Perajin Lonceng Tembaga Bhuj Terpapar Debu, Bising, dan Panas

A A

Ilustrasi perajin memukul lonceng tembaga di bengkel rumahan dengan tungku batu bara menyala [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Gangguan pendengaran frekuensi tinggi ditemukan pada 80,7 persen perajin yang menjalani tes dengar.
  • Debu terhirup di dekat tungku batu bara rata-rata 4,93 mg/m3, di atas ambang ACGIH sebesar 3 mg/m3.
  • Nyeri otot dan tulang dilaporkan 69,7 persen perajin, paling sering di punggung bawah.
  • Tak seorang pun dari 89 perajin memakai alat pelindung diri saat bekerja.
Daftar Isi
  1. Sebelum 2023: bahaya yang dikenal, tetapi jarang diukur di bengkel lonceng
  2. Roy dan kawan-kawan, 2010: jejak debu dari sentra logam lonceng Odisha
  3. Basu 2022 dan Verbeek 2009: telinga yang rusak di bawah batas OSHA
  4. Venugopal 2020 dan 2025: panas tungku di atas semua ambang NIOSH
  5. Das dan Singh 2022: punggung perajin yang bekerja di lantai
  6. Batas riset dan tabel Sheth serta Kulkarni yang tidak selalu sejalan
  7. Sesudah 2025: prosedur kerja untuk Handicrafts Service Centre

Kerajinan tangan sudah lama menjadi salah satu tiang ekonomi perdesaan India, menghidupi jutaan orang dan menyumbang besar pada produk domestik bruto serta ekspor negeri itu. Di antara ragam kerajinan tersebut, pembuatan lonceng tembaga menempati tempat yang khas di Kutch-Bhuj, Gujarat, sebagai warisan budaya sekaligus sumber nafkah penting bagi warga setempat. Riset yang secara sistematis mengukur bahaya di bengkel-bengkelnya justru masih langka.

Celah itulah yang coba diisi Ankit Sheth, Nikhil Kulkarni, Rakesh Balachandar, Ankit Viramgami, Sanjay Kotadiya, Moinuddhin Mansuri, Mehul Madia, dan Vishal Nagose lewat artikel Occupational exposure and health risks among traditional copper bell makers in India: a comprehensive assessment with policy and preventive implications di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Tujuh di antara mereka bernaung di ICMR – National Institute of Occupational Health, Ahmedabad, sedangkan Balachandar berasal dari ICMR – Regional Occupational Health Center (South), Bengaluru.

Mereka memeriksa 89 perajin lonceng tembaga di desa Zura dan Kunariya, dua sentra yang dikenal sebagai pusat kerajinan itu. Hasilnya menyentuh hampir seluruh tubuh pekerja. Debu terhirup di dekat tungku batu bara rata-rata 4,93 mg/m3, di atas ambang ACGIH sebesar 3 mg/m3. Gangguan pendengaran frekuensi tinggi ditemukan pada 80,7 persen perajin yang menjalani tes dengar. Panas di sekitar tungku pun melampaui ambang yang dianjurkan NIOSH.

Sebelum 2023: bahaya yang dikenal, tetapi jarang diukur di bengkel lonceng

Daftar keluhan pekerja logam sebenarnya bukan hal baru. Studi di India dan negara berpendapatan rendah hingga menengah, termasuk tulisan Ganguly dan kawan-kawan pada 2016 tentang industri logam lonceng di Bankura, Benggala Barat, sudah mencatat nyeri otot, gejala pernapasan, hipertensi, dan gangguan penglihatan. Beban fisik kerajinan logam juga dikaitkan dengan penyakit akibat panas, gangguan dengar karena bising, serta kerusakan otot dan tulang yang menumpuk.

Persoalannya, menurut Sheth dan rekan-rekannya, kebanyakan studi yang tersedia terbatas cakupannya, membahas pekerja logam secara umum, atau tidak menggabungkan pengukuran paparan dengan pemeriksaan kesehatan. Bukti tentang prosedur kerja standar yang cocok untuk bengkel kerajinan pun masih sedikit, padahal aturan keselamatan kerja formal jarang ditegakkan di sektor itu. Riset di Zura dan Kunariya berlangsung dari Januari 2023 hingga Januari 2025.

Pembuatan lonceng di Bhuj adalah pekerjaan manual bertahap di bengkel rumahan kecil, dengan pekerja duduk di lantai secara tradisional dalam posisi yang tidak ergonomis. Sebanyak 47 orang atau 52,8 persen bekerja menempa logam, 26 orang atau 29,2 persen melapisi lonceng dengan lumpur dan bubuk kuningan atau tembaga, dan 16 orang atau 18 persen menjaga tungku batu bara untuk membakar, mendinginkan, membersihkan, dan memoles lonceng.

Tiga tahap kerja, tiga jenis bahayaTiga tahap kerja, tiga jenis bahayaTiga tahap kerja, tiga jenis bahayaPembagian kerja pembuatan lonceng tembaga di BhujMenempalogambising tinggi, tepitajamPelapisandebu logam,kerja basahTungku batubarapanas, asap, uaplogamSOPprosedur pertahapSOP diserahkan ke Handicrafts Service Centre.
Sumber: Ankit Sheth, Nikhil Kulkarni, Rakesh Balachandar, Ankit Viramgami, Sanjay Kotadiya, Moinuddhin Mansuri, Mehul Madia, dan Vishal Nagose, Occupational exposure and health risks among traditional copper bell makers in India: a comprehensive assessment with policy and preventive implications, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tenaga kerjanya relatif muda tetapi lama berkecimpung. Usia rata-rata 32,6 tahun, 70,8 persen laki-laki, dan lebih dari separuh sudah bekerja di atas sepuluh tahun dengan rata-rata pengalaman 14,67 tahun. Sebanyak 27 persen tidak melek huruf, median pendapatan keluarga 15.000 rupee, 50,6 persen mengunyah tembakau, dan 18 persen merokok. Tak seorang pun dari 89 perajin memakai alat pelindung diri saat bekerja.

Roy dan kawan-kawan, 2010: jejak debu dari sentra logam lonceng Odisha

Pengukuran debu dilakukan di lima titik kerja tungku batu bara, tempat partikel paling pekat. Kelima titik itu melampaui ambang ACGIH. Konsentrasi terendah, 3,29 mg/m3, tercatat di tungku yang terbuka di luar ruangan, sedangkan tertinggi, 6,56 mg/m3, di tungku semi terbuka di bawah atap. Partikel halus PM2.5 rata-rata 3,31 mg/m3, angka yang dinilai para penulis mengkhawatirkan karena mampu masuk jauh ke paru-paru.

Keluhan napasnya sejalan dengan angka itu. Batuk dilaporkan 15,7 persen perajin, sesak napas 14,6 persen, dahak 7,9 persen, dan nyeri dada 3,4 persen. Dari 73 perajin yang menyelesaikan tes fungsi paru, 83,6 persen normal, 8,2 persen menunjukkan pola obstruktif, 6,9 persen pola restriktif, dan 1,3 persen pola campuran. Artinya, 16,4 persen perajin yang diuji memiliki fungsi paru tidak normal.

Sheth dan rekan-rekannya menempatkan temuan ini di samping studi dasar Roy dan kawan-kawan pada 2010 tentang sentra kerajinan India, termasuk pekerja logam lonceng di Odisha, yang mengaitkan paparan debu dan asap kronis dengan iritasi saluran napas, bronkitis kronis, dan turunnya fungsi paru. Studi He dan kawan-kawan pada 2022 serta Li dan kawan-kawan pada 2025 di China juga menemukan risiko yang naik seiring lamanya paparan dan usia pekerja.

Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen

Basu 2022 dan Verbeek 2009: telinga yang rusak di bawah batas OSHA

Kebisingan memperlihatkan wajah yang lebih rumit. Pengukuran pribadi selama satu giliran kerja pada sembilan penempa lonceng menghasilkan rata-rata tertimbang waktu 73,3 hingga 83,1 dB(A), dengan rata-rata keseluruhan 79,08 dB(A). Semua angka itu berada di bawah batas OSHA sebesar 90 dB(A) untuk delapan jam. Di atas kertas, bengkel lonceng itu tampak aman bagi telinga para penempanya.

“Namun, tingkat puncaknya mencapai 148,2 dB(C) saat menempa logam, menimbulkan risiko bagi pendengaran meski nilai TWA-nya dapat diterima,” tulis Sheth, Kulkarni, dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Analisis pita frekuensi di tiga bengkel menunjukkan batas kriteria kebisingan terlampaui pada 4.000 dan 8.000 hertz di semua unit, dengan tingkat kebisingan yang disetarakan dengan teknik berat.

Tes dengar terhadap 57 perajin memperlihatkan akibatnya. Sebanyak 68,4 persen mengalami penurunan pendengaran lebih dari 25 desibel pada rentang percakapan. Gangguan pendengaran frekuensi tinggi, tanda khas kerusakan akibat bising, mencapai 80,7 persen dan makin berat seiring usia serta masa kerja. Lima perajin berpengalaman lebih dari 20 tahun tergolong berat, sementara di kelompok berpengalaman sepuluh tahun ke bawah tidak ada yang berat.

Pola itu, tulis para penulis, konsisten dengan studi pekerja industri dan kerajinan, termasuk studi Salih dan kawan-kawan pada 2024 tentang pekerja industri logam di Sulaimani dan meta-analisis Basu dan kawan-kawan pada 2022 tentang gangguan dengar akibat bising di India. Tinjauan Cochrane Verbeek dan kawan-kawan pada 2009 menunjukkan program perlindungan pendengaran dan sumbat telinga efektif, sesuatu yang sama sekali tidak dipakai para perajin di Bhuj.

Terukur di bengkel lonceng vs batas acuanTerukur di bengkel lonceng vs batas acuanTerukur di bengkel lonceng vs batas acuanPerajin lonceng tembaga Zura dan Kunariya, Kutch-Bhuj, GujaratTerukurBatas acuan4,933Debu terhirup,mg/m379,190Bising 8 jam,dB(A)33,7-36,226Panas WBGT, CDebu dan panas diukur di dekat tungku batu bara. Batas: ACGIH, OSHA,NIOSH kerja berat.
Sumber: Ankit Sheth, Nikhil Kulkarni, Rakesh Balachandar, Ankit Viramgami, Sanjay Kotadiya, Moinuddhin Mansuri, Mehul Madia, dan Vishal Nagose, Occupational exposure and health risks among traditional copper bell makers in India: a comprehensive assessment with policy and preventive implications, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Venugopal 2020 dan 2025: panas tungku di atas semua ambang NIOSH

Di tungku batu bara, indeks suhu bola basah dan bola hitam atau WBGT rata-rata tercatat 33,7, 36,2, dan 34,0 derajat Celsius di tiga titik kerja. NIOSH menganjurkan kerja terus-menerus tidak melampaui 30 derajat untuk kerja ringan, 28 derajat untuk kerja sedang, dan 26 derajat untuk kerja berat. Menempa lama dan menjaga tungku digolongkan kerja berat, sehingga semua titik jauh melampaui ambang itu.

Suhu bola hitam di salah satu tungku mencapai 57,2 derajat Celsius, dan indeks panas di tungku lain rata-rata 53,2 derajat. Panas memuncak antara pukul 11.00 dan 13.00 dengan WBGT 35,7 derajat, lalu turun ke 31,7 derajat pada pukul 18.00 hingga 20.00. Karena itu para penulis menyarankan kerja tungku digeser ke jam yang lebih sejuk, sesuatu yang dimungkinkan oleh sifat industri rumahan.

Rujukan mereka untuk bagian ini antara lain dua studi Venugopal dan kawan-kawan pada 2020 dan 2025 tentang pekerja di India Selatan, yang mengaitkan panas tinggi dengan tekanan panas, dehidrasi, penyakit akibat panas, dan turunnya kemampuan kerja. Paparan panas kronis tanpa istirahat dan minum cukup juga dapat ikut memicu gejala ginjal. Di Bhuj, gejala ginjal paling banyak dilaporkan pekerja pelapisan, yakni 19 persen.

Gejala lain terbagi menurut tugas. Keluhan mata paling banyak dilaporkan penjaga tungku, 44 persen, disusul pekerja pelapisan, 35 persen. Keluhan kulit lebih sering muncul pada penempa, 15 persen. Para penulis juga mencatat bahwa perajin bekerja dengan pakaian sehari-hari, sehingga debu dan asap logam berpotensi terbawa pulang dan menjadi jalur paparan sekunder di rumah tangga.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Das dan Singh 2022: punggung perajin yang bekerja di lantai

Nyeri otot dan tulang dilaporkan 69,7 persen perajin, paling sering di punggung bawah. Keluhan punggung bawah dialami 56,2 persen, punggung atas 32,6 persen, dan bahu 22,5 persen. Nyeri lebih banyak ditemukan pada kelompok pelapisan dan penjaga tungku, yang menurut para penulis mungkin disebabkan tugas fisik yang lebih berat dan posisi kerja yang janggal.

Temuan ini sejalan dengan lima studi pekerja kerajinan dan pekerja presisi yang dirujuk naskah, di antaranya Das dan Singh pada 2022 tentang pekerja kerajinan presisi yang duduk di lantai serta Chellappa dan kawan-kawan pada 2025 tentang industri kuningan. Studi-studi itu menunjuk postur statis yang lama, gerakan berulang, dan dukungan ergonomis yang kurang sebagai penyebab tingginya gangguan otot dan tulang.

Faktor risiko yang ditemukan dalam riset ini dan studi lain meliputi usia, masa kerja, jam kerja panjang, dan kurangnya jeda istirahat. Para perajin di Bhuj rata-rata bekerja 6,33 jam sehari. Untuk mengurangi beban tubuh, naskah menyarankan kursi murah bersandaran atau panggung yang ditinggikan, sehingga para perajin tidak terus-menerus duduk di lantai saat menempa dan melapis lonceng.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Batas riset dan tabel Sheth serta Kulkarni yang tidak selalu sejalan

Kesimpulan-kesimpulan itu punya batas yang disebut sendiri oleh para penulis. Desain potong lintang tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu, paparan atau gangguan kesehatan. Riset hanya mencakup dua desa di Kutch, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi sentra lonceng tembaga lain di India. Kandungan logam dalam debu tidak dianalisis, dan karena jumlah kasus terbatas, hubungan antarvariabel hanya diuji berpasangan.

Beberapa angka di dalam naskah juga tidak saling cocok. Bagian pembahasan menyebut rata-rata WBGT di dekat tungku 34,1 derajat Celsius, padahal rata-rata dari tiga titik di tabel panas, yaitu 33,7, 36,2, dan 34,0 derajat, adalah sekitar 34,6 derajat. Di tabel pendengaran, lima dari 17 perajin berpengalaman di atas 20 tahun ditulis 24,9 persen, padahal hitungannya sekitar 29,4 persen.

Bagian hasil menyebut pekerja pelapisan dan penjaga tungku punya prevalensi gangguan dengar frekuensi tinggi lebih tinggi. Untuk penjaga tungku, tabel mendukungnya, karena tak satu pun dari 15 orang berpendengaran normal. Namun pada pekerja pelapisan, empat dari 11 orang normal sehingga yang terganggu sekitar 63,6 persen, lebih rendah dari penempa yang terganggu 24 dari 31 orang atau sekitar 77,4 persen.

Ada pula soal gejala ginjal. Tabel pembagian sampel mencantumkan penilaian gejala ginjal hanya untuk 16 penjaga tungku, tetapi hasil justru melaporkan angka tertinggi, 19 persen, pada pekerja pelapisan. Catatan kaki tabel kebisingan menyebut batas terlampaui pada 2.000 hingga 8.000 hertz di ketiga bengkel, padahal bengkel lonceng ukuran 6 pada 2.000 hertz tercatat 68,4 dB(A), di bawah batas 70.

Sesudah 2025: prosedur kerja untuk Handicrafts Service Centre

Riset ini dijalankan atas permintaan prioritas Development Commissioner (Handicrafts) di Ministry of Textiles dan didanai National Health Mission Gujarat. Dari temuannya, para peneliti menyusun prosedur kerja standar khusus tiap tahap serta alat pemeriksaan kesehatan berkala, lalu menyerahkannya ke Handicrafts Service Centre. Menurut naskah, adopsi prosedur itu oleh Development Commissioner (Handicrafts) dan National Health Mission sudah dimulai.

Isinya praktis. Bengkel dalam ruangan dipasangi bahan peredam suara, pelapisan memakai metode basah dan area khusus, tungku diberi pelindung panas dan ventilasi lebih baik, kerja dan istirahat diatur bergiliran saat panas tinggi, serta masker, pelindung telinga, dan sarung tangan disediakan. Pemeriksaan napas, pendengaran, serta otot dan tulang diusulkan masuk ke layanan kesehatan primer lewat petugas yang dilatih mengenali risiko kerja.

“Yang penting, riset ini menunjukkan bahwa industri berbasis rumah tangga dapat menerima perbaikan kesehatan kerja yang terstruktur tanpa mengganggu alur kerja kerajinan,” tulis para penulis, juga dalam bahasa Inggris. Mereka menilai kerangka yang sama dapat diterapkan pada sektor kerajinan lain yang juga informal dan berbasis rumah, dengan menyesuaikan identifikasi bahaya pada proses masing-masing.

Dalam rantai riset kesehatan perajin India, temuan dari Zura dan Kunariya berdiri sesudah catatan Ganguly tentang Bankura dan studi dasar Roy tentang sentra kerajinan, tetapi kini dengan angka debu, desibel, dan suhu yang diukur langsung di samping tungku dan palu. Mata rantai berikutnya, menurut para penulis sendiri, adalah riset jangka panjang yang menilai apakah langkah pencegahan itu benar-benar bekerja.

Bagikan

Baca Juga

Keran Cuci Tangan Portabel Spatap Diterima Tiga Komunitas Fiji
Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk
Keluhan Kandung Kemih Imam di Turki Lebih Ringan daripada Guru
Kanker Mulut di Assam Surut di Kota, Diam-diam Naik di Desa
Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi
Jajanan Murah Dekat Sekolah Menggoda Siswa Perth Sejak Pagi