Huancavelica Puncaki Angka Kematian Kanker Terkait Asbes di Peru

A A

Panorama kota Huancavelica, Peru, di lembah yang dikelilingi pegunungan Andes yang terjal [Foto: David Alexis/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Sebanyak 325 kematian terkait mesotelioma tercatat di Peru selama 2017 hingga 2025, dan 58,46 persen di antaranya pria.
  • Kelompok usia 65-74 tahun menyumbang 101 kematian, atau 31,08 persen dari seluruhnya.
  • Perubahan persen tahunan untuk pria dan perempuan gabungan -0,9, dengan nilai p 0,79, dan tidak bermakna secara statistik.
  • Huancavelica mencatat angka kematian terstandar usia periode tertinggi, yakni 0,83 per 100.000 tahun-orang.
Daftar Isi
  1. Pria Lebih Banyak
  2. Paling Sering di Pleura
  3. Siapa yang Meninggal
  4. Naik, Lalu Naik-Turun
  5. Tren Tak Bermakna
  6. Huancavelica Paling Tinggi
  7. Krisotil Masih Legal
  8. Batas Data Kematian

Mesotelioma adalah kanker langka yang dikaitkan dengan paparan asbes, dan peluang hidup penderitanya terbatas. Di Peru, tren tahunan angka kematian akibat kanker ini sepanjang 2017 hingga 2025 tidak menunjukkan perubahan yang bermakna secara statistik, baik pada pria maupun perempuan.

Wilayah dengan angka tertinggi juga sudah terlihat. Huancavelica mencatat angka kematian terstandar usia paling tinggi selama periode itu, untuk pria dan juga untuk perempuan. Departemen Lima justru mencatat jumlah kematian terbanyak, yakni 131 kematian.

Temuan itu datang dari Adriana Lorena Molero-Villacorta dan rekan dari Universidad Cientifica del Sur, Lima, bersama peneliti dari beberapa kampus lain di Peru dan Brasil. Judulnya Mesothelioma mortality trends and geographic burden in Peru, 2017–2025: a nationwide ecological time-series study. Makalah itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.

Datanya berasal dari SINADEF, sistem informasi kematian nasional Peru. Tim mengambil semua catatan kematian 1 Januari 2017 sampai 31 Desember 2025 yang mencantumkan kode mesotelioma di kolom penyebab kematian mana pun. Data itu diunduh dari portal data terbuka pada Maret 2026.

Pria Lebih Banyak

Totalnya ada 325 kematian terkait mesotelioma dalam sembilan tahun itu. Sebanyak 190 di antaranya pria, atau 58,46 persen dari seluruh kematian. Sisanya 135 perempuan, atau 41,54 persen.

Dominasi pria, tulis para peneliti, mungkin terkait kontak kerja dengan asbes di masa lalu, misalnya di pertambangan, konstruksi, dan manufaktur. Porsi perempuan yang cukup besar mengisyaratkan peran jalur paparan lingkungan dan paraokupasional. Bukti terdahulu yang mereka kutip mencatat kontak di rumah lewat pakaian kerja yang tercemar.

Kematian menumpuk di usia tua. Kelompok 65–74 tahun menyumbang 101 kematian, atau 31,08 persen dari seluruhnya, sedangkan kelompok 75–84 tahun menyusul dengan 89 kematian, atau 27,38 persen. Kelompok 55–64 tahun mencatat 68 kematian, atau 20,92 persen.

Polanya sedikit berbeda menurut jenis kelamin. Pada pria, kelompok 65–74 tahun paling banyak, yakni 35,26 persen dari kematian pria. Pada perempuan, puncaknya bergeser ke kelompok 75–84 tahun, yakni 30,37 persen dari kematian perempuan.

Usia muda jarang tercatat. Kelompok 0–34 tahun hanya mencatat tujuh kematian, atau 2,15 persen. Para peneliti mengaitkan penumpukan di usia tua dengan masa laten penyakit ini yang panjang. Masa itu bisa mencapai beberapa dekade sesudah kontak pertama dengan asbes.

Paling Sering di Pleura

Lokasi mesotelioma menurut kode ICD-10Pleura (C45.0) 64,62%; Tidak spesifik (C45.9) 23,38%; Peritoneum (C45.1) 6,15%; Lokasi lain (C45.7) 5,23%; Perikardium (C45.2) 0,62%.Lokasi mesotelioma menurut kode ICD-10Persen dari 325 kematian terkait mesotelioma di Peru,2017-2025 (Tabel 1)0%20%40%60%80%Pleura (C45.0)64,62%Tidak spesifik (C45.9)23,38%Peritoneum (C45.1)6,15%Lokasi lain (C45.7)5,23%Perikardium (C45.2)0,62%Pleura: 68,42 persen pada pria, 59,26 persen pada perempuan
Sumber: Adriana Lorena Molero-Villacorta dan rekan, Mesothelioma mortality trends and geographic burden in Peru, 2017–2025: a nationwide ecological time-series study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Makalah ini menyebut mesotelioma terutama berasal dari sel mesotel pleura, tetapi juga bisa mengenai peritoneum, perikardium, dan selaput testis. Di Peru, kode mesotelioma pleura muncul pada 210 kematian, atau 64,62 persen dari seluruhnya. Porsi ini paling besar pada pria dan juga pada perempuan.

Pada pria, mesotelioma pleura mencakup 68,42 persen kematian, sedangkan pada perempuan 59,26 persen. Mesotelioma peritoneum menyumbang 20 kematian, atau 6,15 persen dari seluruhnya. Kode lokasi lain tercatat pada 17 kematian, atau 5,23 persen.

Ada pula kelompok besar tanpa keterangan lokasi. Kode mesotelioma tidak spesifik muncul pada 76 kematian, atau 23,38 persen dari seluruhnya. Mesotelioma perikardium hanya tercatat pada dua kematian, atau 0,62 persen.

Baca juga Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit

Siapa yang Meninggal

Sebagian besar yang meninggal berstatus menikah, yakni 56,00 persen, dan pada pria angkanya 62,11 persen. Hampir semuanya tercatat sebagai mestizo, yakni 91,69 persen, dengan sebaran yang mirip pada pria dan perempuan. Orang Quechua tercatat pada tujuh kematian, atau 2,15 persen.

Pendidikan menengah paling umum, yakni 26,46 persen, dengan porsi yang mirip pada pria dan perempuan. Namun, 11,11 persen perempuan yang meninggal tercatat tanpa pendidikan formal, sedangkan pada pria angkanya 2,11 persen. Pendidikan teknik atau universitas tercatat pada 21,58 persen pria dan 11,85 persen perempuan.

Sebanyak 208 orang meninggal di fasilitas kesehatan, atau 64,00 persen, sedangkan 113 orang lainnya meninggal di rumah, atau 34,77 persen. Pria sedikit lebih sering meninggal di fasilitas kesehatan, yakni 66,32 persen. Pada perempuan angkanya 60,74 persen.

Dua jenis asuransi mendominasi pada kedua jenis kelamin. EsSalud, asuransi kesehatan sosial Peru, tercatat pada 41,23 persen kematian. Asuransi Kesehatan Menyeluruh atau SIS tercatat pada 39,08 persen kematian.

Kematian paling sering tercatat di fasilitas EsSalud, yakni 27,69 persen, disusul rumah sakit pemerintah dengan 17,85 persen. Pada pria, porsi rumah sakit pemerintah mencapai 21,05 persen. Porsi perempuan di fasilitas Kementerian Kesehatan lebih tinggi, yakni 12,59 persen, dibanding pria 5,26 persen.

Naik, Lalu Naik-Turun

Pada pria, jumlah kematian naik dari 13 pada 2017 menjadi 29 pada 2020, dan tahun itu menjadi puncaknya. Angka kematian terstandar usia pria pada 2020 mencapai 0,14 per 100.000 tahun-orang. Pada 2017 angkanya masih 0,08.

Sesudah 2020, angka pria naik-turun di kisaran 0,08 sampai 0,11 per 100.000 tahun-orang hingga 2025. Pada 2023 tercatat 17 kematian pria, dengan angka 0,08. Pada 2024 tercatat 25 kematian pria, dan pada 2025 tercatat 23 kematian.

Pada perempuan, jumlah kematian naik dari tujuh pada 2017 menjadi 22 pada 2019 dan 23 pada 2020. Angka terstandar usianya pada dua tahun itu 0,10 dan 0,11 per 100.000 tahun-orang. Pada 2017 angkanya 0,04.

Sesudah itu angka perempuan turun ke 0,06 pada 2021 dan 2022, lalu ke 0,04 pada 2023. Pada 2024 dan 2025, angkanya naik lagi ke 0,07 per 100.000 tahun-orang. Pada kedua tahun terakhir itu masing-masing tercatat 18 kematian perempuan.

Tren Tak Bermakna

Naik-turun itu diuji dengan analisis tren Joinpoint. Untuk pria dan perempuan gabungan, perubahan persen tahunannya −0,9, dengan rentang keyakinan 95 persen dari −8,5 sampai 7,3. Nilai p-nya 0,79, sedangkan para peneliti memakai batas kemaknaan p di bawah 0,05.

Pada pria, perubahan persen tahunannya −0,4, dengan nilai p 0,86. Pada perempuan angkanya −1,7, dengan nilai p 0,73. Tidak satu pun bermakna secara statistik, dan tidak ada titik belok tren yang bermakna selama 2017–2025.

Tren tahunan angka kematian mesoteliomaKedua jenis kelamin: APC 2017-2025 -0,9%; Pria: APC 2017-2025 -0,4%; Perempuan: APC 2017-2025 -1,7%.Tren tahunan angka kematian mesoteliomaPerubahan persen tahunan (APC) angka kematian terstandarusia, Peru (Tabel 3)-2%-1%0Kedua jenis kelamin-0,9%Pria-0,4%Perempuan-1,7%Tidak bermakna secara statistik: p 0,79 (gabungan), 0,86 (pria), 0,73(perempuan)
Sumber: Adriana Lorena Molero-Villacorta dan rekan, Mesothelioma mortality trends and geographic burden in Peru, 2017–2025: a nationwide ecological time-series study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis mengingatkan cara membaca hasil ini. “Ketiadaan tren yang bermakna secara statistik tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa kematian mesotelioma tidak berubah selama periode penelitian,” tulis Molero-Villacorta dan rekan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Alasannya, masa pengamatan relatif pendek, hanya sembilan pengamatan tahunan. Jumlah kematian per tahun juga kecil, dengan puncak 29 kematian pada pria. Keduanya bisa membatasi kemampuan analisis menangkap perubahan yang tidak besar.

Huancavelica Paling Tinggi

Peta kematiannya timpang antardepartemen. Huancavelica mencatat angka kematian terstandar usia periode tertinggi, yakni 0,83 per 100.000 tahun-orang untuk pria dan perempuan gabungan. Departemen ini juga mencatat angka kematian kasar periode tertinggi.

Huancavelica teratas pada kedua jenis kelamin, dengan angka 0,98 per 100.000 tahun-orang pada pria. Pada perempuan angkanya 0,70 per 100.000 tahun-orang. Sementara itu, Madre de Dios, Pasco, dan Ucayali tidak mencatat satu pun kematian terkait mesotelioma selama 2017–2025.

Penyebab pola Huancavelica belum bisa dipastikan dari data ini. Data kematian rutin tidak memuat riwayat kerja, paparan asbes di lingkungan, atau ciri geologi. Para peneliti menyebut Huancavelica sebagai wilayah prioritas untuk penyelidikan epidemiologi dan lingkungan.

Baca juga Tanah Tambang Timbal Guizhou Lebih Mengancam Anak daripada Dewasa

Temuan ini sejalan dengan studi Torres-Roman dan rekan untuk periode 2005–2014, yang juga menempatkan Huancavelica di antara departemen dengan angka tertinggi. Studi itu mencatat rasio kematian pria terhadap perempuan di Huancavelica dan Junin lebih rendah daripada departemen lain. Menurut makalah baru ini, temuan itu mengisyaratkan jalur paparan selain pekerjaan mungkin perlu diselidiki lebih jauh.

Makalah ini juga menyebut temuan dari luar Peru. Studi di beberapa wilayah dunia mencatat asbes alami pada formasi batuan ultramafik dan ofiolit sebagai sumber paparan lingkungan. Apakah hal serupa terjadi di Peru masih belum pasti dan tidak bisa ditentukan dari studi ini.

Faktor ekonomi ikut disebut. Huancavelica termasuk departemen termiskin di Peru, dengan akses lebih terbatas ke layanan diagnosis dan onkologi spesialis dibanding wilayah lain. Kondisi ini bisa memengaruhi pengenalan kasus, konfirmasi diagnosis, dan sertifikasi kematian.

Asbes belum sepenuhnya dilarang di Peru. Undang-Undang Nomor 29662 melarang produksi, impor, distribusi, perdagangan, dan pemakaian asbes amfibol. Asbes amfibol dilarang di Peru sejak 2011, tetapi krisotil masih diizinkan, padahal bukti luas menunjukkan semua bentuk asbes bersifat karsinogenik, tulis para peneliti.

Mereka meminta surveilans mesotelioma diperkuat lewat kapasitas diagnosis yang lebih baik dan sertifikasi kematian yang terstandar. Registri kanker juga perlu disatukan dengan basis data kematian untuk menekan kasus yang tak tercatat dan salah klasifikasi. Kebijakan kesehatan diminta memperkuat pencegahan paparan kerja, lingkungan, dan paraokupasional.

Baca juga Kanker Mulut di Assam Surut di Kota, Diam-diam Naik di Desa

Studi lanjutan juga disarankan, dengan memadukan riwayat kerja, data tempat tinggal, pengukuran lingkungan, dan pemetaan geologi. Tujuannya memahami penentu kematian mesotelioma di Huancavelica dengan lebih baik. Surveilans paparan asbes dan penyakit terkait asbes pun dinilai perlu terus berjalan.

Batas Data Kematian

Studi ini memakai data kematian sekunder, sehingga diagnosis yang terlewat, kasus yang tak dilaporkan, dan salah klasifikasi penyebab kematian mungkin terjadi. Laporan patologi dan catatan klinis tidak tersedia untuk memeriksa ketepatan diagnosis. Data riwayat kerja dan paparan asbes tiap orang juga tidak ada.

Basis data publik SINADEF tidak membedakan penyebab dasar dan penyebab penyerta kematian. Desain ekologisnya tidak bisa dipakai untuk menarik sebab-akibat pada tingkat individu. Jumlah kematian yang kecil di beberapa departemen juga bisa membuat perkiraannya tidak stabil.

Catatan kematian di portal SINADEF juga masih bersifat sementara dan bisa diperbarui, terutama untuk 2025. Meski begitu, para penulis menyebut studi ini penilaian nasional pertama atas tren dan sebaran kematian mesotelioma di Peru yang memakai SINADEF. Menurut mereka, temuan ini mendukung penguatan surveilans dan kapasitas diagnosis mesotelioma, serta penyelidikan epidemiologi lanjutan untuk memahami perbedaan antarwilayah.

Bagikan

Baca Juga

Ibu di Enugu Nigeria Kerap Salah Pakai Obat Demam untuk Anak
Anak Kota Benggala Barat Haid Pertama Lebih Awal dari Anak Desa
Waktu Diam Anak Sekolah Chile Berkurang 25 Menit per Hari
Hampir Tiga dari Sepuluh Mahasiswa Yaman Duduk 7 Jam atau Lebih
Pria Afrika Sub-Sahara Lebih Sering Kurus daripada Perempuan
Warga Berisiko Miskin Tanpa Anak Serumah Kian Jarang Merasa Sehat