- Bibit di bawah naungan 60 persen tercatat paling tinggi, 25,80 sentimeter pada umur 12 minggu.
- Naungan 70 persen unggul pada luas daun dengan 48,45 sentimeter persegi.
- Bobot segar akar tertinggi justru tercatat pada naungan 40 persen, yaitu 4,33 gram.
- Kerapatan stomata dan kandungan klorofil tidak berbeda nyata antarperlakuan.
- Data berkala dan angka prolin yang disebut di metode tidak ditampilkan dalam paper.
Daftar Isi
Cekricek.id — Bibit gambir paling baik tumbuh di bawah naungan 60 persen. Itu kesimpulan uji empat tingkat paranet pada gambir varietas Cubadak di kebun percobaan Universitas Andalas, Padang. Bibit di bawah naungan itu tercatat paling tinggi, 25,80 sentimeter pada umur 12 minggu setelah tanam.
Penelitian ini dikerjakan Azri Gilang Ramadhan Daulay, Aprizal Zainal, Benni Satria, dan Rangga Arnelio. Keempatnya berasal dari Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Aprizal Zainal tercatat sebagai penulis korespondensi, dan tujuan penelitiannya adalah mengetahui pengaruh tingkat naungan terhadap pertumbuhan vegetatif bibit gambir varietas Cubadak.
Hasilnya terbit dengan judul Pengaruh Tingkat Intensitas Cahaya Matahari Melalui Naungan Terhadap Pertumbuhan Bibit Gambir (Uncaria gambir Roxb) Varietas Cubadak. Artikel itu dimuat Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 8 Nomor 1, April 2026, halaman 17–23. Naskahnya diterima pada 28 Agustus 2025 dan terbit pada 30 April 2026.
Cubadak disebut sebagai varietas unggul. Kandungan flavonoid dan taninnya lebih tinggi, dan ketahanannya terhadap hama serta penyakit lebih baik. Kendalanya ada di pembibitan, sebab bibit yang tumbuh tidak seragam dapat menurunkan produktivitas dan mutu hasil pada fase berikutnya.
Para penulis juga mencatat posisi komoditas ini. Indonesia disebut sebagai penghasil gambir terbesar di dunia, dengan kontribusi ekspor 80 persen dari kebutuhan pasar global. Sumatera Barat menjadi sentra utama, dengan produksi 13.983 ton pada 2022.
Empat Tingkat Paranet
Percobaan berlangsung pada Agustus hingga November 2024. Lokasinya Kebun Percobaan Fakultas Pertanian dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Andalas, Kota Padang, pada ketinggian sekitar 335 meter di atas permukaan laut. Alat ukurnya antara lain mistar, timbangan analitik, oven, mikroskop, leaf area meter, dan spektrofotometer.
Bahannya bibit gambir Cubadak berumur dua bulan dari Siguntur, Pesisir Selatan. Bibit ditanam di polybag 30 kali 30 sentimeter berisi tanah Andosol dan pupuk kandang sapi. Pupuk NPK 5 gram per liter dikocorkan pada umur 4 dan 6 minggu setelah tanam.
Naungan dibuat dari paranet dengan empat tingkat, yaitu 40, 50, 60, dan 70 persen. Tiap perlakuan diulang tiga kali sehingga ada 12 satuan percobaan. Satu satuan berisi 12 tanaman, jadi totalnya 144 tanaman.
Delapan tanaman per satuan dipakai sebagai sampel destruktif. Yang diukur ada delapan, yaitu tinggi, jumlah daun, luas daun, panjang akar, bobot segar akar, bobot kering akar, kerapatan stomata, dan kandungan klorofil. Data diuji dengan uji F, lalu uji Duncan pada taraf 5 persen.
Bibit Gambir Paling Tinggi
Tinggi bibit gambir pada umur 12 minggu berbeda nyata antarperlakuan. Naungan 60 persen menghasilkan 25,80 sentimeter dan naungan 70 persen 24,24 sentimeter. Naungan 50 persen hanya 20,51 sentimeter, sedangkan naungan 40 persen 18,92 sentimeter.
Menurut uji Duncan, naungan 60 dan 70 persen tidak berbeda nyata satu sama lain. Keduanya lebih baik secara signifikan daripada naungan 40 dan 50 persen. Dua perlakuan yang lebih terang itu juga tidak berbeda nyata satu sama lain.
Penulis menduga penyebabnya adalah berkurangnya stres cahaya langsung. Cahaya yang terlalu tinggi, tulis mereka, dapat memicu stres fotooksidatif akibat energi cahaya berlebih yang tidak termanfaatkan dalam fotosintesis. Naungan sedang juga disebut menjaga kelembapan tanah dan suhu mikro tetap stabil.
Ada pula penjelasan kedua. Pada naungan 60 dan 70 persen, tanaman mungkin memanjangkan batang untuk mencari cahaya yang cukup, sehingga tingginya bertambah. Paper menyebutnya etiolasi adaptif dan menilai morfologi batang gambir bersifat plastis terhadap variasi cahaya.
Baca juga Kentang Cingkariang, Planlet Tumbuh tapi Akarnya Menyusut
Daun dan Akar
Jumlah daun bibit gambir tidak berbeda nyata. Secara angka, naungan 60 persen tertinggi dengan rata-rata 12,83 helai. Berikutnya naungan 70 persen dengan 12,00 helai, naungan 40 persen 11,67 helai, dan naungan 50 persen 10,67 helai.
Luas daun menunjukkan pola lain. Naungan 70 persen menghasilkan 48,45 sentimeter persegi, berbeda nyata dari tiga perlakuan lainnya. Naungan 40 persen mencatat 28,18, naungan 50 persen 30,51, dan naungan 60 persen justru terendah dengan 25,50 sentimeter persegi.
Penulis membaca daun yang melebar pada naungan 70 persen sebagai adaptasi terhadap cahaya terbatas. Namun mereka juga mencatat komprominya. Daun yang lebih tipis dan luas lebih rentan kehilangan air, dan kekuatan strukturalnya menurun.
Di akar, arahnya terbalik. Panjang akar tidak berbeda nyata, tetapi naungan 40 persen menghasilkan akar terpanjang, 32,93 sentimeter. Angkanya turun menjadi 31,47 pada naungan 50 persen, 27,52 pada naungan 60 persen, dan 26,38 sentimeter pada naungan 70 persen.
Bobot segar akar berbeda nyata antarperlakuan. Naungan 40 persen tertinggi dengan 4,33 gram, disusul naungan 60 persen dengan 3,27 gram. Naungan 50 persen mencatat 3,08 gram, dan naungan 70 persen paling rendah dengan 2,53 gram.

Bobot kering akar tidak berbeda nyata, berkisar 0,63 hingga 1,33 gram. Penulis menduga selisih bobot segar yang tidak diikuti bobot kering berasal dari air yang tertimbun di jaringan akar. Mereka menyebutnya respons osmotik, terutama pada naungan sedang.
Stomata dan Klorofil
Kerapatan stomata dan kandungan klorofil sama-sama tidak berbeda nyata. Stomata terpadat ada pada naungan 40 persen, yaitu 310,83 sel per milimeter persegi. Angka terendah ada pada naungan 60 persen, yaitu 280,26 sel per milimeter persegi.
Klorofil bergerak ke arah sebaliknya. Nilainya naik seiring naungan yang makin rapat, dari 14,28 miligram per gram daun pada naungan 40 persen menjadi 19,35 pada naungan 70 persen. Naungan 60 persen mencatat 18,40 miligram per gram daun.
Di bawah mikroskop, daun dari naungan 40 persen tampak punya stomata lebih padat daripada daun dari naungan 60 dan 70 persen. Penulis mengaitkan stomata yang lebih sedikit pada naungan tinggi dengan upaya tanaman mengurangi kehilangan air lewat transpirasi.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Kompromi Enam Puluh Persen
Naungan 70 persen unggul pada klorofil dan luas daun. Kandungan klorofil tertingginya juga disebut konsisten muncul pada minggu ke-8 dan ke-12. Meski begitu, penulis tidak memilih naungan 70 persen sebagai rekomendasi akhir untuk tahap pembibitan.
“Namun, dari sudut pandang agronomi, kandungan klorofil yang sangat tinggi tersebut tidak selalu berkorelasi langsung dengan pertumbuhan biomassa atau performa agronomis lainnya,” tulis Azri Gilang Ramadhan Daulay dan rekan-rekannya dalam pembahasan.
Pilihan lalu jatuh pada naungan 60 persen. “Perlakuan naungan 60% menjadi titik kompromi terbaik,” tulis mereka. Alasannya, perlakuan ini dinilai memberi keseimbangan antara akumulasi biomassa, jumlah daun, dan kandungan klorofil yang cukup tinggi.
Kesimpulan paper merekomendasikan naungan 60 persen sebagai kondisi optimal bagi bibit gambir Cubadak pada tahap pembibitan. Dasar yang disebut adalah peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot segar akar. Rekomendasi yang sama tertulis di abstrak berbahasa Inggris.
Angka yang Tidak Sejalan
Dasar kesimpulan itu tidak seluruhnya ditopang tabel paper sendiri. Jumlah daun, salah satu alasan yang disebut, tidak berbeda nyata antarperlakuan. Keunggulan naungan 60 persen pada ukuran itu hanya selisih angka, 12,83 helai berbanding 12,00 helai pada naungan 70 persen.
Bobot segar akar juga tidak menempatkan naungan 60 persen di puncak. Tabel 2 mencatat naungan 40 persen tertinggi dengan 4,33 gram berhuruf a, sedangkan naungan 60 persen 3,27 gram berhuruf ab. Menurut keterangan tabel, huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata.
Teks pembahasan justru menyebut naungan 40 dan 60 persen berbeda nyata dari naungan 50 dan 70 persen. Padahal naungan 60 persen berbagi huruf b dengan naungan 50 dan 70 persen. Tinggi tanaman pun tidak memisahkan naungan 60 dari 70 persen, karena keduanya berhuruf a.
Soal stomata, paper memuat dua pernyataan berbeda. Satu bagian menyebut kerapatan terbaik ada pada naungan 40 persen. Bagian akhir pembahasan menyebut hasil terbaik pada minggu ke-12 ada pada naungan 60 dan 70 persen.
Paper juga menyebut nilai stomata masih masuk kategori sedang, yakni 300 hingga 500 sel per milimeter persegi. Padahal tiga dari empat nilainya di bawah 300. Di Tabel 3, klorofil naungan 50 persen tertulis 1492 tanpa tanda koma.
Baca juga Bupati Pesisir Selatan Dukung Hilirisasi Gambir Lewat Teknologi Ekstraksi UHAMKA
Pertanyaan yang Tersisa
Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Yang tercatat, seluruh angka dalam tabel berasal dari bibit gambir berumur 12 minggu setelah tanam, di satu lokasi kebun percobaan di Padang. Uji ini juga hanya memakai satu varietas, yaitu Cubadak.
Metode menyebut pengamatan berkala setiap dua minggu, sejak minggu ke-4 hingga ke-12. Kandungan prolin juga disebut dalam skema pengamatan, bersama klorofil dan kerapatan stomata. Namun data berkala dan angka prolin itu tidak ditampilkan dalam paper.
Pembahasan juga menyebut naungan 50 persen sebagai contoh intensitas cahaya yang terlalu tinggi. Padahal paper sendiri menyebut naungan 40 persen sebagai perlakuan dengan intensitas cahaya lebih tinggi. Naungan 40 persen itu pula yang mencatat bobot segar akar tertinggi.
Penelitian ini didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui LPPM Universitas Andalas. Skemanya Hibah Program Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi tahun 2025, dengan nomor kontrak induk 060/C3/DT.05.00/PL/2025.
Rekomendasinya tetap satu: naungan 60 persen untuk bibit gambir Cubadak di pembibitan.















