Anak Tanpa Nama dalam Novel Heaven Mieko Kawakami

A A

Ilustrasi seorang remaja berjaket kupluk duduk sendirian di sofa dengan pandangan menerawang. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sastra anak lama diperlakukan sebagai ruang yang aman, tempat dunia dirapikan lebih dahulu sebelum diserahkan kepada pembaca yang masih kecil, dan tempat seseorang selalu datang menolong sebelum halaman terakhir. Novel Heaven karya Mieko Kawakami membatalkan kesepakatan itu tanpa menaikkan suara. Yang tertinggal pada tokoh utamanya, seorang murid sekolah menengah pertama, hanyalah sebuah kotak pembungkus kamus di rak buku, penuh berisi surat-surat kecil dari satu-satunya teman yang ia punya, dan ia menatap punggung kotak itu pada malam-malam ketika pikirannya tidak mau diam. Anak itu tidak pernah disebutkan namanya sepanjang buku. Teman-teman sekelasnya memanggilnya “Eyes”, si Mata.

Kotak kamus itu ikut menjadi data dalam The failure to overcome trauma: “Eyes” as a silent and silenced victim in the juvenile novel Heaven (2022), artikel Yulia Rakhmawati dari Universitas Gadjah Mada bersama Sudarmaji dari Universitas Negeri Yogyakarta yang dimuat jurnal LITERA Vol. 25 No. 1 tahun 2026. Keduanya membaca novel itu berulang-ulang, menandai kalimat demi kalimat, lalu menyusun temuannya menurut teori trauma Judith Herman, psikiater Amerika yang pada 1992 memetakan pemulihan korban ke dalam tiga tahap berurutan: membangun rasa aman, mengingat sekaligus berkabung, lalu menyambung kembali hubungan dengan orang lain. Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana, dan jawabannya tidak menyenangkan: sampai tahap mana anak itu melangkah?

Kesan bahwa buku remaja kini boleh berbicara tentang hal yang menyakitkan bukan kesan yang keliru. Rakhmawati dan Sudarmaji menempatkan Heaven dalam pergeseran panjang sastra anak yang, menurut kritikus Virginia Burke Epstein pada 1986, berhenti berputar-putar di sekitar kenyataan dan mulai menghadapinya. Buku semacam itu, tulis kedua peneliti mengikuti Epstein, tidak lagi bekerja untuk menanamkan kepatuhan, melainkan menyediakan ruang bagi pembaca muda untuk menimbang sendiri pilihan moral yang tidak pasti. Persoalannya, kebebasan menimbang itu diberikan kepada tokoh yang sama sekali tidak punya orang dewasa di sisinya. Perry Nodelman, yang juga mereka kutip, berpendapat buku yang berani menyentuh perasaan membingungkan justru menolong anak menamai apa yang ia rasakan sehingga ia tidak merasa sendirian. Heaven memperlihatkan apa yang terjadi ketika penamaan itu tidak pernah dibantu siapa pun.

Angka yang mereka pinjam dari UNICEF, data terbaru per Juli 2024, memberi ukuran pada perasaan itu. Lebih dari satu di antara tiga pelajar berusia 13 sampai 15 tahun pernah dirundung sedikitnya sekali. Lebih dari 370 juta anak perempuan mengalami kekerasan seksual sebelum berumur 18 tahun, dan angkanya membengkak jauh lebih besar bila bentuk yang tidak melibatkan sentuhan ikut dihitung. Anak laki-laki tidak luput. Pelaporan yang rendah, catat kedua peneliti, membuat jumlah sebenarnya diduga lebih besar daripada yang tercatat, dan puncak kejadian berada pada usia empat belas sampai tujuh belas tahun, persis usia tokoh yang dibedah novel ini.

Daftar Isi
  1. Nama yang Diambil, lalu Tidak Dikembalikan
  2. Rasa Aman Setipis Kertas Surat
  3. Pulih yang Berhenti di Meja Operasi

Nama yang Diambil, lalu Tidak Dikembalikan

Ilustrasi lorong sekolah berlantai kayu yang dipagari deretan loker logam.
Ilustrasi lorong sekolah berlantai kayu yang dipagari deretan loker logam. [Foto: Pexels]

Julukan itu berasal dari mata anak tersebut yang juling, dan justru di situ letak seluruh persoalannya. Nama adalah penanda identitas, dan dengan membiarkan tokohnya tanpa nama sampai kalimat terakhir, Kawakami menurut kedua peneliti melakukan sesuatu yang lebih kejam daripada adegan kekerasan mana pun di dalam bukunya: ia memperlihatkan seorang manusia yang diperkecil menjadi satu bagian tubuh yang paling ia benci. Perundungan yang diterimanya berlangsung bertahun-tahun dan bersifat harian, mulai dari cemoohan berulang, dipaksa menelan benda dan air kotor, dikurung di dalam loker, sampai satu peristiwa kekerasan seksual tidak langsung yang dipertontonkan di depan kelas.

Baca juga Tindak Tutur di Balik 215 Ulasan Google Kampus

Tubuh anak itu menyesuaikan diri dengan cara yang dikenali klinik. Pada halaman 87 novel itu ia menceritakan dirinya sendiri melayang di udara, menatap wajahnya sendiri dari atas, dan tidak sanggup membaca gerak bibirnya sendiri — adegan yang oleh kedua peneliti dibaca sebagai disosiasi, pecahnya kesadaran ketika rasa sakit tidak lagi tertanggung. Yang lebih menakutkan justru bagian sesudahnya. Ketika ia dikurung di dalam loker dan para pelakunya sudah pergi, ia tetap tidak keluar. Pada halaman 16 tertulis pertanyaan yang berputar di kepalanya, apa yang akan mereka lakukan kalau tahu ia sempat pergi. Ia sempat ke toilet, lalu kembali masuk sendiri ke loker itu. Adegan melayang tadi terjadi sesudah ia dipukuli sampai hidungnya patah, dan sejak itu ingatannya sendiri, catat kedua peneliti, menjadi kabur serta sulit disusun kembali secara berurutan.

Yang berubah bukan hanya perilakunya, tetapi juga kesiagaan tubuhnya. Rakhmawati dan Sudarmaji menandai satu kalimat pada halaman 53 novel itu, ketika tokohnya merasa ada yang mengawasinya dari belakang padahal tidak ada siapa pun di sana, dan rasa gugup memenuhi perutnya seperti gas. Keadaan itu disebut hyperarousal, kewaspadaan berlebihan yang menetap pada korban trauma dan berhenti berguna karena bahaya yang ditakutinya sudah tidak ada. Kajian molekuler yang mereka kutip menghubungkannya dengan amigdala yang bekerja terlalu keras. Di dalam cerita, tubuh anak itu terus bersiap menghadapi serangan yang, untuk sementara, tidak datang.

Baca juga Ketika Tubuh Dosen Ikut Mengajar Bahasa Prancis

Herman menyebut keadaan semacam itu captivity, penawanan, dan Rakhmawati serta Sudarmaji memakainya untuk menjelaskan mengapa korban perundungan kerap tidak melarikan diri meski pintunya terbuka. Konteksnya nyata di luar novel. Kepolisian Jepang menyidik 292 kasus perundungan pelajar sepanjang 2023, jumlah tertinggi dalam satu dasawarsa, dan penelitian Osuka bersama koleganya pada 2019 menemukan bahwa perundungan jangka panjang di sekolah menengah Jepang paling sering menimpa murid yang berada di kelompok pertemanan berstatus rendah. Hierarki di antara sesama murid, bukan kebetulan, yang membuat kekerasan itu bertahan begitu lama.

Rasa Aman Setipis Kertas Surat

Tahap pertama pemulihan menurut Herman adalah rasa aman, dan di seluruh novel hanya ada satu tempat yang mendekatinya: surat-surat yang dipertukarkan diam-diam dengan Kojima, satu-satunya teman yang juga dirundung. Pada halaman 25 tertulis bahwa saling meninggalkan pesan itu adalah satu-satunya kesenangannya, bahwa ia menghabiskan berjam-jam menulis balasan di kertas pemberian Kojima, dan bahwa kotak pembungkus kamusnya penuh oleh catatan tersebut. Namun rumah bukan tempat yang aman, sekolah adalah sumber ketakutannya, dan tubuhnya sendiri menyimpan ingatan yang membuatnya waspada terus-menerus. Rasa aman yang berdiri di atas kertas mudah dirobek. Herman menempatkan tahap ini paling depan justru karena dua tahap berikutnya tidak punya pijakan tanpa rasa aman, dan anak itu bahkan tidak pernah melaporkan perundungannya kepada seorang guru pun.

Satu-satunya pengakuan datang terlambat dan hanya kepada satu orang. Pada halaman 161 novel itu, anak tersebut akhirnya menceritakan seluruh perundungan yang ia alami kepada ibu tirinya, dan yang mengejutkannya adalah betapa singkat cerita itu ketika akhirnya diucapkan. Ibunya mendengarkan, sesekali mengangguk, lalu menyarankan agar ia menemui dokter mata. Bagi Rakhmawati dan Sudarmaji, adegan itu adalah tahap mengingat dan berkabung yang berhenti separuh jalan: pendengarnya ada, tetapi tidak ada yang membantu anak itu menamai apa yang ia rasakan, dan keputusan diserahkan bulat-bulat kepada seorang remaja.

Berkabung, dalam pengertian yang dipakai kedua peneliti mengikuti Freud, adalah proses melepaskan rasa sakit sedikit demi sedikit sampai seseorang sanggup memindahkan tenaganya ke hubungan atau kegiatan yang baru. Proses itu tidak pernah berjalan dua arah dalam novel ini. Tidak ada psikolog, tidak ada psikiater, tidak ada guru yang bertanya, dan ayahnya sibuk oleh pekerjaan. Yang tersisa adalah anak yang tetap terikat pada lukanya sendiri, memikul beban penyelesaian seorang diri, dan tampak mandiri hanya karena tidak ada seorang pun yang menawarkan diri untuk menemani.

Pulih yang Berhenti di Meja Operasi

Tahap ketiga, menyambung kembali, mensyaratkan korban membangun hubungan baru dan menempatkan lukanya sebagai bagian dari riwayat hidup, bukan sebagai seluruh identitasnya. Yang dilakukan tokoh Heaven justru sebaliknya. Ia menempuh operasi mata untuk menghapus penyebab fisik cemoohan, dan berhenti di situ. Kojima ditinggalkan. Ketika guru dan orang tua murid berdatangan ke rumahnya, pada halaman 160 tertulis kalimat pendek yang oleh kedua peneliti dianggap merangkum seluruh kegagalan itu: “Aku tetap di kamarku.” Ibu tirinya yang menghadapi para tamu tersebut, sementara anak itu tidak keluar. Pemulihan trauma, tulis Rakhmawati dan Sudarmaji mengikuti Herman, pada dasarnya urusan hubungan antarmanusia, dan di situlah pilihan tokoh ini berhenti.

Baca juga Perang Aceh Berlanjut Setelah Istana Sultan Jatuh

Halaman terakhir novel memperlihatkan sesuatu yang mudah disalahbaca sebagai kesembuhan. Dengan mata barunya, tokoh itu melihat dunia dan menyebut semuanya indah, ia menangis di tengah keindahan tersebut, lalu mencatat sendiri bahwa tidak ada siapa pun untuk diajak berbagi. Julukan “Eyes” tetap melekat sampai kalimat penutup. Trauma tidak menjadi sesuatu yang ia lewati, melainkan sesuatu yang menentukan siapa dirinya, dan justru ketanpanamaan yang bertahan sampai akhir itulah yang membuat kedua peneliti menyebutnya korban yang diam sekaligus didiamkan. Keduanya membandingkan pembacaan mereka dengan dua kajian lain atas novel yang sama, yang masing-masing menyoroti keberanian tokohnya dan ketimpangan kelas sosial di balik perundungan, lalu menegaskan bahwa dari sudut trauma yang tampak justru sebaliknya.

Kedua peneliti tidak menjadikan bacaan itu lebih besar daripada yang sanggup ia tanggung. Yang mereka periksa satu novel, satu tokoh, dan satu kerangka teori; mereka menyatakan sendiri bahwa banyak sisi buku ini belum tersentuh dan menyebut tokoh Kojima sebagai bahan kajian berikutnya, terutama dengan lensa feminis, serta mengusulkan agar trauma perundungan diteliti dalam konteks Indonesia. Satu novel Jepang jelas bukan potret sekolah mana pun, dan pembacaan sastra tidak mengukur apa pun selain teks yang dibacanya.

Yang tersisa adalah pertanyaan yang diajukan temuan itu kepada pembacanya sendiri. Kalau penanda kegagalan pemulihan dalam novel ini bukan luka yang terlihat, melainkan sebuah julukan yang tidak pernah diganti dan sebuah kamar yang pintunya tidak pernah dibuka dari dalam, lalu apa sebenarnya yang sedang diukur orang dewasa ketika mereka menyimpulkan seorang anak sudah kembali baik-baik saja, dan siapa yang selama ini menanggung seluruh beban pembuktiannya?

Bagikan

Baca Juga

Mahasiswa UGM Uji Daun Kelor untuk Korban Perundungan
Novel Al-Khaba dan Ruang Aman yang Runtuh
Kamar Dunya dan Sekolah Nur dalam Cerita Anak Arab
Kritik Modernitas dalam Mata dan Manusia Laut
Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman
Thailand Perangi Perundungan Usai Penembakan Sekolah