- Studi atas 158 negara pada 2000 sampai 2023 menyandingkan empat indikator ekonomi dengan angka kematian balita.
- Di Asia dan Eropa, pertumbuhan PDB per kapita yang lebih cepat berkorelasi dengan penurunan kematian balita yang lebih cepat.
- Di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania tidak ada korelasi bermakna dengan indikator ekonomi mana pun.
- Uji Granger menunjukkan hubungan dua arah antara PDB per kapita dan angka kematian balita pada jeda empat tahun.
Daftar Isi
- Asia dan Eropa: Ekonomi Melaju, Kematian Turun Lebih Cepat
- Amerika dan Oseania: Dua Angka yang Tak Saling Menyahut
- PDB dan PDB per Kapita: Negatif dari Jeda Nol sampai Lima Tahun
- Pertumbuhan dan Inflasi: Arahnya Berganti Menurut Jeda
- Dari Ekonomi ke Anak, dari Anak ke Ekonomi
- Yang Kokoh dan yang Masih Goyah
Laju produk domestik bruto sebuah negara dan peluang anak-anaknya melewati ulang tahun kelima tampak seperti dua catatan yang tidak saling menyapa. Yang pertama diukur dalam dolar dan persen, yang kedua dalam jumlah kematian per 1.000 kelahiran hidup. Sebuah studi atas 158 negara selama 24 tahun menyandingkan keduanya, dan hasilnya tidak seragam di semua benua.
Di Asia dan Eropa, negara yang ekonominya tumbuh lebih cepat cenderung mencatat penurunan angka kematian balita yang juga lebih cepat. Di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania, hubungan semacam itu tidak terlihat bermakna. Di Afrika, hanya satu indikator ekonomi yang menunjukkan hubungan bermakna.
Temuan itu ditulis Dehai Li dan rekan dari Department of Health, Maternal and Child Health Hospital of Hubei Province, Tongji Medical College, Huazhong University of Science and Technology, Wuhan, Tiongkok, dalam paper berjudul Economic development and under-five mortality: A global longitudinal analysis of lagged effects and between-country inequalities. Naskahnya diterbitkan jurnal BMC Public Health pada 2026.
Bahannya data terbuka Bank Dunia untuk 193 negara anggota PBB dari 2000 sampai 2023, yang menyusut menjadi 158 negara setelah negara dengan data terlalu bolong disisihkan. Empat ukuran ekonomi dibaca berdampingan dengan angka kematian balita, yaitu PDB total, PDB per kapita, laju pertumbuhan PDB, dan inflasi.
Pada peta 2023, dua wajah dunia terlihat jelas. Afrika, khususnya Afrika sub-Sahara, mencatat angka kematian balita yang jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain. Di sisi lain, kebanyakan negara maju dan sebagian wilayah berkembang mempertahankan angka kematian yang relatif rendah. Untuk arah perubahannya, sepanjang 2000 sampai 2023, Afrika dan sebagian Asia mengalami penurunan angka kematian balita yang relatif cepat, sementara Eropa dan Amerika Utara mencatat penurunan tahunan yang lebih kecil.
Paper ini juga mencatat, dengan merujuk data Kelompok Antarlembaga PBB untuk Estimasi Kematian Anak, bahwa pada 2024 Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan menyumbang lebih dari 80 persen kematian balita di dunia. Angka kematian balita sendiri dipakai untuk memantau target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 3.2, yakni mengakhiri kematian balita yang bisa dicegah pada 2030.
Baca juga Stunting di Indonesia Lebih Rendah Saat Ekonomi Provinsi Tumbuh
Asia dan Eropa: Ekonomi Melaju, Kematian Turun Lebih Cepat
Untuk tiap wilayah, para peneliti menyandingkan rata-rata persentase perubahan tahunan angka kematian balita dengan rata-rata perubahan tahunan indikator ekonomi. Koefisien negatif berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat berkaitan dengan penurunan kematian balita yang lebih cepat. Asia dan Eropa sama-sama menunjukkan pola itu pada dua indikator sekaligus.
Di Asia, koefisien korelasinya minus 0,505 untuk PDB dan minus 0,605 untuk PDB per kapita. Di Eropa, angkanya minus 0,368 untuk PDB dan minus 0,619 untuk PDB per kapita. Pada kedua wilayah, korelasi PDB per kapita bermakna pada p di bawah 0,001, sedangkan korelasi PDB bermakna pada p di bawah 0,01.
Afrika memperlihatkan gambaran yang lebih tipis. Hanya PDB yang berkorelasi bermakna dengan perubahan angka kematian balita, dengan koefisien minus 0,374. Para penulis membaca Afrika sub-Sahara sebagai wilayah yang hubungannya lebih lemah dan kurang konsisten, dan mengaitkannya dengan infrastruktur yang kurang, kapasitas sistem kesehatan yang terbatas, serta kemiskinan yang meluas. Untuk Asia dan Eropa, para penulis menduga manfaat ekonomi lebih mudah diterjemahkan menjadi keselamatan anak, mungkin lewat investasi kesehatan yang bertambah dan cakupan layanan yang meluas.
Amerika dan Oseania: Dua Angka yang Tak Saling Menyahut
Pada kasus kedua, ceritanya berbeda. Di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania, tidak ada korelasi bermakna antara perubahan angka kematian balita dan indikator ekonomi mana pun. Para penulis menyebut sebagian wilayah itu, seperti Amerika Utara dan Oseania, tergolong kaya dengan pendapatan rata-rata tinggi. Menurut mereka, ketimpangan di dalam negeri dalam akses layanan dan peluang sosial-ekonomi mungkin menutupi potensi kekayaan nasional untuk menekan kematian anak di kelompok yang tertinggal.
Dari dua sisi itulah paper ini menarik garis kebijakan yang berbeda. Untuk Asia, Eropa, dan Afrika, para penulis menyarankan pembangunan ekonomi diprioritaskan. Untuk Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania, mereka menyarankan program perbaikan yang berfokus pada kesehatan. Khusus Amerika Utara, mereka menulis pertumbuhan ekonomi agregat mungkin tidak lagi menjadi penggerak utama keselamatan anak dalam konteks berpendapatan tinggi.
“Pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk menjamin perbaikan keselamatan anak,” tulis Dehai Li dan rekan di bagian kesimpulan, dalam terjemahan Cekricek.id. Di wilayah yang indikator ekonominya tak lagi berkorelasi dengan kematian anak, mereka menyarankan kebijakan bergeser dari fokus pertumbuhan ke penguatan sistem kesehatan yang tepat sasaran.
PDB dan PDB per Kapita: Negatif dari Jeda Nol sampai Lima Tahun
Pertanyaan berikutnya menyangkut waktu, yaitu apakah hubungan itu muncul seketika atau tertunda. Para peneliti menguji jeda nol sampai lima tahun antara indikator ekonomi dan angka kematian balita, dengan seluruh variabel distandarkan. PDB total dan PDB per kapita diuji dalam dua model terpisah.
Pada model yang hanya memuat PDB total, koefisiennya negatif di semua jeda, dari minus 1,50 pada jeda nol sampai minus 1,59 pada jeda tiga tahun, lalu kembali minus 1,50 pada jeda lima tahun. Pada model yang hanya memuat PDB per kapita, koefisiennya bergerak dari minus 0,23 pada jeda nol menjadi minus 0,33 pada jeda dua dan tiga tahun.
Sesudah itu, koefisien PDB per kapita bertahan di minus 0,32 pada jeda empat dan lima tahun. Seluruh koefisien kedua ukuran itu bermakna pada p di bawah 0,001. Bagi para penulis, pola yang tidak putus ini menunjukkan pembangunan ekonomi jangka panjang sebagai landasan dasar bagi perbaikan keselamatan anak.
Baca juga Remitansi dan Modal Asing di 22 Negara Asia Bergerak Berlawanan
Pertumbuhan dan Inflasi: Arahnya Berganti Menurut Jeda
Laju pertumbuhan PDB dan inflasi menempuh jalan lain. Koefisien laju pertumbuhan justru positif terhadap angka kematian balita, misalnya 0,04 pada jeda nol di model PDB total, dengan kemaknaan yang naik-turun. Pada model PDB per kapita, koefisien 0,01 di jeda tiga tahun bahkan tidak bermakna.
Para penulis menduga sifat sementara dan kadang positif itu berasal dari kenaikan pendapatan sesaat yang tidak berujung pada perbaikan kesehatan bagi kelompok terpinggirkan tanpa investasi sosial yang terarah. Mereka juga menyebut polusi udara, urbanisasi cepat yang melahirkan kesenjangan di dalam kota, dan ketimpangan relatif antarkelompok sebagai hal yang bisa mengikis manfaat pertumbuhan.
Inflasi berganti arah. Pada model PDB total, koefisiennya minus 0,02 dan bermakna pada jeda nol sampai dua tahun, lalu menjadi 0,02 dan bermakna pada jeda lima tahun. Pada model PDB per kapita, koefisien inflasi naik dari minus 0,02 pada jeda nol menjadi 0,03 pada jeda lima tahun. Menurut para penulis, inflasi yang stabil menopang daya beli rumah tangga dan pembiayaan sistem kesehatan dalam jangka pendek. Hubungan jangka panjangnya, kata mereka, lebih rumit dan perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Dari Ekonomi ke Anak, dari Anak ke Ekonomi
Bagian terakhir analisis menguji urutan waktu dengan uji kausalitas Granger pada jeda empat tahun. Hasilnya dua arah untuk PDB per kapita. Pergerakan PDB per kapita mendahului angka kematian balita dengan nilai Z 2,548, sedangkan pergerakan angka kematian balita mendahului PDB per kapita dengan nilai Z 6,459.
Di sisi lain, angka kematian balita juga mendahului inflasi secara searah, dengan nilai Z minus 2,254. Tidak ada hubungan Granger yang terdeteksi untuk PDB total maupun laju pertumbuhan PDB, ke arah mana pun. Inflasi juga tidak terbukti mendahului angka kematian balita.
Para penulis menafsirkan arah dari anak ke ekonomi lewat modal manusia. Perbaikan keselamatan anak mungkin menambah modal manusia lewat perkembangan fisik dan kognitif yang lebih baik serta pendidikan yang lebih tinggi, dan anak yang lebih sehat lebih mungkin menjadi orang dewasa produktif yang menambah tenaga kerja, tabungan, dan inovasi. Penurunan kematian anak juga disebut menurunkan rasio ketergantungan dan belanja kesehatan rumah tangga, yang bisa membantu menstabilkan harga.
“Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan anak bukan sekadar akibat dari pembangunan ekonomi, tetapi juga penggerak pentingnya,” tulis Dehai Li dan rekan dalam bagian pembahasan, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Dari sana mereka menyebut investasi pada keselamatan anak sebagai keharusan moral sekaligus keharusan ekonomi.
Baca juga Nafkah Keluarga Pesisir Bangladesh Rapuh, Berat Anak Ikut Kurang
Yang Kokoh dan yang Masih Goyah
Tidak semua arah sama kokohnya. Ketika uji diulang dengan jeda tiga tahun, arah dari angka kematian balita ke PDB per kapita tetap bermakna dengan nilai Z 6,874, dan arah ke inflasi tetap bermakna dengan nilai Z minus 2,622. Sebaliknya, arah dari PDB per kapita ke angka kematian balita menjadi tidak bermakna.
Para penulis mengakui uji Granger hanya menunjukkan urutan waktu, bukan sebab-akibat struktural, dan peka terhadap pilihan jeda. Faktor yang tak terukur, seperti ketidakstabilan politik, konflik bersenjata, atau inisiatif kesehatan global, mungkin ikut memengaruhi hasil. Data dari negara berpendapatan rendah dengan pencatatan sipil yang belum lengkap juga bisa mengandung galat ukur. Data tingkat negara pun tidak menangkap perbedaan di dalam satu negara, sehingga mereka menyarankan riset lanjutan memakai data subnasional, memasukkan faktor perantara seperti belanja kesehatan publik dan pendidikan ibu, serta memakai rancangan kuasi-eksperimen untuk memperkuat dugaan sebab-akibat.
Untuk kebijakan, saran mereka berbeda menurut wilayah. Afrika dan Asia disarankan menyisihkan porsi tetap dari pertumbuhan PDB tahunan untuk dana kesehatan anak nasional, menyiapkan kader kesehatan masyarakat, dan memberi bantuan tunai bersyarat yang dikaitkan dengan pemeriksaan serta imunisasi anak. Eropa disarankan berinvestasi pada perkembangan anak usia dini, termasuk bagi anak migran dan kelompok etnis minoritas.
Di semua wilayah, para penulis menyarankan mekanisme peringatan dini inflasi yang memicu bantuan sementara, seperti voucher gizi anak, bagi rumah tangga berpendapatan rendah yang punya anak kecil. Mereka juga mengusulkan penurunan kematian anak dijadikan indikator kinerja pemerintah daerah, agar investasi kesehatan masyarakat ikut didorong di samping pertumbuhan ekonomi.














