Empat Juta Kelambu Dibagikan, Malaria Kinshasa Tak Kunjung Surut

A A

Ilustrasi petugas menurunkan bal kelambu berinsektisida dari truk di sebuah desa di Madagaskar [Foto: USAID in Africa/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Kinshasa membagikan 4.284.918 kelambu berinsektisida tahan lama kepada 1.229.985 rumah tangga pada Desember 2020.
  • Pada 2018, Kinshasa mencatat rata-rata 10,25 kasus malaria per 1.000 penduduk.
  • Puncaknya datang pada 2022 dengan 15,93 kasus per 1.000 penduduk, dan pada 2023 angka itu masih tinggi.
  • Para penulis tetap mendukung pembagian kelambu massal, tetapi meminta pemantauan pascakampanye yang lebih kuat.
Daftar Isi
  1. Dua Dekade Kelambu dalam Rencana Republik Demokratik Kongo
  2. Kinshasa, Kota yang Tak Bisa Disamakan dengan Desa
  3. Angka Tahunan 2018 sampai 2023 yang Terus Merangkak
  4. Setelah Desember 2020, Kurva yang Tak Mau Turun
  5. Tafsir Mbuku dan Mvuama atas Angka yang Berlawanan
  6. Batas Penelitian dan Catatan pada Naskah 2026

Dunia menargetkan bebas malaria pada 2030, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia masih mencatat sekitar 282 juta kasus dan 610.000 kematian pada 2024, dengan Afrika menanggung 94 persen kasus dan 95 persen kematian. Di tengah angka sebesar itu, Kinshasa membagikan 4.284.918 kelambu berinsektisida tahan lama kepada 1.229.985 rumah tangga pada Desember 2020. Tiga tahun kemudian, catatan malaria kota itu belum menunjukkan penurunan yang bertahan.

Temuan tersebut dimuat dalam Association between the December 2020 mass long-lasting insecticidal net distribution campaign and reported malaria incidence in Kinshasa, Democratic Republic of the Congo: an interrupted time-series analysis of routine surveillance data, karya Nanou Mbuku, Nono Mvuama, dan sebelas peneliti lain, yang terbit di BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit tahun 2026. Mbuku berasal dari Protestant University of Congo dan Paris-Saclay University, sedangkan Mvuama berafiliasi dengan Kinshasa School of Public Health, University of Kinshasa.

Dua Dekade Kelambu dalam Rencana Republik Demokratik Kongo

Republik Demokratik Kongo termasuk negara dengan beban malaria paling berat di dunia. Pada 2022, negara itu mencatat hampir 27 juta kasus dan 24.880 kematian, atau sekitar 12 persen kasus dan 13 persen kematian malaria sedunia. Hampir dua pertiga kasusnya terkumpul di sepuluh provinsi berbeban tinggi, dan Kinshasa yang dihuni sekitar 15 juta orang termasuk di antaranya.

Selama dua dekade terakhir, negara itu menambah obat kombinasi berbasis artemisinin, pengobatan pencegahan berkala, penguatan surveilans, dan kelambu berinsektisida tahan lama. Dari semua itu, kelambu disebut para penulis sebagai salah satu alat pengendali nyamuk yang paling luas dipakai sekaligus paling hemat biaya. Kinshasa sendiri sudah menjalankan pembagian massal pada Desember 2016, Desember 2020, dan Januari 2024.

Keyakinan pada kelambu bertumpu pada rantai riset yang panjang. Studi yang dirujuk naskah, dari tepi Danau Victoria di Kenya oleh Larson dan rekan pada 2014, kampanye sembilan juta kelambu gratis di Tanzania yang ditulis Bonner dan rekan pada 2011, hingga Sierra Leone dalam catatan Bennett dan rekan pada 2012, menunjukkan kampanye massal cepat menaikkan jumlah rumah tangga yang memiliki kelambu.

Cakupan yang tinggi juga dikaitkan dengan turunnya penularan, kesakitan, dan kematian, antara lain dalam kajian Levitz dan rekan pada 2018 tentang pemakaian kelambu dan malaria pada anak balita di Republik Demokratik Kongo. Di Uganda, Epstein dan rekan pada 2025 menilai dua jenis kelambu generasi baru dengan memakai data fasilitas kesehatan rutin, jalan yang kemudian juga ditempuh tim Kinshasa ini.

Kampanye kelambu massal di KinshasaKinshasa membagikan kelambu massal pada Desember 2016, Desember 2020, dan Januari 2024; kampanye 2020 membagikan 4.284.918 kelambu.Kampanye kelambu massal di KinshasaData 35 zona kesehatan, Januari 2018 sampai Desember 20232016Desember: kampanye kelambu massal sebelumnya2018Januari: awal data surveilans bulanan yang dianalisis2020Desember: 4.284.918 kelambu untuk 1.229.985rumah tangga2023Desember: akhir data surveilans yang dianalisis2024Januari: kampanye kelambu massal berikutnyaKelambu 2020: Yorkool 4,1 juta dan PermaNet 2 sebanyak 0,3 juta.
Sumber: Nanou Mbuku, Nono Mvuama, dkk., Association between the December 2020 mass long-lasting insecticidal net distribution campaign and reported malaria incidence in Kinshasa, Democratic Republic of the Congo: an interrupted time-series analysis of routine surveillance data, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kinshasa, Kota yang Tak Bisa Disamakan dengan Desa

Masalahnya, sebagian besar bukti tentang kelambu datang dari desa dan pinggiran desa. Para penulis menyebut malaria di kota besar berperilaku lain karena dipengaruhi urbanisasi cepat, kondisi lingkungan, mobilitas warga, ketimpangan sosial ekonomi, mutu perumahan, dan sistem kesehatannya. Rujukan klasik Hay dan rekan pada 2005 tentang urbanisasi dan malaria di Afrika menjadi salah satu pijakan argumen itu.

Kinshasa adalah contoh yang tepat untuk menguji hal tersebut. Provinsi itu membentang sekitar 9.965 kilometer persegi, terbagi ke dalam 35 zona kesehatan dengan 972 fasilitas kesehatan, dan sebagian besar fasilitas itu dikelola swasta. Menurut para penulis, temuan dari wilayah perdesaan tidak bisa begitu saja dipindahkan ke kota sebesar dan setumbuh Kinshasa.

Kampanye Desember 2020 memakai dua jenis kelambu standar, yakni Yorkool sebanyak 4,1 juta lembar dan PermaNet 2 sebanyak 0,3 juta lembar. Tim membandingkan catatan malaria bulanan di seluruh 35 zona dari Januari 2018 sampai November 2020 dengan catatan sejak Desember 2020 hingga Desember 2023, saat kelengkapan laporan rata-rata sekitar 96 persen.

Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh

Angka Tahunan 2018 sampai 2023 yang Terus Merangkak

Pada 2018, Kinshasa mencatat rata-rata 10,25 kasus malaria per 1.000 penduduk. Angkanya naik menjadi 11,33 pada 2019, turun ke 9,74 pada 2020, lalu bergerak ke 12,10 pada 2021. Semua angka itu dihimpun dari seluruh 35 zona kesehatan dan dirata-ratakan untuk tingkat provinsi. Puncaknya datang pada 2022 dengan 15,93 kasus per 1.000 penduduk, dan pada 2023 angka itu masih tinggi, 15,70.

Dengan kata lain, angka tahun 2023 kira-kira satu setengah kali angka tahun 2018. Para penulis juga melihat ketimpangan antarwilayah, karena beberapa zona kesehatan konsisten mencatat angka lebih tinggi daripada zona lain, sementara naik-turun dari tahun ke tahun tetap tampak jelas sepanjang enam tahun pengamatan itu.

Kasus malaria tercatat per 1.000 penduduk2018: Kasus per 1.000 penduduk +10,25; 2019: Kasus per 1.000 penduduk +11,33; 2020: Kasus per 1.000 penduduk +9,74; 2021: Kasus per 1.000 penduduk +12,10; 2022: Kasus per 1.000 penduduk +15,93; 2023: Kasus per 1.000 penduduk +15,70.Kasus malaria tercatat per 1.000 pendudukRata-rata tahunan Provinsi Kinshasa, Tabel 1 naskah481216200201810,25201911,3320209,74202112,10202215,93202315,70Kampanye kelambu berlangsung Desember 2020. Angka tertinggi pada2022.
Sumber: Nanou Mbuku, Nono Mvuama, dkk., Association between the December 2020 mass long-lasting insecticidal net distribution campaign and reported malaria incidence in Kinshasa, Democratic Republic of the Congo: an interrupted time-series analysis of routine surveillance data, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Porsi malaria di antara seluruh kunjungan berobat juga tidak menyusut. Pada 2018, kasus malaria terkonfirmasi mengisi 28,22 persen dari semua konsultasi dan kontak layanan kesehatan, sedangkan pada 2023 porsinya menjadi 30,75 persen. Di antara kunjungan baru saja, porsinya naik lebih tajam, dari 34,85 persen menjadi 44,02 persen.

Ada satu angka yang bergerak ke arah sebaliknya. Kematian yang dilaporkan per 100.000 kasus malaria turun dari 96,42 pada 2018 menjadi 9,03 pada 2023, meski sempat naik lagi ke 18,64 pada 2022. Naskah tidak menghubungkan penurunan angka kematian itu dengan kampanye kelambu, sehingga temuan ini cukup dibaca sebagai bagian dari potret enam tahun tersebut.

Setelah Desember 2020, Kurva yang Tak Mau Turun

Ketika masa sebelum dan sesudah kampanye dibandingkan secara sederhana, masa sesudah mencatat angka malaria sekitar 23 persen lebih tinggi. Setelah pola musim diperhitungkan lebih teliti, selisihnya menjadi sekitar 16 persen. Dalam perhitungan utama, tepat setelah kampanye angka malaria berada sekitar 18 persen di atas tingkat sebelumnya dan kemudian terus naik kira-kira satu persen setiap bulan.

Hasil itu tidak goyah ketika titik awal kampanye digeser ke Januari atau Februari 2021. Lonjakan awalnya berkisar 18 sampai 22 persen, sedangkan kenaikan bulanannya tetap sekitar 1,2 sampai 1,4 persen. Koreksi tambahan atas keterkaitan antarbulan juga tidak mengubah kesimpulan, sehingga para penulis menyebut temuannya konsisten di berbagai cara perhitungan. Perhitungan yang memasukkan kenaikan bertahap itu juga terbukti lebih cocok dengan data daripada yang tidak memasukkannya.

Musim tetap memegang peran penting dalam cerita ini. Dalam perhitungan paling sederhana, musim kemarau mencatat angka malaria sekitar sembilan persen lebih rendah daripada musim hujan. Pola musiman Kinshasa ternyata lebih rumit daripada sekadar hujan dan kemarau, yang menurut para penulis sejalan dengan pengaruh curah hujan, kelembapan, dan suhu terhadap nyamuk dan parasit.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Tafsir Mbuku dan Mvuama atas Angka yang Berlawanan

Di sinilah tim Kinshasa berbeda arah dengan uji acak dan studi pengamatan yang mereka rujuk, yang banyak mencatat penurunan beban malaria setelah kelambu disebar. Meski begitu, Mbuku, Mvuama, dan rekan-rekannya menolak membaca grafik mereka secara terbalik, seolah kelambu justru menambah malaria di kota itu. Menurut mereka, banyak studi terdahulu bersandar pada data perorangan, rancangan berkelompok pembanding, atau masa pengamatan yang lebih pendek, sedangkan tim ini membaca data surveilans rutin selama enam tahun.

“Kenaikan angka malaria yang dilaporkan pada periode setelah intervensi tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa kampanye kelambu meningkatkan penularan malaria,” tulis Nanou Mbuku, Nono Mvuama, dan rekan dalam naskah berbahasa Inggris. Menurut mereka, temuan ini lebih menunjukkan bahwa data surveilans rutin tidak memperlihatkan penurunan yang terukur dan bertahan di tingkat provinsi.

Penjelasan pertama yang mereka ajukan adalah jarak antara memiliki dan memakai kelambu. Mvuama sendiri, bersama Zanga dan Sanogo pada 2026, membandingkan pemakaian kelambu yang dilaporkan dengan yang diamati di Tanganyika. Kajian Mansiangi dan rekan pada 2020 tentang ketahanan kelambu di barat laut negara itu turut dirujuk untuk menjelaskan kelambu yang aus, sobek, atau kehilangan daya insektisidanya.

Penjelasan kedua adalah nyamuk Anopheles yang makin kebal terhadap piretroid, bahan yang dipakai kelambu konvensional. Masalah ini, menurut naskah, sudah tercatat luas di Afrika sub-Sahara dan mendorong WHO merekomendasikan kelambu dua bahan aktif, termasuk kelambu piretroid-klorfenapir, di daerah yang nyamuknya sudah kebal piretroid. Bersama penyusutan jumlah kelambu, kerusakan fisik, dan kebiasaan memakainya setiap malam, kekebalan nyamuk disebut ikut melemahkan perlindungan kelambu seiring waktu.

Penjelasan ketiga menyangkut cara angka itu dicatat. “Perbaikan diagnosis dan pelaporan malaria dapat menaikkan angka kejadian yang dilaporkan bahkan ketika penularan sebenarnya stabil atau menurun,” tulis para penulis, juga dalam bahasa Inggris. Masa penelitian ini pun bertumpang tindih dengan pandemi COVID-19, yang di Zimbabwe dan Zambia, menurut rujukan mereka, ikut mengubah layanan dan pelaporan malaria.

Karena itu, para penulis tetap mendukung pembagian kelambu massal, tetapi meminta pemantauan pascakampanye yang lebih kuat atas cakupan efektif, pemakaian rutin, keawetan kelambu, dan kekebalan nyamuk. “Di wilayah perkotaan berbeban tinggi seperti Kinshasa, kampanye kelambu massal kemungkinan tetap diperlukan, tetapi mungkin tidak cukup dengan sendirinya untuk mempertahankan penurunan beban malaria jangka panjang,” tulis mereka.

Batas Penelitian dan Catatan pada Naskah 2026

Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Penelitian ini bersifat ekologis tanpa kelompok pembanding, sehingga tidak bisa menyimpulkan apa pun tentang perorangan. Tidak ada data langsung tentang kepemilikan, cakupan efektif, keutuhan fisik, atau pemakaian kelambu, dan faktor iklim juga tidak dimasukkan. Karena itu, hasilnya hanya boleh dibaca sebagai keterkaitan waktu, bukan ukuran sebab-akibat dari kelambu.

Ada pula keterkaitan antarbulan yang tetap tersisa di semua perhitungan, tanda bahwa masih ada proses lain yang belum tertangkap. Para penulis menyebut data rutin bisa dipengaruhi kelengkapan laporan, kebiasaan berobat, praktik diagnosis, dan kinerja surveilans yang berubah sepanjang waktu, yang semuanya dapat menggeser angka tercatat tanpa mengubah penularan sebenarnya.

Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset

Pembaca yang teliti juga bisa memeriksa beberapa hal dalam naskah. Keterangan Gambar 4 menyebut adanya efek awal yang menguntungkan dan manfaat yang pelan-pelan hilang, padahal tabel dan teks hasil sama-sama mencatat lonjakan sekitar 18 persen lalu kenaikan sekitar satu persen per bulan. Arah kedua uraian itu berlawanan.

Satu kalimat di bagian hasil juga menyatakan keterkaitan antarbulan sudah tertangkap penuh oleh semua perhitungan, sementara uji yang dilaporkan di tabel yang sama dan bagian pembahasan menyimpulkan keterkaitan itu belum sepenuhnya teratasi. Di abstrak, tanggal alternatif tertulis Januari 2021 dan Februari, tanpa tahun pada bulan kedua.

Empat juta lebih kelambu yang tiba di 1.229.985 rumah tangga pada Desember 2020 menjadi satu mata rantai baru dalam riset panjang tentang kelambu dan malaria. Dari Kenya, Tanzania, dan Sierra Leone, rantai itu bercerita tentang kelambu yang cepat dimiliki, sedangkan dari Kinshasa ia mencatat kota besar yang angka malarianya tetap merangkak dari 10,25 ke 15,70 kasus per 1.000 penduduk.

Bagikan

Baca Juga

Pelatih Pribadi di Gym China Kini Lebih Sibuk Menjual Kelas
Delapan dari Sepuluh Buruh Garmen Sri Lanka Kepanasan di Pabrik
Separuh Peziarah Arbain Iran Pakai Layanan Kesehatan di Jalan
Perajin Lonceng Tembaga Bhuj Terpapar Debu, Bising, dan Panas
Keran Cuci Tangan Portabel Spatap Diterima Tiga Komunitas Fiji
Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk