Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang

A A

Halaman naskah Hikayat Amir Hamzah beraksara Arab, memperlihatkan kertas yang menua, tinta hitam, dan penanda rubrikasi merah sebagaimana lazim pada naskah hikayat. [Foto: Wikimedia Commons/Tidak diketahui (domain publik)]

Cekricek.id — Sastra klasik Nusantara sering diperlakukan seolah sudah selesai diselamatkan, cukup dipindai halaman demi halaman, lalu diletakkan di server perpustakaan asing yang rapi dan bisa diakses siapa saja. Anggapan itu keliru sejak awal. Naskah yang sudah dipindai dengan resolusi tinggi tetap tidak terbaca kalau aksaranya tak dikenali, bahasanya arkais, dan pewaris sahnya sendiri tidak memegang perkakas untuk membukanya. Digitalisasi memindahkan naskah dari lemari besi ke layar, tetapi ia tidak dengan sendirinya memindahkan isi naskah itu ke dalam kepala orang yang seharusnya mewarisinya. Yang berpindah cuma wujudnya; kuncinya tetap tertinggal di tempat lain, pada keahlian yang jumlah pemiliknya di negeri ini bisa dihitung.

Kesenjangan itulah yang dikerjakan Tanya Rizka Amalia dan Hasanuddin WS dari Universitas Negeri Padang lewat artikel Hikayat Sultan Mughul Mengajarkan Anaknya: Deskripsi Manuskrip, Alih Aksara, dan Alih Bahasa dalam Pelestarian Sastra Klasik, yang terbit di jurnal Persona volume 5 nomor 1 tahun 2026, halaman 12–22. Keduanya mengambil satu naskah digital koleksi Universitas Leiden bernomor Or. 1728, ditulis tangan dengan aksara Jawi atau Arab-Melayu dalam bahasa Melayu klasik, lalu mengerjakannya melalui tiga tahap kerja filologi yang paling mendasar: mendeskripsikan wujud fisiknya, mengalihaksarakannya ke huruf Latin, dan mengalihbahasakannya ke bahasa Indonesia yang tunduk pada standar EYD V serta KBBI.

Objek yang dipilih tidak besar, dan justru di situ letak menariknya. Naskah ini bukan epos kerajaan yang termasyhur, bukan pula kitab hukum yang beredar dalam banyak salinan. Ia hikayat tipis berisi percakapan yang hampir satu arah antara seorang ayah dan seorang anak: Sultan Mughul yang bernama Raja Astman menasihati putranya, Burhan Al Arifin, tentang tata krama dalam berperilaku, menjauhi perbuatan maksiat, kepemimpinan, dan kedermawanan — bekal yang dianggap perlu sebelum sang anak menggantikannya di takhta. Sebuah teks yang, diukur dengan kacamata sejarah besar, nyaris tidak berbunyi — dan barangkali karena itulah ia bertahan lama di rak tanpa ada yang merasa perlu membukanya.

Daftar Isi
  1. Warisan yang Terkunci di dalam Aksaranya Sendiri
  2. Delapan Belas Cara Menatap Sehelai Kertas
  3. Cermin Raja yang Nyaris Menjadi Data Mati

Warisan yang Terkunci di dalam Aksaranya Sendiri

Amalia dan Hasanuddin WS memulai dari keluhan yang sudah sering terdengar namun jarang dirinci: naskah Nusantara berada jauh dari pewarisnya. Sebagian besar berpindah tangan pada masa kolonial dan kini tersimpan di perpustakaan serta museum luar negeri, dengan Universitas Leiden sebagai salah satu pusat penyimpanan terbesar. Bagi peneliti maupun pembaca umum di Indonesia, menurut keduanya, jarak geografis itu menciptakan jurang yang dalam; menyentuh, membaca, atau sekadar melihat fisik asli naskah menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir akademisi dengan pendanaan kuat. Digitalisasi memang mulai berjalan, tetapi keterbatasan infrastruktur digital dan kurangnya sosialisasi membuat naskah-naskah itu tetap terasa jauh dari jangkauan publik.

Namun kendala yang lebih keras justru bukan soal jarak. Mayoritas naskah Nusantara ditulis dengan aksara dan bahasa yang tidak lagi akrab di mata generasi sekarang — Jawi, pegon, hanacaraka, hingga rencong — sehingga, dalam rumusan kedua penulis, aksara-aksara itu berubah menjadi kode rahasia yang sulit dipecahkan tanpa keahlian khusus. Bahasa Melayu klasik dengan kosakata arkais menambah satu lapis dinding lagi bagi generasi yang mayoritas hanya menguasai aksara Latin dan bahasa Indonesia modern. Yang tersisa adalah keadaan ganjil: perpustakaan yang penuh, pembaca yang tidak bisa masuk, dan pengetahuan yang secara teknis tersedia namun secara praktis hilang.

Di situlah persoalannya diringkas dengan getir. “Akibatnya, terjadi paradoks kebudayaan: kita memiliki perpustakaan besar berisi kearifan masa lalu, namun kita kehilangan kunci untuk membacanya,” tulis Tanya Rizka Amalia dan Hasanuddin WS, peneliti filologi Universitas Negeri Padang, pada bagian pendahuluan artikel itu. Kalimat tersebut memindahkan letak masalah. Yang terancam punah bukan kertasnya, sebab kertas masih bisa dirawat, dipindai, dan disimpan rangkap; yang terancam adalah kemampuan membaca, dan kemampuan itu tidak bisa diselamatkan oleh teknologi penyimpanan mana pun. Pemindai beresolusi berapa pun hanya menggandakan gambar dari sesuatu yang tetap bisu, sementara jumlah orang yang sanggup menerjemahkan gambar itu menjadi kalimat justru menyusut dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.

Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno

Delapan Belas Cara Menatap Sehelai Kertas

Kerja penyelamatan semacam itu, dalam filologi, dimulai dari hal yang tampak remeh: mengukur. Naskah Or. 1728 dideskripsikan melalui delapan belas aspek kodikologi, dan hasilnya sebuah potret yang mengejutkan detailnya. Katalog Leiden mencatat ukuran 17,5 sentimeter kali 10 sentimeter dan tebal 46 halaman, sementara berkas PDF yang diunduh peneliti memuat 54 halaman, delapan di antaranya kosong. Setiap halaman berisi tiga belas baris, kecuali halaman pertama yang sembilan baris dan halaman terakhir yang tujuh. Kertasnya sudah menua menjadi cokelat kekuningan, bentuk hurufnya tegak lurus, tintanya hitam dengan beberapa bagian merah, dan pada bagian bawah halaman terlihat noda hitam menyerupai bekas terbakar ringan.

Detail semacam itu bukan hiasan laporan. Penggunaan tinta merah dan teknik recto-verso, yaitu memanfaatkan kedua sisi lembar, dibaca kedua penulis sebagai tanda bahwa naskah ini fungsional dan bukan sekadar hiasan; tinta merah bekerja sebagai penanda struktural yang memudahkan pembaca memahami perpindahan dari satu nasihat ke nasihat berikutnya. Umur naskahnya sendiri tidak diketahui secara jelas, tetapi angka tahun yang tertera pada manuskrip, yaitu 1820, membuat penelitian memperkirakan usianya 206 tahun pada 2026. Katalog juga menyebut tiga nama yang terlibat dalam penyalinan: Zainal Abidin, Azman, dan Ronkel, Ph. S. van — keterangan singkat yang menyimpan seluruh riwayat perjalanan naskah ini sebelum berakhir di Leiden.

Tahap berikutnya menuntut disiplin yang hampir kaku. Alih aksara dikerjakan mengikuti pedoman bentuk huruf Arab-Melayu yang dikemukakan Hollander, per baris dan per halaman, mengikuti tata letak naskah asli, seluruhnya dengan huruf kecil; kata ulang yang di naskah disingkat dengan angka Arab dialihaksarakan menjadi angka 2 Latin, potongan ayat Al-Qur’an dipertahankan, tanda dua garis miring menandai akhir setiap halaman, dan bagian yang tidak terbaca dikosongkan lalu ditandai titik-titik dalam kurung. Alih bahasanya bersandar pada teori penerjemahan Djamaris, dikerjakan per kesatuan makna paragraf alih-alih kata demi kata, dan sengaja mempertahankan kosakata ragam lama agar rasa bahasa aslinya tidak menguap — kata seperti sebermula dan syahdan dibiarkan berdiri, definisinya dipindahkan ke glosarium.

Baca juga Euis Komariah dan Zaman Kaset yang Sudah Lewat

Hasilnya bisa dirasakan pada satu petikan yang disajikan di dalam artikel. Pada versi alih bahasanya, negeri Raja Astman digambarkan begitu makmur sehingga orang alim dan ulama banyak tinggal di sana, sebab sedekah bagindanya murah; lalu, dengan takdir Allah Taala, sang raja berputra seorang laki-laki yang amat elok majelis rupanya, yang dinamainya Burhan Al Arifin, dan setelah anak itu besar ia disuruh mengaji kepada seorang pendeta di dalam negerinya. Kalimatnya berkelok, penuh partikel penanda seperti maka dan sebermula, dan justru kelokan itulah yang dijaga supaya tidak diluruskan oleh tata bahasa modern. Istilah Arab pun tidak diterjemahkan, melainkan dibiarkan utuh dan dicetak miring, sebuah pilihan yang membuat teks hasil terjemahan tetap terdengar asing di telinga pembaca hari ini.

Cermin Raja yang Nyaris Menjadi Data Mati

Isi nasihatnya menempatkan hikayat ini pada genre yang punya nama di sastra dunia. Kedua penulis membacanya sebagai refleksi konsep Cermin Raja atau Mirrors for Princes, jenis sastra yang bertujuan membentuk karakter pemimpin ideal lewat petuah etika, moral, dan spiritual yang kental oleh pengaruh Islam-Melayu. Dibandingkan naskah sejenis yang lebih termasyhur seperti Hikayat Iskandar Zulkarnain atau Hikayat Tajus Salatin, naskah Mughul ini disebut unik karena lingkup instruksinya lebih personal, yakni hubungan ayah dan anak, meski arah akhirnya tetap tata kelola negara yang bijaksana. Kutipan ayat Al-Qur’an yang berdampingan dengan struktur Melayu klasik yang luwes dipandang memperkuat teori bahwa sastra Melayu abad ke-19 adalah sarana diplomasi nilai-nilai agama dalam bungkus budaya lokal.

Justru sebaliknya dari kesan bahwa perpustakaan asing telah menuntaskan tugas penyelamatan, artikel ini menempatkan digitalisasi sebagai separuh pekerjaan saja. “Penelitian ini membuktikan bahwa digitalisasi naskah oleh institusi luar negeri, salah satunya seperti Universitas Leiden, hanya akan menjadi data mati tanpa adanya peran peneliti lokal untuk menghidupkan kembali teks tersebut melalui kajian filologis,” tulis kedua peneliti Universitas Negeri Padang itu. Klaim tersebut berani, sekaligus memindahkan beban penyelamatan dari lembaga penyimpan ke tangan orang yang masih sanggup membaca aksaranya. Pemindaian melahirkan berkas, bukan pembaca; dan berkas yang tidak pernah dibuka, dalam logika artikel ini, tidak berbeda jauh nasibnya dari naskah yang melapuk di lemari.

Baca juga Tujuh Pola Bahasa yang Membentuk Berita Bola Indonesia

Kekuatan tafsir semacam itu tetap perlu ditimbang terhadap batas kerjanya, dan di titik ini artikelnya cukup terbuka. Yang dikaji hanya satu naskah, dalam satu salinan digital berformat PDF yang diunduh dari laman koleksi digital Leiden, tanpa perbandingan dengan varian lain, sehingga tidak ada kritik teks yang bisa memastikan bacaan mana yang paling mendekati bentuk asalnya. Umur naskah pun perkiraan, bukan kepastian, dan jumlah halamannya masih berselisih antara katalog dan berkas unduhan. Pedoman alih aksaranya bahkan menyediakan tanda khusus untuk bagian yang tidak terbaca peneliti, sementara simpulannya menyatakan seluruh teks berhasil terbaca dan diidentifikasi secara utuh — dua pernyataan yang tidak sepenuhnya berjalan seiring. Penulisnya sendiri menyarankan kajian intertekstualitas dan kritik teks lanjutan justru karena pekerjaan ini berhenti pada tahap penyediaan teks.

Yang tertinggal sesudah semuanya adalah pertanyaan yang memang tidak dijawab artikel ini. Katalog Leiden menyebut tiga nama yang terlibat dalam penyalinan Or. 1728, tetapi siapa yang mula-mula menyusun nasihat Raja Astman, dan dari tradisi mana nasihat itu diambil sebelum sampai ke tangan para penyalinnya, tetap gelap. Adakah di rak perpustakaan lain, dalam katalog yang belum ditelusuri siapa pun, tersimpan salinan lain hikayat ini dengan bacaan yang berbeda — dan seberapa jauh bacaan itu akan menggeser nasihat yang baru saja selesai diterjemahkan? Pertanyaan itu tidak dijawab, dan memang tidak bisa dijawab, oleh satu naskah tunggal yang dibaca sendirian.

Bagikan

Baca Juga

Oudetrap dan Spiegel: Dua Jalan Konservasi Kota Lama
Oudetrap dan Spiegel: Dua Jalan Konservasi Kota Lama
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Rumah adat tongkonan dan lumbung padi Toraja dengan dinding berukir geometris berwarna merah, hitam, putih, dan kuning di lereng berhutan
Warna Ritual Toraja: Hitam Ternyata Bukan Duka
Foto hitam putih pasar Payakumbuh sekitar 1910 dengan los beratap rumbia, pedagang duduk beralas tikar, dan keranjang hasil bumi di tanah
Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad
Pela Gandong dan Damai yang Belum Selesai di Maluku
Pela Gandong dan Damai yang Belum Selesai di Maluku
Sesepuh Menolak, Kuda Lumping Naik Panggung Wisata
Sesepuh Menolak, Kuda Lumping Naik Panggung Wisata