Separuh Peziarah Arbain Iran Pakai Layanan Kesehatan di Jalan

A A

Ilustrasi rombongan peziarah Arbain berjalan di jalan gurun melewati tenda medis relawan [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Dari 461 peziarah Iran yang mengisi survei daring, 230 orang atau 49,9 persen memakai setidaknya satu layanan kesehatan selama ziarah.
  • Semua jenis layanan turun setelah peziarah pulang, tetapi obat tanpa resep turun paling sedikit.
  • Peziarah yang naik kendaraan umum punya rasio peluang 1,55 untuk berobat saat berangkat, tetapi hanya 0,48 saat pulang.
  • Kelompok yang rawan saat berangkat belum tentu rawan saat pulang, dan sebaliknya.
Daftar Isi
  1. Health service utilization: siapa yang datang berobat
  2. Non-prescription medication: obat tanpa resep dokter
  3. Physical readiness: kesiapan tubuh untuk berjalan
  4. Odds ratio: rasio peluang yang berbalik arah
  5. Survivor effect: efek mereka yang bertahan
  6. Statistically significant: bermakna secara statistik

Health service utilization, atau pemanfaatan layanan kesehatan, kurang lebih sama dengan pertanyaan seberapa sering seseorang mampir ke pos medis, meminta obat, atau diperiksa ketika sedang bepergian jauh. Pertanyaan itu diajukan kepada peziarah Iran yang mengikuti Arbaeen Walking Ceremony, perjalanan kaki menuju Karbala, Irak, pada 2023. Jawabannya, hampir separuh dari mereka memakai layanan kesehatan di tengah perjalanan.

Temuan itu ditulis Vahid Ghanbari, Leili Rostamnia, Shahab Rezaeian, Hamzeh Zahabi, dan Maryam Janatolmakan dalam Factors associated with health service utilization among Iranian pilgrims during the 2023 Arbaeen pilgrimage in Iraq: a cross-sectional study, yang dimuat BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Kelima penulis bernaung di Kermanshah University of Medical Sciences, Iran, yang juga mendanai penelitian ini.

Arbaeen Walking Ceremony, yang dalam naskah disingkat AWC, disebut sebagai salah satu kumpul massa tahunan terbesar. Menurut para penulis, 20 sampai 30 juta peziarah berdatangan ke Karbala dalam rentang 10 sampai 14 hari. Banyak yang berjalan hingga 80 kilometer dari Najaf, dalam suhu yang bisa berkisar 5 sampai 40 derajat Celsius. Iran sendiri mengirim lebih dari satu juta peziarah setiap tahun.

Health service utilization: siapa yang datang berobat

Maksudnya, yang dihitung bukan jumlah orang yang sakit, melainkan jumlah orang yang benar-benar memakai layanan. Dari 461 peziarah Iran yang mengisi survei daring, 230 orang atau 49,9 persen memakai setidaknya satu layanan kesehatan selama ziarah. Setelah pulang, 145 orang atau 31,5 persen masih mencari perawatan lanjutan.

Peserta survei ini relatif muda. Rata-rata usianya 35,1 tahun, dan perempuan sedikit lebih banyak, yakni 50,3 persen. Sebanyak 62,5 persen berangkat dengan transportasi umum, dan 46 persen sudah pernah mengikuti Arbain dua sampai empat kali. Tiga perempat peserta, tepatnya 74,6 persen, tidak punya riwayat penyakit.

Para penulis menyebut angka hampir separuh itu sejalan dengan kumpul massa keagamaan lain. Pada Arbain 2018 dan ziarah Sabarimala di India, 40 sampai 48 persen peserta melaporkan masalah kesehatan yang perlu ditangani. Bedanya begini, rawat inap pada peziarah Arbain dalam survei ini rendah, sementara naskah mencatat angka 5,6 persen pada jemaah haji Indonesia.

Para penulis menduga selisih itu datang dari beratnya perjalanan. Berjalan 70 sampai 80 kilometer dalam cuaca ekstrem bekerja seperti saringan, sehingga yang ikut cenderung lebih muda dan lebih sehat. Jemaah haji, menurut naskah, datang dari rentang usia yang lebih luas, termasuk lansia dan pengidap penyakit kronis, dan banyak di antaranya bepergian dengan kendaraan.

Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan

Non-prescription medication: obat tanpa resep dokter

Non-prescription medication adalah obat yang diperoleh tanpa resep dokter. Maksudnya, peziarah menerima obat untuk meredakan keluhannya tanpa melalui pemeriksaan resmi. Inilah layanan yang paling sering dipakai selama ziarah, yakni oleh 99 orang atau 21,5 persen peserta. Setelah pulang pun, 78 orang atau 16,9 persen masih memakai obat jenis ini.

Layanan lain menyusul di belakangnya. Pemeriksaan rawat jalan dipakai 16,5 persen peserta dan perawatan luka 15,6 persen. Terapi cairan, yang dalam naskah disebut serum therapy, dipakai 6,7 persen. Hanya enam orang atau 1,3 persen yang sampai dirujuk dan dirawat inap selama ziarah, dan empat orang atau 0,8 persen setelah pulang.

Layanan kesehatan yang dipakai peziarahObat tanpa resep 21,5% ke 16,9%; Pemeriksaan 16,5% ke 6,1%; Perawatan luka 15,6% ke 5,0%; Terapi cairan 6,7% ke 2,6%.Layanan kesehatan yang dipakai peziarahPersen dari 461 peziarah Iran, Arbain 2023Selama ziarahSetelah pulang0%5%10%15%20%25%Obat tanpa resep16,9%21,5%Pemeriksaan6,1%16,5%Perawatan luka5,0%15,6%Terapi cairan2,6%6,7%Total pemakai: 49,9% selama ziarah, 31,5% setelah pulang.
Sumber: Vahid Ghanbari, Leili Rostamnia, Shahab Rezaeian, Hamzeh Zahabi, dan Maryam Janatolmakan, Factors associated with health service utilization among Iranian pilgrims during the 2023 Arbaeen pilgrimage in Iraq: a cross-sectional study, BMC Public Health (naskah dalam proses terbit), 2026. Grafik: Cekricek.id

Grafik itu memperlihatkan pola yang konsisten. Semua jenis layanan turun setelah peziarah pulang, tetapi obat tanpa resep turun paling sedikit. Pemeriksaan rawat jalan anjlok dari 16,5 menjadi 6,1 persen, dan perawatan luka dari 15,6 menjadi 5,0 persen, sementara obat tanpa resep hanya bergeser dari 21,5 ke 16,9 persen.

Para penulis membaca kebiasaan ini bersama bukti lain yang mereka rujuk. Peziarah kerap mengobati sendiri keluhan ringan, termasuk cedera otot dan tulang, karena akses ke layanan resmi terbatas, jaraknya jauh, dan ada keengganan memutus perjalanan. Karena itu, mereka mengusulkan pos obat yang diawasi agar obat bebas tidak disalahgunakan.

Physical readiness: kesiapan tubuh untuk berjalan

Physical readiness, atau kesiapan fisik, adalah penilaian peziarah sendiri tentang seberapa siap tubuhnya menanggung beban perjalanan. Ukurannya mencakup ketahanan aerobik, kelenturan, kekuatan otot, dan komposisi tubuh. Hasilnya tidak terlalu menggembirakan, karena hanya 21 orang atau 4,6 persen yang tergolong dalam kondisi baik.

Sebagian besar peserta, yakni 54,7 persen, berada dalam kondisi sedang, dan 40,8 persen tergolong lemah. Rata-rata skornya 38,1. Para penulis menyoroti komposisi tubuh dan ketahanan sebagai titik lemah, lalu menyimpulkan bahwa banyak peziarah memulai perjalanan tanpa persiapan yang memadai.

Gambaran kesehatan umum justru sebaliknya. Rata-rata skor kesehatan umum peserta 19,7, dan 70,5 persen atau 325 orang tergolong sehat. Bedanya begini, alat ukur kesehatan umum ini menilai keluhan tubuh, kecemasan dan sulit tidur, gangguan fungsi sosial, serta gejala depresi, bukan kekuatan otot atau daya tahan berjalan.

Yang mengejutkan, kedua ukuran itu tidak meramalkan siapa yang akan berobat. Tidak ada kaitan yang berarti antara skor kesiapan fisik dan pemakaian layanan, baik saat berangkat maupun pulang, dan hal yang sama berlaku untuk skor kesehatan umum. Para penulis menduga penyebabnya kondisi awal peserta yang umumnya sehat, atau penundaan mencari pertolongan karena alasan budaya dan logistik.

Pola ini, menurut naskah, khas untuk kumpul massa keagamaan seperti Arbain. Di festival musik dan pertandingan olahraga, keadaan darurat didominasi mabuk alkohol, trauma, dan gangguan kejiwaan. Arbain justru dibentuk oleh beban fisik, paparan lingkungan, dan penularan penyakit, ditambah air bersih dan sanitasi yang terbatas serta kepadatan orang.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Odds ratio: rasio peluang yang berbalik arah

Odds ratio, atau rasio peluang, adalah angka yang membandingkan kemungkinan satu kelompok memakai layanan dengan kelompok lain. Angka di atas 1 berarti peluangnya lebih besar, di bawah 1 lebih kecil. Para penulis menghitungnya dua kali, yakni untuk perjalanan berangkat dan perjalanan pulang, dan hasilnya kerap berbalik arah.

Usia menjadi contoh paling jelas. Saat berangkat, setiap tambahan satu tahun usia menaikkan peluang berobat dengan rasio 1,02. Saat pulang, arahnya terbalik menjadi 0,97, artinya peziarah yang lebih tua justru lebih jarang memakai layanan. Jenis kelamin dan tingkat pendidikan, sebaliknya, tidak menunjukkan kaitan yang bermakna pada kedua fase.

Satu faktor, arah berbedaSatu faktor, arah berbedaSatu faktor, arah berbedaRasio peluang memakai layanan kesehatanBerangkatPulang1,020,97Usia (per tahun)1,550,48Transportasiumum0,721,84PerbatasanKhosravi0,801,75Pernah ikut 2-4kaliAngka di atas 1 berarti peluang lebih besar.
Sumber: Vahid Ghanbari, Leili Rostamnia, Shahab Rezaeian, Hamzeh Zahabi, dan Maryam Janatolmakan, Factors associated with health service utilization among Iranian pilgrims during the 2023 Arbaeen pilgrimage in Iraq: a cross-sectional study, BMC Public Health (naskah dalam proses terbit), 2026. Grafik: Cekricek.id

Transportasi umum bergerak dengan pola serupa. Peziarah yang naik kendaraan umum punya rasio peluang 1,55 untuk berobat saat berangkat, tetapi hanya 0,48 saat pulang. Para penulis menduga kendaraan yang sesak dan berventilasi buruk memudahkan penularan infeksi pernapasan dan pencernaan di awal perjalanan, sementara saat pulang banyak yang sudah dirawat atau memilih beristirahat.

Perbatasan juga ikut berbicara. Hampir separuh peserta, 46,9 persen, tercatat melintas lewat Khosravi. Peziarah yang pulang lewat perbatasan itu punya rasio peluang 1,84 untuk berobat dibanding yang melintas lewat Mehran. Para penulis menduga kepadatan, antrean panjang, atau infrastruktur medis yang lebih lemah di sana sebagai penyebabnya.

Pengalaman ternyata tidak selalu membuat peziarah lebih jarang berobat. Mereka yang sudah ikut dua sampai empat kali punya rasio peluang 1,75 saat pulang. Para penulis menawarkan dua kemungkinan, yakni kesadaran kesehatan yang tumbuh dari pengalaman berulang, atau kelelahan yang menumpuk karena lebih lama tertahan di perbatasan yang padat.

Survivor effect: efek mereka yang bertahan

Survivor effect, atau efek penyintas, adalah cara para penulis menjelaskan berbaliknya pengaruh usia. Maksudnya, hanya peziarah lanjut usia yang paling tangguh secara fisik dan mental yang menuntaskan seluruh ziarah. Mereka yang kesehatannya lebih buruk sudah berhenti atau pulang lebih awal, sehingga tidak lagi tampak pada perjalanan pulang.

Penjelasan itu meluruskan anggapan bahwa kebutuhan medis peziarah sama sepanjang jalan. Kelompok yang rawan saat berangkat belum tentu rawan saat pulang, dan sebaliknya. Para penulis merangkum gagasan itu dalam satu kalimat di bagian kesimpulan naskah mereka.

“Studi ini menyoroti bahwa pemanfaatan layanan kesehatan selama AWC adalah proses yang dinamis, yang dibentuk oleh tuntutan fisik ziarah, moda perjalanan, dan kerentanan peziarah yang berubah sejak berangkat hingga pulang,” tulis Ghanbari, Rostamnia, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dari situ mereka mengusulkan layanan medis yang ditempatkan menurut fase, lokasi, dan kelompok peziarah.

Usulan itu cukup rinci. Kehadiran medis perlu diperkuat saat berangkat, terutama di simpul transit dan rute yang padat, sementara titik kepulangan seperti Khosravi memerlukan klinik keliling, pemantauan waktu nyata, dan pengaturan kerumunan. Skrining dan edukasi sebelum berangkat diarahkan pada lansia dan pengidap penyakit kronis, termasuk soal obat, minum, dan kesiapan fisik.

Para penulis juga mengakui batas temuannya. Datanya diambil pada satu waktu sehingga tidak bisa menunjukkan sebab akibat, dan kondisi kesehatan sebelum berangkat tidak dicatat. Semua jawaban bersandar pada ingatan peserta sendiri, dan survei yang disebar lewat Telegram, WhatsApp, Rubika, dan Eitta cenderung menjaring peziarah yang muda, melek teknologi, dan tinggal di kota.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Statistically significant: bermakna secara statistik

Statistically significant, atau bermakna secara statistik, berarti sebuah kaitan cukup kuat untuk tidak dianggap kebetulan. Maksudnya, angka rasio peluang saja belum cukup, karena kaitan yang tidak bermakna belum bisa dijadikan pegangan. Di titik inilah beberapa bagian naskah bisa diperiksa ulang oleh pembaca yang teliti.

Teks hasil menyebut peluang berobat lebih tinggi pada peziarah yang berziarah 6 sampai 10 hari saat perjalanan pulang. Tabel justru mencatat rasio 1,12 yang tidak bermakna untuk fase pulang, sedangkan untuk fase berangkat angkanya 0,41 dan bermakna, artinya peluangnya lebih rendah. Abstrak tetap menyebut lama ziarah itu sebagai faktor penentu.

Kesimpulan naskah merekomendasikan penguatan layanan di perbatasan Tamarchin dan Bashmaq. Padahal kelompok itu hanya berisi lima orang, dan rasio peluangnya tidak bermakna. Pembahasan sendiri lebih menonjolkan Khosravi. Teks hasil juga menyebut pengguna pesawat dan pemilik riwayat penyakit berpeluang lebih tinggi, sementara tak satu pun angkanya bermakna di tabel.

Ada pula selisih kecil lain. Rasio usia saat berangkat tertulis 1,02 dengan rentang kepercayaan, yakni kisaran tempat nilai sebenarnya diperkirakan berada, 1,00 sampai 1,04. Rentang itu menyentuh angka 1, tetapi dilaporkan bermakna kuat. Jumlah peserta berpendidikan tinggi tertulis 273 di teks dan 237 di tabel, padahal 51,4 persen dari 461 sama dengan 237.

Pemanfaatan layanan kesehatan, dalam naskah ini, akhirnya bukan satu angka yang berlaku sepanjang jalan. Ia berubah antara berangkat dan pulang, bergantung pada usia, kendaraan, dan perbatasan yang dilalui. Namun, istilah itu hanya mencatat siapa yang datang ke layanan, bukan siapa yang sakit tetapi memilih bertahan dengan obatnya sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Perajin Lonceng Tembaga Bhuj Terpapar Debu, Bising, dan Panas
Keran Cuci Tangan Portabel Spatap Diterima Tiga Komunitas Fiji
Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk
Keluhan Kandung Kemih Imam di Turki Lebih Ringan daripada Guru
Kanker Mulut di Assam Surut di Kota, Diam-diam Naik di Desa
Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi