara paling aman menaikkan panen, dan itulah yang lazim dilakukan ketika hasil panen dirasa kurang. Pada percobaan kacang babi di Kirkuk, Irak, anggapan itu justru tidak terbukti. Takaran fosfor tertinggi memang unggul pada dua ukuran, tetapi kalah pada empat ukuran lain dari takaran yang lebih rendah, dan selisihnya ternyata tidak dianggap nyata oleh penelitinya sendiri.

Percobaan itu dilaporkan Aznor Nazim Saleh, Saja Baker Hassan, dan Ibrahim Ali Ameen dari Department of Medicinal and Industrial Plants, University of Kirkuk, dalam artikel Response of Two Cultivars of Faba Bean (Vicia faba L.) to Different Levels of Phosphorus Fertilizer di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences, terbitan 2025. Tanaman yang diuji dua kultivar, Spanyol dan lokal, pada musim dingin 2023 sampai 2024.

Kenapa fosfor menentukan

Kacang babi bukan tanaman sembarangan di negeri asalnya. Bijinya memuat sekitar 56 persen karbohidrat, 20 sampai 36 persen protein, dan 1,24 persen lemak, ditambah mineral, vitamin, serta sejumlah senyawa aktif yang dipakai dalam pengobatan tradisional. Akarnya membentuk bintil yang mengikat nitrogen dari udara, sehingga tanaman ini juga menyuburkan tanah yang ditanaminya.

Fosfor bekerja jauh sebelum polong terbentuk. Unsur ini dipakai tanaman untuk menyusun asam nukleat dan menghasilkan tenaga dalam bentuk ATP, sekaligus mendorong kerja enzim di dalam sel. Karena itu kekurangan fosfor tidak muncul sebagai satu gejala tunggal, melainkan menghambat seluruh rantai: pertumbuhan tertahan, akar tidak berkembang, pembungaan dan pembuahan menurun.

Persoalannya, fosfor yang ditabur tidak selalu sampai ke tanaman. Pada tanah bersifat basa dan mengandung mineral reaktif, pupuk fosfat terserap dan mengendap lebih dulu, sehingga yang tersedia bagi akar tinggal sebagian. Di tanah seperti itu, menentukan takaran yang pas menjadi pekerjaan tersendiri, dan itulah yang hendak dijawab percobaan di Kirkuk.

Lima takaran diuji: 0, 25, 50, 75, dan 100 kilogram per hektare, memakai pupuk di-amonium fosfat. Nitrogen dan kalium diberikan sama rata pada semua perlakuan, masing-masing 225 kilogram urea dan 120 kilogram kalium sulfat per hektare, supaya yang dibandingkan benar-benar hanya fosfornya. Dua kultivar dipakai berdampingan, yaitu kultivar Spanyol dan kultivar lokal, sehingga percobaan ini sekaligus menguji apakah jenis benih ikut menentukan hasil.

Lompatan yang tidak bertahap

Hasil percobaannya dibaca dari tujuh ukuran sekaligus, mulai dari tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah bunga, jumlah polong, sampai hasil per tanaman dan hasil total. Ketujuhnya bergerak ke arah yang sama ketika fosfor ditambah, tetapi tidak dengan kecepatan yang sama, dan di situlah letak temuan yang membuat rekomendasinya perlu dibaca ulang.

Yang membuatnya menarik, kenaikan hasilnya tidak berjalan pelan-pelan. Dari tanpa pupuk ke 25 kilogram, hasil per tanaman naik dari 56,33 gram menjadi 79,33 gram. Naik lagi ke 50 kilogram, angkanya 98,67 gram. Lalu di takaran 75 kilogram hasilnya melompat ke 190,00 gram, hampir dua kali lipat takaran sebelumnya.

Pola yang sama terlihat pada tinggi tanaman. Tanpa pupuk, tanaman berhenti di 17,50 sentimeter; pada 25 dan 50 kilogram, tingginya 21,33 dan 24,50 sentimeter. Pada 75 kilogram tanaman mencapai 58,66 sentimeter, dan di 100 kilogram angkanya tetap 58,66 sentimeter. Artinya, tambahan 25 kilogram terakhir tidak lagi menaikkan tinggi tanaman satu sentimeter pun.

Hasil per tanaman melompat di takaran 75 kilogram0 kg per hektare: Hasil per tanaman 56,33 g; 25 kg per hektare: Hasil per tanaman 79,33 g; 50 kg per hektare: Hasil per tanaman 98,67 g; 75 kg per hektare: Hasil per tanaman 190,00 g; 100 kg per hektare: Hasil per tanaman 188,83 g.Hasil per tanaman melompat di takaran 75kilogramRata-rata dua kultivar kacang babi, dalam gram per tanaman50 g100 g150 g200 g00 kg per hektare56,33 g25 kg per hektare79,33 g50 kg per hektare98,67 g75 kg per hektare190,00 g100 kg per hektare188,83 g
Sumber: Aznor Nazim Saleh, Saja Baker Hassan, Ibrahim Ali Ameen, Response of Two Cultivars of Faba Bean (Vicia faba L.) to Different Levels of Phosphorus Fertilizer, Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences 6(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Jumlah daun bergerak serupa: 17,37 helai tanpa pupuk, lalu 21,16 dan 23,20 helai pada dua takaran berikutnya, sebelum melompat ke 41,07 helai di takaran 75 kilogram. Lompatan besar itu selalu terjadi di tempat yang sama, yaitu antara 50 dan 75 kilogram per hektare.

Di mana takaran tertinggi kalah

Takaran 100 kilogram unggul pada dua ukuran saja: cabangnya 6,83 per tanaman, lebih banyak daripada 6,16 pada takaran 75 kilogram, sementara tinggi tanamannya sama persis. Pada empat ukuran lain, takaran 75 kilogram justru lebih baik. Daunnya 41,07 berbanding 40,89 helai, bunganya 31,33 berbanding 30,33 kuntum, polongnya 28,33 berbanding 27,66 butir, dan hasil per tanamannya 190,00 berbanding 188,83 gram. Selisihnya tipis, tetapi arahnya konsisten pada keempatnya.

Dua takaran teratas nyaris tidak berbedaTinggi tanaman: 75 kg per hektare 58,66 cm, 100 kg per hektare 58,66 cm; Jumlah cabang: 75 kg per hektare 6,16, 100 kg per hektare 6,83; Jumlah daun: 75 kg per hektare 41,07, 100 kg per hektare 40,89; Jumlah bunga: 75 kg per hektare 31,33, 100 kg per hektare 30,33; Jumlah polong: 75 kg per hektare 28,33, 100 kg per hektare 27,66; Hasil per tanaman: 75 kg per hektare 190,00 g, 100 kg per hektare 188,83 g.Dua takaran teratas nyaris tidak berbedaRata-rata gabungan kultivar Spanyol dan kultivar lokal75 kg per hektare100 kg per hektareTinggi tanaman58,66 cm58,66 cmJumlah cabang6,166,83Jumlah daun41,0740,89Jumlah bunga31,3330,33Jumlah polong28,3327,66Hasil per tanaman190,00 g188,83 g
Sumber: Aznor Nazim Saleh, Saja Baker Hassan, Ibrahim Ali Ameen, Response of Two Cultivars of Faba Bean (Vicia faba L.) to Different Levels of Phosphorus Fertilizer, Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences 6(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Karena itu kesimpulan yang ditulis penulisnya perlu dibaca hati-hati. Mereka menyatakan pemupukan fosfor “particularly at rates of 75 and 100 kg ha⁻¹” meningkatkan hampir semua sifat yang diamati, tanpa menyebut salah satu di antaranya lebih baik. Dalam tabel, keduanya memang berada di kelompok huruf yang sama, artinya bedanya tidak dianggap nyata.

Dua kultivar, satu hasil

Antarkultivar kacang babi sebenarnya ada banyak perbedaan bawaan, mulai dari ukuran daun, panjang polong, sampai bobot biji, dan perbedaan itu berpengaruh langsung pada hasil di lahan. Karena itu percobaan semacam ini biasanya dipakai untuk memilih kultivar yang paling cocok dengan keadaan setempat.

Perbandingan antarkultivar sendiri berakhir tanpa pemenang. Pada seluruh sifat yang diukur, kultivar Spanyol dan kultivar lokal tidak berbeda nyata, baik pada tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah bunga, jumlah polong, maupun hasil per tanaman. Beda baru muncul ketika kultivar dipasangkan dengan takaran tertentu: kultivar Spanyol pada takaran 100 kilogram memberi tanaman tertinggi, 63,00 sentimeter, sedangkan kultivar lokal pada takaran 75 kilogram memberi hasil per tanaman terbanyak, 193,67 gram.

Bagi petani, pasangan itulah yang berarti. Yang menentukan bukan sekadar benihnya atau pupuknya, melainkan kombinasi keduanya pada tanah yang mereka kerjakan. Dalam percobaan ini, kultivar yang paling jangkung ternyata bukan kultivar yang paling banyak menghasilkan biji, keduanya berada di takaran pupuk yang berbeda, dan keduanya sama-sama gagal tumbuh ketika fosfor tidak diberikan sama sekali.

Angka yang tidak bisa dipindah begitu saja

Perbedaan terbesar justru berada di ujung bawah. Tanaman tanpa pupuk fosfor hanya menghasilkan 56,33 gram per tanaman, kurang dari sepertiga hasil di takaran 75 kilogram, dan hanya menumbuhkan 1,83 cabang dibanding 6,16 cabang. Pada tanah basa seperti di Kirkuk, tanpa tambahan fosfor tanaman memang tidak punya cukup bahan untuk tumbuh.

Semua angka ini berasal dari satu musim di satu tempat, dan itu batas yang perlu dipegang pembaca. Tanah di Kirkuk bersifat basa, dan justru di tanah seperti itu fosfor lebih banyak terikat sebelum sampai ke akar. Di tanah masam, yang umum di banyak sentra pertanian Indonesia, takaran yang pas belum tentu sama.

Kacang babi sendiri bukan tanaman yang lazim ditanam petani Indonesia, dan percobaannya hanya berjalan satu musim dingin. Yang bisa dipetik pembaca di sini bukan angka 75 kilogramnya, melainkan pola yang ditunjukkannya: ada titik tempat penambahan pupuk berhenti membayar dirinya sendiri, dan titik itu perlu dicari lewat percobaan, bukan diasumsikan dari harga pupuk atau kebiasaan.

Temuan serupa pernah muncul pada tanaman lain. Percobaan tentang dosis pupuk ZA yang justru menurunkan bobot umbi bawang merah dan tentang layu fusarium pisang yang makin parah akibat nitrogen berlebih menunjuk arah yang sama, sementara percobaan rosela di Irak memperlihatkan bagaimana tanah setempat ikut menentukan hasil.

Dua kalimat yang bertabrakan

Ada satu hal yang membuat naskah ini sulit diulang orang lain. Pada abstraknya, pupuk fosfor disebut diberikan dalam dua kali pemberian, sedangkan pada bagian pelaksanaannya disebut diberikan sekali saja setelah tanam. Dua keterangan itu tidak bisa benar bersamaan, dan naskahnya tidak memilih salah satu.

Angka hasil totalnya juga menyimpan teka-teki. Pada abstraknya disebut kombinasi kultivar lokal dengan takaran 50 kilogram yang paling unggul dalam hasil total, yaitu 30,00 kilogram per seribu meter persegi, padahal pada hasil per tanaman takaran 50 kilogram justru berada jauh di bawah dua takaran teratas. Tabel untuk hasil total itu sendiri tidak dimuat di badan naskahnya.

Keterangan tempatnya juga tidak konsisten. Percobaannya disebut berlangsung di lahan milik pribadi di Kirkuk, tetapi benihnya disebut ditanam dalam pot, tiga biji per pot, sementara hasil totalnya dilaporkan dalam kilogram per seribu meter persegi. Pembaca tidak bisa memastikan apakah angka hasil itu datang dari petak lahan atau dari pot.

Ada pula nama yang tidak dikenal muncul di kepala tiap halaman naskah, berbeda dari ketiga penulisnya. Kekeliruan semacam itu tidak mengubah angka di dalam tabel, tetapi menandakan naskah ini belum diperiksa serapat yang seharusnya.

Jadi kembali ke kejanggalan di awal tadi: takaran tertinggi tidak otomatis terbaik. Pada percobaan ini, tambahan 25 kilogram fosfor di atas takaran 75 kilogram hanya menambah cabang, sambil mengurangi bunga, polong, dan hasil per tanaman, walau selisihnya tidak dianggap nyata oleh uji yang mereka pakai. Bagi petani yang membeli pupuk dengan uang sendiri, selisih yang tidak nyata itu tetap berarti, karena 25 kilogram terakhir tetap harus dibayar.

Bagikan

Baca Juga

Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Pupuk Kandang Ayam 20 Ton Beri Umbi Bawang Merah Terberat
Calon Semangka Tetraploid Muncul dari Rendaman Benih Kolkisin
Insektisida Nabati dari Serai Wangi Hambat Makan Ulat Grayak
Bibit Gambir Cubadak Tumbuh Terbaik di Bawah Naungan 60 Persen
Efisiensi Biaya Produksi Kedelai Lekat dengan Irigasi