Industri Gambia Tumbuh, Produksi Pangannya Justru Turun

A A

Ilustrasi petani memanen di ladang, pekerjaan yang di Gambia bersaing dengan perluasan industri. [Foto: Pexels]

  • Kenaikan satu persen industri di Gambia menurunkan indeks produksi pangan sekitar 1,121 persen.
  • Kenaikan satu persen pendapatan per kapita hanya menaikkan indeks itu sebesar 0,453 persen.
  • Penambahan luas lahan pertanian berkaitan dengan turunnya produksi pangan, bukan naiknya.
  • Industri Gambia bertumpu pada pariwisata, pengolahan kacang tanah, dan konstruksi.
  • Rentang data disebut 1970 sampai 2023, tetapi tabelnya mencatat 58 pengamatan.
Daftar Isi
  1. Satu persen industri menekan pangan lebih dari satu persen
  2. Angka Gambia lebih tajam daripada angka Indonesia
  3. Lahan bertambah, hasil tidak ikut bertambah
  4. Pendapatan naik, tetapi tidak semuanya sampai ke ladang
  5. Dua hal yang perlu dibaca dengan hati-hati

Pendapatan rata-rata orang Gambia naik sepanjang lima dasawarsa terakhir, dan industri Gambia pun ikut bertambah besar pada periode yang sama. Yang pertama menaikkan produksi pangan negeri itu, yang kedua justru menurunkannya. Keduanya tumbuh berdampingan, tetapi tarikannya berlawanan arah, dan tarikan dari sisi industri terbukti lebih kuat daripada dorongan dari sisi pendapatan. Itulah kesimpulan sebuah penelitian ekonomi terbaru atas negeri kecil di pesisir Afrika Barat tersebut, yang menelusuri angka tahunannya selama lebih dari setengah abad.

Temuan itu dilaporkan Ebrima Khan dan rekan dari Universitas Islam Internasional Indonesia, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan European University Cyprus dalam artikel Industrialization, Economic Growth, and Food Security in The Gambia: An ARDL Approach di Jurnal Ekonomi Pembangunan, terbitan 2026. Yang mereka telusuri adalah data tahunan Gambia sepanjang 1970 sampai 2023, dengan produksi pangan diwakili indeks produksi pangan dan kemajuan industri diwakili nilai tambah sektor industrinya.

Satu pendorong, dua penahan produksi panganIndustrialisasi: Pengaruh jangka panjang −1,121; Pendapatan per kapita: Pengaruh jangka panjang 0,453; Luas lahan pertanian: Pengaruh jangka panjang −0,879.Satu pendorong, dua penahan produksi panganPerubahan indeks produksi pangan Gambia bila tiap faktornaik satu persen−1,2−0,8−0,40,40,81,20Industrialisasi−1,121Pendapatan per kapita+0,453Luas lahan pertanian−0,879
Sumber: Ebrima Khan, Mian Muhammad Ajmal Khan, Bakary Manneh, dan Saikou Darboe, Industrialization, Economic Growth, and Food Security in The Gambia: An ARDL Approach, Jurnal Ekonomi Pembangunan 27(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Satu persen industri menekan pangan lebih dari satu persen

Angka intinya ada dua dan keduanya perlu dibaca berdampingan. Setiap kenaikan satu persen nilai tambah industri diikuti penurunan indeks produksi pangan sekitar 1,121 persen, sementara setiap kenaikan satu persen pendapatan per kapita hanya diikuti kenaikan indeks itu sebesar 0,453 persen. Dorongan dari sisi pendapatan memang nyata dan tidak bisa diabaikan, tetapi besarnya kurang dari separuh tekanan yang datang dari sisi industri pada rentang waktu yang sama.

Selisih antara kedua angka itulah yang membuat temuannya berarti. Kalau keduanya seimbang, pertumbuhan industri dan pertumbuhan pendapatan bisa dianggap saling menutup dan persoalannya selesai dengan sendirinya. Karena tidak seimbang, pertumbuhan ekonomi yang ditopang industri di Gambia justru meninggalkan produksi pangan pada posisi lebih rendah daripada sebelumnya, meskipun pendapatan penduduknya bergerak naik pada waktu yang bersamaan.

Peneliti membaca hasil ini sebagai perebutan sumber daya, bukan kebetulan angka. Industri dan pertanian di Gambia memperebutkan tiga hal yang persis sama: lahan yang bisa dipakai, tenaga kerja yang tersedia, dan perhatian anggaran pemerintah. Ketika satu pihak memperoleh tambahan, pihak lain kehilangan sebagian. Sektor industri negeri itu sendiri bertumpu pada tiga tumpuan yang sempit, yaitu pariwisata, pengolahan kacang tanah, dan konstruksi.

Kesempitan sektor industri itu justru memperbesar akibatnya, bukan memperkecil. Pada ekonomi besar dan beragam, tambahan satu pabrik terserap tanpa banyak mengubah apa pun di sektor lain. Pada ekonomi kecil dan kurang beragam seperti Gambia, perluasan industri sekecil apa pun langsung membebani lahan dan tenaga kerja yang sebelumnya tersedia untuk memproduksi pangan, karena tidak ada cadangan yang bisa dipakai menutup kekurangannya.

Angka Gambia lebih tajam daripada angka Indonesia

Peneliti membandingkan angka -1,121 miliknya dengan perkiraan serupa yang pernah dilaporkan untuk Indonesia, dan angka Gambia jauh lebih besar. Perbandingan itu dipakai untuk menunjukkan bahwa persoalannya bukan industrialisasi sebagai gagasan, melainkan industrialisasi yang berjalan di ekonomi dengan lahan sempit dan pilihan sektor yang sedikit. Negeri dengan struktur berbeda bisa saja mendapatkan hasil yang berbeda pula dari kebijakan yang sama.

Temuan ini berlawanan dengan dugaan yang lama dipegang dalam ekonomi pembangunan, bahwa kemajuan industri akan menetes ke pertanian lewat teknologi dan prasarana. Di Gambia yang terjadi justru kebalikannya, dan penelitian di Nigeria serta di kawasan Afrika sub-Sahara memberi arah yang sama. Gagasan lama itu tidak gugur seluruhnya, tetapi ia jelas tidak berlaku di semua bentuk ekonomi.

Kaitan antarangka di dalam data memperkuat gambaran tersebut. Industrialisasi dan pendapatan per kapita bergerak sangat rapat satu sama lain, dengan koefisien korelasi 0,741, sehingga sulit dipisahkan dalam pengamatan sehari-hari. Sebaliknya, indeks produksi pangan hanya berkaitan lemah dengan keduanya: negatif terhadap industrialisasi dan positif terhadap pendapatan, masing-masing pada tingkat yang jauh lebih rendah.

Gambaran sebaran datanya juga memberi petunjuk. Pendapatan per kapita adalah peubah yang paling bergejolak sepanjang periode pengamatan, sedangkan luas lahan pertanian nyaris tidak bergerak sama sekali. Satu sisi berubah cepat dan satu sisi hampir beku, sementara produksi pangan berayun di antara masa mandek dan masa naik tipis tanpa pernah melonjak jauh.

Yang menaikkan dan yang menurunkanFaktor: Menaikkan pangan Pendapatan per kapita, Menurunkan pangan Industrialisasi; Besar pengaruh: Menaikkan pangan +0,453, Menurunkan pangan −1,121; Peringkat pengaruh: Menaikkan pangan Ketiga, Menurunkan pangan Pertama; Arah kaitan dengan pangan: Menaikkan pangan Searah, Menurunkan pangan Berlawanan.Yang menaikkan dan yang menurunkanDua sisi hasil penelitian atas data Gambia 1970 sampai 2023Menaikkan panganMenurunkan panganFaktorPendapatan per kapitaIndustrialisasiBesar pengaruh+0,453−1,121Peringkat pengaruhKetigaPertamaArah kaitan dengan panganSearahBerlawanan
Sumber: Ebrima Khan, Mian Muhammad Ajmal Khan, Bakary Manneh, dan Saikou Darboe, Industrialization, Economic Growth, and Food Security in The Gambia: An ARDL Approach, Jurnal Ekonomi Pembangunan 27(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Lahan bertambah, hasil tidak ikut bertambah

Faktor ketiga yang diuji adalah luas lahan pertanian, dan hasilnya berlawanan dengan dugaan umum. Penambahan luas lahan justru berkaitan dengan turunnya indeks produksi pangan sebesar 0,879 persen, meskipun kekuatan buktinya lebih lemah daripada dua angka sebelumnya. Peneliti menandai sendiri kelemahan itu, sehingga angka lahan sebaiknya dibaca sebagai petunjuk arah, bukan sebagai ukuran yang pasti.

Penjelasannya terletak pada mutu lahan, bukan pada jumlahnya. Lahan pertanian Gambia sebagian besar mengandalkan air hujan, terpecah-pecah dalam bidang-bidang kecil, dan makin terancam oleh masuknya air asin serta penurunan mutu tanah. Perluasan lahan di negeri itu umumnya terjadi di tanah berkualitas rendah atau tanah yang sudah rusak, sehingga hektare tambahan tidak membawa tambahan hasil yang sepadan.

Dua sisi persoalan lahan karena itu tidak setara. Menambah hektare relatif mudah dan memang sudah dilakukan, sedangkan membuat hektare yang sudah ada benar-benar produktif menuntut pengelolaan air, pemulihan tanah, dan akses pembiayaan yang belum tersedia. Penelitian ini menolak perluasan lahan sebagai jalan keluar dan mengarahkan kebijakan pada mutu penggunaannya.

Urutan kekuatan ketiga faktor itulah yang dipakai penulisnya untuk menyusun saran. Industrialisasi memberi pengaruh terbesar, disusul luas lahan pertanian, lalu pendapatan per kapita. Dengan urutan seperti itu, penataan arah industri menjadi hal yang paling mendesak, perbaikan mutu lahan menyusul di belakangnya, sementara kebijakan menaikkan pendapatan justru berada di urutan terakhir.

Pendapatan naik, tetapi tidak semuanya sampai ke ladang

Sisi pendapatan menyimpan catatannya sendiri. Kenaikan pendapatan per kapita memang menaikkan produksi pangan dalam jangka panjang, tetapi kelenturan yang terhitung di Gambia lebih rendah daripada yang dilaporkan untuk Sudan maupun Ghana. Dengan kata lain, uang yang masuk ke rumah tangga di Gambia lebih sedikit yang berubah menjadi modal pertanian dibandingkan dengan yang terjadi di kedua negeri pembanding itu.

Peneliti menyebut tiga penghambatnya: prasarana pedesaan yang terbatas, akses kredit pertanian yang sempit, dan besarnya pertanian subsisten yang hasilnya dimakan sendiri. Ketiganya bekerja seperti saringan bertingkat, sehingga sebagian besar kenaikan pendapatan berhenti di tengah jalan sebelum sempat menjadi investasi yang benar-benar menambah hasil panen tahun berikutnya.

Dalam jangka pendek gambarannya berubah lagi. Hampir semua faktor kehilangan pengaruhnya, dan perubahan pendapatan justru berkaitan negatif dengan produksi pangan pada tahun-tahun terdekat. Penyesuaiannya sendiri berlangsung cepat, sekitar 56 persen ketimpangan terhapus dalam satu periode, sehingga guncangan tidak bertahan lama meskipun arah jangka panjangnya tetap.

Dua hal yang perlu dibaca dengan hati-hati

Ada dua hal yang membatasi cara pembaca memakai angka-angka ini. Pertama, yang diukur adalah indeks produksi pangan, bukan berapa banyak orang Gambia yang benar-benar cukup makan. Produksi yang naik belum tentu berarti piring yang terisi, karena pangan bisa diekspor, rusak di perjalanan, atau tetap berada di luar jangkauan harga sebagian penduduk.

Kedua, ada keterangan yang tidak berpadanan di dalam naskahnya sendiri. Rentang datanya disebut 1970 sampai 2023, yaitu 54 tahun, sedangkan tabel ringkasannya mencatat 58 pengamatan untuk setiap peubah. Selisih empat tahun itu tidak dijelaskan di bagian mana pun, dan pembaca sebaiknya menahan diri untuk tidak menafsirkan angka-angkanya terlalu jauh sampai ke satuan terkecil.

Penulisnya juga mencatat apa yang belum masuk hitungan: perubahan iklim, keterbukaan perdagangan, dan produktivitas pertanian. Selain itu, industri di sini dihitung sebagai satu gumpalan, padahal pabrik pengolahan hasil panen dan proyek konstruksi tidak mungkin menekan pangan dengan cara dan besaran yang sama. Pemisahan keduanya disebut sebagai pekerjaan yang masih terbuka.

Persoalan antara lahan, hasil, dan kebijakan pernah dibaca lewat takaran pupuk fosfor yang berhenti menambah hasil, sementara nasib komunitas yang hidupnya bergantung pada tanah tampak pada perubahan yang dialami penganut Mappurondo, dan cara satu kegiatan tumbuh di bawah aturan penguasa terlihat pada sepak bola Minangkabau pada masa kolonial.

Yang ditawarkan penelitian ini karena itu bukan pilihan antara industri dan pangan, melainkan pilihan tentang industri yang mana. Pabrik yang mengolah hasil panen menyambungkan dirinya dengan pertanian dan ikut menaikkan nilainya, sedangkan pabrik yang hanya memakai lahan dan tenaga kerjanya bersaing langsung dengannya. Data Gambia sampai 2023 memperlihatkan jenis yang kedua masih lebih menonjol daripada yang pertama.

Bagikan

Baca Juga

Pupuk Fosfor 75 Kilogram Cukup untuk Kacang Babi
Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Bea Masuk Barang Digital Berpotensi Rp18,58 Miliar per Tahun
Penyaluran Zakat di Jawa Barat Masih Acak Antarwilayah
Pekerja Migran dari Jawa Naik Saat Upah Minimum Naik