- Pada sisi pertama, remitansi mendapat koefisien positif 0,033 dalam jangka pendek dan 0,035 dalam jangka panjang.
- Pada sisi kedua, investasi asing langsung justru mendapat koefisien negatif, yaitu minus 0,084 dalam jangka pendek dan minus 0,090 dalam jangka panjang.
- India menerima lebih dari 87 miliar dolar AS pada 2023 dan menjadi penerima terbesar di dunia.
- Nilai p remitansi dalam jangka panjang adalah 0,058, dan remitansi tidak termasuk dalam lima faktor yang dinyatakan signifikan pada ambang lima persen.
Daftar Isi
Uang yang dikirim pekerja migran kepada keluarganya di kampung dan modal yang ditanam investor asing di sebuah negara sama-sama datang dari luar negeri, tetapi di Asia keduanya ternyata bergerak ke arah yang berlawanan. Uang kiriman berjalan searah dengan pertumbuhan ekonomi. Modal asing, sebaliknya, justru berjalan berlawanan arah dengan pertumbuhan itu.
Pola itu dicatat Very Budiyanto, Wasiaturrahma, dan Wisnu Wibowo dalam The Impact of Remittance Inflows on Economic Growth: Evidence from Asian Countries, yang terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2, 2026. Ketiganya bernaung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Naskah mereka ditulis dalam bahasa Inggris, dengan Very Budiyanto sebagai penulis korespondensi.
Mereka membaca data 22 negara Asia selama 2004 sampai 2023, dari Armenia, Jepang, dan Kazakhstan hingga India, Filipina, Indonesia, dan Tiongkok. Remitansi yang dimaksud adalah transfer uang pekerja migran kepada keluarga di negara asalnya. Menurut naskah itu, di beberapa negara aliran remitansi bahkan sudah melampaui bantuan luar negeri dan investasi asing langsung.
Uang Kiriman yang Searah dengan Pertumbuhan
Pada sisi pertama, remitansi mendapat koefisien positif 0,033 dalam jangka pendek dan 0,035 dalam jangka panjang. Artinya, negara yang menerima aliran remitansi lebih besar cenderung mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Para penulis menafsirkan hubungan ini lewat daya beli rumah tangga yang naik dan kegiatan ekonomi domestik yang ikut terdorong.
Angka itu memang kecil dibanding faktor lain dalam model yang sama. Namun arahnya konsisten di kedua jangka waktu, dan justru konsistensi itulah yang dijadikan pegangan utama naskah. Dalam jangka panjang, tulis mereka, kenaikan satu unit remitansi berkaitan dengan kenaikan 0,035 pada ukuran pertumbuhan yang mereka pakai. Ukuran itu berbasis produk domestik bruto per kapita.
Naskah juga memberi gambaran seberapa besar uang ini bagi sejumlah negara. India menerima lebih dari 87 miliar dolar AS pada 2023 dan menjadi penerima terbesar di dunia. Nepal menerima sekitar 8,5 miliar dolar AS pada tahun yang sama, setara lebih dari 30 persen produk domestik brutonya, dan sebagian besar dipakai untuk konsumsi rumah tangga, pendidikan, dan kesehatan.
Indonesia disebut menerima sekitar 12,3 miliar dolar AS pada 2022, naik dari 11,3 miliar dolar AS pada 2021. Uang itu terutama dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan, dan kesehatan, dengan porsi kira-kira 1 sampai 2 persen dari PDB Indonesia. Filipina dan Bangladesh digambarkan sangat bergantung pada remitansi untuk kesejahteraan rumah tangga dan stabilitas ekonomi.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Modal Asing yang Berjalan Berlawanan
Pada sisi kedua, investasi asing langsung justru mendapat koefisien negatif, yaitu minus 0,084 dalam jangka pendek dan minus 0,090 dalam jangka panjang. Kedua angka ini signifikan secara statistik, lebih kuat daripada angka remitansi. Aliran modal asing yang lebih besar, dalam model ini, berkaitan dengan pertumbuhan yang lebih rendah. Tanda negatif ini bertahan di kedua jangka waktu, sama seperti tanda positif remitansi.
Para penulis tidak menyimpulkan bahwa modal asing merugikan. Mereka menulis bahwa investasi asing “belum memberikan kontribusi jangka panjang yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi”, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dugaan yang mereka ajukan adalah lemahnya keterkaitan antara perusahaan asing dan industri lokal, ditambah besarnya laba yang dibawa pulang ke negara asal investor.
Penulis juga merujuk kajian lain yang menyebut manfaat investasi asing bergantung pada sektor tujuan dan mutu regulasi. Di Indonesia, menurut kajian yang mereka kutip, manfaat itu terbatas ketika sektor domestik tidak mampu menyerap alih teknologi dan limpahan produktivitas. Mutu kelembagaan yang lemah juga disebut bisa menggerus dampak jangka panjangnya, terutama di negara berpendapatan rendah.
Kedua aliran itu pada akhirnya sama-sama uang dari luar negeri yang masuk ke perekonomian Asia. Bedanya, remitansi dalam naskah ini langsung sampai ke rumah tangga, sedangkan modal asing melewati perusahaan dan harus terhubung dulu dengan industri setempat. Para penulis tidak menguji jalur itu secara langsung, mereka hanya menawarkannya sebagai penjelasan.
Jangka Pendek: Tanda yang Masih Goyah
Faktor-faktor lain memperlihatkan pola yang juga berpasangan. Dalam jangka pendek, ekspor, inflasi, dan pertumbuhan penduduk sama-sama bernilai positif, masing-masing 0,017, 0,021, dan 0,058. Pendidikan bernilai negatif, minus 0,161, sementara konsumsi rumah tangga 0,024 dan belanja pemerintah 0,008 hanya positif tipis. Tanda negatif pada pendidikan dan investasi asing ini kelak bertahan di jangka panjang.
Remitansi sendiri berada di wilayah yang goyah dalam jangka pendek. Nilai p-nya 0,055, sedikit di atas ambang lima persen yang lazim dipakai, sehingga naskah hanya memberinya tanda signifikan pada tingkat sepuluh persen. Para penulis mengakui bahwa efek jangka pendek remitansi “tidak selalu signifikan secara statistik”, menurut naskah berbahasa Inggris itu.
Inflasi yang positif ditafsirkan penulis sebagai tanda bahwa inflasi moderat masih bisa mendorong permintaan agregat. Pertumbuhan penduduk dianggap memperluas pasar domestik dan pasokan tenaga kerja. Kedua tafsiran ini bersandar pada kajian-kajian yang dikutip naskah, termasuk temuan tentang ambang inflasi yang di atasnya pertumbuhan malah terhambat. Ekspor yang positif dikaitkan penulis dengan pendapatan nasional yang bertambah dan keterhubungan dengan pasar global.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Jangka Panjang: Arah yang Lebih Tetap
Dalam jangka panjang, arah setiap faktor tidak berubah dan besarannya hanya sedikit bergeser. Ekspor menjadi 0,018, inflasi 0,023, dan pertumbuhan penduduk 0,062. Lima faktor yang dinyatakan signifikan pada ambang lima persen adalah investasi asing, inflasi, penduduk, pendidikan, dan ekspor. Konsumsi rumah tangga 0,026 dan belanja pemerintah 0,009 tetap positif, tetapi tidak termasuk yang signifikan.
Pendidikan tetap negatif, minus 0,172, pasangan yang ganjil bagi penduduk yang positif. Penulis menjelaskan bahwa manfaat pendidikan butuh waktu untuk berubah menjadi produktivitas dan keterampilan yang terserap pasar kerja. Mereka juga menyebut ketidakcocokan keterampilan, pengangguran terdidik, dan minimnya lapangan kerja produktif sebagai penghambat di banyak negara berkembang. Mutu pendidikan, bukan hanya lamanya bersekolah, juga disebut ikut menentukan.
Kesimpulan para penulis tentang remitansi di jangka panjang lebih tegas. “Dalam jangka panjang, remitansi berkontribusi secara positif dan konsisten terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan,” tulis Budiyanto, Wasiaturrahma, dan Wibowo dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menempatkan remitansi sebagai sumber pembiayaan pelengkap bagi negara berkembang.
Dari situ mereka menyusun saran kebijakan. Pemerintah di Asia diminta mendorong pemakaian remitansi secara produktif lewat inklusi keuangan, akses layanan bank formal bagi pekerja migran dan keluarganya, serta program remitansi yang berorientasi investasi. Usaha kecil dan menengah juga perlu didukung agar mampu menyerap investasi yang bersumber dari uang kiriman. Mutu pendidikan, kapasitas pasar kerja, dan infrastruktur keuangan digital juga disebut perlu dibenahi.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Yang Diakui Para Penulis
Penulis mengakui bahwa cakupan studi mereka “dibatasi oleh data yang tersedia dan negara-negara yang dicakup”. Mereka menyarankan penelitian berikutnya memasukkan mutu kelembagaan, perkembangan sektor keuangan, tata kelola, dan inovasi teknologi. Keempat hal ini tidak masuk model, padahal naskah sendiri menyebut efektivitas remitansi sangat bergantung pada mutu sistem keuangan.
Pembaca juga perlu ingat bahwa angka-angka ini adalah hubungan dalam model statistik, bukan hasil percobaan. Koefisien positif remitansi tidak membuktikan bahwa uang kiriman menyebabkan ekonomi tumbuh, dan koefisien negatif investasi asing tidak membuktikan modal asing menahan pertumbuhan. Temuan ini juga berlaku untuk gabungan 22 negara, bukan untuk satu negara tertentu.
Yang Tidak Cocok di Dalam Naskah
Beberapa bagian naskah tidak saling cocok. Nilai p remitansi dalam jangka panjang adalah 0,058, dan remitansi tidak termasuk dalam lima faktor yang dinyatakan signifikan pada ambang lima persen. Meski begitu, kesimpulan menyebut remitansi mendukung pertumbuhan secara positif dan berkelanjutan, tanpa menyinggung bahwa angkanya berada di atas ambang yang dipakai naskah sendiri.
Abstrak dan kesimpulan menyebut investasi asing dan pendidikan bernilai negatif pada sebagian spesifikasi model. Padahal naskah hanya menyajikan satu tabel untuk jangka pendek dan satu untuk jangka panjang. Tabel definisi juga menyatakan remitansi diukur dalam dolar AS berlaku, sedangkan tabel statistiknya mencatat rerata 5,186 dengan nilai terbesar 62,452. Angka sekecil itu sulit dibaca sebagai jumlah dolar yang diterima sebuah negara.
Variabel penduduk didefinisikan sebagai jumlah penduduk usia 15 sampai 64 tahun, tetapi pembahasan menyebutnya pertumbuhan penduduk. Gambar pertama berjudul distribusi remitansi di negara Asia tahun 2025, padahal data berhenti di 2023. Rujukan Okara dan rekan tertulis 2010 di badan naskah, tetapi 2025 di daftar pustaka. Nama penulis utama pun tertulis Budianto di kepala halaman, berbeda dari Budiyanto di halaman judul.
Pada akhirnya, uang kiriman pekerja migran dan modal investor asing tetap berdiri di dua sisi naskah ini, yang satu searah dengan pertumbuhan dan yang lain berlawanan. Penelitian ini tidak menyatakan salah satunya lebih baik untuk dimiliki sebuah negara. Yang dicatatnya adalah arah kedua aliran itu di 22 negara Asia, dengan angka remitansi yang berdiri tepat di tepi ambang signifikansi.














