Obesitas dan Stunting Sama-sama Naik pada Anak Sekolah di Iran

A A

Ilustrasi kakak beradik berjalan pulang sekolah bergandengan tangan di sebuah gang di Shiraz, Iran [Foto: Julia Maudlin (Flickr)/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Dalam tiga tahun, angka obesitas murid Shahroud naik dari 9,6 persen menjadi 12,49 persen.
  • Angka stunting ikut naik dari 1,6 persen menjadi 2,4 persen, tetapi kenaikan bermakna hanya pada anak laki-laki.
  • Kejadian obesitas tidak berbeda antara anak kota dan anak desa, yang dikaitkan para penulis dengan meluasnya urbanisasi.
  • Prevalensi stunting pada tahap kedua paling tinggi pada kelompok kurus, 4,60 persen, dan terendah pada kelompok obesitas.
Daftar Isi
  1. Murid yang Diukur Dua Kali oleh Tim Emamian
  2. Angka yang Dibaca Forouharnia Setelah Tiga Tahun
  3. Ketika Forouharnia Memisahkan Laki-laki dan Perempuan
  4. Usia dan Harta Keluarga dalam Hitungan Emamian
  5. Forouharnia Melacak Anak yang Berpindah Kelompok
  6. Pertanyaan yang Ditinggalkan Forouharnia untuk Studi Berikutnya

Sama Forouharnia menulis versi pertama sebuah naskah tentang tinggi dan berat badan 5.246 murid sekolah di Shahroud, kota di timur laut Iran. Ia ikut merancang studinya, mengumpulkan data, dan menganalisis angka-angkanya sebagai bagian dari tesis magister. Dari pekerjaan itu, ia dan rekan-rekannya mencatat dua masalah gizi tumbuh bersamaan pada kelompok murid yang sama.

Dalam tiga tahun, angka obesitas di antara murid yang semula berusia 6 sampai 12 tahun itu naik dari 9,6 persen menjadi 12,49 persen. Angka stunting, yakni anak yang tinggi badan menurut usianya berada di bawah minus 2 simpangan baku acuan WHO, ikut naik dari 1,6 persen menjadi 2,4 persen. Forouharnia dan rekan menyebut keadaan itu beban ganda malnutrisi yang mengkhawatirkan.

Laporan tersebut ditulis Sama Forouharnia dan rekan. Forouharnia berasal dari Komite Riset Mahasiswa, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Shahroud University of Medical Sciences, sedangkan penulis korespondensinya, Prof. Mohammad Hassan Emamian, berasal dari Ophthalmic Epidemiology Research Center di universitas yang sama. Naskah berjudul Rising prevalence of stunting and obesity in Iranian schoolchildren: a three-year cohort study itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Murid yang Diukur Dua Kali oleh Tim Emamian

Data yang diolah Forouharnia berasal dari Shahroud Schoolchildren Eye Cohort Study, studi kohort kesehatan mata murid sekolah di kota itu. Pada tahap pertama tahun 2015, sebanyak 5.620 murid berusia 6 sampai 12 tahun ikut serta. Tiga tahun kemudian, pada 2018, Emamian dan rekan mengundang kembali murid yang sama, dan data 5.246 anak tersedia untuk dianalisis.

Usia rata-rata anak-anak itu 9,7 tahun pada tahap pertama dan 12,9 tahun pada tahap kedua, dengan 53,9 persen di antaranya perempuan. Dalam laporan Emamian dan rekan, tinggi diukur tanpa sepatu dengan alat ukur dinding berketelitian 0,1 sentimeter dan berat ditimbang dengan timbangan digital berketelitian 0,1 kilogram. Kedua ukuran itu diolah Forouharnia menjadi skor tinggi menurut usia dan skor indeks massa tubuh menurut usia, atau BAZ.

Batas yang dipakai Forouharnia mengikuti acuan WHO 2007. Anak dengan BAZ di atas 2 simpangan baku digolongkan obesitas, antara 1 dan 2 digolongkan kelebihan berat badan, dan di bawah minus 2 digolongkan kurus. Pengukuran pada tahap kedua dilakukan dengan cara yang sama seperti pada tahap pertama.

Angka yang Dibaca Forouharnia Setelah Tiga Tahun

Hasil pertama yang dicatat Forouharnia adalah pergeseran skor. Rata-rata skor tinggi menurut usia seluruh murid turun 0,069 dalam tiga tahun, sementara rata-rata BAZ naik 0,241. Menurut Forouharnia dan rekan, sebaran BAZ pada tahap kedua bergeser ke kanan, tanda bahwa skor itu meningkat setelah tiga tahun.

Obesitas dan stunting sama-sama naik dalam tiga tahunObesitas 9,6% ke 12,49%; Stunting 1,6% ke 2,4%.Obesitas dan stunting sama-sama naik dalamtiga tahunPrevalensi pada murid Shahroud, Iran, usia 6-12 tahun saattahap 1 (persen)Tahap 1 (2015)Tahap 2 (2018)0%5%10%Obesitas9,6%12,49%Stunting1,6%2,4%
Sumber: Sama Forouharnia dan rekan, Rising prevalence of stunting and obesity in Iranian schoolchildren: a three-year cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kenaikan obesitas dari 9,6 persen ke 12,49 persen secara khusus disebut para penulis mengkhawatirkan. “Peningkatan prevalensi obesitas ini mengkhawatirkan, dan menegaskan perlunya intervensi baru dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan obesitas yang diidentifikasi dalam studi ini,” tulis Forouharnia, Emamian, dan rekan dalam naskah berbahasa Inggris itu, yang di sini diterjemahkan.

Untuk stunting, Forouharnia dan rekan memberi catatan. Prevalensinya pada tahap kedua lebih tinggi di semua kelompok umur, tetapi kenaikan itu tidak bermakna secara statistik bila dilihat dari selang kepercayaan 95 persen. Kenaikan yang bermakna hanya terjadi pada anak laki-laki, sedangkan pada anak perempuan tidak terlihat perubahan berarti selama tiga tahun.

Obesitas memperlihatkan pola lain di tangan tim Forouharnia. Prevalensinya lebih tinggi pada sebagian besar kelompok umur di tahap kedua, tetapi kenaikan yang bermakna hanya tampak pada kelompok 7–9 tahun. Bila dipilah menurut jenis kelamin dan tempat tinggal, kenaikan obesitas bermakna pada anak perempuan dan laki-laki, juga pada anak kota maupun desa.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Ketika Forouharnia Memisahkan Laki-laki dan Perempuan

Saat data dipecah menurut jenis kelamin, Forouharnia mendapati skor tinggi menurut usia anak laki-laki turun 0,053, sedangkan anak perempuan turun 0,087. Setelah faktor lain disesuaikan, perubahan skor tinggi anak laki-laki 0,055 lebih besar daripada anak perempuan. Forouharnia dan rekan merumuskannya begini: setelah tiga tahun, skor tinggi anak laki-laki turun lebih sedikit.

BAZ bercerita sedikit berbeda. Tanpa penyesuaian, BAZ anak perempuan naik 0,289 dan anak laki-laki 0,199. Setelah usia dan BAZ awal ikut diperhitungkan, Forouharnia dan rekan mendapati jenis kelamin laki-laki berkaitan dengan kenaikan BAZ 0,082 lebih besar. Meski begitu, kejadian obesitas baru tidak berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, begitu pula risiko stunting.

Perbandingan kota dan desa juga diperiksa Emamian dan rekan. Selama tiga tahun, skor tinggi menurut usia anak kota berubah minus 0,079, sedangkan anak desa berubah 0,021. BAZ anak kota naik 0,247 dan anak desa 0,190. Stunting di desa lebih rendah pada kedua tahap, tetapi selisih perubahan tiga tahunnya antara kota dan desa tidak bermakna.

Kejadian obesitas pun tidak berbeda antara anak kota dan anak desa, hasil yang menurut Forouharnia dan rekan bertentangan dengan studi di Tiongkok dan Indonesia. Mereka menawarkan penjelasan. “Tampaknya pengaruh urbanisasi sampai batas tertentu telah meluas ke daerah perdesaan di Iran, sehingga tidak ada perbedaan kejadian obesitas di antara kedua wilayah tempat tinggal ini,” tulis mereka.

Usia dan Harta Keluarga dalam Hitungan Emamian

Usia juga muncul dalam perubahan kedua skor. Emamian dan rekan mendapati murid kelompok 9 sampai 12 tahun mengalami perubahan skor tinggi yang lebih negatif daripada murid 6 tahun. BAZ murid 11 dan 12 tahun juga berubah lebih negatif dibanding murid 6 tahun, dengan koefisien minus 0,239 dan minus 0,395.

Pada kejadian obesitas baru, Forouharnia mencatat risiko yang lebih rendah pada murid yang lebih tua. Dibanding murid 6 tahun, rasio risikonya 0,53 pada usia 10 tahun, 0,36 pada usia 11 tahun, dan 0,47 pada usia 12 tahun. Para penulis menyebut pertumbuhan cepat pada usia 11 dan 12 tahun karena awal pubertas sebagai salah satu alasan hasil ini berbeda dari studi di Tiongkok dan Korea.

Kekayaan keluarga diukur Forouharnia lewat kepemilikan 15 barang rumah tangga, dari mobil dan televisi sampai mesin cuci dan microwave, lalu dibagi ke dalam lima kuintil. Dibanding kuintil termiskin, kenaikan BAZ lebih besar secara bermakna pada kuintil ketiga sebesar 0,072, kuintil keempat 0,135, dan kuintil kelima 0,096.

Meski begitu, kejadian obesitas baru tidak berkaitan dengan status sosial ekonomi. Forouharnia dan rekan membaca kenaikan BAZ yang lebih besar pada kuintil keempat dan kelima sebagai tanda obesitas dan kelebihan berat badan terkumpul pada kelompok yang lebih mampu. Menurut mereka, keluarga berstatus lebih tinggi di negara berkembang bisa menjalani gaya hidup modern tanpa sepenuhnya menyadari risiko pola makan tidak sehat dan kurang gerak.

Untuk stunting, hasil Forouharnia lebih datar. Usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, tempat tinggal, dan pendidikan orang tua tidak berkaitan dengan kejadian stunting setelah tiga tahun. Para penulis mencatat hasil soal usia ini berbeda dari studi di Pakistan dan Ethiopia, lalu menyebut masa tindak lanjut yang lebih pendek dan rentang usia yang lebih sempit sebagai kemungkinan penyebab utamanya.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Forouharnia Melacak Anak yang Berpindah Kelompok

Tim Forouharnia juga mengikuti perpindahan tiap anak antarkelompok. Pada tahap pertama ada 96 murid stunting. Tiga tahun kemudian, 61 di antaranya masih stunting, 31 naik ke kelompok skor tinggi antara minus 2 dan minus 1, dan 4 anak masuk ke kelompok antara minus 1 dan 1. Pada tahap kedua, jumlah murid stunting menjadi 126, termasuk 60 anak yang tiga tahun sebelumnya berada di kelompok minus 2 sampai minus 1.

Pola serupa dicatat Forouharnia pada obesitas. Dari 461 murid yang obesitas pada tahap pertama, 386 tetap obesitas, 65 turun ke kelompok kelebihan berat badan, dan 10 anak masuk ke kelompok BAZ antara minus 1 dan 1. Pada tahap kedua, murid obesitas berjumlah 655, di antaranya 205 anak yang sebelumnya kelebihan berat badan dan 61 anak yang sebelumnya berberat badan normal.

Forouharnia kemudian menyandingkan BAZ awal dengan pertumbuhan tinggi. Skor tinggi menurut usia naik pada murid yang semula kurus dan berat badan kurang, tetapi turun pada kelompok lain, dengan penurunan terbesar pada murid obesitas, yakni rata-rata minus 0,277. Prevalensi stunting pada tahap kedua paling tinggi pada kelompok kurus, 4,60 persen, dan paling rendah pada kelompok obesitas, 0,46 persen.

Stunting paling sering pada murid yang awalnya kurusKurus (BAZ < -2) 4,60%; Berat badan kurang 3,82%; Normal 2,18%; Kelebihan berat badan 1,21%; Obesitas (BAZ > 2) 0,46%.Stunting paling sering pada murid yangawalnya kurusProporsi stunting pada tahap 2 menurut kelompok BAZ padatahap 1 (persen, Tabel 6)0%2%4%6%Kurus (BAZ < -2)4,60%Berat badan kurang3,82%Normal2,18%Kelebihan berat badan1,21%Obesitas (BAZ > 2)0,46%
Sumber: Sama Forouharnia dan rekan, Rising prevalence of stunting and obesity in Iranian schoolchildren: a three-year cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Gabungan stunting dengan kelebihan berat badan atau obesitas pada satu anak jarang ditemukan di Shahroud. Forouharnia dan rekan hanya menemukan 4 peserta dengan kombinasi itu pada tahap pertama, atau 0,08 persen, dan 16 peserta pada tahap kedua, atau 0,32 persen. Hasil ini, tulis mereka, berbeda dari studi di Vietnam yang menemukan kombinasi itu cukup banyak, 1,4 sampai 2,7 persen. Studi Vietnam itu mencatat tren menurun, sedangkan di Shahroud prevalensi kombinasi tersebut disebut stabil setelah tiga tahun.

Pertanyaan yang Ditinggalkan Forouharnia untuk Studi Berikutnya

Kenaikan stunting di Shahroud berbeda dari kebanyakan studi lain yang mencatat penurunan, dan Forouharnia dan rekan mencoba menjelaskannya. Mereka menyebut masa tindak lanjut yang pendek dan kelompok usia yang terbatas. Setelah tiga tahun, cukup banyak peserta sudah memasuki pubertas, dan beda laju pertumbuhan tinggi pada masa itu, tulis mereka, mungkin menjadi penyebab naiknya prevalensi stunting.

Emamian dan rekan juga mencatat bahwa prevalensi stunting di Shahroud rendah pada kedua tahap. Menurut mereka, hal itu menandakan kegiatan utama untuk menekan stunting sudah dijalankan sebelum studi kohort ini dimulai. Dalam pengantarnya, para penulis menyebut keadaan di bagian lain Iran berbeda, misalnya Iranshahr di selatan yang pada 2017 mencatat stunting 50,2 persen di sekolah negeri dan 53,3 persen di sekolah swasta.

Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi

Forouharnia dan rekan juga terbuka soal batas studinya. Meski bersifat longitudinal, studi ini hanya punya satu kali penilaian lanjutan setelah tiga tahun, sehingga lintasan pertumbuhan anak belum bisa dipelajari lebih lengkap. Mereka juga tidak memiliki data asupan makanan dan kebiasaan gizi anak, dan menyarankan studi berikutnya menyertakan penilaian pola makan secara rinci.

Dalam kesimpulannya, Forouharnia menunjuk usia dini sebagai titik penting. “Risiko obesitas yang lebih rendah pada anak yang lebih tua (10–12 tahun) dibanding anak yang lebih muda (6 tahun) menunjukkan bahwa masa kanak-kanak awal mungkin merupakan jendela kritis untuk pencegahan obesitas,” tulis mereka. Menurut Forouharnia dan rekan, temuan itu menegaskan perlunya intervensi menyeluruh lintas sektor yang menyasar kekurangan gizi dan kelebihan gizi sekaligus pada anak usia sekolah.

Bagikan

Baca Juga

Lemak Berlebih Mahasiswa Palestina Tak Selalu Tampak di Timbangan
Rokok Kalahkan Belanja Gizi, Pakar UGM: Anak Rentan Stunting
Obesitas Orang Dewasa Peru Naik Lebih Cepat di Keluarga Termiskin
Kelas Sembilan Pekan Bantu Pensiunan Iran Lebih Mudah Beradaptasi
Separuh Warga Desa Gansu yang Diperiksa Punya Hati Berlemak
Lemak Darah Perempuan Obesitas Korea Berbeda Menurut Asupan Garam