Tim KKN UGM Susun Arsip Budaya Desa Bayan di Lombok Utara

A A

Ilustrasi mahasiswa berjalan beriringan di luar ruang. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada menyusun Arsip Ingatan Bayan, dokumentasi budaya Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Arsip itu disiapkan untuk merapikan pemahaman tentang tradisi setempat yang selama ini sering disederhanakan oleh pihak luar.

Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, ugm.ac.id, Minggu (16/8/2026), penyusunan arsip diinisiasi Muhammad Lodhi Firmansyah bersama Amanda Maika Marjano dari Program KKN-PPM UGM Lembaran Bayan 2026 Periode II. Keduanya menghimpun keterangan dari tokoh adat, pemerintah desa, dan pemangku kebudayaan daerah.

Penyusunan arsip berjalan sebagai bagian dari program kerja KKN-PPM UGM Lembaran Bayan 2026 Periode II. Pengenalan sejarah lokal menjadi pintu masuk tim mahasiswa sebelum menghimpun materi arsip bersama tokoh adat dan pemerintah desa.

Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Jangan Tanam Massal Pascakebakaran Bromo

Salah Kaprah soal Istilah Watu Telu

“Kita menjelaskan, sejumlah pemaknaan dari pihak luar tidak selalu sesuai dengan pemahaman masyarakat setempat. Salah satunya adalah istilah Watu Telu yang kerap disederhanakan sebagai praktik salat tiga waktu,” kata Lodhi Firmansyah, penggagas Arsip Ingatan Bayan.

Dalam arsip tersebut, kata Watu dijelaskan berkaitan dengan asal dan perkembangan kehidupan melalui tiga cara reproduksi serta tiga tahap keberadaan manusia, yakni lahir, hidup, dan mati. Penjelasan itu jauh dari anggapan yang beredar di luar desa dan menjadi salah satu alasan pendokumentasian dianggap perlu.

Kepala Desa Bayan, Satradi, membenarkan bahwa penyederhanaan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di desanya. “Nyatanya, bukan itu maksudnya. Kami di sini banyak lulusan pesantren dan kami mengamalkan ajaran Islam sebagaimana mestinya,” tegas Satradi.

Bayan Disebut Wajah Lombok Seabad Lalu

Nilai sejarah desa itu juga ditegaskan pemangku kebudayaan daerah. Kepala Bidang Kebudayaan Lombok Utara, Raden Sawinggih, menempatkan Bayan sebagai rujukan untuk memahami Lombok pada masa lampau.

Baca juga: Inovasi UGM Jadi SNI Pertama Kewirausahaan Gotong Royong

“Bayan adalah wajah Lombok 100 tahun yang lalu. Menyebut telah mengenal Lombok belumlah lengkap jika belum menginjakkan kaki di Bayan,” ujar Raden Sawinggih.

Arsitektur Sasak Ikut Didata

Selain memaknai istilah adat, arsip menghimpun ragam arsitektur tradisional Sasak beserta maknanya, mulai dari Bale Mengina, Berugaq, Lumbung, Dapur, hingga Kandang. Pencatatan itu menempatkan bangunan bukan sekadar sebagai bentuk fisik, melainkan penanda cara masyarakat menata kehidupan sehari-hari.

Anggota Badan Permusyawaratan Desa, R. Wikto Kusuma, menilai pendokumentasian semacam itu dibutuhkan karena pengetahuan adat tersimpan tersebar pada banyak tokoh. “Kami sangat bersyukur jika ada pendokumentasian seperti ini, sebab kadang satu sama lain tokoh adat saja ada detail kecil yang berbeda,” tutur R. Wikto Kusuma.

Baca juga: USU Dorong Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pandang Batu Bara

Hasil penghimpunan itu diletakkan sebagai bahan rujukan bersama, baik bagi warga desa maupun pendatang yang hendak mengenal Bayan. Bagi tim KKN, kerja pencatatan menjadi cara menautkan program pengabdian dengan kebutuhan yang disebut langsung oleh pemerintah desa dan tokoh adat setempat.

Bagikan

Baca Juga

Padi Orang Baduy Tak Dijual, Disimpan di Leuit sampai Lima Tahun
Anak Tunawisma Paris Penerima Paket Makanan Kurang Makan Sayur
Orang Tua Mesir yang Melek Pangan Justru Lebih Sering Gemuk
Anak Spanyol yang Cukup Tidur Lebih Sering Jalan Kaki ke Sekolah
Makin Banyak Toko Tembakau Dekat Sekolah, Makin Banyak Siswa Vape
Belanja Sayur Daring di Shanghai Lebih Ramai di Kawasan Mapan