Gelombang Panas Laut Kini Dinilai Ancam Kesehatan Manusia, Bukan Cuma Lingkungan

Ilustrasi gelombang laut yang bergolak dilihat dari udara

Ilustrasi ini bukan foto lokasi kajian gelombang panas laut yang sebenarnya. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Gelombang panas laut selama ini lebih banyak dibahas sebagai persoalan lingkungan yang memutihkan terumbu karang dan mengganggu ekosistem laut. Dua peneliti dari Adelaide University dan University of Hong Kong menyerukan cara pandang itu perlu diperluas, karena gelombang panas laut juga membawa dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan fisik dan mental manusia.

Seruan itu dipaparkan Laura Falkenberg, peneliti di School of Physics, Chemistry and Earth Sciences, Adelaide University, lewat artikel Recognising the human health impacts of marine heatwaves dalam jurnal Nature Sustainability pada 2026.

Bukan Lagi Sekadar Isu Lingkungan

“Gelombang panas laut tidak lagi hanya dikenali sebagai persoalan lingkungan; gelombang panas laut kian dipandang juga sebagai persoalan kesehatan manusia,” kata Falkenberg. Ia menjelaskan bahwa dampaknya terhadap manusia berjalan lewat jalur langsung dan tidak langsung sekaligus.

Jalur tidak langsung, menurut kajian itu, mencakup intensifikasi badai tropis yang energinya bersumber dari suhu permukaan laut yang lebih panas, serta kontaminasi pasokan makanan laut akibat ledakan alga beracun yang lebih mudah terjadi saat laut menghangat drastis. Kajian itu mencontohkan Badai Otis dan Topan Doksuri, keduanya pada 2023, sebagai bencana yang diperparah kondisi laut yang sedang mengalami gelombang panas.

Dari Gangguan Pernapasan sampai Kecemasan Ekologis

Jalur langsungnya lebih bersifat psikologis dan fisiologis pada komunitas pesisir. Kajian itu menyoroti ledakan alga beracun di Australia Selatan yang memicu kecemasan ekologis meluas, gangguan pernapasan, dan gejala depresi pada warga yang bergantung pada laut untuk mata pencarian maupun rekreasi.

Falkenberg dan koleganya mendorong agar prakiraan gelombang panas laut mulai diintegrasikan ke dalam perencanaan kesehatan masyarakat, sejalan dengan cara prakiraan gelombang panas darat sudah lebih dulu dipakai otoritas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus terkait suhu ekstrem. Mereka juga menyerukan kolaborasi yang lebih erat antara ilmuwan kelautan dan otoritas kesehatan masyarakat, dua bidang yang selama ini jarang bekerja bersama.

Laut yang Makin Sering Memanas

Seruan ini muncul di tengah rekor suhu laut global yang terus tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan iklim tahunan yang dirilis pekan lalu mencatat bahang samudra ikut memecahkan rekor sepanjang 2025, sejalan dengan tren pemanasan yang membuat gelombang panas laut makin sering terjadi dan makin lama durasinya di berbagai kawasan pesisir dunia.

Baca juga: 71,3 Persen Wilayah Inggris Kekeringan, 27 Juta Warga Kena Pembatasan Air

Baca juga: Corong Magnet Saturnus Melenceng ke Sisi Sore, Terbaca dari Data Cassini 2004–2010

Baca Juga

Perbandingan sferoid tumor pankreas kontrol dan yang diberi terapi antisense oligonukleotida
Jalur Masuk Obat Antisense ke Sel Kanker Terungkap Lewat Reseptor CD44 dan EPHA2
Ilustrasi botol-botol produk perawatan tubuh dan kosmetik tersusun di rak kamar mandi
98 Persen Produk Perawatan dan Pembersih Rumah Tangga Simpan Bahan Kimia Tak Tercantum di Label
Ilustrasi abstrak jaringan sel dan koneksi saraf di dalam otak, bukan citra mikroskopi asli penelitian Mount Sinai
Subtipe Mikroglia Pelindung Ditemukan pada Otak Penderita Alzheimer, Studi Pemetaan Terbesar Sejauh Ini
Deretan tenda darurat berjajar di kaki bukit berpohon zaitun pada siang hari
WHO: Ribuan Pasien Gaza Masih Menunggu Giliran Evakuasi Medis
Peneliti bersarung tangan biru mengamati sampel melalui mikroskop di meja laboratorium
Radang Sendi Setelah Imunoterapi Kanker Berulang seperti Penyakit Bermemori, Terbaca dari Cairan Sendi Enam Pasien
Sekop tertancap pada gundukan tanah gelap yang terbuka tanpa penutup rumput
86 Persen Sampel Tanah di East Trenton Lampaui Ambang Timbal, Debu Lantai Rumah Ikut Tercemar