- Seluruh responden di kelima kampung menyebut nama suku dan bahasa mereka yang tepat adalah Wambon, bukan Mandobo.
- Penutur Mandobo Bawah dan Mandobo Tengah saling memahami pada tingkat cukup mudah mengerti.
- Antara Mandobo Atas dengan Mandobo Tengah maupun Mandobo Bawah tidak ada kesalingmengertian sama sekali.
- Di Wariktoop, semua warga mampu membaca dan menulis, tetapi hanya 55 persen yang bisa berbahasa daerah.
Daftar Isi
Sebuah bahasa lazimnya dikenal lewat nama yang dipakai penuturnya sendiri, seolah nama itu sudah melekat sejak kata pertamanya diucapkan. Di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, anggapan itu patah, sebab orang-orang yang dalam katalog bahasa dunia tercatat sebagai penutur Mandobo ternyata tidak menamai diri maupun bahasanya Mandobo, melainkan Wambon, dan mereka menyebut nama itu dengan seragam di setiap kampung yang disinggahi peneliti.
Temuan itu dicatat dalam Keragaman Bahasa Mandobo di Papua Selatan: Kajian Ragam Bahasa dan Kesalingmengertian, tulisan Fernando H. Gusmao dalam prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya 22 tahun 2024. Gusmao, dari Yayasan Suluh Insan Lestari dan Ethnologue Project Indonesia, menelusuri dua bahasa yang tercatat sebagai Mandobo Atas dan Mandobo Bawah, lalu bertanya kepada penuturnya di mana batas bahasa mereka dan seberapa jauh satu ragam dapat dimengerti oleh ragam lainnya.
Secara kekerabatan, Mandobo digolongkan ke rumpun Trans-New Guinea dan sub-keluarga Dumut, bersaudara dengan Ketum, Kombai, Wanggom, dan Wambon. Di utara ia berbatasan dengan Wanggom, Kombai, dan Wambon, di timur dengan Muyu Utara dan Muyu Selatan, di selatan dengan Yei, Marind, dan Marind Bian, di barat dengan Awyu Edera, Awyu Jair, Aghu, dan Awyu Utara. Namun, peta kekerabatan yang rapi itu ternyata belum menjawab pertanyaan paling dasar, yakni siapa yang berhak memberi nama.
Nama yang datang dari seberang
Diskusi pemetaan dialek digelar di lima kampung, yaitu Bukit, Winiktit, Maju RT.01/Wakeriop, Mariam, dan Ogenetan. Seluruh responden di kelima kampung menyebut nama suku dan bahasa mereka yang tepat adalah Wambon, bukan Mandobo. Istilah Mandobo, menurut mereka, dipakai pihak luar, terutama Belanda pada masa penjajahan, lalu terus terbawa hingga dikenal orang luar sampai hari ini, sementara penuturnya sendiri tetap memakai nama yang lain.
Pada bagian kesimpulan, Gusmao mencatat bahwa Mandobo adalah julukan pemberian pihak luar, khususnya penjajah Belanda, yang secara harfiah bermakna Manusia Pipa, dengan Man berarti manusia dan Dobo berarti pipa. Jauh sebelum itu, tulisnya dengan merujuk Vries, bahasa ini disebut Kaeti, dari ungkapan küap kaeti yang berarti orang sejati, dan orangnya juga disebut Ndumut, menurut nama sungai yang mengalir di tempat suku itu tinggal.
Justru sebaliknya dari dugaan bahwa nama bahasa selalu lahir dari dalam, penamaan di wilayah ini berlapis-lapis, dari sebutan diri sebagai orang sejati, nama sungai, sampai sebutan dari pemerintah yang merintis pembangunan pos di Tanah Merah. Di tingkat kampung pun penamaan tetap cair, karena warga membedakan Wambon Gunung, Wambon Pesisir atau Tengah, dan Wambon Bawah, sejajar dengan Mandobo Atas, Tengah, dan Bawah yang dipakai para peneliti.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Satu suku yang tidak selalu saling paham
Pertanyaan berikutnya lebih rumit, sebab satu nama suku tidak menjamin satu bahasa. Dalam pemetaan dialek, warga diminta membayangkan anak sekolah dasar yang belum pernah pergi ke desa lain, lalu menilai ragam mana yang dimengerti semua, cukup mudah dimengerti, agak susah, atau sangat sulit dimengerti. Dari penilaian itulah garis-garis di antara ragam tutur Wambon mulai terlihat dengan cukup jelas.
Penutur Mandobo Bawah dan Mandobo Tengah saling memahami pada tingkat cukup mudah mengerti. Warga Ogenetan menempatkan ragam Tengah yang paling mudah mereka pahami di Kampung Mariam, lalu di Kampung Patriot, sementara penutur di Maju dan Mariam menyampaikan hal serupa tentang ragam Bawah. Hubungan kedua ragam itu, dalam pembacaan Gusmao, menunjukkan kemungkinan bahwa keduanya berada dalam satu kelompok bahasa dengan dialek masing-masing.
Antara Mandobo Atas dengan Mandobo Tengah maupun Mandobo Bawah tidak ada kesalingmengertian sama sekali. Dalam diskusi, hubungan itu ditandai lambang sedih yang berarti sangat susah dimengerti, dan ketika bertemu, para penutur memilih bahasa lain, yakni bahasa Indonesia atau Melayu Papua. Karena itu Gusmao menyimpulkan Mandobo Bawah dan Tengah dapat digabung menjadi satu bahasa, sedangkan Mandobo Atas harus berdiri sebagai bahasa sendiri.
Di dalam setiap kelompok, perbedaan kecil justru menjadi penanda. Ragam Tengah dinamai menurut kata untuk menyebut apa, yakni kenemate dengan bunyi t di Wakeriop, Komanik, Koatkubun, dan Ginggimop, serta kenemare dengan bunyi r di Mariam, Arimbet, Kouh, Patriot, dan Tanah Merah. Warga Ogenetan menyebut ragamnya Thegamonok, bukan Tekamerop, karena bunyi r dianggap berasal dari dialek lain yang tidak ada dalam tuturan mereka.
Ketika nama sendiri sudah dipakai orang lain
Di situlah persoalannya menjadi ganjil. Nama Wambon, yang diakui warga sebagai nama mereka, dalam katalog Ethnologue sudah memiliki kode ISO wms untuk bahasa Wambon Kenon dan Kenyam, sehingga mengembalikan nama itu begitu saja justru berisiko menimbulkan kekeliruan. Gusmao memilih tetap memakai Mandobo dalam uraiannya, dan alasannya ia tuliskan pada sebuah catatan kaki yang ringkas tetapi memuat seluruh kerumitan persoalan nama ini.
“Kedua bahasa ini berasal dari suku yang sama, yaitu suku Wambon, namun berbeda secara kebahasaan, baik dari segi kosa kata maupun tingkat kesalingpahaman yang sulit antara satu sama lain,” tulis Fernando H. Gusmao dalam naskahnya. Kalimat itu membalik logika yang biasa dipakai, sebab nama suku ternyata tidak dapat dijadikan batas bahasa, dan batas bahasa pun tidak selalu mengikuti nama yang dipakai warganya sendiri.
Pembagian ini juga menggeser peta yang disusun Jang pada 2003, yang memecah Mandobo menjadi empat sub-bahasa, yaitu Mandobo Kokenop, Mandobo Atas, Mandobo Tengah, dan Mandobo Mariam. Warga menilai Kokenop dan Atas sama-sama merujuk pada orang Mandobo di area perbukitan, sehingga keduanya disatukan. Mariam, yang dulu diberi kelompok sendiri, ternyata mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Mandobo Tengah.
Osso, Selil, Kaisah, dan Tinggam, yang oleh Jang dimasukkan ke Mandobo Tengah, kini ditempatkan di Mandobo Bawah bersama Ogenetan, Autriop, Mawan, Getentiri, Aiwat, Subur, Asiki, dan Butiptiri. Winiktit, Wariktoop, Maju RT.04/Yerop, dan Langgoan, yang dulu dibagi ke dua dialek, menurut warganya memakai dialek yang sama, yakni Agayop. Berdasarkan semua itu Gusmao menyarankan agar data di Ethnologue diperbarui.
Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan
Angka yang menguji pengakuan
Pengakuan warga kemudian disandingkan dengan hitungan kemiripan kosakata dari survei Farneubun tahun 2002, yang memakai daftar 239 kata. Menurut ambang yang dipakai Gusmao, kemiripan di atas 80 persen menandai satu bahasa, sedangkan 75 sampai 79 persen menandai sub-keluarga. Kemiripan Mandobo Bawah dan Tengah berkisar 51 sampai 79 persen, sejalan dengan penilaian warga bahwa keduanya cukup mudah dimengerti satu sama lain.
Kemiripan Mandobo Atas dengan Mandobo Bawah hanya 36 sampai 66 persen, dan dengan Mandobo Tengah 37 sampai 60 persen, rentang yang sesuai dengan penilaian sangat susah dimengerti. Terhadap bahasa lain di sub-keluarga Dumut, abstrak naskah menyebut kemiripan tertinggi hanya 49 persen. Dengan demikian, hitungan kosakata dan penilaian warga, dua cara yang sangat berbeda, sampai pada garis pemisah yang kurang lebih sama.
Namun, di dalam kelompok pun angka tidak selalu patuh. Di Kouh, kemiripan dengan Ginggimop hanya 75 persen dan dengan Maju RT.01 76 persen, yang menurut Gusmao disebabkan percampuran suku, terutama Suku Jair dan Kombai, sehingga kosakata dari bahasa sekitar terserap. Di Mandobo Atas, kemiripan antara Tetop dengan Maju RT.04 dan Wariktop hanya 71 sampai 79 persen, tetapi warga Agayop merasa saling paham dengan baik.
Selil menyimpan cerita yang lebih tua. Penduduknya berasal dari Ogenetan, dan menurut catatan sejarah yang dikutip naskah, sekitar seratus tahun lalu suku Wambon berperang dengan suku Marind dan menang, lalu menguasai wilayah yang kini menjadi Kampung Selil di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke. Dari riwayat itu, menurut Gusmao, percampuran dengan kosakata Marind kemungkinan besar terjadi, sehingga kemiripan Selil dengan banyak ragam lain tidak mencapai 80 persen.
Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani
Bangga, sementara anak-anak beralih
Di balik semua garis itu ada sikap penutur yang tidak kalah penting. Di Kampung Maju, warga mengaku bangga bisa berbahasa daerah, tetapi sedih karena anak-anak kini kurang lancar dan sehari-hari memakai Melayu Papua terus-menerus. Penutur dialek Iwammup di Distrik Arimop diperkirakan warga sekitar 3.000 orang, dan kampung-kampung di distrik itu sudah mencampur bahasa daerah dengan bahasa Indonesia dalam percakapan.
Di Wariktoop, semua warga mampu membaca dan menulis, tetapi hanya 55 persen yang bisa berbahasa daerah. Penutur dialek Agayop diperkirakan sekitar 500 orang, dan warganya tidak malu memakai bahasa asli, bahkan memakainya ketika marah. Mereka belum pernah melihat buku atau majalah dalam bahasa daerah dan berminat ikut bila ada pengembangan, sementara warga Maju menginginkan kamus bahasa daerah dan buku cerita rakyat dalam dialek mereka.
Seluruh gambaran itu berdiri di atas bahan yang terbatas, dan penulisnya mengakuinya. Karena waktu dan biaya, penelitian hanya menjangkau Mandobo Atas dan Bawah di Boven Digoel, pemetaan dialek hanya di lima kampung, dan kuesioner utuh hanya di Wariktoop dalam waktu sekitar 30 sampai 60 menit. Data kosakatanya berasal dari survei tahun 2002, jumlah penutur hanya perkiraan warga, dan ragam Omba/Tinggam serta Langgoan masih perlu dikaji lebih lanjut.
Hal-hal yang belum saling cocok di dalam naskah
Pembaca yang teliti dapat menemukan beberapa ketidakcocokan. Abstrak menyatakan Mandobo terbagi menjadi dua bahasa, bagian analisis kosakata menyebut tiga kelompok bahasa, dan bagian kesalingmengertian membuka dengan pembagian menjadi tiga sebelum menyimpulkan dua. Subbab Mandobo Atas menulis kemiripan tertinggi 66 persen dengan Mandobo Tengah dan 60 persen dengan Mandobo Bawah, padahal abstrak dan bagian lain menulisnya terbalik.
Abstrak mengutip angka 79 persen dari Farneubun 2022, sedangkan badan naskah dan daftar pustaka hanya memuat Farneubun 2002. Ambang kemiripan disebut berasal dari Smith 1984, tetapi sekali tertulis Smith 1998. Satu kampung ditulis Golombon-Rogara dan Golombon-Goraga dalam paragraf yang sama. Asal-usul nama pun dua versi, yaitu dari kata Mandup dan Wambon di pendahuluan, lalu Manusia Pipa di kesimpulan.
Ada pula keterangan warga Wariktoop, penutur Mandobo Atas, yang menyatakan satu bahasa dengan Osso, Selil, Kaisah, dan Omba/Tinggam, padahal kampung-kampung itu oleh naskah dimasukkan ke Mandobo Bawah, kelompok yang disebut tidak saling paham dengan Mandobo Atas. Naskah tidak membahas pertentangan ini, sehingga pembaca dibiarkan menimbang sendiri pengakuan warga yang mana yang dijadikan patokan akhir.
Pada akhirnya penelitian ini menyisakan sesuatu yang lebih besar daripada peta dialek, karena ia memperlihatkan bahwa nama, batas, dan pengakuan tidak selalu berjalan seiring. Warga menyebut dirinya Wambon, katalog menyebutnya Mandobo, dan nama Wambon sudah dipakai untuk bahasa lain. Bila kelak kamus yang diminta warga Maju benar-benar disusun, nama siapakah yang akan tercetak di sampulnya?















