- Data 34 provinsi selama 2018 sampai 2022 dipakai karena jumlah provinsi pada rentang itu tetap.
- Pertumbuhan ekonomi memperoleh koefisien minus 53,81984 terhadap stunting dan dinyatakan diterima.
- Pengangguran bernilai t minus 6,813352, terbesar di tabel, tetapi diberi keterangan ditolak.
- Uji Sobel menyatakan keempat jalur tidak langsung lewat pertumbuhan ekonomi diterima.
- Naskahnya tidak menjelaskan cara tiap peubah diukur dan tidak memuat statistik deskriptif.
Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 23 Februari 2026, sebuah naskah tentang stunting di Indonesia masuk ke redaksi Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi. Penulisnya dua ekonom dari dua negara. Naskah itu menguji apakah pertumbuhan ekonomi provinsi menjadi jalan perantara antara empat faktor sosial ekonomi dan prevalensi stunting.
Penulis pertamanya Maman Sulaeman dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tangerang Raya, yang juga tercatat sebagai penulis korespondensi. Penulis keduanya Khalid Eltayeb Elfaki dari Multimedia University di Malaka, Malaysia. Judul naskah mereka Economic Growth Mediates the Effects of Socioeconomic Factors and Reduces Stunting in Indonesia.
Dua bulan kemudian, pada 25 April 2026, naskah itu direvisi. Lima hari sesudahnya, pada 30 April 2026, redaksi menyatakannya diterima. Versi daringnya tersedia pada Agustus 2026. Naskah itu lalu terbit dalam Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 391 sampai 406, pada edisi reguler September 2026.
Pembuka naskahnya bergerak dari tahun ke tahun. Pada 2020, ekonomi Indonesia disebut menyusut 2,07 persen. Setahun kemudian, pada 2021, ekonominya tumbuh 3,69 persen. Pada tahun yang sama, naskah itu mencatat prevalensi stunting Indonesia 36,5 persen menurut WHO, sementara ambang yang ditetapkan WHO 20 persen.
Menurut kedua penulis, pertumbuhan ekonomi membantu menekan stunting dengan menaikkan pendapatan rumah tangga. Pendapatan itu membuka akses ke pangan yang cukup, layanan kesehatan, dan pendidikan. Mereka juga menulis bahwa stunting di Indonesia masih meluas, tanda keadaan kesehatan masyarakatnya belum ideal.
Menurut abstraknya, keaslian penelitian ini ada pada pemeriksaan banyak faktor penentu stunting di Indonesia dalam kerangka data panel. Celah yang mereka tunjuk ada pada penelitian sebelumnya, yang memperlakukan pertumbuhan ekonomi sebagai latar atau sebagai hasil. Mereka menguji literasi, bantuan pangan sosial, ketahanan pangan, dan pengangguran sekaligus, dengan pertumbuhan ekonomi sebagai perantara. “Sebuah kerangka analisis yang, sepengetahuan penulis, belum pernah dipakai dalam literatur yang ada”, tulis Maman Sulaeman dan Khalid Eltayeb Elfaki.
2018 sampai 2022, Data 34 Provinsi
Datanya dimulai pada 2018 dan berhenti pada 2022. Unit amatannya 34 provinsi, masing-masing diamati selama lima tahun. Rentang itu dipilih karena selama lima tahun tersebut Indonesia memiliki 34 provinsi. Dengan begitu, susunan panelnya tetap sama dari tahun ke tahun. Alat hitungnya regresi data panel, yang menggabungkan perbedaan antarprovinsi dan perubahan antartahun dalam satu hitungan.
Tahun-tahun sesudahnya sengaja ditinggalkan. “Setelah 2022, jumlah provinsi bertambah menjadi 38 menyusul pembentukan wilayah administratif baru, yang berpotensi menimbulkan ketidakkonsistenan struktural dalam dataset”, tulis kedua penulis. Karena itu, rentang 2018 sampai 2022 dipertahankan demi keseragaman data.
Seluruh datanya data sekunder dari lembaga resmi pemerintah. Data bantuan pangan sosial, literasi, ketahanan pangan, pengangguran, dan indikator ekonomi lain diambil dari Badan Pusat Statistik. Data prevalensi stunting di Indonesia diambil dari Kementerian Kesehatan. Indikator ekonomi tambahan bersumber dari Kementerian Keuangan.
Naskahnya tidak menjelaskan cara tiap peubah diukur. Satuan literasi, bentuk angka bantuan pangan sosial, dan ukuran ketahanan pangan tidak dicantumkan. Tabel statistik deskriptif, seperti rata-rata atau rentang tiap peubah, juga tidak ada. Pembaca hanya menerima nama peubah, koefisien, dan statistik t.
Kerangka penelitiannya digambar sebagai 13 hipotesis. Panah H1 sampai H4 mengarah langsung dari bantuan sosial, literasi, ketahanan pangan, dan pengangguran ke stunting. Panah H5 sampai H8 mengarah dari keempat faktor itu ke pertumbuhan ekonomi. Lima panah sisanya, H9 sampai H13, bertemu di stunting dari arah simpul pertumbuhan ekonomi.
Sebelum Hitungan, Tiga Uji Pemilihan Model
Sebelum koefisien dihitung, dua persamaan disiapkan. Persamaan pertama menempatkan stunting sebagai peubah terikat, dengan bantuan pangan sosial, literasi, ketahanan pangan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi sebagai penjelas. Persamaan kedua menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai peubah terikat, dengan empat penjelas yang sama tanpa stunting.
Tiga uji lalu dijalankan untuk memilih bentuk regresi data panel. Uji Chow membandingkan model efek tetap dengan model efek bersama. Uji Hausman membandingkan model efek tetap dengan model efek acak. Uji Lagrange Multiplier membandingkan model efek acak dengan model efek bersama. Menurut penulisnya, ketiga uji itu memastikan model terpilih memberi taksiran yang paling konsisten dan efisien.
Pada persamaan pertama, uji Chow menghasilkan F 47,2134, uji Hausman chi kuadrat 32,5614, dan uji Lagrange Multiplier 86,4523. Pada persamaan kedua, angkanya F 39,8821, chi kuadrat 28,3197, dan 74,1182. Keenam uji itu berpeluang 0,0000. Model efek tetap dipilih untuk kedua persamaan.
Paragraf penjelas tabel itu menukar urutan persamaan. Di sana tertulis pertumbuhan ekonomi berada pada persamaan pertama dan stunting pada persamaan kedua. Rumus di bagian metode menulis sebaliknya. Paragraf yang sama hanya menyebut uji Chow dan Hausman, lalu menyimpulkan efek tetap lebih tepat daripada efek acak.
Hitungan Pertama, Stunting di Indonesia dan Lima Peubah
Hitungan pertama menguji lima peubah terhadap stunting di Indonesia. Hasilnya dilaporkan dalam Tabel 2 sebagai koefisien, statistik t, dan keterangan diterima atau ditolak. Galat baku, nilai peluang, dan daya jelas model tidak dicantumkan di tabel itu maupun di badan naskah.
Bantuan pangan sosial memperoleh koefisien minus 1,884438 dengan statistik t minus 6,572398. Literasi memperoleh minus 0,039117 dengan t minus 1,991975. Ketahanan pangan memperoleh minus 0,213521 dengan t minus 2,957974. Ketiganya dinyatakan diterima dan dikaitkan penulisnya dengan prevalensi stunting yang lebih rendah.
Pertumbuhan ekonomi memperoleh koefisien paling besar, minus 53,81984, dengan t minus 6,030296. Keterangannya juga diterima. Konstanta persamaannya 430,3457. Menurut penulisnya, kenaikan pertumbuhan ekonomi berhubungan dengan penurunan prevalensi stunting di Indonesia. Kegiatan ekonomi yang meningkat disebut menambah ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi keluarga.
Pengangguran memperoleh minus 2,663792 dengan statistik t minus 6,813352. Angka t itu yang terbesar di tabel, di atas bantuan pangan sosial. Namun, keterangannya ditolak. Abstrak naskahnya pun menulis pengangguran tidak berpengaruh langsung terhadap stunting.
Penjelasan di badan naskah menyebut hubungan itu terbalik. “Hal ini menunjukkan bahwa tingkat stunting tidak berkorelasi dengan tingkat pengangguran di wilayah-wilayah tersebut”, tulis kedua penulis. Naskahnya tidak menjelaskan mengapa statistik t sebesar itu diberi keterangan ditolak.
Untuk bantuan pangan sosial, penulis menjelaskan jalurnya lewat daya beli. Bantuan itu disebut memungkinkan keluarga membeli pangan yang lebih beragam dan bergizi, seperti buah, sayur, dan pangan hewani. Asupan yang lebih baik disebut memperbaiki status gizi anak dan menurunkan risiko stunting.

Untuk literasi, sorotannya pada orang tua, terutama ibu. Literasi yang lebih tinggi disebut membantu ibu memahami gizi dan praktik kesehatan, termasuk kebutuhan ASI eksklusif, imunisasi, dan pola makan seimbang. Untuk ketahanan pangan, rumah tangga yang tahan pangan disebut menjamin akses anak pada pangan dan gizi yang cukup.
Baca juga Piring Gizi Ibu Berubah, Timbangan Anak Belum Dicek
Hitungan Kedua, Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Peubah Terikat
Hitungan kedua membalik posisi. Kali ini pertumbuhan ekonomi yang dijelaskan oleh bantuan pangan sosial, literasi, ketahanan pangan, dan pengangguran. Bagian metode menyebut penelitian ini menguji pengaruh keempat faktor itu terhadap pertumbuhan ekonomi dan prevalensi stunting di Indonesia. Tabel 3 memuat hasilnya dengan koma sebagai pemisah desimal, berbeda dengan Tabel 2 yang memakai titik.
Bantuan pangan sosial memperoleh koefisien 0,014748 dengan t 5,937009. Literasi memperoleh 0,001515 dengan t 10,91102, statistik t tertinggi di tabel itu. Keduanya diterima. Menurut penulisnya, bantuan pangan sosial berpengaruh positif dan nyata terhadap pembangunan ekonomi, dan literasi berhubungan positif kuat dengan pembangunan ekonomi.
Ketahanan pangan memperoleh 0,000500 dengan t 1,742500 dan dinyatakan diterima. Pengangguran memperoleh 0,004830 dengan t 1,274633 dan dinyatakan ditolak. Selisih kedua statistik t itu hanya 0,47, tetapi keterangannya berlawanan. Naskahnya tidak menyebut taraf nyata yang dipakai pada tabel ini.
Kesimpulan penulis tentang pengangguran pada hitungan ini tegas. Pengangguran di Indonesia disebut tidak menghambat pertumbuhan ekonomi secara nyata. Profil ekonomi daerah, sektor inti perekonomian, dan kebijakan pemerintah disebut sebagai penentu lain pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, literasi, bantuan pangan, dan ketahanan pangan disebut berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Hitungan Ketiga, Uji Sobel pada Empat Jalur
Hitungan ketiga memakai uji Sobel. Uji itu menilai apakah rasio koefisien pengaruh tidak langsung terhadap galat bakunya melewati nilai kritis. Hasilnya dicatat dalam Tabel 4 sebagai pengaruh langsung, tidak langsung, total, dan skor Z untuk empat faktor yang dikaitkan dengan stunting di Indonesia.
Bantuan pangan sosial mencatat pengaruh langsung minus 1,8844 dan tidak langsung minus 0,7937, dengan total minus 2,6781 dan skor Z 4,4270. Literasi mencatat minus 0,0391 dan minus 0,0815, dengan total minus 0,1206 dan skor Z 1,9910. Pada literasi, bagian tidak langsungnya lebih besar daripada bagian langsung.
Ketahanan pangan mencatat minus 0,2135 dan minus 0,0281, dengan total minus 0,2416 dan skor Z 2,2657. Pengangguran mencatat minus 2,6638 dan minus 0,2599, dengan total minus 2,9237 dan skor Z 4,5350. Keempat jalur itu dinyatakan diterima.
“Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi memperkuat dampak kebijakan sosial ekonomi dalam menurunkan prevalensi stunting”, tulis Maman Sulaeman dan Khalid Eltayeb Elfaki. Menurut mereka, bantuan pangan sosial, literasi, dan ketahanan pangan menekan stunting secara tidak langsung karena memperkuat kondisi ekonomi yang mendukung gizi anak. Di abstrak, pertumbuhan ekonomi disebut peubah perantara yang penting untuk menurunkan stunting.
Jalur pengangguran menjadi yang paling janggal. Pada hitungan kedua, pengaruh pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi dinyatakan ditolak. Pada uji Sobel, jalur tidak langsungnya lewat pertumbuhan ekonomi justru diterima dengan skor Z tertinggi, 4,5350. Naskahnya menulis pengangguran memengaruhi stunting secara tidak langsung lewat pertumbuhan ekonomi.
Baca juga Guru Besar UGM: Kunci Atasi Stunting Bukan Besarnya Anggaran
September 2026, Catatan pada Naskah yang Terbit
Beberapa hal lain di dalam naskah perlu dicatat. Pertama, pengaruh tidak langsung ketahanan pangan tercatat minus 0,0281. Hasil kali koefisien ketahanan pangan pada hitungan kedua, 0,000500, dengan koefisien pertumbuhan ekonomi, minus 53,81984, sekitar minus 0,0269. Pada tiga faktor lain, hasil kali serupa sesuai dengan angka tabel.
Kedua, abstrak menyebut salah satu peubahnya kerawanan pangan, sedangkan tabel memakai ketahanan pangan. Kesimpulan naskah kembali memakai kerawanan pangan, yang dikaitkan dengan prevalensi stunting lebih tinggi. Ketiga, nama penulis kedua dieja Elfaki di halaman judul, tetapi Elfaky pada petunjuk pengutipan.
Keempat, tabel pemilihan model memuat catatan taraf nyata satu, lima, dan sepuluh persen. Tabel hasil hipotesis hanya memakai kata diterima dan ditolak, tanpa taraf. Kelima, naskahnya tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Batas yang tertulis hanya soal rentang 2018 sampai 2022 yang dikunci pada 34 provinsi.
Baca juga Daun Kelor dan Stunting: Skor Naik, Bukti Belum
Rekomendasi naskahnya disusun dari temuan itu. Menurut abstraknya, penurunan stunting di Indonesia memerlukan kebijakan terpadu yang memadukan bantuan pangan sosial dengan perbaikan literasi, ketahanan pangan, dan pembangunan ekonomi. Pemerintah disarankan memadukan program bantuan pangan sosial dengan pendidikan gizi dan kesehatan, terutama bagi rumah tangga rentan seperti keluarga dengan anak kecil dan ibu hamil. Platform digital dan penjangkauan komunitas disarankan diperluas agar literasi publik meningkat lebih merata.
Koordinasi lintas sektor antara kementerian, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan juga diminta diperkuat. Sinergi bantuan sosial, pendidikan, dan pembangunan ekonomi disebut penting untuk mempercepat penurunan stunting di Indonesia. Naskahnya tidak merinci program atau lembaga mana yang dimaksud dalam saran itu.
Naskah itu terbit pada September 2026. Angka terakhir di dalamnya berasal dari 2022, tahun terakhir Indonesia tercatat memiliki 34 provinsi.















