Cekricek.id — Ratusan naskah kuno Palembang hari ini disimpan dalam ruangan berukuran 3,5 meter kali 4 meter di sebuah rumah di Jalan Faqih Jalaluddin, 19 Ilir, Kota Palembang. Tidak ada pendingin udara di sana. Ketika suhu ruangan itu diukur, angkanya 25,5 derajat Celsius — alat ukurnya termometer pada telepon genggam. Naskah-naskahnya, sebagian ditulis pada 1700-an, tersimpan di dalam lemari kaca dan lemari ukiran khas Palembang yang berdiri di ruang tamu.
Kondisi itu didokumentasikan Roki Saputra dan Endang Rochmiatun dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang bersama Wahyu Rizky Andhifani dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Jakarta, lewat artikel Preservasi naskah kuno: Sebuah kajian evaluasi Perpustakaan Pribadi Kemas Andi Syarifuddin di Kota Palembang, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 1 pada 2025. Kajiannya berupa studi kasus kualitatif dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis dokumen atas satu perpustakaan pribadi.
Yang mereka soroti tiga hal: faktor penyebab kerusakan naskah, pengetahuan pemiliknya tentang penyelamatan naskah, dan langkah preservasi yang sudah dijalankan. Pertanyaannya relevan karena, seperti yang mereka catat, mayoritas naskah di Palembang saat ini justru berada di koleksi pribadi dan merupakan warisan dari generasi sebelumnya, bukan di lembaga dengan fasilitas konservasi.
Warisan dari Majelis Taklim yang Berdiri pada 1906
Perpustakaan itu berakar pada Masjid Agung Palembang, yang pendiriannya dipelopori Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikrama atau SMB I pada masa pemerintahannya, 1724 sampai 1750. Di sekitar Keraton Palembang dahulu terdapat kawasan bernama Guguk Pengulon, tempat bermukimnya para penghulu, ulama, dan murid yang datang dari berbagai wilayah Sumatera, sekaligus pusat pengajaran Islam yang memiliki perpustakaan berisi kitab-kitab karya ulama Palembang. Koleksi itu kemudian dibawa Belanda dan Inggris ke berbagai negara dan museum setelah keraton dikuasai.
Cikal bakal perpustakaan pribadi ini adalah Kemas Haji Umar, kakek Kemas Andi Syarifuddin, yang menjabat khatib sekaligus kadi dan juga menulis. Ia mendirikan Majelis Taklim Umariyah pada 18 April 1906, yang menjadi salah satu pusat pelestarian naskah kuno Palembang. Naskah-naskah itu kini distempel dengan cap bertuliskan koleksi pustaka umariyah. Kemas Andi Syarifuddin sendiri, yang oleh penulisnya disebut sebagai zuriat kedelapan dari Datuk Syekh Azhari, murid Syekh Abdus Shomad Al-Falembani, mulai tertarik pada naskah kuno ketika berkuliah di IAIN Raden Fatah Palembang.
Isi koleksinya beragam. Ada Al-Quran berkulit emas yang usianya sekitar 250 tahun; Al-Quran Al-Karim yang ditulis Kms. H. Abdullah pada 1261 Hijriah atau 1844 Masehi; Athiyatur Rahman karya Syekh M. Azhari bertarikh 1280 Hijriah atau 1863 Masehi; naskah Al-Hikam karya Ibnu Athaillah Al-Iskandari; catatan nikah yang merekam nama orang-orang yang dinikahkan pada 1942 sampai 1950; tafsir Al-Quran yang ditulis Ahmad bin Ahmad bin Nasruddin pada 958 Hijriah atau 1550 Masehi; Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang disalin Syekh Abdul Jalil pada 1200 Hijriah atau 1785 Masehi; syarah hadis karya Haji Abdurrahim bin Khalifa Mahdi; Dalail Al-Khairat tanpa nama penulis; serta Sejarah Perang Palembang yang ditulis Raden Dencik pada 1968. Semuanya ditulis tangan, sebagian besar beraksara Jawi, dan sebagian mushaf memakai ornamen khas Palembang. Sebagai perbandingan, Perpustakaan Universitas Leiden menyimpan sekitar 65 naskah milik Sultan Badaruddin yang dipindahkan ke Belanda setelah kekalahan Palembang pada abad ke-19, dan Perpustakaan Nasional Indonesia sekitar 45 naskah dengan kondisi yang bervariasi.
Asam dalam Tinta, Jamur pada Kertas Eropa
Penyebab kerusakan yang paling sunyi bersifat kimia. Kandungan asam pada kertas dan tinta — asam tanat, garam besi, asam sulfat, ditambah keasaman udara — mempercepat reaksi hidrolisis sehingga serat kertas melemah. Di perpustakaan ini, tim peneliti mencatat “terdapat 12 naskah dengan kondisi rusak karena faktor kimia dan faktor usia”. Naskah-naskah itu merupakan warisan yang dulunya dikelola generasi sebelumnya.
Ancaman yang lebih kasat mata datang dari makhluk hidup. Naskah mengandung selulosa dan protein yang menjadi santapan hewan pengerat, serangga, dan jamur, yang berkembang cepat di lingkungan lembap dan bersuhu tinggi. Tikus hitam dan tikus cokelat disebut sebagai ancaman lazim bagi naskah, bukan hanya karena menggerogoti kertas melainkan juga karena kotoran dan urine yang memicu tumbuhnya jamur dan bakteri. Untuk yang satu ini kabarnya baik: Kemas Andi Syarifuddin menyatakan tidak pernah menemukan naskah rusak akibat hewan pengerat di perpustakaannya, meski ia tetap melakukan pengawasan.
Serangga cerita lain. Rayap tetap menjadi tantangan karena serangga itu senang berdiam di tempat lembap, dan artikel ini memuat foto kondisi naskah yang rusak akibat rayap. Satu risiko justru absen di sini: seluruh koleksi tidak memakai lem sebagai perekat, melainkan dijilid dengan cara dijahit memakai benang, sehingga daya tarik bagi serangga yang menyukai perekat dari tepung kanji berkurang. Sementara jamur meninggalkan tanda berupa bercak hitam dan cokelat pada kertas, membuat naskah rapuh, halaman mudah terlepas, dan tinta tua memudar atau larut sehingga informasi di dalamnya berpotensi hilang. Jenis kertas yang terkena jamur adalah kertas Eropa, dan menurut keterangan pemiliknya, naskah-naskah berjamur itu sudah dalam kondisi demikian ketika ia menerimanya sebagai pewaris.
Sumber kerusakan yang tersisa justru manusia dan bencana. Pengunjung perpustakaan ini terbatas pada mereka yang berkepentingan — mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemerintah — tetapi justru di situ risikonya: ada yang tidak memakai sarung tangan dan membolak-balik naskah terlalu kasar. Kebakaran juga bukan ancaman teoretis. Kemas Andi Syarifuddin menceritakan naskah milik tetangganya yang terbakar dan tidak sempat diselamatkan. Persoalan yang sama membayangi banyak koleksi warisan lain, termasuk naskah-naskah tambo di Minangkabau yang isinya menjadi rujukan sejarah lokal.
Suhu 25,5 Derajat dan Sebuah Flashdisk
Bagian evaluasi menjadi paling tajam ketika sampai pada fasilitas. Standar yang dirujuk tim peneliti adalah ruangan bersuhu 18 sampai 25 derajat Celsius dengan kelembapan relatif 40 sampai 50 persen serta sirkulasi udara yang baik. Hasil observasinya: koleksi disimpan di lemari yang berada di ruang tamu, tanpa pendingin udara, dengan suhu terukur 25,5 derajat Celsius. “Kondisi ini menunjukkan bahwa suhu penyimpanan naskah berada di atas rentang suhu yang direkomendasikan,” tulis Roki Saputra dan rekan-rekannya. Pemiliknya sendiri menyebut ruangan itu sudah ditata dengan lemari antirayap dan sirkulasi udara yang stabil.
Daftar sarana yang tercatat dalam artikel ini pendek: dua lemari kaca berukuran besar, dua lemari ukiran khas Palembang, satu komputer, satu meja baca, satu flashdisk, satu kursi, dan satu stempel Pustaka Umariyah. Dengan perangkat sebanyak itulah ratusan manuskrip dirawat.
Taruhannya tidak kecil. “Jika tanpa perawatan khusus, seperti penyimpanan di tempat yang terlindung dari cuaca dan serangga maka usia buku biasanya tidak melebihi seratus tahun,” tulis para penelitinya tentang bahan kertas manuskrip di iklim tropis Indonesia. Sebagian besar koleksi di perpustakaan ini sudah jauh melampaui angka itu. Ancaman serupa dihadapi arsip tulisan tangan di berbagai belahan dunia, dari gulungan yang tersimpan di gua-gua tepi Laut Mati sampai kodeks-kodeks yang merekam kota-kota pra-Kolumbus.
Tembakau, Kapur Barus, dan Pemindaian yang Belum Rampung
Langkah preservasi yang dijalankan pemiliknya bertumpu pada kebersihan dan pembatasan akses. Ruangan dijaga bebas debu, kotoran, dan serangga; makanan serta minuman tidak diizinkan berada di dekat manuskrip; naskah dipegang dengan sarung tangan khusus atau kain bersih dan dibersihkan dengan sikat halus; sementara yang boleh melihat koleksi dibatasi pada orang yang memahami nilai naskah. Penataan ruang dan tempat penyimpanan juga diusahakan, meski hasil observasi menunjukkan kondisinya belum memenuhi standar suhu.
Upaya yang lebih baru berupa digitalisasi. Koleksi Kemas Andi Syarifuddin sudah dialihkan ke format digital lewat pemindaian, dan sebagiannya dapat diakses lewat situs Dreamsea. Pada 2003, Yayasan Naskah Nusantara bersama Tokyo University of Foreign Studies sempat mendigitalkan naskah-naskah miliknya, tetapi pekerjaan itu belum mencakup seluruh koleksi sehingga dilanjutkan oleh Pusat Layanan Kegiatan Kearsipan dan Manuskrip Online. Sejalan dengan itu berjalan pula transliterasi, yaitu pengalihaksaraan sejumlah naskah dari Jawi ke tulisan Melayu latin maupun ke tulisan latin Indonesia, ditambah pengetikan ulang isinya di komputer agar lebih mudah dipahami.
Cara yang paling tua justru masih dipakai. Kemas Andi Syarifuddin menyelipkan tembakau dan kapur barus di sekitar naskah untuk mencegah tumbuhnya jamur dan datangnya rayap. Kebiasaan itu ia tiru dari orang tua dan kakeknya, yang menaruh kapur barus dan tembakau di lemari pakaian dan lemari buku; generasi sebelumnya juga memakai cengkeh. Tim peneliti mencatat bahwa banyak penelitian terdahulu menyatakan bahan-bahan tradisional semacam ini tidak lagi digunakan untuk perawatan naskah, tetapi pemiliknya tetap meyakini manfaatnya. Artikel ini tidak menguji efektivitas tembakau dan kapur barus tersebut secara laboratoris, sehingga keyakinan itu tetap berstatus praktik yang dilaporkan, bukan temuan yang terbukti.
Batas kajian ini memang perlu dipegang. Yang diperiksa hanya satu perpustakaan pribadi di satu kota, datanya kualitatif, dan pengukuran suhu memakai termometer pada telepon genggam — bukan alat pemantau suhu dan kelembapan yang biasa dipakai konservator. Penulisnya tidak memaparkan bagian khusus tentang keterbatasan penelitian, dan tidak melaporkan angka kelembapan ruangan sama sekali. Jumlah naskah pun disebut secara umum sebagai ratusan, dengan hanya 12 naskah yang tercatat rusak karena faktor kimia dan usia.
Kesimpulan yang mereka tarik menahan diri dari menyalahkan pemiliknya. “Mayoritas naskah yang keadaannya rusak adalah kondisi asli ketika Kemas Andi Syarifuddin menerima naskah-naskah tersebut,” tulis Roki Saputra dan rekan-rekannya di bagian penutup. Kemas Andi Syarifuddin dinilai memiliki pemahaman tentang nilai naskah, ancaman yang mengintainya, serta pentingnya publikasi dan kolaborasi — ia menjalin kerja sama dengan ahli dan institusi untuk penyelamatan koleksinya. Status naskah-naskah semacam ini sendiri terikat pada aturan tentang benda yang dilindungi sebagai cagar budaya. Selain mengelola perpustakaan di rumahnya, Kemas Andi Syarifuddin juga menjadi pengelola laboratorium naskah Melayu di UIN Raden Fatah Palembang, dan sebagian koleksinya kini diletakkan di sana.















