Cekricek.id — Buku itu dibuka halaman demi halaman. Setiap kalimat sopan yang ditemukan dipindahkan ke kartu data, satu per satu, tanpa dilewati. Bukan hanya kalimatnya: konteks pemakaiannya ikut dicatat, nomor halamannya ikut dicatat, dan tingkat kemampuan bahasanya juga, supaya kartu itu bisa ditata kembali belakangan. Dari tiga jilid Netzwerk — A1, A2, dan B1 — tumpukan kartu tersebut akhirnya memuat dua puluh enam ungkapan kesantunan bahasa Jerman, yang kemudian dikelompokkan menjadi lima jenis.
Yang mengerjakannya empat orang. Sri Megawati, Retna Endah Sri Mulyati, dan Rahma Kurnia Novitasari dari Universitas Negeri Yogyakarta, bersama Michaela Zimmermann dari Ramkhamhaeng University, Thailand. Laporannya terbit dengan judul Politeness expressions in German textbooks: Cultural values representation and relevance in foreign language learning di jurnal Diksi Vol. 33 No. 2, tahun 2025. Buku yang mereka bedah karangan Dengler dan kawan-kawan, terbitan Ernst Klett Sprachen, dipilih karena dipakai luas dan tersusun mengikuti tangga kemampuan bahasa Eropa dari tingkat pemula sampai menengah.
Kartu Data dan Nomor Halaman

Kelompok pertama yang muncul di kartu-kartu itu adalah bentuk gramatikal dan leksikal. Sebelas jumlahnya. Yang paling sering muncul satu bentuk yang di ruang kelas bahasa Jerman biasa disebut Konjunktiv II, bentuk pengandaian yang di sini tidak dipakai untuk berandai-andai, melainkan untuk memperhalus. Wujudnya tiga: würde, hätte, dan wäre. Ketiganya membuat kalimat mundur satu langkah dari kenyataan, dan langkah mundur itulah yang dibaca sebagai kesopanan.
Contoh yang tercatat sederhana saja. Ada jendela yang perlu ditutup, dan kalimat yang dipakai di buku itu bukan perintah melainkan pertanyaan: “Würden Sie das Fenster zumachen?” Ada sepotong kue yang diinginkan seseorang, dan kalimatnya berbunyi “Ich hätte gern ein Stück Kuchen”. Ada permintaan supaya orang berbicara lebih pelan, dan bentuknya berubah menjadi pertanyaan tentang kemungkinan, bukan tentang kesediaan: mungkinkah bagi Anda berbicara dengan pelan.
Kata kerja bantu ikut berubah wujud dengan cara yang sama. Können menjadi könnten, dürfen menjadi dürfte, mögen menjadi möchte, sollen menjadi sollten. Fungsinya berbeda-beda: mengundang orang mampir, meminta koran dikembalikan, menyampaikan keinginan memesan teh, memberi saran supaya rajin belajar. Tetapi arahnya satu. Semua bentuk itu menjauhkan kalimat dari perintah langsung, dan dengan begitu meninggalkan ruang bagi lawan bicara untuk menolak tanpa harus berhadapan. Yang ditawarkan bukan kelonggaran isi, melainkan kelonggaran cara.
Baca juga Anak Tanpa Nama dalam Novel Heaven Mieko Kawakami
Di situ pula terletak alasan mengapa buku pelajaran menjadi persoalan. Bentuknya diajarkan, susunannya dijelaskan, daftar perubahannya lengkap, tetapi mengapa penutur asli memilih bentuk itu jarang dibongkar. Menurut kerangka Brown dan Levinson yang dipakai keempat peneliti, kalimat semacam “Würden Sie…” adalah cara menyelamatkan muka lawan bicara. Pelajar yang menghafal daftar tanpa konteks bisa saja menyusun kalimat yang benar secara tata bahasa dan tetap terdengar kasar di telinga penuturnya.
Jalan ke Marienplatz
Beberapa halaman lebih jauh, kartu data berpindah ke jalan. Seseorang bertanya arah ke Marienplatz, alun-alun tua di pusat kota München, dan kalimatnya tidak dimulai dengan pertanyaan. Kalimatnya dimulai dengan permintaan maaf: “Entschuldigung, wie komme ich zum Marienplatz?” Permintaan maaf yang bukan untuk kesalahan apa pun. Hanya untuk mengganggu waktu orang asing selama beberapa detik di trotoar, dan kata itu tetap dipasang di depan meski yang diminta cuma penunjuk arah.
Kelompok kedua ini oleh keempat peneliti disebut ungkapan baku, dan isinya tiga kata yang paling awal dihafal pemula: bitte, danke, Entschuldigung. Yang menarik bukan kemunculannya, melainkan tempatnya. Ketiganya muncul di dalam dialog, bukan di dalam daftar kosakata. Di meja makan, misalnya, tawaran secangkir teh dijawab dengan bitte kalau diterima dan danke kalau ditolak — dua kata dengan arah makna yang berlawanan, dan hanya konteks yang membedakan keduanya.
Kelompok ketiga lebih halus lagi, dan justru di sinilah pelajar yang datang dari bahasa lain paling sering tergelincir. Partikel modal namanya: kata kecil yang tidak menambah informasi apa pun, tidak mengubah susunan kalimat, dan tidak bisa diterjemahkan satu lawan satu ke bahasa mana pun. Di dalam tiga jilid buku itu hanya tiga yang tercatat, yaitu doch, mal, dan gabungan doch einfach mal. Ukurannya sependek imbuhan, tetapi pekerjaannya besar.
Bedanya nyata di telinga. Perintah duduk berubah menjadi ajakan begitu partikel doch disisipkan, sebagaimana tercatat dalam contoh “Setzen Sie sich doch bitte!” Anjuran pergi ke dokter pun demikian: dengan doch einfach mal, kalimatnya berhenti terdengar seperti teguran dan mulai terdengar seperti usul teman. Ketika seseorang menanyakan jam, partikel mal membuat pertanyaan itu terdengar sebagai permintaan tolong, bukan interogasi. Beberapa huruf saja, dan seluruh nada kalimat bergeser.
Baca juga Cuitan Lama Ridwan Kamil dan Pilkada Jakarta 2024
Buku pelajaran, tulis Megawati dan tim di bagian pembuka laporan mereka, umumnya menekankan aspek tata bahasa dan kosakata sambil kurang memperhatikan unsur pragmatik, terutama strategi kesantunan yang memantulkan nilai budaya penutur aslinya. Kalimat itu mereka pasang sebagai titik tolak, dan seluruh temuan berikutnya bergerak untuk mengujinya pada satu seri buku yang konkret, halaman demi halaman, bukan pada bahan ajar bahasa asing secara umum.
Meja Kerja Herr Müller
Kartu berikutnya membawa pembaca ke ruang kerja. Seseorang mendatangi meja Herr Müller dan bertanya apakah ia punya waktu sebentar. Kalimatnya memakai Sie, kata ganti orang kedua bentuk hormat, dan bukan du. Pola yang sama muncul dua kali lagi: ketika seorang sekretaris ditanya apakah sudah membaca koran, dan ketika seorang dokter perempuan ditanya kapan ia bisa ditemui. Bentuk akrab du, catat laporan itu, hanya diberi tempat pada situasi tidak resmi.
Tiga adegan, tiga jabatan, satu kata ganti. Menurut analisis keempat peneliti, pilihan itu bukan formalitas kosong melainkan penanda jarak sosial yang dijaga dengan sengaja. Di ruang kerja, jarak semacam itu justru dibaca sebagai bentuk penghormatan, bukan sebagai sikap dingin. Mereka menyebutnya dengan istilah yang beredar dalam kajian kesantunan Jerman: respektvolle Distanz, jarak yang penuh hormat, yang menurut mereka menjadi landasan relasi sosial di sana.
Kelompok terakhir adalah pertanyaan tidak langsung, dan hanya satu contoh yang tercatat dari tiga jilid buku. Alih-alih langsung bertanya kapan boleh datang, kalimatnya dibungkus lebih dulu: saya ingin bertanya, kapan saya bisa datang menemui Anda. Bungkus itu, menurut laporan tersebut, memberi lawan bicara jalan untuk menolak tanpa merasa dilangkahi, sebab yang diajukan bukan permintaan melainkan niat mengajukan permintaan. Dalam pergaulan kantor dan urusan lintas budaya, kata mereka, susunan semacam ini yang paling sering menyelamatkan percakapan.
Baca juga Benteng Keraton Buton dan Dua Belas Pintunya
Dari lima kelompok tersebut, kesimpulan yang ditarik para peneliti mengarah ke satu titik: buku pelajaran bahasa bekerja sebagai perantara budaya, bukan sekadar wadah tata bahasa. Namun mereka juga mencatat jurang di dalamnya. Bentuk kesantunan disajikan sebagai butir struktural yang harus dikuasai, sementara fungsi budaya dan pragmatiknya tidak dijelaskan dengan takaran yang sepadan, sehingga pelajar mudah memperlakukan kesantunan sebagai urusan tata bahasa belaka.
Jurang itu punya akibat yang bisa diraba. Pelajar yang menerjemahkan langsung dari bahasa ibunya cenderung memakai bentuk perintah tanpa pelembut, dan dalam pergaulan berbahasa Jerman kalimat semacam itu bisa terdengar kasar atau menantang. Perbandingan yang dipakai laporan itu sederhana: permintaan tolong yang disusun dengan könnten dan bitte diterima jauh lebih baik daripada bentuk perintah telanjang, meski isi permintaannya persis sama.
Karena itu keempatnya menyarankan buku ajar memuat lebih banyak unsur sosiopragmatik. Bukan menambah panjang daftar kalimat, melainkan menerangkan kapan sebuah kalimat dipakai dan kepada siapa. Kerangka yang mereka rujuk untuk itu datang dari Michael Byram tentang kemampuan berkomunikasi lintas budaya, yang menuntut tiga hal sekaligus pada pelajar: menguasai bentuk bahasa, memahami konteks sosialnya, dan sanggup menafsirkan jarak antara kebiasaan sendiri dan kebiasaan penutur asli.
Batas temuannya diakui sendiri oleh para penulisnya. Yang dibedah hanya satu seri buku, dan mereka menyatakan tidak melakukan pengamatan di kelas untuk melihat bagaimana pelajar sebenarnya menanggapi materi tersebut. Temuan ini karenanya menjelaskan isi Netzwerk A1, A2, dan B1, bukan seluruh bahan ajar bahasa Jerman, dan sama sekali belum mengukur kemampuan pelajar. Untuk lanjutannya mereka mengusulkan membandingkan beberapa buku ajar lintas tahun terbit, mengambil pandangan guru sekaligus pelajar, dan menelaah ragam informal.
Kartu-kartu data itu kini tinggal tumpukan catatan dengan nomor halaman di sudutnya. Dua puluh enam ungkapan, lima kelompok, tiga jilid buku, semuanya rapi, terurut, dan bisa dihitung ulang oleh siapa saja yang membuka halaman yang sama. Yang tidak tercatat di kartu mana pun justru bagian yang paling menentukan: alasan seorang penutur Jerman memilih menanyakan jendela alih-alih menyuruh menutupnya.















