Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?

A A

Ilustrasi arca batu berkepala gajah yang lapuk di ceruk tebing kawasan pegunungan berkabut di Jawa bagian tengah. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Pada 1876, Residen Bagelen G. J. van Der Tuuk menyumbangkan sebuah arca batu. Penerimanya adalah Bataviaasch Genootschap, perkumpulan ilmu pengetahuan di Hindia Belanda. Setahun kemudian, pada 1877, arca itu diserahkan kepada W. P. Groeneveldt. Notulen perkumpulan tahun itu mencatat alasan penyumbangannya secara ringkas: tipe arca semacam itu belum ada dalam koleksi mereka.

Hampir seratus lima puluh tahun kemudian, arca yang sama diperiksa ulang. Radila Adwina dan Chaidir Ashari dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, menerbitkan kajian berjudul Ikonografi dan Makna Penggambaran Arca Ganesa Ekapada Koleksi Museum Nasional Indonesia. Naskah itu terbit di jurnal Purbawidya Vol. 14 No. 2 pada November 2025. Objek kajiannya hanya satu benda, yaitu arca bernomor inventaris 198.

Daftar Isi
  1. 1887: Katalog Belanda Menduga Pose Menari
  2. 1985 dan 1992: Dua Nama untuk Satu Posisi Kaki
  3. Menjelang 2025: Pemeriksaan Ulang di Gedung A
  4. Jauh Sebelumnya: Tapa Satu Kaki dalam Teks Kuno
  5. Abad ke-8 hingga ke-10: Pertapaan di Lereng Gunung

1887: Katalog Belanda Menduga Pose Menari

Pada 1887, Groeneveldt bersama J. L. A. Brandes menerbitkan katalog koleksi perkumpulan itu. Arca no. 198 tercatat setinggi 77 sentimeter, dengan tangan kanan yang patah dan tangan kiri yang memegang kail gajah serta sebuah mangkuk. Arca itu berdiri dengan kaki kanan diangkat dan diletakkan di belakang lekukan kaki kiri. Kedua penyusun katalog menduga posisi tersebut sebagai pose menari.

Di luar deskripsi fisik itu, tidak ada keterangan lain yang tersisa. Katalog tersebut tidak mencatat bagaimana arca ditemukan, juga tidak menyebut asosiasinya dengan temuan arkeologis lain. Pada 1911, N. J. Krom memasukkan arca ini ke dalam kategori wilayah afdeeling Wonosobo, Karesidenan Kedu, yang sebelumnya bernama Karesidenan Bagelen. Dalam administrasi hari ini, Wonosobo berada di selatan Dataran Tinggi Dieng dan di timur Pegunungan Sindoro-Sumbing.

Kekhasan arca itu baru terasa ketika dijajarkan dengan yang lain. Lebih dari 160 arca Ganesa ditemukan di Indonesia, dan hanya satu yang digambarkan berdiri dengan satu kaki. Sebagian besar arca Ganesa digambarkan duduk, dengan posisi telapak kaki saling menempel sebagai bentuk yang paling sering muncul. Posisi duduk seperti itu hanya dijumpai di Nusantara, sementara arca Ganesa berdiri lebih banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur.

1985 dan 1992: Dua Nama untuk Satu Posisi Kaki

Pada 1985, Edi Sedyawati menuntaskan disertasinya tentang pengarcaan Ganesa. Arca no. 198 masuk sebagai satu dari lima arca Ganesa berdiri yang ia teliti dalam disertasi itu. Ia mencatat upavita ular, jatamakuta yang meninggi, serta tangan kiri depan yang memegang mangkuk. Untuk posisi kakinya, Sedyawati memakai kata ekapada, istilah Sanskerta yang berarti berdiri dengan satu kaki.

Tujuh tahun kemudian muncul penyebutan ketiga. I Wayan Redig menuliskan arca ini sebagai satu-satunya arca Ganesa berdiri yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah. Ia mendeskripsikannya sebagai arca rusak yang masih memperlihatkan mahkota kerucut, upavita tebal, gelang, kain, serta mangkuk di tangan kiri dengan belalai yang diarahkan ke dalamnya. Kaki kanan yang ditekuk horizontal, menurut Redig, mengindikasi posisi tapa.

Redig menulis tesis itu sebagai perbandingan arca Ganesa dari India dan Indonesia. Dalam perbandingan tersebut ia tidak menyebut satu pun arca Ganesa India yang digambarkan dalam posisi tapa ekapada. Ganesa berdiri dengan satu kaki di India lazim dikaitkan dengan Nrtta Ganapati, yaitu bentuk Ganesa menari, dengan tubuh berlekuk, kaki terangkat dinamis, dan perhiasan yang raya.

Perbedaan keduanya terletak pada tumpuan kaki. Pada penggambaran Ganesa menari, ujung kaki yang ditekuk menggantung di udara tanpa bertumpu pada apa pun, sementara kaki penopangnya sedikit ditekuk. Pada arca no. 198, punggung kaki yang ditekuk justru bertumpu di belakang lutut kaki kiri yang berdiri tegak lurus, membentuk sudut yang nyaris siku-siku. Tubuh arca itu pun cenderung kaku.

Menjelang 2025: Pemeriksaan Ulang di Gedung A

Arca no. 198 dipamerkan secara permanen di Gedung A, Museum Nasional Indonesia. Di ruang itulah Adwina melakukan observasi langsung, mencakup deskripsi menyeluruh atas aspek visual, ikonografi, dan kondisi fisik arca. Hasil pengamatan itu tidak berbeda dari deskripsi yang dilakukan para pendahulunya. Sandaran bagian atas sudah rusak dan patah, sementara mahkota jatamakuta dan telinga gajahnya masih terlihat jelas.

Kerusakan yang lebih berat terbaca pada bagian depan. Mata arca digambarkan setengah terbuka, sedangkan bagian wajah lainnya terlihat rusak dan aus, dan gading sebelah kanan sudah patah. Belalainya menjulur ke tangan kiri depan, dan di balik belalai itu masih terlihat untaian kalung serta upavita ular. Perutnya digambarkan sedikit buncit.

Baca juga Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi

Bagian tangan menyimpan persoalan tersendiri bagi peneliti. Tangan kanan depan kini hanya tersisa lengan atas yang mengenakan hiasan kelat bahu, sementara tangan kiri depan sudah sangat aus sehingga mangkuk yang dicatat pada 1887 kini sulit dikenali bentuknya. Tangan kiri belakang memegang sebuah laksana, tetapi hanya bagian bawahnya yang terlihat. Karena itu sulit dipastikan apakah benda tersebut kail gajah atau kapak.

Satu perbedaan mencolok justru muncul di bagian bawah arca. Katalog 1887 menyebut arca berdiri pada bunga teratai, sedangkan deskripsi Adwina dan Ashari menyebut kaki kiri berdiri tegak lurus di atas lapik segi empat, dengan hiasan sulur-suluran di bagian tengah bawahnya. Padmasana atau tempat duduk teratai lazim dipakai pada penggambaran dewa dan dewi, dan menyimbolkan penciptaan, kesucian, serta kelahiran ilahi.

Ketiadaan padmasana itu dibaca sebagai petunjuk arah. Ganesa seakan tidak sedang tampil dalam wujud kedewataannya, melainkan sebagai sosok pertapa, meskipun ia tetap mengenakan banyak perhiasan. Dalam berbagai teks kuno Hindu, Ganesa memang tidak pernah digambarkan menjalankan kehidupan asketik, tetapi ayahnya, Siva, memiliki wujud asketik yang disebut Yoga-Daksinamurti. Kedekatan keduanya dalam tradisi Hindu membuat kemunculan citra asketik itu tidak mengherankan.

Contoh serupa pernah muncul di luar Jawa jauh sebelumnya. Pada salah satu kuil di wilayah Champa dari abad ke-7 sampai ke-8 M, Ganesa digambarkan berdiri tegak tanpa padmasana, langsung di atas yoni. Atribut yang dikenakannya identik dengan atribut asketik Siva, antara lain mata ketiga di dahi dan kulit harimau sebagaimana seorang resi.

Sikap berdiri tegak lurus dengan satu kaki sendiri terekam pada dua relief candi. Relief Gandavyuha di Candi Borobudur dari abad ke-8 sampai ke-9 M menggambarkan Maitreya melakukan tapa berat dengan mengangkat kaki kanannya secara horizontal, sikap yang oleh Jan Fontein disebut sebagai gaya yoga yang khas. Di Candi Jago dari abad ke-13 M, cerita Parthayajna menggambarkan Arjuna bermeditasi dengan kaki kiri ditekuk horizontal.

Baca juga Menelusuri Tujuh Arca Dewa Surya di Jawa dari Kediri sampai Prambanan

Jauh Sebelumnya: Tapa Satu Kaki dalam Teks Kuno

Dari titik itu kajian 2025 beralih ke semiotika triadik Charles Sanders Peirce. Arca diperlakukan sebagai tanda yang memiliki acuan, dan penggambaran tapa ekapada punya hubungan ikon dengan tapa tokoh-tokoh dalam teks kuno Hindu, baik dari India maupun Nusantara. Lima parva dalam Mahabharata menyebut tokoh yang bertapa dengan berdiri satu kaki. Kakawin Ramayana punya versinya sendiri.

Dalam kakawin itu diceritakan Baka, seekor bangau licik, yang berpura-pura menjadi seorang pertapa dengan berdiri di atas satu kaki untuk memangsa ikan-ikan kecil. Posisi ujung kaki yang diangkat dan diletakkan di belakang lutut dibaca sebagai visualisasi tumpuan keseimbangan. Sikap itu dikategorikan sebagai salah satu bentuk penyiksaan diri para pertapa, dan hanya individu atau kelompok tertentu yang mempraktikkannya.

Teks-teks kuno itu memperlihatkan pola yang berulang. Dalam Adiparva, Pandu berdiri dengan satu kaki sepanjang hari dan berfokus pada meditasi, hingga akhirnya Dewa Indra memberinya seorang putra dengan karakter yang baik. Dalam Vanaparva, Manu bertapa dengan berdiri satu kaki dan bergantung terbalik selama sepuluh ribu tahun. Dhundhu bertapa hingga tubuhnya hanya tersisa urat dan arteri, lalu Dewa Brahma memberinya kekuatan.

Pada Santiparva, resi Ekata, Dwita, dan Trita berdiri dengan satu kaki selama ribuan tahun untuk melihat Narayana dalam wujud aslinya. Sebagian besar tokoh itu menjalani tapa berat dengan pengharapan memperoleh anugerah tertentu. Jalur tafsir kedua bertolak dari mitos kelahiran Ganesa dalam Skanda Purana dan Matsya Purana, yang melahirkan konsep rintangan, lalu pemujaan Ganesa untuk menyingkirkan rintangan itu. Kedua jalur bertemu pada konsep anugerah.

Abad ke-8 hingga ke-10: Pertapaan di Lereng Gunung

Pertanyaan berikutnya menyangkut tempat arca itu dulu berdiri. Berdasarkan notulen persuratan antarpejabat Hindia-Belanda pada 1877, arca ini diserahkan bersama satu jam logam besar, bukan bersama arca lain. Petunjuk itu mengarah pada kemungkinan arca berdiri sendiri, bukan bagian dari arca pendamping sebuah candi Saiva. Dugaan tersebut diperkuat posisi tubuhnya, sebab arca Ganesa pendamping selalu digambarkan dalam posisi duduk.

Aturan pelaksanaan tapa menguatkan arah dugaan itu. Tapa berdiri dengan satu kaki harus dijalankan di dalam hutan, sama seperti jenis tapa lain. Menjalankannya di jalan permukiman atau di tempat umum, terutama dengan tujuan menarik perhatian atau memperoleh sumbangan, dianggap sebagai pelanggaran serius. Kemungkinan terbesarnya, arca ini dipuja di lingkungan pertapaan yang terletak di dalam hutan atau di wilayah terpencil.

Label koleksi Museum Nasional Indonesia menempatkan arca ini pada abad ke-8 M. Untuk masa itu, jejak pertapaan di Jawa bagian tengah tersimpan pada tinggalan arkeologis berupa gua-gua di Dataran Tinggi Dieng dan kompleks Ratu Boko. Di lereng tenggara Gunung Sumbing terdapat gua pertapaan buatan bernama Gua Rong, berupa dua ruangan yang dipahat dari batu alam, dengan linga-yoni sederhana di antara dua kolam dan sebuah altar.

Baca juga Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729

Catatan tertulisnya baru muncul pada abad berikutnya. Prasasti Munduan 807 M, Kayumwungan 824 M, dan Tulang Air 850 M dari Temanggung menyebutkan penguasa watak patapan yang memberikan ketetapan sima. Prasasti Gandasuli II atau Sang Hyang Wintang 810 M berisi penetapan perbatasan hutan untuk pertapaan Saiva, sedangkan Prasasti Sarunga 901 M dari Boyolali berisi pembangunan pertapaan.

Lingkungan kerajaan menyimpan jejaknya sendiri. Prasasti Sivagrha 856 M menyebutkan gelar Jatiningrat untuk Rakai Pikatan, yang berarti mengundurkan diri dari kerajaan dan bertapa, dan gelar yang sama kemudian dipakai Airlangga ketika turun takhta. Catatan mengenai lingkungan pertapaan baru banyak ditulis pada abad ke-10 M, ketika pusat pemerintahan sudah berpindah dari Jawa bagian tengah ke timur.

Seluruh rangkaian itu berhenti pada batas yang diakui penulisnya sendiri. Lokasi penemuan yang lebih akurat serta asosiasi arca dengan temuan lain tidak dapat ditelusuri dalam catatan Belanda. “Penentuan konteks asli suatu benda atau bangunan suci menjadi sangat sulit saat objek tersebut dipindahkan dari lokasi asalnya,” tulis Adwina dan Ashari.

Batas berikutnya menyangkut ketersediaan sumber. Tidak ada sumber tertulis abad ke-8 M yang mencatat kehidupan di lingkungan pertapaan, sehingga gambaran masa itu dirangkai dari tinggalan arkeologis dan dari prasasti yang berasal dari abad-abad sesudahnya. Pembacaan semiotik atas arca ini pun menghasilkan tafsir, bukan bukti langsung mengenai cara arca tersebut dipakai pada zamannya.

Di ujung kajian, keduanya menempatkan arca ini sebagai produk lokal. Kekhasan bentuk ekapada, menurut mereka, kemungkinan merupakan hasil perkembangan gaya seni lokal di Mataram Kuno. “Hal ini menunjukkan seni arca di Mataram Kuno, khususnya di wilayah Wonosobo, tidak hanya meniru gaya dari India, tetapi juga berkembang sesuai dengan budaya dan keyakinan lokal,” tulis Adwina dan Ashari.

Naskah itu ditutup dengan satu usul teknis. Narasi pada label arca no. 198 di Museum Nasional Indonesia perlu diperbarui agar sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan keagamaan penggambarannya. Kajian tersebut terbit pada 25 November 2025. Sampai tanggal itu, usul tersebut masih berupa rekomendasi di halaman jurnal.

Bagikan

Baca Juga

Foto hitam putih pasar Payakumbuh sekitar 1910 dengan los beratap rumbia, pedagang duduk beralas tikar, dan keranjang hasil bumi di tanah
Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad
Candi Naga di Kompleks Candi Panataran, Blitar, dengan tubuh candi batu andesit berhias pahatan naga melingkar dan deretan figur penopang
Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana
Bangkai lokomotif uap Silukah dengan ketel dan roda berjari-jari yang disimpan di bawah bangunan pelindung beratap seng
Lokomotif Uap Silukah, Saksi Jalur Maut Sijunjung
Candi Kalasan di Kabupaten Sleman dilihat dari sisi timur laut, dengan tubuh candi batu andesit berelung dan berhias serta atap bersusun
Tiga Candi Rakai Panangkaran dan Kelas Dasar Tantra
Ilustrasi belati bermata dua berpola pamor berpilin dengan gagang berukir figur manusia dan sarung kayu berukir, tergeletak di bangku kayu bengkel pandai besi beratap daun dengan perapian arang menyala
Jejak Keris Abad ke-15 di Catatan Armada Cheng Ho
Ilustrasi meriam besi tua berkarat di atas landasan batu dengan lubang sundut terlihat jelas, berlatar meriam perunggu berpatina hijau di atas kereta kayu jati di beranda gedung museum bergaya kolonial
Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno