Keran Cuci Tangan Portabel Spatap Diterima Tiga Komunitas Fiji

A A

Botol air bergagang digantung terbalik di dahan pohon sebagai keran cuci tangan sederhana [Foto: SuSanA Secretariat/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Tidak satu pun responden, dewasa maupun anak, masuk golongan tidak diterima.
  • Sebanyak 54 persen menyebut mudah dipakai, 42 persen hemat air, dan 18 persen praktis karena bisa ditaruh dekat toilet.
  • Anak-anak muncul di setiap kelompok sebagai pengguna paling bersemangat.
  • Survei ulang batal karena COVID-19, sehingga Hosking hanya punya satu titik waktu.
Daftar Isi
  1. Hosking Membawa Keran ke Distrik Ba
  2. Tiga Asisten Mendatangi Setiap Rumah
  3. Angka yang Ditimbang Hosking dan Richardson
  4. Lima Bulan Kemudian, Hosking Kembali
  5. Harga Botol dan Batas Catatan Hosking
  6. Yang Bisa Diperiksa di Naskah Hosking

Rose Hosking dan timnya membagikan keran silikon kecil bernama Spatap ke tiga komunitas di distrik Ba, Fiji, pada Juni 2022. Keran itu tidak membutuhkan sambungan air ledeng. Ia cukup dipasang pada botol plastik, dan botol itu berubah menjadi tempat cuci tangan yang bisa diletakkan di dekat toilet atau dapur.

Hosking, mahasiswa doktoral di National Centre for Epidemiology and Population Health, Australian National University, menulis hasilnya bersama Alice Richardson, Darren Gray, Simon Hales, Suliasi Batikawai, dan Aparna Lal. Naskah berjudul Evaluating the acceptability of a portable handwashing intervention (the Spatap) in three Fijian communities, a mixed-methods study itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Pertanyaan mereka sederhana, yakni apakah warga mau memakai alat itu dan mengapa.

Hosking Membawa Keran ke Distrik Ba

Hosking tidak memilih komunitasnya sendiri. Kementerian Kesehatan dan Layanan Medis Fiji, mitra proyek ini, memilih tiga komunitas di Ba yang akses air dan kebersihannya terbatas serta pernah berurusan dengan kementerian soal pembagian jamban atau permintaan tangki air. Naskah menyamarkan ketiganya sebagai Dua, Rua, dan Tolu, yang berarti satu, dua, dan tiga dalam bahasa iTaukei.

Ukuran ketiganya berbeda jauh, dan Hosking mencatat bedanya. Dua adalah desa pesisir antara Ba dan Lautoka dengan sekitar 828 jiwa dan 108 rumah tangga, airnya dialirkan pipa dari bendungan beberapa kilometer jauhnya. Rua, di pedalaman dataran tinggi, dihuni sekitar 43 jiwa dalam 26 rumah tangga. Tolu hanya tiga rumah tangga, sekitar 17 jiwa, dengan sumur bor sekitar satu kilometer jauhnya.

Di setiap komunitas, peneliti dan petugas kesehatan memperagakan cara memakai Spatap dalam bahasa Inggris dan iTaukei. Senior Health Inspector Mosese Koroi, yang disebut naskah sebagai mitra tim, ikut melibatkan warga dan menyalurkan alat itu. Kepala kampung lalu menerima Spatap secukupnya untuk dibagi dua buah per rumah tangga, masing-masing disertai petunjuk tertulis berbahasa Inggris tentang cara dan tempat menggantungnya.

Stuart Mason dari Spatap, yang disebut dalam ucapan terima kasih naskah, memberi masukan dari penerapan alat itu sebelumnya. Menurut pengembangnya, satu botol 1,5 liter bisa dipakai hingga 60 kali cuci tangan, sekitar 25 mililiter sekali cuci. Hosking dan rekan-rekannya menegaskan klaim itu belum pernah dievaluasi secara mandiri maupun resmi.

Tiga Asisten Mendatangi Setiap Rumah

Dua sampai tujuh hari setelah pembagian, tiga asisten lapangan dwibahasa bersama seorang peneliti dari universitas Australia mendatangi setiap rumah tangga. Dalam ucapan terima kasih, naskah menyebut asisten lapangan bernama Makareta Rokobui, Matelide Letevou, dan Vereniki Vatucicilia. Hasilnya 207 responden dari 101 rumah tangga, terdiri atas 166 orang dewasa dan 41 anak berusia 10 sampai 17 tahun.

Jawaban yang dikumpulkan Rokobui dan kawan-kawan menggambarkan air yang tidak pernah benar-benar pasti. Sebanyak 78 persen responden mengatakan air lebih sulit didapat pada tahun-tahun tertentu, dan 16 persen mengalaminya setiap tahun. Hampir semua orang, 99 persen, punya tempat cuci tangan, biasanya baskom plastik atau logam yang diisi dari keran umum, tetapi 39 persen tidak selalu punya sabun atau air.

Jarak juga menjadi soal. Menurut catatan Hosking, 68 persen orang dewasa merasa tempat cuci tangannya tidak dekat dengan toilet, sedangkan pada anak angkanya 83 persen. Anak juga lebih sering tidak puas dengan fasilitas lama, 29 persen berbanding 4 persen pada orang dewasa. Hanya sekitar 40 persen orang dewasa yang benar-benar puas dengan tempat cuci tangan yang sudah ada.

Hosking juga menyandingkan sanitasi warga dengan angka nasional. Tiga perempat responden sudah memakai jamban dengan layanan dasar, tetapi pemakai jamban tidak layak mencapai 8 persen, empat kali angka nasional Fiji yang 2 persen. Hampir separuh responden memakai sumber air yang sama untuk toilet dan untuk cuci tangan.

Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

Angka yang Ditimbang Hosking dan Richardson

Untuk mengukur penerimaan, Hosking menyusun tujuh pertanyaan berskala satu sampai lima sehingga skor tertingginya 35. Hasilnya tinggi. Skor tengah orang dewasa 29 dari 35, dengan rentang 18 sampai 35, dan hampir semuanya jatuh di golongan diterima atau sangat diterima. Tidak satu pun responden, dewasa maupun anak, masuk golongan tidak diterima.

Skor anak dihitung dari 30, bukan 35, dan skor tengahnya 25. Hosking mencatat alasannya dengan terus terang. Karena pencacah keliru memakai slide skala wajah tersenyum, hanya 15 dari 41 anak yang menjawab pertanyaan tentang perasaan mereka terhadap Spatap, sehingga komponen itu dibuang dari hitungan skor anak.

Rincian yang disusun Hosking memperlihatkan di mana Spatap paling kuat. Rasa yakin bisa memakainya tanpa bantuan, pentingnya menghemat air, dan keyakinan bahwa alat itu berguna diberi nilai tertinggi oleh 84 sampai 90 persen orang dewasa. Sebanyak 89 persen memberi nilai penuh untuk perasaan mereka terhadap alat itu, dan 97 persen benar menjawab bahwa Spatap dipakai untuk cuci tangan.

Hosking juga menemukan dua komponen yang tertinggal. Pada orang dewasa, 62 persen memberi nilai tiga atau kurang untuk beban memakai dan merawat Spatap, dan 61 persen untuk biaya peluang, yaitu waktu atau uang yang harus dikorbankan. Nilai tengahnya tiga untuk beban dan dua untuk biaya peluang. Pada anak, angkanya 53 dan 48 persen.

Penerimaan Spatap: dewasa dan anakPenerimaan Spatap: dewasa dan anakPenerimaan Spatap: dewasa dan anak166 dewasa dan 41 anak di tiga komunitas distrik Ba, FijiDewasaAnak 10-17 tahun29 dari 3525 dari 30Skor tengahpenerimaan18-3518-30Rentang skor68%83%Tempat cuci tanganjauh dari toilet4%29%Tidak puas dengantempat lama62%53%Menilai beban 3 kebawahSkor anak tanpa komponen sikap afektif, sehingga maksimalnya 30.
Sumber: Rose Hosking, Alice Richardson, Darren Gray, Simon Hales, Suliasi Batikawai, dan Aparna Lal, Evaluating the acceptability of a portable handwashing intervention (the Spatap) in three Fijian communities, a mixed-methods study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Alice Richardson, yang menyumbang keahlian statistik dan mengawasi analisis, ikut menimbang siapa yang memberi skor lebih tinggi. Warga yang bekerja cenderung memberi skor lebih rendah daripada yang tidak bekerja, dan warga yang airnya selalu tersedia memberi skor lebih rendah dengan selisih 3,74 poin. Usia dan jenis kelamin tidak membedakan skor orang dewasa, dan pada anak tidak satu pun faktor berkaitan dengan skor.

“Penerimaan lebih dibentuk oleh faktor fungsional dan lingkungan ketimbang karakteristik sosiodemografis dalam penelitian ini, meski anak-anak disebut sebagai pengguna yang antusias, yang menandakan pintu masuk potensial bagi penerapan di rumah tangga dan komunitas,” tulis Hosking dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kaitan itu tetap kaitan, bukan sebab akibat.

Jawaban terbuka yang dicatat Rokobui, Letevou, dan Vatucicilia menunjukkan alasan yang sejalan. Sebanyak 54 persen menyebut mudah dipakai, 42 persen hemat air, dan 18 persen praktis karena bisa ditaruh dekat toilet. Hambatan jarang disebut, sebab air bocor, air terbatas, dan kemungkinan rusak masing-masing muncul pada kurang dari 3 persen jawaban.

Alasan warga mau memakai SpatapMudah dipakai: Persen jawaban +54%; Hemat air: Persen jawaban +42%; Praktis, dekat toilet: Persen jawaban +18%.Alasan warga mau memakai SpatapJawaban terbuka survei di Dua, Rua, dan Tolu20%40%60%0Mudah dipakai54%Hemat air42%Praktis, dekat toilet18%Bocor dan rusak masing-masing disebut kurang dari 3%.
Sumber: Rose Hosking, Alice Richardson, Darren Gray, Simon Hales, Suliasi Batikawai, dan Aparna Lal, Evaluating the acceptability of a portable handwashing intervention (the Spatap) in three Fijian communities, a mixed-methods study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lima Bulan Kemudian, Hosking Kembali

Lima bulan setelah survei, Hosking kembali ke Dua, Rua, dan Tolu. Bersama seorang moderator perempuan dwibahasa yang juga ikut survei sebelumnya, ia memandu tiga diskusi kelompok dengan 22 peserta, yakni sepuluh orang di Dua, sembilan di Rua, dan tiga di Tolu. Setiap diskusi tentang Spatap berlangsung 20 sampai 30 menit.

Kabar pertama yang didengar Hosking adalah alat itu masih dipakai seluruh anggota keluarga. Spatap diletakkan di dekat toilet, pintu depan, atau dapur, dan tidak ada yang memakainya untuk keperluan lain seperti mandi. Beberapa peserta mengucapkan kalimat yang sama, yang dicatat tim dalam bahasa iTaukei lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris: “Kami semua masih memakainya.”

Anak-anak muncul di setiap kelompok sebagai pengguna paling bersemangat. Seorang peserta perempuan di Dua, dalam catatan Hosking, mengatakan, “Bahkan saat kami orang dewasa tidak di rumah, anak-anak memakainya sepulang bermain atau dari kamar kecil.” Perawatan tetap urusan orang dewasa, dan beberapa perempuan menyebut para ibulah yang terutama menanggungnya.

Jarak yang dicatat Hosking dalam survei kini terdengar dari mulut warga. Seorang peserta laki-laki di Rua mengatakan, “Dulu kami harus berjalan jauh ke keran untuk cuci tangan, tetapi sekarang letaknya dekat kamar kecil, lebih mudah dan praktis.” Peserta lain menambahkan bahwa alat itu hampir tidak butuh tenaga, karena begitu botol kosong mereka mengisinya lagi dan botol cadangan sudah siap.

Namun, dari rumah tangga besar, Hosking mendengar keluhan. Seorang peserta perempuan di Dua mengatakan, “Botolnya sangat kecil untuk keluarga berlima… sebagian orang punya sepuluh anggota keluarga… dan butuh waktu untuk menggantinya setiap jam.” Peserta lain di Dua menyebut botol empat liter memang ada, tetapi harus dibeli dan harganya mahal. Di komunitas itu, peserta meminta botol ikut dibagikan.

Sebagian kecil peserta mengeluhkan botol yang bocor, dan seorang perempuan di Tolu menyebut air terus merembes dari sebagian botol yang mereka pakai. Hosking dan timnya tidak menekankan manfaat cuci tangan terhadap penyakit saat membagikan Spatap, tetapi peserta di setiap kelompok mengaitkan alat itu dengan berkurangnya penyakit. Semua komunitas juga meminta tangki penampung air.

Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka

Harga Botol dan Batas Catatan Hosking

Hosking dan rekan-rekannya tidak menutup mata soal harga. Satu Spatap dihargai 40 dolar Australia, atau 15 dolar Australia untuk proyek kemanusiaan, lebih mahal daripada sejumlah alternatif murah atau gratis. Menurut mereka, alat ini lebih cocok di tempat yang mengutamakan daya tahan, keseragaman, dan pemasangan cepat, seperti keadaan bencana, karena Spatap yang rusak tidak bisa dibuat ulang dari bahan setempat.

“Temuan ini menunjukkan bahwa Spatap kemungkinan paling bisa diterima di tempat yang efisiensi airnya, dibandingkan fasilitas yang ada, langsung menjawab kebutuhan yang menonjol,” tulis Hosking dan rekan-rekannya, juga dalam bahasa Inggris. Skor penerimaan memang lebih tinggi pada warga yang mengalami kesulitan air, dan hemat air muncul sebagai alasan baik di survei maupun di diskusi.

Hosking juga mencatat batas penelitiannya sendiri. Skor tinggi bisa sebagian terjadi karena responden memilih jawaban yang sama untuk semua pertanyaan, dan diskusi hanya digelar sekali per komunitas dengan peserta sukarela, sehingga warga yang kurang menyukai Spatap mungkin memilih tidak datang. Survei ulang batal karena COVID-19, sehingga Hosking hanya punya satu titik waktu.

Karena itu, Hosking dan rekan-rekannya tidak menyarankan skor penerimaan ini dipakai ulang tanpa perbaikan. Untuk penerapan Spatap berikutnya, mereka mengusulkan petunjuk tertulis dalam bahasa setempat yang disertai gambar, perhatian pada ketersediaan botol yang cocok, dan pendekatan khusus kepada anak-anak.

Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025

Yang Bisa Diperiksa di Naskah Hosking

Ada beberapa hal di naskah Hosking yang bisa diperiksa pembaca. Di bagian hasil, warga yang airnya selalu tersedia disebut memberi skor lebih rendah daripada warga yang kekurangan air setiap tahun. Namun, catatan kaki tabel model menulis kelompok pembandingnya sebagai “Never available”, label yang tidak cocok dengan kategori mana pun di tabel itu.

Tabel yang sama mencetak nilai p nol untuk beberapa baris, termasuk pekerja paruh waktu yang diberi tanda dua bintang, padahal menurut keterangan tabel tanda itu berarti nilai p antara 0,001 dan 0,01. Hosking menulis nilai p 0,009 untuk warga yang agak puas di badan teks, sementara tabelnya menulis 0,01.

Beberapa angka lain juga tidak seragam. Penduduk Rua ditulis sekitar 43 jiwa di badan naskah, tetapi 40 sampai 60 jiwa di catatan kaki. Alasan praktis disebut 18 persen di bagian hasil dan seperlima di pembahasan. Hosking juga mencatat sendiri bahwa 82 dari 166 data pendidikan orang dewasa salah golong pada awal pendataan.

Satu pertanyaan tentang nilai, yakni seberapa penting menghemat air saat cuci tangan, mengandaikan Spatap memang hemat air. Hosking dan rekan-rekannya mengakui anggapan itu belum pernah diuji secara resmi, dan angka 60 kali cuci tangan per botol berasal dari pengembang alat itu sendiri.

Rose Hosking datang ke Ba membawa keran kecil untuk dipasang di botol, dan lima bulan kemudian keran itu masih dipakai di dekat toilet dan dapur warga. Naskahnya menunjukkan bahwa yang membuat alat itu diterima adalah jarak yang memendek, air yang lebih hemat, dan anak-anak yang bisa memakainya sendiri. Yang masih tersisa adalah soal botol, harga, dan air itu sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk
Keluhan Kandung Kemih Imam di Turki Lebih Ringan daripada Guru
Kanker Mulut di Assam Surut di Kota, Diam-diam Naik di Desa
Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi
Jajanan Murah Dekat Sekolah Menggoda Siswa Perth Sejak Pagi
Orang Berduka di Swedia Ingin Ditemani Lebih Lama Usai Pemakaman