Cekricek.id — Bou Meng, pelukis Kamboja yang menjadi satu dari hanya tujuh orang yang diketahui selamat dari pusat penyiksaan S-21 rezim Khmer Merah, meninggal pada usia 85 tahun. Kabar kematian dan pernyataan belasungkawa resmi atas kepergiannya beredar pada Minggu (16/8/2026).
Dikutip dari laporan kantor berita Associated Press yang dipublikasikan WRAL, wral.com, Minggu (16/8/2026), Bou Meng wafat akibat penyakit yang berkaitan dengan usia lanjut. Laman The Star, thestar.com.my, Minggu (16/8/2026), menyebut ia mengembuskan napas terakhir pada Jumat (14/8/2026).
Extraordinary Chambers in the Courts of Cambodia, pengadilan khusus yang mengadili kejahatan Khmer Merah, menyatakan kepergian itu adalah kehilangan besar bagi upaya merawat ingatan. “Meninggalnya Tuan Bou Meng merupakan kehilangan seorang saksi sejarah yang penting atas kejahatan berat yang dilakukan selama rezim Khmer Merah yang brutal, khususnya atas sejarah dan tragedi yang terjadi di bekas Pusat Keamanan S-21,” demikian pernyataan pengadilan itu.
Baca juga: Indonesia dan Uni Eropa Bahas Kayu Legal di Pertemuan JIC Ke-11
Selamat karena Bisa Melukis Wajah Pol Pot
Bou Meng dijebloskan ke S-21 pada 1977 bersama istrinya, sementara anak-anak mereka dikirim ke kamp yang berbeda. Ia tidak pernah bertemu lagi dengan mereka. Ia bertahan hampir dua tahun di dalam bekas kompleks sekolah yang diubah menjadi tempat interogasi itu justru karena kemampuannya melukis, sebuah keterampilan yang dianggap berguna oleh para penyiksanya untuk memproduksi potret Pol Pot.
Dalam kesaksian di persidangan pada 2010, Bou Meng menuturkan salah satu perintah yang harus ia kerjakan di dalam penjara. “Saya diperintahkan melukis gambar kepala Ho Chi Minh di atas tubuh seekor anjing,” tuturnya, seperti dicatat Associated Press.
Baca juga: Bus Wisata Polandia Terguling di Hongaria, 12 Orang Tewas
Kesaksian itu ia sampaikan pada pengadilan Kaing Guek Eav, komandan S-21 yang lebih dikenal dengan nama Duch. Bou Meng kemudian tetap hadir mengikuti proses hukum terhadap tokoh-tokoh Khmer Merah lainnya, termasuk saat putusan atas mantan kepala negara Khieu Samphan dibacakan di Phnom Penh pada September 2022.
Seruan Melindungi Para Penyintas yang Tersisa
Kepala Pusat Dokumentasi Kamboja, Youk Chhang, meminta agar kisah para penyintas tidak ikut terkubur bersama generasi yang kini satu demi satu berpulang. “Saya mendesak adanya langkah untuk melestarikan kisah jutaan orang yang selamat dari Khmer Merah dan memberi mereka dukungan kesehatan mental sekaligus fisik,” kata Youk Chhang.
Krisis yang ia maksud berakar pada kekuasaan Khmer Merah pada paruh kedua 1970-an, ketika kompleks S-21 di Phnom Penh dipakai untuk menahan, menginterogasi, dan menghabisi tahanan yang dituduh sebagai musuh rezim. Hanya sedikit orang yang keluar hidup-hidup dari tempat itu, dan Bou Meng adalah salah satu nama yang paling dikenal di antara mereka.
Baca juga: Australia Mulai Beli Kembali Senjata Api pada 2 November
Sepanjang tahun-tahun terakhir hidupnya, Bou Meng memilih menghabiskan waktu di bekas penjara yang kini menjadi Museum Genosida Tuol Sleng. Ia menemui pengunjung, menjelaskan apa yang terjadi di setiap sudut bangunan, dan menceritakan pengalamannya sendiri agar generasi sesudahnya tidak kehilangan konteks atas apa yang pernah berlangsung di sana.
















