She Stoops to Conquer, Lima Dialog yang Menggugat Mitos Kelas

A A

Para pemain berkostum abad ke-18 dalam pementasan She Stoops to Conquer oleh Uark Theatre [Foto: Uark Theatre/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Dua setengah abad kemudian, lima petikan dialognya dibedah lagi dengan kacamata semiotika Roland Barthes.
  • Goldsmith memakai satire dan humor untuk menantang anggapan bahwa hidup kota lebih unggul.
  • Di lapis mitos, adegan itu menggugat anggapan bahwa status sosial tetap dan mudah dikenali.
  • Seluruh tafsir bertumpu pada lima petikan dialog dari satu lakon, yang dipilih sendiri oleh satu peneliti.
Daftar Isi
  1. 1773: Lakon tentang Salah Sangka
  2. Babak Rumah Hardcastle: Kota Melawan Desa
  3. Malam Perjalanan: Three Pigeons dan Buck’s Head
  4. Sepanjang Lakon: Dua Wajah Marlow
  5. 2022 sampai 2026: Mitos yang Dibongkar
  6. 2026: Catatan pada Naskah

Pada 1773, She Stoops to Conquer dipentaskan untuk pertama kali. Lakon karya Oliver Goldsmith itu dikenal sebagai komedi tata krama Inggris abad ke-18. Ceritanya penuh salah sangka, penyamaran, dan perjodohan. Dua setengah abad kemudian, lima petikan dialognya dibedah lagi dengan kacamata semiotika Roland Barthes.

Pembedahnya Multazam Abubakar dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Alauddin Makassar. Kajiannya berjudul A Semiotic Analysis of Roland Barthes on Oliver Goldsmith’s Drama Text She Stoops to Conquer. Artikel itu terbit di Jurnal Ilmu Budaya volume 14 nomor 2, tahun 2026, dan ditulis dalam bahasa Inggris.

Pertanyaannya sederhana. Bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos dibangun dalam dialog lakon itu, dan ideologi sosial apa yang diwakilinya. Denotasi adalah makna harfiah. Konotasi adalah makna simbolik yang lahir dari konteks budaya. Mitos, menurut naskah, mengubah nilai bentukan sejarah menjadi seolah kebenaran alamiah.

1773: Lakon tentang Salah Sangka

Naskah lebih dulu menceritakan ulang lakonnya. Charles Marlow adalah pemuda terhormat yang sopan dan terpelajar. Ayahnya mengatur pertemuan dengan Kate Hardcastle, putri Mr. Hardcastle. Harapannya, keduanya kelak menikah. Namun Marlow punya kelemahan yang ganjil.

Ia percaya diri di depan perempuan berstatus sosial rendah. Di depan perempuan yang ia anggap terhormat, ia sangat pemalu dan canggung. Kelemahan itu kelak menjadi poros cerita. Sebelum itu, perjalanannya ke rumah Hardcastle sudah lebih dulu tersesat.

Marlow berangkat bersama temannya, George Hastings. Di jalan mereka bertemu Tony Lumpkin, yang dalam naskah disebut anak tiri Mrs. Hardcastle. Tony iseng membuat keduanya percaya bahwa rumah Hardcastle adalah penginapan. Marlow lalu memperlakukan Mr. Hardcastle seperti pemilik penginapan, dan tuan rumah itu bingung serta tersinggung.

Di rumah yang sama tinggal Constance Neville, sepupu Kate. Hastings mencintainya. Mrs. Hardcastle justru ingin menikahkan Constance dengan Tony supaya warisan keluarga tetap di dalam rumah. Tony tidak berminat, lalu malah membantu Hastings dan Constance bersatu.

Kate sendiri mengambil jalan lain. Ia menyamar sebagai perempuan biasa untuk mengenal watak asli Marlow. Lewat penyamaran itu Marlow perlahan membuka diri dan jatuh cinta. Di akhir lakon identitas Kate terungkap, Tony ternyata sudah cukup umur, dan kedua pasangan bersatu.

Baca juga Jumbo Dibaca sebagai Lima Pesan Moral dari Tujuh Adegan

Babak Rumah Hardcastle: Kota Melawan Desa

Petikan pertama, berbahasa Inggris seperti seluruh lakon, datang dari suami istri Hardcastle. Mrs. Hardcastle bertanya siapa lagi di seluruh daerah itu yang tidak sesekali ke kota “untuk menggosok karatnya sedikit”. Suaminya menjawab ia mencintai segala yang tua. Teman lama, masa lalu, tata krama lama, buku lama, dan anggur tua.

Di lapis denotasi, keduanya sekadar berbeda selera gaya hidup. Mrs. Hardcastle menyukai hidup kota, suaminya menyukai desa yang tradisional. Di lapis konotasi, percakapan itu menjadi pertentangan modernitas dan tradisi. Kota mewakili kemajuan, mode, dan gengsi, sedangkan desa mewakili kesederhanaan dan kesinambungan.

Lapis mitosnya lebih dalam. Hidup kota dianggap lebih beradab dan bergengsi, sementara nilai tradisional dikaitkan dengan moralitas dan keaslian. Menurut naskah, identitas sosial di situ dibangun lewat gaya hidup dan selera budaya. Pertengkaran rumah tangga kecil itu menyimpan pergeseran nilai satu zaman.

Pergeseran itu, tulis Abubakar, adalah urbanisasi, mobilitas sosial, dan budaya konsumen yang tumbuh di Inggris abad ke-18. Goldsmith memakai satire dan humor untuk menantang anggapan bahwa hidup kota lebih unggul. Peradaban, status, dan kemajuan, menurut naskah, bukan kebenaran alamiah melainkan bentukan sosial.

Kota dan desa di rumah HardcastleKota dan desa di rumah HardcastleKota dan desa di rumah HardcastleData 1 naskah: tiga lapis makna BarthesMrs. HardcastleMr. Hardcastlerub off the rusteverything oldKalimat kuncisuka kotasuka desaDenotasikemajuan, gengsikesinambunganKonotasikota beradabtradisi bermoralMitosMenurut naskah, Goldsmith menantang anggapan bahwa hidup kota lebihunggul dari hidup desa.
Sumber: Multazam Abubakar, A Semiotic Analysis of Roland Barthes on Oliver Goldsmith's Drama Text She Stoops to Conquer, Jurnal Ilmu Budaya, 14(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kritik itu menyasar masyarakat yang menakar gengsi dari gaya hidup. Menurut naskah, identitas orang dinilai dari simbol budaya yang tampak di luar. Nilai kemanusiaan yang melekat justru terpinggirkan. Percakapan suami istri itu menjadi titik berangkat seluruh pembacaan.

Malam Perjalanan: Three Pigeons dan Buck’s Head

Petikan kedua dan ketiga sama-sama milik Tony Lumpkin. Dalam petikan kedua, Tony tak sabar menuju kedai bir Three Pigeons. Katanya, ada keseruan yang sedang berlangsung di sana. Ia juga menyanyikan bahwa minuman keras yang baik mempertajam kecerdasan seseorang.

Di lapis konotasi, kedai itu melambangkan kesenangan, kebebasan, dan persahabatan. Lagu minum Tony menandai hidup riang yang melawan keseriusan dan formalitas sosial. Di lapis mitos, petikan itu mengaitkan waktu senggang dan minum dengan budaya kelas bawah. Ia juga menguatkan stereotip tuan tanah desa yang tidak bertanggung jawab.

Namun naskah membaca Goldsmith tidak merendahkan budaya itu. Budaya populer ditampilkan sebagai kehidupan sosial yang sah, penuh solidaritas, kegembiraan, dan keaslian. Kecerdasan dan kebahagiaan, menurut naskah, tidak bisa diukur hanya dari pangkat, pendidikan, atau tata krama yang sedang modis.

Petikan ketiga adalah lelucon Tony kepada Marlow dan Hastings. Ia menyuruh mereka berjalan satu mil lagi ke Buck’s Head, yang ia sebut salah satu penginapan terbaik di daerah itu. Arah yang ia tunjuk sebenarnya rumah Hardcastle. Di lapis denotasi, Tony sekadar menyesatkan dua tamu.

Di lapis konotasi, salah sangka itu menandai goyahnya identitas sosial. Status bergantung pada persepsi, bukan pada kenyataan. Rumah Hardcastle menjadi ruang tempat penampilan dan dugaan menentukan cara orang saling memperlakukan. Lelucon Tony juga dibaca sebagai pemberontakan anak muda terhadap tatanan sosial.

Di lapis mitos, adegan itu menggugat anggapan bahwa status sosial tetap dan mudah dikenali. Kekayaan, kehormatan, dan wibawa ternyata tidak bisa dibaca dari penampilan luar. Menurut naskah, Goldsmith memperlihatkan hierarki sosial sebagai bentukan budaya. Pembedaan kelas pada masanya tampak sewenang-wenang.

Baca juga Poster Ramadan Kampung Kuningan dan Setan yang Diborgol

Sepanjang Lakon: Dua Wajah Marlow

Petikan keempat diucapkan Marlow sendiri dalam bahasa Inggris. Menurutnya, perempuan santun yang berdandan lengkap adalah “objek paling menggentarkan di seluruh ciptaan”. Di lapis denotasi, kalimat itu sekadar pengakuan gugup. Marlow takut berhadapan dengan perempuan terhormat.

Di lapis konotasi, kalimat itu menandai kecemasan sosial Marlow. Perempuan santun berbusana anggun mewakili kehalusan, kehormatan, dan harapan sosial yang membuatnya ciut. Kalimat itu juga memperlihatkan dua sisi kepribadiannya. Ia percaya diri di depan perempuan kelas bawah, tetapi pemalu di depan perempuan terhormat.

Lapis mitosnya menyentuh gender. Perempuan bereputasi dan berbudi dianggap punya kedudukan moral khusus dan diperlakukan berbeda. Menurut naskah, kalimat itu mereproduksi pembedaan patriarkal antara perempuan “terhormat” dan “biasa”. Keperempuanan dilekatkan pada kesantunan, keanggunan, dan kebajikan.

Petikan kelima datang dari Constance Neville. Ia menyebut Marlow lelaki paling pemalu di antara perempuan bereputasi dan berbudi. Namun kenalan Marlow memberinya watak yang sangat lain di antara perempuan dari “cap” yang lain. Kalimat itu merangkum standar ganda sang tokoh.

Di lapis konotasi, sikap Marlow dibentuk oleh kelas dan harapan moral, bukan oleh kepribadian asli. Di lapis mitos, petikan itu mencerminkan ideologi patriarkal yang menggolongkan perempuan menurut kedudukan dan reputasi. Perempuan berbudi layak dihormati. Perempuan golongan lain boleh didekati dengan lebih akrab dan bebas.

Menurut naskah, Goldsmith memakai pengamatan Constance untuk mengkritik moralitas ganda itu. Lewat humor dan ironi, lakon mempertanyakan keabsahan pembagian tersebut. Peran gender dan nilai moral, tulis Abubakar, dibentuk budaya dan bukan kodrat. Identitas perempuan pada masa itu terikat pada reputasi, kebajikan, dan kedudukan.

2022 sampai 2026: Mitos yang Dibongkar

Sebelum kajian ini, lakon yang sama sudah berkali-kali diteliti. Abubakar dan dua rekannya membahas kritik sosialnya pada 2022. Pada tahun yang sama Abootalebi dan Mofid membacanya sebagai satire. Khan dan Ahmed menyusul pada 2023, lalu Ali dan Rehman pada 2024 dengan tema identitas dan mobilitas sosial.

Menurut naskah, kajian-kajian itu berhasil mengungkap sisi sosial budaya lakon. Namun perhatian pada cara makna dibangun di dalam dialog masih sedikit. Lapis denotasi, konotasi, dan mitos disebut belum banyak disentuh. Celah itulah yang diisi kajian 2026 ini.

She Stoops to Conquer, panggung ke kajianShe Stoops to Conquer, panggung ke kajianShe Stoops to Conquer, panggung ke kajianKajian terdahulu yang disebut naskah1773Lakon Oliver Goldsmith pertama kali dipentaskan2022Abubakar dkk.; Abootalebi dan Mofid: kritik sosial dansatire2023Khan dan Ahmed: transformasi sosial Inggris abadke-182024Ali dan Rehman: identitas dan mobilitas sosial2026Kajian semiotik Barthes atas lima petikan dialogMenurut naskah, kajian terdahulu kurang memperhatikan lapis denotasi,konotasi, dan mitos.
Sumber: Multazam Abubakar, A Semiotic Analysis of Roland Barthes on Oliver Goldsmith's Drama Text She Stoops to Conquer, Jurnal Ilmu Budaya, 14(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Hasilnya dirangkum dalam tiga lapis. Di lapis denotasi, dialog hanya menggambarkan interaksi biasa antartokoh. Di lapis konotasi, dialog membuka makna tentang identitas, kuasa, dan moralitas. Di lapis mitos, dialog mereproduksi sekaligus menantang anggapan budaya yang lazim diterima di Inggris abad ke-18.

Mitos yang digugat ada empat, menurut bagian pembahasan. Keunggulan kota, hak istimewa kelas, kehalusan budaya, dan moralitas gender. Senjata Goldsmith adalah ironi, salah identitas, dan pembalikan komedi. Keempatnya disebut mitos karena menjadikan nilai bentukan sejarah seolah kebenaran alamiah.

Penulis merumuskan simpulannya dalam satu kalimat. “Analisis ini menunjukkan bahwa status sosial, kehalusan budaya, peran gender, dan standar moral bukanlah sifat bawaan, melainkan produk kode budaya dan praktik ideologis,” tulis Abubakar dalam naskah berbahasa Inggris itu. Lakon itu, menurutnya, lebih dari komedi tata krama.

Di abstrak, kesimpulan itu dipertegas. She Stoops to Conquer disebut bukan hanya komedi tata krama, tetapi juga “tempat makna budaya dan ideologi dominan direpresentasikan, dinegosiasikan, dan dipertentangkan”. Temuan itu diharapkan memperkaya semiotika sastra dan pemahaman ideologi dalam drama Inggris.

Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya

2026: Catatan pada Naskah

Kajian ini punya batas yang jelas. Seluruh tafsir bertumpu pada lima petikan dialog dari satu lakon, yang dipilih sendiri oleh satu peneliti. Tidak ada data penonton atau pembaca yang ikut diuji. Naskah juga tidak menulis bagian keterbatasan secara khusus.

Beberapa detail naskah bisa diperiksa pembaca. Bagian pembahasan menyebut “lima petikan”, tetapi paragraf keempatnya membahas adegan Marlow memberi perintah soal makan malam dan kamar. Adegan itu tidak termasuk lima data. Sebaliknya, kalimat Marlow tentang perempuan santun tidak dibahas tersendiri di bagian itu.

Rujukan teorinya juga menyisakan lubang. Barthes dikutip dengan tahun 1977 dan 1991 di pendahuluan dan metode. Namun daftar pustaka tidak memuat satu pun entri karya Barthes. Di pendahuluan, rujukan Zhang dan Wang juga ditulis dengan tahun 2024 dua kali, padahal daftar pustakanya hanya memuat satu entri.

Ada pula soal pilihan petikan. Tak satu pun dari lima petikan diucapkan Kate Hardcastle, tokoh yang menyamar dalam sinopsis naskah. Susunan bagiannya juga berulang, karena bagian ketiga berjudul temuan dan pembahasan, lalu bagian keempat kembali berjudul pembahasan.

Kronologinya kini lengkap. Lakon itu naik panggung pada 1773, diteliti ulang antara 2022 dan 2024, lalu dibedah dengan semiotika Barthes pada 2026. Pada titik terakhir itu, lima petikan dialognya dibaca sebagai kritik atas kelas dan moral Inggris abad ke-18.

Bagikan

Baca Juga

Bahasa Wolio Kian Jarang Dipakai, Anak Baubau Belajar Lewat Kartu
Novel Soji Shimada: Alurnya Rapi, Konfliknya Berganti Wajah
Sabilulungan di Kampung Adat Cikondang, Pusaka Dibersihkan
Tiga Iklan Buttonscarves dan Citra Perempuan Berhijab Global
Tombak dan Gula di Lapangan Hibua Lamo Mendamaikan Tobelo
Guboow Somalia: Luka Bakar Disengaja untuk Obati Nyeri Anak