Le Rossignol Karya Verlaine, 20 Larik Kehilangan Cinta Pertama

A A

Burung bulbul Eropa berkicau di dahan berlumut, Moëze-Oléron, Prancis [Foto: Marie-Lan Taÿ Pamart/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Kata le rossignol tidak pernah disebut di dalam badan puisi.
  • Seluruh puisi ternyata hanya satu kalimat panjang yang dibagi menjadi dua puluh larik.
  • Sebanyak tiga belas larik berukuran sepuluh suku kata, sementara tujuh larik lainnya berukuran dua belas suku kata.
  • Pohon menandakan kesedihan dan ketidakstabilan emosi, sedangkan burung yang menangis melambangkan cinta pertama yang hilang.
Daftar Isi
  1. 1866: Le Rossignol di Ujung Paysages Tristes
  2. Larik 1 sampai 4: Kenangan yang Menyerbu
  3. Larik 5 sampai 12: Penyesalan dan Suara yang Tersisa
  4. Larik 13 sampai 20: Cinta Pertama dan Malam yang Berat
  5. 1884: Musik sebelum Segala Sesuatu
  6. 2026: Catatan yang Perlu Diperiksa

Tahun 1866, Paul Verlaine memulai debutnya lewat kumpulan puisi Poèmes Saturniens. Di akhir kumpulan itu, pada bagian Paysages Tristes, ia menaruh sebuah puisi berjudul Le Rossignol. Puisi dua puluh larik itu menggambarkan pengalaman cinta pertama Verlaine yang berakhir dengan kekecewaan.

Puisi tersebut dibaca ulang oleh Izha Siti Chodizah dan Myrna Laksman Huntley dalam Puisi Le Rossignol Karya Paul Verlaine: Simbolisme Melankoli dan Representasi Kehilangan Cinta Pertama, terbit di Jurnal Ilmu Budaya volume 14 nomor 1, tahun 2026. Keduanya berasal dari Universitas Indonesia, Depok. Mereka mencatat belum ada jurnal dalam lima tahun terakhir yang khusus menjadikan Le Rossignol sebagai bahan kajian.

1866: Le Rossignol di Ujung Paysages Tristes

Judul Poèmes Saturniens diambil dari nama planet Saturnus. Dalam tradisi astronomi, planet itu dipandang sebagai simbol takdir buruk. Menurut kedua penulis, pilihan judul ini mencerminkan kecenderungan Verlaine pada tema melankolis, takdir, dan penderitaan, yang kemudian menjadi ciri khas aliran simbolis.

Verlaine dikenal sebagai salah satu pelopor aliran simbolisme, bersama Arthur Rimbaud dan Stéphane Mallarmé. Aliran ini lahir sebagai gerakan yang menentang realisme dan naturalisme. Simbol dipakai sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia ide, sementara musikalitas larik ditempatkan sebagai unsur penting.

Letak Le Rossignol di ujung kumpulan itu punya alasan tersendiri. Naskah merujuk Chassang dan Senninger yang menjelaskan bahwa Saturniens diartikan sebagai kemuraman. Di dalam kemuraman itu, burung bul-bul dipercaya dapat membangkitkan cinta yang ditakdirkan untuk menghilang karena nasib buruk.

Le rossignol dalam bahasa Indonesia disebut bul-bul, burung bersayap cokelat yang suka bernyanyi. Sejak zaman Yunani kuno, burung ini melambangkan nyanyian cinta yang melankolis. Kedua penulis memilih puisi ini karena menonjolkan burung sebagai medium melankoli sekaligus sarana menghadirkan kenangan.

Ada satu hal yang mereka catat sejak awal. Kata le rossignol tidak pernah disebut di dalam badan puisi. Penggantinya adalah kata oiseau, yang berarti burung, dan kata itu muncul tiga kali. Dua kali dalam bentuk tunggal, satu kali dalam bentuk jamak.

Dari pilihan kata itu, kedua penulis menarik kesimpulan tentang arah puisi. “Hal ini menunjukkan bahwa cinta pertama tidak kembali sebagai simbol bul-bul yang indah, melainkan sebagai burung bebas yang bisa pergi kapan saja, sebuah lambang kehilangan dan penderitaan,” tulis Izha Siti Chodizah dan Myrna Laksman Huntley dalam naskahnya.

Larik 1 sampai 4: Kenangan yang Menyerbu

Puisi dibuka dengan larik Comme un vol criard d’oiseaux en émoi. Naskah menerjemahkannya sebagai sekawanan burung yang berteriak dalam kegelisahan. Larik kedua menyusul: semua kenanganku menyerbu jatuh menimpa diriku. Judulnya terkesan indah, tetapi tema utamanya kenangan menyakitkan dari cinta yang hilang.

Kata criard memikul penderitaan yang tidak dinyatakan terang. Kekasaran suara huruf c dan r, ditambah pertemuan bunyi vokal i dan a, menimbulkan kesan tidak cocok di larik pertama. Frasa souvenirs s’abattent yang disandingkan dengan kawanan burung berteriak memberi kesan brutal dan bertubi-tubi.

Posisi penyair di larik kedua disebut pasif. Yang menjadi subjek adalah souvenirs, atau kenangan, sedangkan moi hanya keterangan. Kenangan yang bertindak, penyair yang tertimpa. Kata tous, yang berarti semua, memperkuat gagasan bahwa melawan serbuan itu adalah perjuangan yang mustahil.

Dari segi bunyi, kedua larik pembuka ditutup dengan bunyi [mwa] pada émoi dan moi. Bunyi ini dibaca sebagai efek perasaan kuat atau sentimental. Larik kedua juga dipenuhi pengulangan bunyi [s] yang dimaknai sebagai sindiran. Pengulangan itu menegaskan kesedihan yang ingin disampaikan.

Larik ketiga dan keempat membawa kenangan jatuh di antara dedaunan kuning. Akhir kedua larik, jaune dan d’aune, dibaca menghadirkan kelembutan. Larik keempat juga memuat pengulangan bunyi vokal yang dimaknai sebagai keseriusan atau kesedihan. Kedua penulis membaca bagian ini sebagai nostalgia, ketika kenangan indah berubah menjadi beban.

Baca juga Lima Lukisan Retno Amalia Pratiwi Menjawab Novel Gibran

Larik 5 sampai 12: Penyesalan dan Suara yang Tersisa

Larik kelima menyebut permukaan air ungu penuh penyesalan, l’eau des Regrets. Akhir larik kelima dan keenam, Regrets dan auprès, dibaca sebagai bunyi lembut dan tulus. Larik keenam sekaligus memuat pengulangan bunyi [k] yang keras, tanda kemarahan atau sindiran. Keduanya memperlihatkan kontras antara harapan dan kekecewaan.

Kata kerja s’abattent kembali muncul di larik ketujuh. Sebelumnya kata ini sudah hadir di larik kedua dan ketiga. Menurut naskah, pengulangan tiga kali itu menandai kekerasan kenangan yang jatuh menimpa. Di larik yang sama muncul kata mauvaise, yang ditempatkan di rima dan memberi kesan emosi buruk.

Pasangan rima mauvaise dan apaise dibaca sebagai sindiran. Larik kedelapan lalu dipenuhi bunyi [m] yang lembut. Kedua penulis menyebut peralihan dari sindiran menjadi kelembutan itu sebagai tanda cinta yang memudar. Yang tersisa hanya kenangan.

Kenangan, menurut naskah, muncul sebagai ledakan yang tiba-tiba masuk ke dalam kesadaran. Perlahan satu kenangan menguasai jiwa dan membuatnya obsesif. Tanda urutan waktu ikut ditekankan lewat frasa et puis, yang berarti lalu, dan au bout d’un instant, yang berarti sesaat kemudian.

Larik kesembilan dan kesepuluh menutup keriuhan itu. Suara itu padam perlahan di pohon, hingga sesaat kemudian tak ada lagi yang terdengar. Akhir kedua larik, bien dan rien, dibaca sebagai bunyi lembut. Di titik ini keramaian burung dan kenangan sudah reda.

Larik kesebelas dan kedua belas lalu mengulang frasa plus rien que la voix, yang berarti tak ada lagi selain suara. Menurut kedua penulis, pengulangan inilah klimaks puisi. Hanya suara kenangan yang tersisa dan menempati seluruh kesadaran, merayakan sosok l’Absente sebagai figur kehilangan.

Frasa ô si languissante, yang diterjemahkan oh begitu merindu, menekankan kelemahan suara itu. Kelesuan tersebut muncul karena separuh kenangan sudah hilang. Naskah mencatat tidak ada deskripsi tentang sosok yang hilang. Kedua penulis bahkan membuka kemungkinan bahwa l’Absente bisa ibu atau saudara perempuan yang terkasih.

Jalan kenangan dalam 20 larik Le RossignolDari kenangan yang menyerbu di larik 1 sampai pohon bergetar dan burung menangis di larik 20.Jalan kenangan dalam 20 larik Le RossignolUrutan citra larik demi larik menurut tafsir penulis jurnalL1-2Kenangan menyerbu seperti sekawanan burung yangberteriak gelisahL5-7Air ungu penyesalan; kata s'abattent diulang, gumamyang burukL11-12Plus rien que la voix: hanya suara kenangan yangtersisaL13Burung itu disebut pernah menjadi Cinta Pertama (katakerja fut)L15-18Bulan pucat, malam musim panas yang berat, sunyi,dan gelapL20Pohon yang bergetar dan burung yang menangisL = larik. Kata le rossignol sendiri tidak pernah muncul di badan puisi.
Sumber: Izha Siti Chodizah dan Myrna Laksman Huntley, Puisi Le Rossignol Karya Paul Verlaine: Simbolisme Melankoli dan Representasi Kehilangan Cinta Pertama, Jurnal Ilmu Budaya, 14(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Larik 13 sampai 20: Cinta Pertama dan Malam yang Berat

Ungkapan yang tepat baru muncul di larik ketiga belas. Larik itu berbunyi De l’oiseau que fut mon Premier Amour, dari burung yang pernah menjadi Cinta Pertamaku. Kata kerja fut ditulis dalam bentuk passé simple. Menurut naskah, bentuk ini mengacu pada kehilangan yang sudah lenyap di masa lalu.

Larik keempat belas menambahkan bahwa burung itu masih bernyanyi seperti pada hari pertama, comme au premier jour. Kedua penulis membacanya sebagai perasaan kehilangan dan penyesalan. Akhir larik ketiga belas dan keempat belas, Amour dan jour, sama-sama memuat bunyi [R] yang bergemuruh, tanda dilema dan pergolakan batin.

Larik kelima belas dan keenam belas menghadirkan bulan. Kata triste berarti muram, sedangkan blafarde berarti pucat. Kata blafarde dan solennelle, yang berarti khidmat, memberi suasana kontras antara keindahan bulan dan kemuramannya. Akhir kedua larik, lune dan une, dibaca sebagai kelembutan yang ironis.

Larik ketujuh belas menegaskan suasana itu lewat kata mélancolique dan lourde, yang berarti berat. Verlaine mengaitkan malam melankolis itu dengan musim panas. Menurut naskah, kaitan ini menandakan kehangatan musim panas yang berubah menjadi beban. Larik kedelapan belas menambahkan kesunyian dan kegelapan.

Kedua penulis membaca kesunyian dan kegelapan di larik kedelapan belas sebagai perasaan hampa. Bunyi akhir d’été dan obscurité dimaknai lembut. Namun, menurut naskah, di balik bunyi lembut itu terdapat perasaan kesepian, dengan keindahan alam sebagai latar belakangnya.

Larik kesembilan belas memuat kata berce, yang berarti mengayun. Naskah membacanya sebagai kesedihan yang mendayu-dayu. Dari sudut pandang lain, kata yang sama disebut juga dapat menunjukkan ketenangan. Dua tafsir itu dibiarkan berdampingan dalam naskah.

Larik kedua puluh menutup puisi dengan dua simbol utama. Isinya pohon yang bergetar dan burung yang menangis. Pohon menandakan kesedihan dan ketidakstabilan emosi, sedangkan burung yang menangis melambangkan cinta pertama yang hilang. Bunyi [R] pada effleure dan pleure dibaca sebagai puncak kesedihan yang bergetar seperti gemuruh.

Setelah membaca dua puluh larik itu, kedua penulis menarik satu kesimpulan tentang puisi ini. “Dengan demikian, Le Rossignol bukan sekadar elegi cinta yang hilang, melainkan refleksi eksistensial tentang bagaimana kenangan traumatis tetap hidup sebagai suara melankolis yang abadi,” tulis Izha Siti Chodizah dan Myrna Laksman Huntley dalam naskahnya.

Baca juga Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu

1884: Musik sebelum Segala Sesuatu

Delapan belas tahun setelah debutnya, Verlaine menegaskan prinsipnya dalam Art poétique tahun 1884. Kalimatnya berbunyi De la musique avant toute chose, musik sebelum segala sesuatu. Kedua penulis memakai prinsip itu untuk membaca bentuk Le Rossignol, dari hitungan suku kata sampai rima.

Seluruh puisi ternyata hanya satu kalimat panjang yang dibagi menjadi dua puluh larik. Sebanyak tiga belas larik berukuran sepuluh suku kata, sementara tujuh larik lainnya berukuran dua belas suku kata. Bentuk pertama disebut décasyllabe, bentuk kedua alexandrin. Larik alexandrin itu tersebar di larik 1, 8, 10, 14, 16, 19, dan 20.

Menurut kedua penulis, penyebaran yang tidak merata ini menunjukkan Verlaine bebas berekspresi. Ia tidak terikat pola konvensional puisi klasik. Naskah menyebut kebebasan metrik itu sebagai refleksi kebebasan batin penyair dalam mengungkapkan kesedihan karena kehilangan cinta.

Rima justru tersusun rapi. Dua puluh larik itu berpasangan dengan pola AA, BB, sampai JJ, sehingga ada sepuluh pasang rima. Pola ini disebut rima datar atau plates. Kedua penulis membacanya sebagai tanda kesedihan yang berulang di sepanjang puisi.

Bentuk Le Rossignol dalam angka20 larik: 13 decasyllabe, 7 alexandrin, 10 pasang rima datar.Bentuk Le Rossignol dalam angkaMetrik tidak merata, rima berpasangan rapi20lariksatu bait, satukalimat panjang13larik 10 sukukatadecasyllabe7larik 12 sukukataalexandrin10pasang rimapola AA-BB, rimadatarJalan risetnyaBunyi vokal, konsonanSuku kata dan rimaSimbol burung, pohon,bulanKata oiseau muncul tiga kali: dua tunggal (larik 13 dan 20), satu jamak(larik 1).
Sumber: Izha Siti Chodizah dan Myrna Laksman Huntley, Puisi Le Rossignol Karya Paul Verlaine: Simbolisme Melankoli dan Representasi Kehilangan Cinta Pertama, Jurnal Ilmu Budaya, 14(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Naskah membandingkannya dengan puisi Verlaine lain, Il Pleure dans Mon Cœur. Puisi itu memakai pola rima ABAA yang teratur di tiap baitnya. Menurut kedua penulis, pola tersebut menggambarkan perasaan tidak bebas atau terkungkung. Le Rossignol dengan rima datarnya dibaca sebaliknya.

Seluruh temuan ini lahir dari pembacaan tekstual atas satu puisi, sehingga tafsirnya tidak bisa diperluas ke karya Verlaine yang lain. Makna tiap bunyi mengikuti satu klasifikasi efek bunyi, sementara naskah sendiri memberi dua tafsir untuk kata berce dan sosok l’Absente. Naskah juga tidak memuat keterangan tentang siapa cinta pertama Verlaine.

Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

2026: Catatan yang Perlu Diperiksa

Beberapa hal di naskah bisa diperiksa pembaca sendiri. Tahun Poèmes Saturniens ditulis 1866 di pendahuluan, tetapi daftar referensi mencantumkan Verlaine tahun 1867 untuk judul yang sama. Naskah menyebut Nayrolles mengenal sebelas macam suku kata, padahal yang didaftar hanya sepuluh.

Kata mauvaise disebut memberi kesan emosi buruk. Namun terjemahan larik ketujuh di naskah, jatuh lalu bergumam dengan samar, tidak memuat padanan kata buruk. Kata rumeur di satu tempat ditulis rumour, dan solennelle ditulis solenelle. Naskah juga menyebut tema terlihat dari baris kedua, padahal yang dikutip baris pertama dan kedua.

Catatan itu tidak mengubah urutan yang dibangun naskah. Tahun 1866 puisi itu terbit di ujung Poèmes Saturniens. Tahun 1884 Verlaine menulis musik sebelum segala sesuatu. Tahun 2026, dua peneliti Universitas Indonesia menelusuri kedua puluh lariknya. Pohon yang bergetar dan burung yang menangis tetap menjadi larik terakhir.

Bagikan

Baca Juga

Hepatitis C Hinggapi 17 Persen Pengungsi Rohingya di Teknaf
Nyeri Kronis Keluarga Pakistan di Inggris, Cucu Jadi Obat
Ine Pare di Desa Nida, Padi yang Tumbuh dari Darah Mbu
Umbi Samoa Susut 81,6 Persen, Impor Minuman Naik 241 Persen
Tradisi Hadiah Hajatan Makassar di Jeneponto, Perekat atau Utang
Novel Korpus Uterus: Empat Ketidakadilan dan Empat Perlawanan